PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 50


__ADS_3

Selama di sini kegiatan sehari - hariku hanyalah melamun tidur, muntah, nangis dan mengirim pesan - pesan ke Mas Haris atau mencoba menghubungi pria itu. Aku benar-benar tak bosan - bosannya mengirim pesan kepada pria itu. Walaupun aku tahu, jangankan membalas, di baca saja tidak.


Namun semua itu tidak pernah menyurutkan keinginanku untuk terus mengirimi pesan kepada Mas Haris. Mungkin lama - lama pria itu akan eneg juga dengan semua pesan - pesanku yang membombardir handphone miliknya. Sampai - sampai, handphonenya akan meledak karena bosan kuhubungi terus.


Dengan alasan kehamilanku aku terus saja mengurung diri di dalam kamar. Mama dan kakak - kakakku bergantian membujuk diriku agar keluar dari kamar Fadil dan bergabung dengan mereka.


Akan tetapi, dibandingkan berbicara dengan rasa canggung kepada mereka, lebih baik kuhabiskan waktu di kamar sambil meratapi nasibku dan tentu saja, meneror Mas Hendra dengan ratusan Chat patah hati dariku.


Aku mencintaimu di kali pertemuan kita yang kedua. Kamu yang membuka segel cinta di hatiku. Mengapa kini kamu berpaling dariku?


Centang satu.


Aku masih tak putus harapan.


Jika mencintaiku adalah kesalahan terbesarmu, maka pergi meninggalkanku, adalah kehilangan terbesarku


Centang dua. Kali ini aku makin bersemangat.


Aku sudah menjatuhkan hatiku padamu. Tapi mengapa kamu lari dariku?


Centang dua


Kamu yang memintaku untuk membuka hati terlebih dahulu. Tapi setelah aku membuka hatiku untukmu, kamu mencampakkan diriku?


Centang biru. Aku bersorak.


Kamu mengabaikan aku? Aku tahu dosaku tak termaafkan. Tapi jika kecewamu sudah terobati, tolong hubungi aku, aku cinta kamu. lengkap dengan emoticon hati.


Kembali centang dua biru. Itu Artinya Mas Haris membaca SMS ku. Aku bersorak gembira dalam hati. Bukankah itu pertanda baik?


Aku kesenangan sendiri mengetahui Mas Haris membaca pesanku, hingga tanpa sadar aku memukul - mukul bantal yang ada di pangkuanku


" Kamu sehat? " Ketenangan batinku yang sudah tenang beberapa hari ini tanpa melihat kehadirannya mendadak sirna saat wajahnya yang menyebalkan itu muncul di hadapanku.


" Keluar! " bentakku marah.


" Tidak, sebelum kamu menjelaskan kepadaku alasan mengapa kamu meminum obat sampai over dosis begitu. Kamu mau membunuh anakku? "


Langkahnya lebar berjalan menuju ke arahku.


Mampus aku! Aku lupa jika di rumah ini, semuanya adalah mata - mata Syafrie.


Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Hanya saja, kemarin kepalaku sakit sekali. Rasanya cenat cenut. Saking sakitnya, tubuhku sampai dibuat jengkang jengking karena menahan sakit. Karena kasihan padaku, akhirnya Kak Mansyah membelikan aku obat sakit kepala di warung.


Awalnya aku meminum sebutir saja. Namun, saat melihat butiran obat yang lain, timbul ideku untuk memberi pelajaran kepada calon anak si Syafrie melalui obat yang kuminum. Awalnya aku mengambil sebutir, lalu sebutir lagi, akhirnya sebutir lagi. Empat ovatbitu kuminum dalam waktu yang bersamaan. Istri kak Mansyah sampai histeris saat melihatku.


Lalu, semuanya menjadi kacau kembali. Sakit kepalaku kembali lagi kambuh lantaran berbutir - butir kelapa muda dipecahkan dan diminumkan kepadaku. Katanya sebagai penawar racun. Iya, racunnya hilang namun sakit di kepalaku tak kunjung sembuh - sembuh, akibat efek obat menjadi hilang.


Belum lagi ceramah, petuah dan omelan jadi satu yang masuk di telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri. Semakin membuat sakit kepalaku kian menjadi - jadi.


" Hanya suka saja. " jawabku enteng.


" Tidak ada orang yang suka menelan racun kecuali orang gila saja."


" Berarti aku gila, dong. " jawabku seenaknya saja dan terkesan mengejek.


" Jangan gila dulu sebelum kamu melahirkan anakku. "


" Syafrie, kenapa kamu kejam sekali? "


" Iya, aku memang kejam. Jadi berhati - hatilah. Jangan sampai aku khilaf dan mencekikmu sampai sekarat." desisnya tajam hingga membuat nyaliku menciut. Aku sawan dibuatnya. Kilatan di matanya berkobar - kobar dan merah.

__ADS_1


" Bagaimana kamu bisa bilang begitu. Aku sudah berbaik hati menampung benihmu sebagai balas budi. " kataku lemah. Sialan, mengapa aku jadi merasa takut saat melihat ekspresi wajah ayah Fadil.


" Marina melahirkan tiga anak untuk Iqbal. Entah kebaikan apa yang dilakukan pria itu hingga mendapat balas budi yang begitu besar. " pria itu kembali melempar kalimat tajamnya.


" Aduh..!! Ahhh, sakit! Kenapa menggigitku, Asma? " Syafrie mengibas - ngibaskan tangannya disertai dengan rahang yang mengetahui dan urat-urat yang menyembul keluar. Rasakan....mati sajalah kamu, Syafrie. Aku benar-benar murka.


" Aku sudah berbaik hati menampung benihmu, tapi kamu malah tak tahu diri membandingkan aku dengan bekas selirmu itu! Dasar bajingan! "amukku.


" Menampung katamu, Asma? MENAMPUNG?? Astaga Asma, semakin lama aku melihat keras kepalamu dan keegoisanmu membuat aku semakin tidak tahan untuk tidak mencekikmu." katanya sambil berbalik. " Oh, ya. Jangan sampai kamu ulangi lagi tindakan bodohmu kemarin. Kamu tak mau, kan? Jika sampai suamimu ini menguburmu hidup - hidup. " Nah, apa kubilang Syafrie murka. Baiklah... aku kalem dulu. Kalem Asma. Jangan sampai mati konyol karena melayani orang yang sedang emosi. Aku saja belum menikah dengan Mas Haris. Jadi tak boleh mati dulu.


" Oh, iya. Satu lagi" Syafrie berhenti di ambang pintu sejenak lalu berpaling menatapku. " Marina dan orang tuanya minta waktu untuk bertemu."


Hah??? Keringat dinginku langsung mengucur seketika. Mengapa aku selalu saja merasa gerah jika mendengar nama itu. Marina dan orang tuanya minta bertemu? Helloww.... seperti mereka berkuasa atas diriku. Seperti aku mau saja bertemu dengan manusia penyebab kehancuran rumah tanggaku itu.


Jantungku seakan berhenti berdetak. Tanganku gemetar dan kepalaku semakin pening. Apa ini? Mengapa aku menjadi bingung dan perutku terasa sakit. Rasa keram di perutku membuat aku seakan tak bisa bernafas. Astaga.. aku diserang rasa panik.


Lampu hijau dari ponselku menyala. Sebuah pesan whatsapp masuk dari Dira masuk ke Hapeku barusan. Ada dua pesan yang belum dibaca.


Dari Mas Haris:


Ada orang yang betul-betul terlarang untuk dicintai meskipun kita benar-benar telah jatuh sejatuh-jatuhnya kepada mereka. Mengakhiri perasaan itu adalah jalan satu -satunya meskipun itu membutuhkan waktu bertahun-tahun.


Dari Dira:


Mbk, aku lihat di story fb Pak Haris. Aku nggak nyangka, kisah cinta kalian akhirnya berakhir tragis.


Sebuah pesan baru melalui whatsapp kembali masuk ke hapeku. Itu kembali dari Mas Haris. Dengan tangan gemetar aku kembali membuka. Perasaanku kali ini tidak nyaman. Seperti ada pirasat yang mengatakan bahwa bakal ada sesuatu yang akan menjungkir balikkan hati dan jiwaku.


Dari Mas Haris:


Kamu mau aku bagaimana? Aku bisa menerima kehadiran Fadil. Tapi aku tak bisa menerima kehadiran adiknya. Apa kamu bisa menghilangkannya. Apa kamu tega?


...------...


Isi chat terakhir Mas Haris menarik di benakku. Aku mencibir mengingat pertanyaannya. Apa aku tega? Hah tentu saja. Aku tidak menginginkan bayi ini. Kalau dengan menyingkirkannya membuatnya mau menerimaku kembali, akan kulakukan.


Bukankah cinta itu membutuhkan bukti. Baiklah.. aku akan membuktikannya.


Sepertinya aku sudah benar-benar kehilangan akal sehatku. Nuraniku habis terkikis oleh dendam kesumat yang berkarat di hatiku selama bertahun-tahun. Bagaimana bisa bibirku menggaris sebuah lengkungan lebar saat membayangkan kehancuran Syafrie saat ku atuhkan anaknya dari rahimku. Syafrie akan mati. Pasti.... dia mati.


Deheman seseorang membuyarkan dan menghempaskan aku kembali dari semua imajinasi liarku. Sosok yang tengah berada dalam pemikiranku muncul di hadapanku. Sebelah alisnya terangkat ke atas demi melihat senyum yang terlukis di wajahku. Heran....


" Apa lagi yang senyummu rencanakan? "


Aku pura-pura tuli. Mengacuhkannya...


Jangan aneh - aneh, Asma! Cepat katakan, apa yang sedang kamu rencanakan! "


Aku menoleh dan tersenyum manis sekali. Mengerjabkan mata pelan.


" Oh, suamiku sayang. Mengapa berdiri begitu jauh. Mendekatlah dan akan kuberi tahu apa isi rencanaku! " Geli sendiri aku mendengar nada bicaraku.


Syafrie terdiam. Seakan tak terpengaruh oleh kalimatku. Matanya menelisik ke atas meja kecil lesehan yang ada di kamarku. Kemudian berjalan cepat menyambar ponselku.


Dia membaca status Facebook Mas Haris yang aku ikuti sepanjang hari. "Seorang pria wajar menyakiti pria lainnya dalam perkara cinta. Tapi jika lawannya anak kecil, itu brengsek namanya. Akan tetapi, bolehkah sesekali pria ini menjadi pria yang brengsek? "


Syafrie membacanya dengan suara datar dan tanpa tekanan. " Dasar Banci! " umpatnya.


" Wow, aku tak menyangka, kamu yang begitu manis dan penurut, ternyata bisa juga mengumpat, ckck. " kataku dengan senyum mengejek .


Ayah Fadil tersenyum sinis. " Siram kepalanya dengan air dingin biar melek. "

__ADS_1


" Siapa? Kamu? Sini aku yang lakukan. Dengan senang hati."


" Mantanmu."


Mataku melotot menatap Syafrie tajam.


" Apa? Marah? Dia yang tidak konsisten. Kemarin katanya ihklas melepasmu. Sekarang nangis - nangis di sosmed. Apa namanya kalau bukan banci? Perempuan, iya kan? " Satu tarikan sinis dari bibir Syafrie kembali menyulut emosiku.


" Kamu yang banci! "


" Heh, seorang banci tidak bisa menghamilimu, istriku sayang."


" Syafrie, karena kamulah yang memulai semua ini, maka jangan datang memohon dan menangis padaku nanti."


" Oh, aku tak masalah melakukannya."


" Keluar, brengsek! " Aku berteriak histeris pada Syafrie karena kehabisan kata-kata untuk mendebatnya.


" Jangan teriak - teriak, Asma. Ini rumah mama, bukan di hutan. Kalau di rumah itu harus bisa bersikap manis seperti kucing. Beda kalau di hutan, seperti rubah yang licik. "


" Biar saja, apa urusanmu." aku menggeram menahan diri untuk tidak menerjangnya.


Syafrie maju dan mendekatiku. Lagi - lagi wajah mengejek yang dia tampakkan di hadapanku. " Kamu itu rubah atau kucing, Asma? "


Aku memicingkan mata. " Mau rubah atau kucing, aku tetap akan membuat hidupmu menderita, Syafrie."


" Auwuhhh, takut.. " efeknya dengan ekspresi pura-pura takutnya.


Aku benci dan sebel sekali dengan cara dia mengolok-olok diriku. Tangan dan gigiku sampai gemeletuk menahan geram. Sabar.... hukuman untuk pembunuh sangat berat selain diancam juga dengan neraka.


Jadi, dibandingkan aku yang berniat untuk melemparkan pisau buah yang ada di piring ke arah Syafrie, maka aku memilih beristighfar untuk menenangkan hati.


Cukup lama kami berdua saling berdiam diri. Aku susah payah menahan kesal sedangkan Syafrie sibuk dengan dirinya sendiri. Entah apa yang dia lakukan. Aku sungguh-sungguh tak mau tahu.


" Kapan kamu bisa memaafkan? " Syafrie tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.


" Siapa? Kamu? " Astaga... mimpi kali dia.


"Ya, siapa lagi kalau bukan ayah anak - anakmu, lah."


" Anak yang mana? Yang kamu sembunyikan dariku bertahun-tahun, atau yang baru saja kamu hadirkan di perutku dengan cara yang licik? "


" Aku tidak menyembunyikan atau menghadirkan siapa pun dengan cara yang hina."


" Hey, bung. Apa kamu lupa perutku buncit karena siapa? Seorang pria telah memperkosaku. " kesalku pada Ayah Fadil.


" Hahaha, baru kamu wanita yang dinodai tapi mendesah. Kamu menikmati semua sentuhanku lebih dari yang aku duga. Padahal aku hanya memberimu obat tidur, bukan obat perangsang."


" Bedebah, kamu Syafrie! Setan...! bajingan...! Kamu mau aku memaafkan kamu. Tunggu saja saat aku mengatakannya, kamu akan pingsan saat mendengar waktunya. Sialan kamu Syafrie... sialan.....! " pekikku kesal karena dipermainkan oleh Syafrie. Aku mengguncang tepi meja sebagai tempat penyaluran kesalku.


" Stts, Asma jangan berisik. Bayi kita akan terganggu." Kata Syafrie menempelkan jari telunjuknya di bibirku.


" Kukira aku sudah terbiasa ternyata jantungku masih saja kebat - lebih. Sudahlah..... berhenti mencemaskan suamimu, istriku sayang."


Astaga.... Syafrie kira aku wanita yang dengan gampang terjatuh dengan pesonanya. Aku bukan wanita lemah. Aku adalah wanita yang tertempa oleh panasnya racun pengkhianatan. Terhanguskan oleh bisanya racun cinta yang membakar kesumatku. Jadi.... Maaf saja, aku tak akan terpesona padanya. Bagiku dia tak ada keren nya sama sekali. Apa dia pikir dia keren dengan gayanya yang sok kecakepan banget. Dengan pedenya dia bergaya seraya menyugar rambutnya. Apa dia pikir aku akan tertarik.


Aku malah ingin meludah saja melihatnya. Aku muak dengan Syafrie dan tingkah sok kerennya.


" Aku pikir, aku sepertinya bisa memberimu sedikit maaf."


" Oh, ya? " .........

__ADS_1


__ADS_2