PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 70


__ADS_3

Ingat hal itu, aku langsung menutup mulutku tanpa sadar sambil mengusap perutku yang buncit. Rasa panik mulai menyerang diriku. Habis sudah kesombonganku. Rasa beraniku yang tadi menggebu-gebu, kini hilang, menguap entah kemana saat mengingat perihal kehamilanku.


Wanita hamil dan penjara...


Sungguh bukan perpaduan yang bagus.


Aku menutup mulut menahan agar teriakan shock ku tidak terdengar sampai keluar.


Sigap aku menyambar gawaiku dan mencari tahu lewat google apa kira - kira sanksi yang didapat terkait pasal penganiayaan. Pelaku penganiayaan bisa di ancam dengan hukuman penjara minimal tiga bulan bila terbukti melanggar pasal 353 dan 356. Ahhh.... penjara tiga bulan...! Astaga.. bisa - bisa aku melahirkan di penjara. Aku bergidik ngeri. Mendadak aku jadi gentar. Bulu kudukku langsung berdiri.


" Syaf...! "


" Apa...? "


" Lihat, dulu ke sini." Aku menyodorkan handphone milikku ke arahnya. Syafrie memandang sekilas ke hapeku, lalu berdiri beranjak meninggalkan diriku. Dia mengambil air minum lantas memberikannya kepadaku.


" Minumlah obat penahanan nyeri bila kamu merasa sakit."


" Syaf... kamu punya uang tidak, untuk membayar pengacara..? "


Kening Syafrie berkerut mendengar ucapanku. " Untuk apa membayar pengacara ? "


" Aku takut perempuan ****** itu akan memperkarakan aku ke jalur hukum. Di sini menurut Google, hukuman untuk penganiayaan yaitu antara tiga bulan hingga satu tahun penjara. Aku tak mau melahirkan di penjara, Syaf.. " jawabku


"Huss.... istriku. Sudah aku bilang, jangan bicara kasar. Nanti bayi kita dengar. Lagi pula tak ada yang bakal di penjara."


" Tapi, ini beneran, Syafrie. Aku tak mau di penjara." kataku. Akhh... kenapa juga aku tak memikirkan ke arah sana.


Aku tak bisa membayangkan bagaimana diriku nanti. Rasanya lengkap sudah penderitaanku selama ini. Ditinggal suami menikah, bunuh diri, depresi, diperkosa oleh mantan suami, di tinggal kawin oleh pacar, lalu sekarang... dipenjara dan terancam bakalan melahirkan di penjara. Astaga.. nasib buruk apa? Aku tak mau.. " pikirku.


Syafrie merapikan kembali perlengkapan P3K dan menyimpannya kembali di atas


lemari. Lalu berjalan kembali menghampiri diriku. Menggenggam lembut jemariku dan menatap sendu wajah ini. " Tenanglah... tak ada yang akan di penjara, Asma..! "


Aku berdiri dengan gusar. " Bagaimana bisa tenang, tadi si ulat bulu itu mengancamku akan melaporkan ke polisi."


Syafrie meraih bahuku. " Sini...! " dia menggapai tubunku dan mendudukkan diriku di atas pangkuannya. Dagunya menempel di bahuku. Dapat kurasakan kemudian bibirnya menempel di sana.


" Kami sudah menyelesaikannya tadi. Itulah sebabnya mengapa aku datang terlambat menjemputmu."


" Kami.. ? Siapa maksudnya dengan kami?

__ADS_1


" Iya, aku dan Saniah. Tadi aku memintanya untuk menemaniku ke rumah perempuan itu."


Astaga.... Saniah sudi menginjakkan kaki ke rumah si Ulat bulu. Kapan? Terus... kenapa juga akhirnya perempuan gatel itu mau berdamai...?


" Kenapa si ulat bulu itu mau diajak berdamai? "


" Jangan mengatai orang lain, sayang. Ingat kamu itu lagi hamil." kata Syafrie sambil menggigit daun telingaku. Kedua tangannya mengelus perutku yang buncit dari sisi kiri dan kanan. Ada rasa hangat yang berdesir di dadaku mendapati perlakuan Syafrie padaku. Entahlah... aku tak tahu, mengapa perasaan aneh itu tiba-tiba saja hadir di hatiku.


" Saniah mengancam mereka bahwa dia akan menggugat balik dengan tuduhan perzinahan jika mereka berani melaporkan dirimu. "


" Jadi itu sebabnya.. Takut juga mereka, ya. Hmm... dasar laki-laki banci. Heran juga aku, kata Saniah ' itu' nya suaminya nggak bisa bangun, tapi kenapa masih bisa berzinah dan bisa bikin anak."


" Maksudnya ' itu'nya apa, Asma? " tanya Syafrie yang tak faham maksud ucapanku.


" Itu juniornya..burung...burungnya si suaminya Saniah." jawabku sambil menyentuh bagian milik Syafrie. Astaga syafrie, aku heran, sudah dua wanita hadir dalam hidupnya masih saja tak faham dengan istilah seperti itu. Lugu atau bego aku tak tahu.


Syafrie diam sesaat, kulihat wajahnya menegang saat gak sengaja tadi aku menyentuh 'miliknya'. Lalu kemudian mencoba mencerna akan maksud ucapanku. Setelah beberapa saat dia akhirnya bersuara juga.


" Kamu kok, tahu. Apa Saniah yang cerita? "


Kepalaku naik turun mengangguk.


Kembali dia diam. Namun dengus nafasnya seakan tertahan. Aku bisa merasakannya melalui punggung ku.


Aku mengangguk patuh. Syafrie memeluk tubuhku semakin erat. Kami kembali terdiam dalam hening.


Malam semakin beranjak larut. Suasana semakin sunyi. Hening... dan diam. Hanya sesekali terdengar suara hewan malam di luar atau suara jangkrik. Kadang sesekali ribut suara yang berasal dari dapur mama. Aku tak urus. Paling juga paman jerry yang beradu lari sama tom si kucing.


Syafrie mengubah posisi. Sekarang dia berbaring di pahaku. Dia memiringkan kepala dan mengecup tempat anaknya bersemayam.


" Asma... "


" Hmmm... mulai deh, jangan macem-macem, Syafrie. "


" Perjalanan cinta kita bisa seaneh ini, ya Asma."


Aku menatap wajah pria yang katanya paling tampan di Suka Rahmat ini. Ada air mata yang jatuh dari sudut matanya.


Syafrie sedang menangis...


" Asma... Aku cinta kamu.. "

__ADS_1


Aku diam. Tak menjawab ucapannya. Setelah sepuluh tahun, ini adalah pertama kalinya aku tak mengejek pernyataan cintanya padaku. Entahlah... mungkin juga aku sudah terhipnotis oleh air matanya.


Kami sama-sama terdiam. Hanyut dalam perasaan masing-masing. Malam semakin beranjak larut hingga hampir mendekati waktu subuh. Suasana semakin hening. Syafrie bangun dan beringsut mendekati diriku.


" Asma, boleh aku tidur di sini, malam ini? Aku ingin sekali tidur berdua dengan istriku dalam satu ranjang."


" Tidak... "


" Hanya memeluk saja. Aku janji "


" Tapi ranjang ini tidak muat untuk kita berdua." Aku menunjuk dengan isyarat lirikan mata ke arah tempat tidur yang biasa aku dan Fadil gunakan.


" Bagaimana kalau kita tidur di tempatku saja? " Dia menunjuk ke tempat tidurnya. Iya.. selama ini, walaupun kami tidur dalam satu kamar, tapi aku tidur di ranjang dan Syafrie tidur di bawah di kasur busa yang agak besar.


" Mumpung Fadil tidur sama mama, bolehkah, Asma? " Bertanya dia penuh harap.


Baiklah.. aku akhirnya mengangguk. Biarlah, aku berpikir bahwa sekali - sekali, bayi dalam kandunganku ini butuh juga untuk berdekatan dengan ayahnya.


Ada binar bahagia di matanya. Lekas dia bangkit dan membentang kasur di lantai. Dia pun mengganti sprei dengan yang baru. Mengambilkan bantal untukku dan dia lalu menepuknya tiga kali.


" Ayo, sini sayang. Tidurnya di sini sama aku." katanya sambil membimbingku turun ke kasur.


Kami tidur bersebelahan dengan posisi telentang dan mata menatap langit-langit. Kami pun sama-sama hening. Syafrie menoleh ke arahku.


" Sudah tidur? "


" Belum.. " jawabku. Dia menarik tubuhku agar menghadap ke arahnya. Kami jadi saling memandang satu sama lain.


" Kenapa belum tidur? "


" Aku nggak bisa tidur." jawabku.


" Besok, mau ya ikut aku." katanya sambil tersenyum padaku. Namun, aku juga menangkap ada kesedihan di sorot mata pria yang berstatus suamiku itu. " Aku mau kamu bertemu seseorang. Itu adalah hadiah dari aku atas semua kesakitan yang kamu alami selama ini."


" Ahh.. sudah lupakan saja. Tak ada obat yang bisa mengobati semua kesakitanku selama ini. Biarlah waktu yang akan mengobatinya. Dia akan sembuh dengan sendirinya." tukasku sambil berbalik membelakangi Syafrie. Aku tak ingin lagi membahas semua omong kosong ini. Toh.... aku juga sudah berjanji. Aku tak ingin lagi memikirkan tentang kebahagiaanku. Prioritas utamaku saat ini adalah kebahagiaan anak -anakku. Walaupun sulit untuk memaafkan, tapi setidaknya aku senang jika anak - anak aku hidup bahagia bersama ayah dan ibunya. Aku masih bisa berkompromi dengan diriku sendiri jika menyangkut masalah anak - anakku. Lihatlah Asma yang sekarang, bahkan dia rela mengorbankan perasaannya demi untuk kebahagiaan anak - anaknya.


Lantas, apa lagi yang pria pemilik lesung pipit ini sedang rencanakan untuk aku.


Sebelah tangan Syafrie dia jadikan bantalan untuk kepalaku sedang yang sebelah lagi dia susupkan ke perutku.


" Dia bergerak, Asma."bisik Syafrie lirih. Ada getaran dalam nada suaranya. Sebelah tangan Syafrie memeluk diriku.

__ADS_1


Aku tak mau memikirkan apa yang Syafrie ucapkan atau yang sedang dia rencanakan. Badanku sudah terlalu lelah dan pegal - pegal karena peristiwa tadi siang. Jadi aku akhirnya tenggelam pulau Kasur dan terlelap dalam pelukannya. Aku juga tak peduli pada Syafrie yang masih belum tidur di sebelahku.


__ADS_2