PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 76


__ADS_3

Sebelum aku melangkah jauh meniggalkan kafe, suara Mas Haris mampu membuat hati dan jantungku kembali berdarah - darah.


" Syafrie yang memintaku untuk menemuimu. "


Dasar Syafrie sialan...!!!!


Aku benar-benar marah saat ini. Kemarahanku sudah mencapai level sepuluh. Sekuat tenaga kupacu motorku supaya bisa secepatnya sampai di rumah. Tujuanku hanya satu, menghajar si bedebah Syafrie. Dia sudah benar-benar membuat aku kehilangan harga diriku di hadapan Mas Haris.


Dia anggap apa diriku ini? Aku dibuatnya seperti barang saja. Yang semudah itu dilimpahkan tangankan kepemilikannya jika sudah tidak dibutuhkan lagi. Awas saja kamu Syafrie..! geramku.


Brakkk...! Aku mendobrak pintu kamar tanpa permisi hingga rusak tak berbentuk.


Sambil berkacak pinggang aku menatap nyalang ke arah Syafrie yang sedang duduk di atas ranjang. Mulutnya ternganga tak percaya menatap ke arahku. Tapi itu hanya beberapa detik. Setelah itu ekspresinya kembali datar. Seolah-olah aku tak pernah berbuat semua itu.


" Kamu sudah pulang? " katanya lirih.


" Apa hak kamu berbuat seperti itu kepadaku. Apa kamu berpikir kamu sudah hebat? " Tudingku berapi-api. Aku melangkah masuk ke dalam kamar yang pintunya kini sudah tak berbentuk lagi dengan tertatih-tatih. Kakiku sakit.


Tapi hatiku lebih sakit lagi. Keterlaluan..... Syafrie sudah mempermainkan diriku.

__ADS_1


Syafrie kembali mengutak-atik papan yang berisi tombol angka dan huruf itu dengan serius. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Aku berjalan mendekati ayah Fadil danmemandang wajah pria yang sudah membuat harga diriku bagai dilempar kotoran. Wajahnya datar saja, tak ada rasa terkejut atas kejadian tadi. Jadi aku yakin seratus persen jika memang Syafrie lah yang mengatur pertemuan antara aku dan Mas Haris.


" Kamu belum menjawab pertanyaanku, Syafrie..! " bentakku kasar. Ingin rasanya aku berteriak dan mencaci maki pria ini dan menumpahkan semua kemarahanku saat ini. Tapi aku ingat ada Fika yang tertidur di kamar mama.


Syafrie menghentikan kegiatannya menekan tombol angka dan abjad pada papan keyboard dan menatapku. Sedikitpun dia tidak merasa terganggu dengan insiden pintu yang baru saja terjadi tadi.


Napasku tersengal - sengal karena menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Syafrie memang benar - benar menguji kesabaranku.


" Sini, duduklah. Kita tidak bisa bicara kalau kamu marah - marah begitu .. " katanya sambil menepuk kasur di sampingnya


" Kamu kira siapa dirimu? Sehingga kamu bisa seenaknya saja mempermainkan diriku, hah? " aku mengabaikan permintaannya dan berteriak kesal padanya sambil berkacak pinggang.


" Asma... jangan teriak - teriak! Tak enak nanti di dengar mama. "


Aku mulai terisak. " Kau tahu, karena sikap tak enakmu itu, kamu lebih memilih mengorbankan perkawinan kita dulu dan memilih menikah dengan Marina. Karena sikap tak enak itu juga kamu lebih membela wanita itu ketimbang memikirkan bagaimana perasaanku yang saat itu hamil anak kita. Kini, untuk alasan yang sama, kamu lebih memilih menyakitiku daripada tidak enak sama mama dan orang lain."


" Asma....


" Kamu tak pernah menghargaiku sebagai istri. Kamu tak pernah bertanya apa yang aku mau. Kamu juga tak pernah mau mendengar atau menuruti keinginanku. Bahkan saat memutuskan menikah dengan wanita itu juga, kamu tak pernah memikirkan bagaimana perasaanku. Bagimu, aku memang tak ada artinya. Aku tak lebih hanya mesin pencetak anak bagimu, yang kamu anggap tak punya hati dan juga perasaan. "

__ADS_1


Dengan langkah kecewa aku berbalik dan pergi meninggalkan menantu mama itu. Hatiku benar-benar terluka, menyadari bahwa diri ini tak lebih berharga daripada sampah.


" Asma.... " Syafrie berlari dan mencekal pergelangan lenganku. Mencoba untuk menahan langkahku. Namun aku yang terlanjur terluka tak menggubris panggilannya dan terus saja melangkah ke luar rumah. Aku mengambil helm dan tas selempang milikku, melarikan scoopy milikku dengan kencang meninggalkan rumah mama tanpa menghiraukan lagi teriakan Syafrie yang memanggil- mangil namaku.


Persetan dengan Syafrie. Inikan yang dia mau? Aku pergi dari kehidupanny, dan kembali lagi pada Mas Haris. Seperti barang yang dikembalikan kepada pemiliknya setelah dipinjam. Bedebah Syafrie.....


Namun, kali ini maaf saja. Aku tak akan mengabulkan keinginannya untuk melihatku kembali lagi bersama Mas Haris. Aku memang akan pergi dari hidupnya, tapi bukan untuk kembali lagi pada Mas Haris. Meskipun aku masih mencintai pria bermata teduh itu.


Entah berapa lama, aku melarikan diri dari kejaran Syafrie. Aku berhenti setelah merasa penat berkendara selama dua jam. Ku hempaskan pantatku di lantai sebuah pondok yang berada di pinggir jalan raya. Rasa penat dan lelah bercampur menjadi satu dengan kesedihan di hati. Tubuhku bergetar karena emosi dan juga rasa lapar. seingatku, aku belum menyentuh secuil makanan pun sejak bangun dari tidur. Karena emosi dengan Syafrie, aku langsung pulang tanpa menyentuh makanan yang telah Mas Haris pesankan untukku saat di cafe tadi. Juga saat di rumah tadi, bukannya makan, aku langsung mendobrak kamar dan melabrak Syafrie. Setelah puas, aku langsung pergi lagi hingga sampailah Aku di sini. Di tempat ini. Jauh dari pemukiman dan juga keramaian. Tempat ini sepi sekali.


Aku tak tahu, sedang berada di mana. Aku memandang ke sekelilingku.Tak ada apapun juga selain hamparan pohon sawit dan juga jejeran pohon pisang di sepanjang jalan. Sesekali kendaraan lalu lalang melintas di depanku. Aku menangis menumpahkan perasaanku. Entah sampai berapa lama aku menangis. Yang kutahu, sekarang hari sudah sore, dan sebentar lagi gelap akan datang menyapa.


Setelah beberapa lama tangisku sedikit mereda.Aku berusaha untuk mengemas air mataku dan menghapus jejaknya di sana. Merapikan hiasan di wajahku yang terlihat sangat berantakan sekali.


Selang beberapa saat kurasakan ****** susuku mengeras dan terasa sakit. Ini sudah kali kedua aku merasakannya. Aku tahu, saat ini, pastilah Fika sedang mencari - cari ibunya. Anak cantikku itu pastilah sedang menangis saat ini.


Membayangkan wajah mungil nan imut itu bergerak kesana-kemari mencari - cari sumber makanannya, membuat aku tersadar. Tiba-tiba saja aku sangat merindukan putri cantikku.


Tidak...Aku tak boleh egois. Aku masih memiliki anak - anak yang membutuhkan aku. Aku masih memiliki cinta Fadil dan Fika, aku memiliki sanak saudara yang menyayangi aku dan juga yang paling utama ada mama yang sangat menyayangi dan mencintai diriku melebihi siapapun di dunia ini.

__ADS_1


Sadar akan hal itu, bergegas aku bangkit dan menyalakan motorku. Anakku pasti sedang menangis saat ini. Aku memutar balik arah motorku dan melaju membelah kesunyian jalan yang mulai gelap karena hari sudah masuk waktu magrib.


Lalu lintas di jalan ini mulai ramai oleh kendaraan truk pengangkut kayu yang biasanya beroperasi pada malam hari. Pikiranku menjadi tidak tenang. Rasa sakit hatiku masih juga terasa. Pada sebuah tikungan aku membelokkan motorku. Tapi....apa itu ? Sebuah sinar terang menyorot ke arahku. Terasa begitu dekat sekali hingga reflek aku membanting stir ke kiri jalan. Tubuhku jatuh dan terbanting ke badan jalan. Kurasakan benturan yang keras menghantam tubuhku setelah itu secara beruntun sebuah benda yang besar menghantam diriku. Aku ingin menjerit tapi aku tak bisa. Jangankan untuk bersuara, mengangkat mulut saja aku sudah tak mampu. Aku merasa tubuhku melayang seringan kapas. Setelahnya, aku tak ingat apa - apa lagi.


__ADS_2