
" Apa benar yang dikatakan Meli jika kamu dan Jubair sudah bercerai?
Deg........
Jantungku seakan berhenti berdetak. Oh Tuhan........ bagaimana ini.
" I.. ya, Pak. " jawabku akhirnya memilih jujur. Aku menunduk tak kuasa menatap wajah Bapak. Aku yakin kini wajah itu pasti sarat akan kecewa.
Bapak memang sangat menyayangi pria itu. Pria yang sudah mengangkat derajat hidup keluarga kami. Mengangkat kami dari jurang kemiskinan. Tak bisa kupingkiri, betapa besar jasa pria itu pada kami semua. Jauh dilubuk hatiku, aku ternyata masih belum bisa menghilangkan perasaan peduli pada pria yang sudah menancapkan luka sekaligus juga mengulurkan tangan di dalam kehidupanku.
" Baguslah, setidaknya di antara kalian berdua ada yang mau jujur kepadaku." ucap Bapak lirih.
Aku mendongak terperangah mendengar ucapan Bapak.
" Ap.. apa maksud Bapak? Niah tak paham."
Bapak menghela nafas, lalu bergerak masuk ke dalam. Mamak dengan lesu mendorong kursi roda Bapak. Sedangkan aku mengikuti keduanya di belakang dengan hati yang bertanya-tanya.
Apakah Bapak sudah tahu tentang perceraianku dengan Jubair. Jika iya, mengapa dia tak marah kepadaku? Bukankah selama ini dia yang begitu gigih menantang untuk bercerai dengan pria itu.
Mendadak ada rasa bersalah mendera di hatiku. Dadaku terasa sesak membayangkan bagaimana perasaan Bapak yang kecewa dengan perceraian aku dan Jubair. Pasti pada saat itu, Bapak merasa sangat hancur dan kecewa sekali padaku.
Aku menengadah menghapus setitik bening yang tiba-tiba saja menggenang di sudut mataku.
Sesampainya di ruang tengah, Bapak memberi isyarat kepada mamak untuk berhenti.
" Niah, panggilkan si Haris kemari! " titah Bapak yang membuatku tersentak dari lamunanku. Mamak dan aku saling pandang, kaget.
Aku melongo, karena tak mengerti apa maksud Bapak memintaku untuk memanggil Mas Haris.
" Niah.... kamu dengar tidak? Panggilkan pacarmu itu kemari. Katakan Bapak mau bicara. " ulang Bapak lagi.
Aku akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah seraya pergi ke dapur untuk menemui Mas Haris. Tampak pria berwajah bening itu sedang sibuk mengutak-atik laptop memeriksa laporan keuangan yang dikirim oleh perusahaan.
__ADS_1
" Mas.... " panggilku ragu. Dia menoleh kepadaku.
" Hai, prime roseku.... " Aku mengerut mendengar panggilan Mas Haris kepadaku.
" Prime rose..? ulangku seraya menatap kepadanya heran.
" Iya, karena kamu itu cantik seperti prime rose, paham?" jawabnya seraya bangkit berdiri mensejajarkan dirinya denganku. Kedua tangannya menangkup wajahku.
" Oh, gitu." Aku mengangguk sambil tersipu malu. Ucapan Mas Haris membuatku melambung tinggi sampai ke langit ke tujuh, hingga melupakan tujuanku kemari.
" Prime rose tadi panggil Mas? Ada apa, sayang? " tanya Mas Haris yang menyadarkan aku tentang tujuanku memanggilnya.
" Hem,... iya. Itu tadi, Mas di panggil sama Bapak. Sekarang Bapak ada di ruang tengah. Katanya sih, mau bicara sama Mas. " jawabku.
Mas Haris mendengarkan ucapanku dengan seksama. Dia manggut - manggut, lantas kemudian tersenyum.
"Ohh, gitu. Jadi Bapak mau bicara denganku. Baik.... ayo kita kesana." ujarnya sambil menarik tanganku yang masih enggan bergeming.
Cup.....
Aku tersadar dan gelabakan sendiri. Aku tak menyangka Mas Haris berani mengecup pipiku. Aku jadi malu bercampur takut. Takut jika ada yang melihat ulah Mas Haris tadi.
Mas Haris terkekeh melihat pipiku yang bersemu merah.
" Makanya jangan suka melamun. Calon suami di diemin aja. Kena hukum, deh" kekehnya.
" Aih, Maaasss curanggg..... " rengekku manja. Mas Haris makin terkekeh.
Kami berdua sampai di ruang tengah keluarga. Bapak dan mamak masih menunggu kami di sana.
Dengan canggung, aku mengambil tempat duduk di samping Mas Haris yang sudah terlebih dahulu duduk di hadapan Bapak. Mas Haris terlihat berwibawa sekali saat berhadapan dengan Bapak. Diam - diam aku merasa bangga dengan priaku itu. Hatiku berbunga - bunga.
" Nak Haris, mohon Maaf jika Bapak sedikit lancang. Kalau Nak Haris tidak merasa keberatan, bolehkah Bapak bertanya sedikit kepada Nak Haris?" tanya Bapak sambil menatap lurus ke dalam bola mata pria itu.
__ADS_1
Mas Haris tersenyum sambil menatap Bapak. " Tidak, sama sekali saya tidak keberatan. Saya senang jika bisa menjawab pertanyaan Bapak dan mamak. Katakan saja, Pak. Apa yang ingin Bapak atau Mamak ingin tanyakan?" ujar Mas Haris dengan tenang.
" Begini, Nak Haris. Kami ini hanya orang desa yang tak tahu apa - apa tentang anak muda zaman sekarang. Jadi, kami ingin bertanya, agar jelas tentang kejelasan maksud kedatangan Nak Haris ke rumah kami. Tak mungkin Nak Haris rela datang sejauh ini jika hanya sekedar mengantar bawahan yang sedang sakit untuk menjenguk kedua orang tuanya, kan? " tanya Bapak dengan hati - hati.
Mas Haris mengangguk tanda faham akan maksud pembicaraan Bapak. Dia memang hebat. Pria itu sungguh tenang dan tidak sedikitpun kharismanya hilang.
" Sebelumnya, saya minta maaf, jika kedatangan saya kesini telah membuat Bapak dan mamak merasa tidak nyaman. Saya sungguh tidak bermaksud demikian. Kedatangan saya kemari adalah ingin mengenal kedua orang tua dari wanita yang saya suka. Ingin menyambung tali silaturahmi kepada Bapak dan mamak. Disamping itu, saya juga ingin mengutarakan niat baik saya untuk meminang Saniah, putri Bapak dan mamak untuk saya jadikan sebagai istri dan calon ibu dari anak - anak saya kelak." jawab Mas Haris dengan tenangnya. Ada kesungguhan terpancar di wajahnya.
Mendengar ucapan Mas Haris tadi, aku tertunduk dengan hati yang berdebar- debar. Benarkah yang baru saja kudengar? Mas Haris meminangku secara langsung pada Bapak dan mamak. Astaga....... oh Tuhan. Pria itu sungguh sangat gentlemen. Dia tak gentar menghadapi Bapakku yang sangar.
Bapak terdiam mendengar ucapan Mas Haris. Terlihat dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu,...
" Apa Nak Haris tahu tentang status Niah? "
Tiba-tiba Bapak bertanya pada Mas Haris.
" Iya, Pak. Saya tahu tentang status Sani, eh... maksudnya Niah. " jawabnya.
" Apa kamu juga tahu, siapa mantan suaminya? " tanya Bapak lagi. Sontak saja aku langsung berdiri ingin menyampaikan protes. Aku tak setuju jika Bapak mengatakan pada Mas Haris tentang Jubair. Bapak tak perlu mengatakan apapun pada Mas Haris tentang pria masa laluku itu.
" Dek, duduklah. Tak baik berbicara sambil berdiri seperti itu. Nggak sopan, dek." tangan Mas Haris memegang lenganku dan memintaku untuk duduk kembali. Kemudian Mas Haris menatap ke arah Bapak.
" Mengenai siapa pun lelaki dari masa lalu Niah, saya tak masalah, Pak. Saya percaya, Niah sudah dewasa dan bisa menentukan sendiri mana yang terbaik untuk dia. Saat ini saya berbicara tentang masa depan kami. Masa depan yang akan kami lalui bersama - sama nantinya." kata Jubair bijak.
Terdengar Bapak menghela napas panjang. Lelaki tua itu pun kemudian berucap.
" Baiklah, kami hargai keinginan Mas Haris. Kami selaku orang tua sama sekali tak merasa keberatan. Kembali semuanya tergantung pada keputusan Niah.Bagaimana, Niah? Apa kamu setuju untuk menerima lamaran Nak Haris? "
Aku menatap Mas Haris. Mencoba mencari tahu, apakah pria itu bersungguh-sungguh ingin menjadikan aku sebagai kuil cintanya. Aku tak ingin gegabah untuk mengambil keputusan yang penting seperti sekarang ini karena ini semua menyangkut masa depanku.
Suasana mendadak hening.
" Assalamu'alaikum.... " Tiba-tiba saja Jubair sudah berdiri di ambang pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dan ruang tengah.
__ADS_1
Aku tertegun menatap wajahnya. Tatapan mata kami bertemu dan matanya mengunciku. Bibirku mendadak kelu. Aku seperti maling yang tertangkap basah. Merasa risih dan serba salah. Apa yang terjadi?