PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 65


__ADS_3

Kebetulan sekali, pas aku datang, pasar malam ini baru saja buka. Di desa ini, ada juga keluarga mama yang tinggal tak jauh dari pasar malam. Tepatnya di dekat Puskesmas Marangkayu.Jadi aku sengaja singgah dulu ke rumah keluarga mama itu sebelum bergerilya ke pasar malam.


Beruntunglah aku, rupanya rumah Jubair, suami sahabatku itu juga berada di dekat sini. Jadi.. aku tersenyum licik. Di otak wanita hamil ini sudah tersusun sebuah rencana licik untuk suami sahabatnya itu.


Suasana malam ini cukup cerah. Bintang - bintang bertaburan di langit. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa malam ini tak bakalan turun hujan. Karena hal itulah aku dan Saniah memutuskan untuk pergi jalan - jalan di pasar malam. Hitung - hitung buat hilangin stress.


Aku berangkat dari rumah tadi di jemput sama Saniah. Dia pinjam mobil pick up bapaknya untuk menjemputku karena tak mungkin dia memboncengku dalam keadaan perutku yang sudah semakin besar. Terus pergi ke pasar malam juga bareng Saniah dengan mobil yang sama. Di otakku sudah tersusun sebuah rencana untuk sahabatku itu jika memang perkiraanku benar. Aku akan memberi pelajaran untuk suaminya yang durjana itu.


Kami memarkirkan kendaraan di tempat parkir yang tak jauh dari lokasi pasar malam. Memasuki gerbang pasar malam, mataku celingukan bergerilya mencari mangsa inceranku.


Pasar malam ini sangat ramai. Dari dulu aku sangat menyukai jika diajak pergi ke pasar malam. Karena di sana banyak sekali penjual makanan dan juga pernak pernik yang aku suka. Saniah menggamit lenganku dengan erat seolah-olah takut aku seperti akan hilang saja. Jika melihat dari sikapnya Saniah padaku yang keliwatan over protektif makan aku yakin sekali, pasti Syafrie sudah menelpon sahabatku itu dan menitipkan aku. Mungkin juga ada hubungannya dengan kedatangan Saniah yang menjemputk dengan mobil bapaknya. Padahal aku tak pernah menghubungi Saniah.


Kami melewati penjual makanan, penjual make up, penjual pakaian, penjual pernak pernik dan aksesoris lalu penjual pakaian dalam. Juga melewati beberapa wahana permainan seperti komidi putar dan kereta berjalan. Seru juga menyaksikan wahana permainan itu. Andai saja perutku tidak menggembung seperti ini pasti aku sudah mencoba wahana komidi putarnya. Aku sangat suka naik komidi putar.


" Yak.... di pilih tasnya, mbak! Murah..


tas branded harga medid..." terdengar teriakan salah satu penjual menawarkan aneka produk tas dengan merek - merek tertentu yang dijual dibawah harga aslinya.


" Baju, bu Haji.... murah dan di jamin berkualitas dan suami bu Haji pasti akan betah berada di rumah." katanya pada Saniah ketika tangan Saniah membolak - balik baju yang terpajang di sebuah stan.


" Aku tak tahu, jika kamu sudah Haji, Niah? Kapan...? " tanyaku heran. Saniah tertawa mendengar pertanyaanku.


" Asma... penjual baju itu menyebut semua calon pembeli dengan sebutan bu haji. Itu adalah salah satu trik mereka untuk menarik pembeli. " jelasnya.


" Oh... kirain benaran kamu sudah haji." kami berdua tergelak.


" Amin..... mudah - mudahan jadi haji benaran." doanya sambil tertawa.


Saniah mengajakku berkeliling pasar malam. Karena lelah, kami singgah sebentar berdiri di dekat penjual pentol dan sosis. Kami memborong sosis dan pentol lalu mencari tempat duduk yang tak jauh dari tempat itu.

__ADS_1


Puas makan pentol dan sosis, kami melanjutkan lagi acara mutar - mutarnya. Alhasil, kini di dalam kantong kresek belanjaanku ada dua pasang baju daster, satu ikat rambut dan sepasang jepit rambut ditambah sebuah sepatu sendal berwarna nude. Lanjut lagi muter - muternya.


Pandangan kami berdua tertuju pada penjual pakaian dalam yang sedang berteriak-teriak menawarkan diskon jika membeli tiga dapat bonus satu. Aku dan Saniah langsung tertarik untuk membeli beberapa pasang beha dan ****** *****. Soalnya selama masa kehamilanku yang 'paripurna' ini, stock persediaan dua jenis pakaian dalam tersebut sudah semakin menipis. Hanya beberapa saja yang masih muat di pakai.


Ku lihat Saniah bernafsu sekali memilihkan pakaian dalam untukku dan dia. Maklum saja, aku sedikit kesulitan untuk ikut - ikutan berjongkok memilih karena perutku tak bisa di ajak kompromi. Jadi aku hanya berdiri saja sambil memperhatikan orang yang lalu lalang di pasar malam ini sementara Saniah yang bergerak gesit mengacak dan memilih pakaian dalam yang sesuai untuk kami.


Sedang asyik - asyiknya mataku memperhatikan para pengunjung pasar malam, tiba-tiba mataku menangkap sosok yang memang sejak tadi sudah ku tunggu - tunggu kehadirannya. Tepat seperti dugaanku... Suami sahabatku itu pasti datang juga ke Pasar malam ini. Apalagi kalau bukan untuk mengajak istri simpanan dan anaknya itu untuk melihat - lihat pasar malam.


Senyum licikku terbit saat melihat pria duplikat Syafrie itu berjalan beriringan dengan seorang perempuan dengan rambut lurus sebahu. Jubair berjalan sambil menggendong seorang anak kecil yang ku taksir berumur lima tahunan. Perempuan itu sedang menggandeng seorang bocah perempuan yang mungkin berusia sekitar tujuh tahunan.


Hem.... perempuan itu pastilah istri simpan Jubair. Jadi... pria itu berselingkuh sampai punya anak dia dengan wanita itu. Saniah memang benar-benar sabar atau bego. Aku memaki sahabatku dalam hati.


" Niah.... lihat tuh, bukannya itu si bedebah suamimu yang lagi jalan sama perempuan sundal itu. ." aku mencolek bahu sahabatku itu sambil menunjuk ke suatu arah.


Pandangan mata Saniah mengikuti arah telunjukku. " Oh, iya. Itu memang Kak Jubair dan istri simpannya." katanya tersenyum lalu kembali lagi sibuk melanjutkan aktivitasnya memilih - milih beha dan ****** *****. Aku melongo tak percaya.


Astaga Saniah..... aku sedang memberitahu dirinya tentang keberadaan suaminya yang bersama perempuan lain tapi itu tidak membuatnya tertarik. Bisa - bisanya dia malah lebih tertarik memilih dan mengacak-acak beha dan cd.


Dengan perasaan marah, aku menyentak lengannya hingga penjual pakaian dalam itu sontak melirik ke perempuan hamil ini. " Kamu ini bagaimana, sih? Itu suamimu, bukan?" geramku sudah naik level dewa.


Bukannya sombong, sekarung beha dan cd akan aku belikan untuk sahabatku itu asalkan dia mau mendatangi dan melabrak dan menerkam suaminya dan juga wanita sundal itu sekarang juga. Aku juga akan dengan senang hati membantunya.


Namun, bukannya mendatangi kedua orang durjana itu, sahabat Asmawati Basrie itu malahan pergi bersembunyi di balik lapak penjual pakaian dalam yang tadi kami datangi. Mana harga dirinya?


Habis sudah kesabaranku.... aku benar-benar gak bisa lagi menahan diri. Dia sudah buat seorang Asmawati Basrie dengan mengaku diri sebagai sahabatku.


" Ini sudah nggak bisa dibiarkan. Kamu sudah membiarkan suami dan wanita sundal itu menginjak-injak harga dirimu sebagai istri. AYO...! aku menarik lengannya dengan kasar, berjalan mendatangi suami sahabatku dan wanita sundal itu yang kini sedang sibuk memilih mainan untuk kedua anak mereka.


Suasana pasar malam yang semula ramai kini berubah mencekam oleh jerit kesakitan dan teriakan seorang yang terdengar sangat menyedihkan.

__ADS_1


Rambut lurus karena direbonding ****** itu kini tak lagi berbentuk. Tangan - tanganku sudah menjambak dan menarik - narik rambut dan kepala wanita itu lantas menggilasnya di tanah hingga wajah dan rambutnya penuh dengan tanah. Sedang tubuhku berada persis di atasnya. Aku seperti kesetanan menghajar perempuan simpanan Jubair itu di hadapan suami dan anak-anaknya.


Yah.... Asmawati Basrie, adik dari Mansyah ini butuh pelampiasan. Dan istri simpanan dari suami sahabatnya tampaknya sasaran empuk. Maka, tinggallah kini wanita itu yang menangis menjerit-jerit minta dilepaskan dengan wajah yang terbenam di tanah.


Suami Saniah sudah berkali-kali memohon padaku untuk melepaskan wanita pujaannya itu. Dia bingung yang mana harus dia fokuskan. Apakah ingin menolong istrinya atau kedua anaknya yang kini sedang menangis menjerit-jerit saat melihat ibu mereka sedang di hajar. oleh seorang wanita hamil. Jadi kini yang ada pria banci itu berlutut memohon kepadaku untuk melepaskan istrinya.


Penonton ramai mendatangi kami. Namun bukannya melerai, mereka malah fokus memperhatikan kami. Mereka malah berdiri berkeliling membentuk lingkaran besar dan menonton kami laksana menonton sebuah pertunjukan sirkus.


Saniah, jangan ditanya, sahabatku itu bagai diterpa kiamat. Dia sangat kaget dan shock melebihi Jubair melihat aksiku.


" asma, lepaskan! " teriaknya. Namun, aku sudah kalap. Bukannya melepaskan perempuan sundal itu, malahan tanganku sudah kembali membenamkan wajahnya ke tanah. " Asma, kamu bisa membuat anak-anaknya anak-anaknya menjadi trauma..! " kata Saniah.


" Biar saja, biar anaknya tahu kalau ibunya seorang Pelakor!! Jadi kalau sudah besar punya panutan agar tidak merusak rumah tangga orang lain." bentakku.


" Sakit.... tolong lepas! " rintihan wanita itu. Cuih.... aku mendelik marah kepada wanita itu.


" Saniah, Katakan pada temanmu itu untuk melepaskan Meli..! " bentak Jubair pada Saniah geram. Rahangnya mengeras marah. Aku menatap sinis dan mencemooh kepada Jubair. Aku sangat muak dan jijik pada pria itu.


" Hei, brengsek..! Beranjnya lelaki penyeleweng macam kamu membentak temanku. Jadilah dulu laki - laki, bukan banci yang berlindung di balik kebaikan seorang wanita." semburku. Aku makin menguatkan tarikan tanganku di rambut wanita itu.


Jeritannya semakin pilu. Jubair makin frustasi melihat itu. Demikian juga Saniah. Penonton berbisik - bisik melihat ke arah kami. Bagus... kini wanita itu sekarang punya reputasi dan bakal jadi viral karena tak satu dua pengunjung Pasar malam yang merekam kejadian tadi dengan handphone mereka.


" Asma, lepaskan... aku mohon..! " hibanya sambil mengatupkan kedua tangannya dengan air mata yang berurai.


Baik.... aku benci melihat sahabatku menumpahkan air mata demi memohon padaku untuk melepaskan wanita yang telah merebut suaminya itu. Akhirnya aku melepaskan cengkraman tanganku dari wanita itu dan beranjak dari tubuhnya.


Aku berjalan mendekati Saniah. " Puas.. kamu. Sudah kulepaskan gundik suamimu itu... "


Sret...!!! lengan bajuku sobek. Seseorang telah menarik kasar lengan bajuku hingga sobek. Aku menoleh dan mendapati wanita sundal itu sudah berdiri di belakangku dengan rambut yang masih acak - acakan dan wajah beringas.

__ADS_1


Oh.... rupanya dia tidak terima karena perlakuanku tadi dan sekarang berniat untuk membalas dendam. Baik.... akan aku layani. Asma memang butuh seseorang untuk berkelahi malam ini. Aku membutuhkan seorang untuk menumpahkan kemarahan dan juga kesedihanku karena undangan pernikahan Mas Haris yang kuterima hari ini. Jadi.....tanpa menghiraukan teriakan sahabatku lagi, aku menerima tantangan wanita sundal itu dengan senang hati.


Asma dilawan. Aku tak peduli lagi dengan perutku yang besar. Sambil tersenyum sinis.. aku menerkam wanita itu dengan sekali terjangan.


__ADS_2