PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 101


__ADS_3

Seminggu kemudian....


...Selamat Menempuh Hidup Baru...


...Untuk Sani dan Haris...


Tulisan itu terpampang jelas dan besar di depan ruang tamu yang kini sudah disulap menjadi pelaminan. Berbagai ornamen pernikahan berwarna silver dan putih telah terpasang sejak kemarin. Pelaminan itu terlihat megah dan indah. Sebuah kursi berukir indah dengan warna senada, membawa kesan mewah pada pesta pernikahan tersebut.


Suasana di rumah Niah sejak pagi buta sudah terlihat ramai. Rumah Niah penuh sesak oleh tamu yang berdatangan. Tamu itu berasal dari keluarga Mas Haris yang datang dari kota dan juga keluarga dari pihak mamak dan bapakku.


Saking penuhnya, bapak terpaksa membuat tenda darurat yang digunakan sebagai tempat untuk memasak dan beraktivitas lainnya.


Tetangga kami sejak dua hari yang lalu juga sudah banyak yang berdatangan untuk membantu rewangan. Begini memang cara hidup kami di desa. Jika ada salah satu warga yang memiliki hajatan, maka warga disekitarnya akan datang berbondong-bondong untuk membantu. Banyak hal yang dapat mereka lakukan seperti memasak, membantu membuat kue dan juga hal - hal lain.


Hiruk-pikuk suara orang yang saling berbincang-bincang di selingi suara teriakan dan tawa anak - anak mereka memenuhi kecerian di rumah itu.


Di dalam kamar pengantin, Saniah yang sudah selesai mandi kini sedang bersiap - siap untuk dihias. Calon mempelai wanita Haris itu tidak henti - hentinya menebar senyum. Ada raut bahagia yang tergambar di wajahnya yang bersih dan tirus.


Akhirnya setelah melalui berbagai cobaan, Tuhan memberinya hadiah yang indah. Seorang pria yang tiada dia sangka - sangka, telah memilih dirinya dan memintanya untuk menjadi pendamping, istri, dan calon ibu bagi anak-anak pria itu. Pria yang dulunya adalah kekasih dari Asma, sahabatnya sendiri.


Saat mengingat Asma, Saniah teringat kembali akan pertemuan dia dengan Asma beberapa hari lalu.


Sehari setelah kedatangannya ke rumah Jubair yang berakhir dengan kondisi Ambo yang drop akibat tertekan, Saniah menelpon Asma dan membuat janji untuk bertemu dengan sahabatnya itu.


Ternyata, Asma kini sedang hamil lagi anak mereka yang keempat. Usia kehamilan Asma baru berumur dua bulan. Tentu saja Syafrie yang bucin pada Asma, semakin over protektif saja.


Maka dari itu, setelah menelpon Asma, dia langsung juga menelpon Syafrie untuk minta izin bertemu Asma. Saniah juga mengatakan jika sebaiknya Syafrie sendiri yang mengantarkan Asma, karena selain untuk menghindari fitnah, juga untuk menghindari kesalah pahaman diantara mereka.


.


Bagaimanapun juga sedikit banyak, Saniah paham akan kisah masa lalu Asma dan Haris. Jadi dia tak ingin Syafrie berburuk sangka pada sahabatnya itu dan membuat hubungan mereka menjadi renggang.


Dan seperti yang dia inginkan, mereka berempat akhirnya bertemu. Asma mengajak Saniah dan Haris untuk ke pantai. Karena sekarang pantai yang berada dekat dengan rumah Asma itu menjadi objek wisata bahari yang lagi ramai peminatnya.


Sesuai permintaan Saniah, Syafrie memang datang untuk mengantarkan Asma menemuinya. Tapi dia tidak sendiri, melainkan datang bersama seluruh anak-anak mereka.

__ADS_1


Perut Asma tampak sedikit agak buncit dan badannya agak berisi dari terakhir kali mereka bertemu.


" Fika kamu sudah besar sekarang." sapa Niah pada putri cantik Asma yang kini sudah genap berusia empat tahun. Sedangkan di dalam gendongan Syafrie seorang balita yang berumur dua tahun sedang pulas tertidur.


" Anak kamu yang digendong Syafrie cowok atau cewek? " tanya Niah penasaran.


" Sama seperti Bapaknya dan Fadil." jawab Asma enteng.


" Wah, seri dong..!" jawab Niah yang langsung diangguki oleh Asma.


" Sayang, aku mau bawa anak - anak jalan - jalan sama Haris, yah. Lama nggak ngobrol. Kamu nggak papa, kan, kalau aku tinggal? "


Asma mengangguk dan lantas kembali melanjutkan obrolan yang tertunda dengan Niah. Sedangkan Haris dan Syafrie beserta anak - anak memutuskan untuk berjalan - jalan di sepanjang pantai.


" Aku turut bahagia, akhirnya kamu menemukan kebahagiaan kamu yang sebenarnya. Mengenai Mas Haris, aku tak masalah, Niah. Aku sudah lama mengikhlaskan pria itu menikah dengan perempuan manapun. Hanya saja, aku tak menyangka, jika ternyata jodoh Mas Haris itu kamu. Aku turut bahagia dengan pernikahan kamu."


" Jadi kamu nggak marah kalau aku menikah dengan Mas Haris? "


" Ngapain aku harus marah. Aku sudah bahagia dengan Syafrie. Walaupun masa lalu kami cukup kelam namun akhirnya aku tak bisa membohongi hatiku bahwa aku masih mencintai Syafrie, meskipun betapa dalam luka yang dia goreskan untukku. Lagi pula, semua itu murni bukan kehendaknya, melainkan kehendak bapak. Aku dapat mengerti dan memahami bagaimana penderitaan suami aku itu. Kini, kami sudah bahagia. Aku malah semakin cinta pada Syafrie dan tak ingin berpisah darinya. Jadi bagaimana mungkin aku masih mengharapkan Mas Haris? "


" Jadi, kapan kalian akan menikah? " tanya Asma. Mendadak aku merasa gugup saat mendengar pertanyaan Asma.


" Kata bapak, minggu ini."jawabku akhirnya.


Mata Asma membulat tak percaya.


" Ihhh.... jahat banar ikam, tuh. Handak kawin kada bakesah wan ulun, nah.. " serunya dalam bahasa Banjar. Niah terkekeh mendengar gerutuan Asma.


" Maafkan aku, tapi kamu mau kan datang? Aku mengundang kamu dan Syafrie untuk datang ke pesta pernikahan aku. Jangan lupa bawa juga semua anak - anak kamu dan mamamu. Aku kangen sama mama dan istrinya kak Alfi."


" Tentu saja kami akan datang karena yang akan menikah adalah Saniah, sahabat baik Asmawati Basrie. Akhirnya aku bisa tenang.Aku turut bahagia dengan pernikahan kamu, Niah. Semoga kamu dan Mas Haris berjodoh sampai tua, sampai maut memisahkan kalian.. " kata Asma penuh haru seraya memelukku. Kami berdua saling berpeluang dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan. Hatiku lega sekaligus terharu.


" Mbak, ayo sekarang pake baju, yah. Mari saya bantu memakaikan bajunya." kata penata rias pengantin yang membuat aku kembali tersadar.


Pukul sepuluh pagi, acara pernikahan Niah dan Haris pun digelar.

__ADS_1


Bapak sendiri yang akan menjadi saksi menikahkan aku dengan Mas Haris dihadapan penghulu.


Suasana penuh dengan keharuan dan berlangsung khidmat. Mas Haris dengan lancar membacakan ijab qabul di hadapan penghulu. Pria yang sudah menjabat tangan bapak kini resmi menjadi suamiku, imamku dan tempat aku kelak mengais ladang pahala.


Ditengah pesta pernikahan yang berlangsung meriah, tiba-tiba suasana berubah hening bersamaan dengan kehadiran sesosok pria berpakaian batik ditengah pesta bersama seorang wanita yang rambutnya dicat pirang.


Bisik - bisik tamu undangan yang hadir sontak mengundang perhatian kedua mempelai.


Wajah Niah langsung berubah pucat saat melihat siapa yang hadir dalam resepsi pernikahannya.


Jubair datang bersama Meli, istrinya. Niah terhenyak di kursi pengantin. Memang, kisah antara dia dan Jubair sudah lama usai. Dia juga sudah tak memiliki rasa apapun terhadap pria itu. Tetapi, untuk bertemu kembali dengan Jubair di saat seperti ini sedikit banyak membuat Niah grogi dan serba salah.


Mas Haris menggenggam tangan Niah dengan erat. Pria itu seolah tahu apa yang sedang kurasakan.


" Jangan gugup. Dia hanya datang untuk memenuhi undanganku. Beberapa hari yang lalu, aku datang menemui Jubair. Aku meminta dia secara tegas untuk belajar mengikhlaskan kamu. Karena sebentar, kamu akan menjadi milikku. Dan sebagai bukti jika dia ikhlas melepasmu, maka dia harus datang menghadiri pesta pernikahan kamu, Prime rose. " bisik Mas Haris.


Aku seperti terhipnotis mendengar perkataan Mas Haris. Hingga tanpa sadar aku mengangguk..


Jubair dan Meli melangkah mendekati pelaminan tempat di mana Niah dan Haris duduk bersanding.


Tatapan mata pria itu lurus menghujam ke arah Niah. Ditatap seperti itu membuat Niah menjadi grogi. Pegangan tangannya semakin erat di lengan Haris. Haris bisa merasakan kegugupan istrinya hingga pria itu akhirnya menepuk punggung lengan istrinya dan memberikan senyum penuh dukungan untuk sang istri.


" Tak apa - apa, prime rose, semua akan baik - baik saja." bisiknya lembut.


" Selamat menempuh hidup baru, dek. Semoga kamu bahagia. Dan maafkan kesalahanku selama ini. Aku telah banyak menyakiti hatimu." ucap Jubair dengan wajah sendu.


Pria itu mencoba untuk tersenyum walaupun sebenarnya hatinya tak rela. Tapi dia tak bisa berbuat apa - apa karena Niah tak ingin lagi kembali bersamanya dan memilih pria lain karena hatinya telah lelah bertahan.


"Terima kasih, Kak... " hanya itu yang bisa Niah ucapkan. Dia terlalu gugup saat ini.


Jubair lalu menatap Haris, " Aku serahkan dia padamu. Bahagiakanlah dia, karena selama bersamaku dia tak pernah mendapatkannya. Aku minta maaf atas sikapku selama ini. Aku titip Niah. Tolong jaga dia, Bro... " kata Jubair sambil menepuk bahu Haris. Kedua pria itu berpelukan dan saling memberi dukungan.


Setelah mengucapkan selamat kepada Haris dan Niah, Jubair memutuskan untuk segera pulang. Dia tak sanggup untuk berlama-lama di sana. Terlalu menyakitkan baginya melihat Saniah duduk bersanding dengan Haris. Meski mulutnya berkata ikhlas tapi hatinya tak rela.


" Prime rose, jika capek duduk dan beristirahatlah. Simpan energinya untuk nanti malam." bisik Haris di telinga Niah. Senyum nakal tersungging di bibirnya. Sebelah alisnya naik turun menggoda menghadirkan semburat merah di wajah Niah.

__ADS_1


Ya... ampun, dia lupa akan hal itu. Jantung Niah jadi berdebar - debar tak karuan. Aduh..... bagaimana ini, pikirnya tegang. Hati Niah mendadak kecut. MALAM PERTAMA.....????


__ADS_2