
Pagi hari sekali aku sudah bangun. Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Rasanya tubuhku gerah sekali karena semalam, sepulang dari rumah Marina, aku langsung masuk kamar dan tidur..
Setelah keluar dari kamar mandi aku berniat untuk berkaca di depan cermin yang terpasang di antara kamar mandi dan dapur. Namun, baru saja aku mematut diri di depan cermin, telingaku menangkap pembicaraan orang - orang rumah mengenai aku dan ayah anakku.
" Syafrie sudah pulang? " tanya Kak Mansyah.
" Sudah.. " jawab kak Darre.
" Aku menyerah menghadapi Asma. Entah harus di apakan anak itu. Bingung aku bagaimana caranya menghadapi sikap keras kepalanya itu. Aku sampai malu sama Ambo Tahang. " Ambo Tahang adalah nama mantan mertua Syafrie, Bapaknya Marina.
" Mama juga sudah angkat tangan. Sekarang terserah apa maunya Asma. Jika dia mau cerai.. ya cerai saja sama si Syafrie." kata mama lirih. Aku tercekat mendengar suara mama.
" Sudah benar kemarin Syafrie memberi waktu kepada Asma beberapa minggu untuk bertemu dengan Ambo Tahang. Tapi, kejadian kemarin benar-benar membuat aku kehilangan muka jika bertemu dengan Ambo Tahang." kata Kak Mansyah lagi. Denting sendok bertemu dengan piring terdengar seperti dihentak dengan kasar.
" Kepalaku hampir pecah saat mengetahui kejadian di rumah Ambo Tahang. Aku tak habis pikir, apa yang ada di kepala Asma. Tingkahnya semakin menjadi - jadi. Sampai - sampai Syafrie menjadi stress dibuatnya. "
" Seharusnya kita memang tidak boleh terlalu keras terhadap adik kalian itu. Selama ini kita terus menekan dia dan selalu memaksakan kehendak kita kepadanya tanpa mau mendengar apa kemauannya. Kedepannya, aku harap kalian bisa lebih bijak lagi dalam menghadapinya. Dia banyak sekali berkorban perasaan. Mama sebenarnya sedih melihat keadaannya."
" Betul kata mama, Syah. Mulai sekarang kita harus lebih lembut lagi dalam menghadapi Asma. Selama ini kita pendekatannya bukan pake hati. Makanya adik kita itu bukannya mendekat tapi malah menjauh dari kita." suara kak Adit kali ini terdengar juga ikut memberikan pendapat.
" Iya, adik kita itu seolah menutup diri dan membangun benteng yang tinggi untuk kita. Kita di rumah tapi jarang sekali berbicara dan bertemu. Dia hanya mengurung diri saja di kamar."
" Akh, aku pusing Melihat mereka. Mereka yang berselisih kenapa aku yang pusing." kata Kak Lela.
" Sudahlah.. sebaiknya kita biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka berdua. Kalau sudah tidak mampu, barulah kita bantu. Toh mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Biarkan mereka memutuskan sendiri apa yang menurut mereka adalah yang terbaik."
Semua tampaknya setuju dengan keputusan mama. Kak Mansyah dan Kak Adit tidak bisa lagi mendebat kata - kata mama.
Kalau boleh jujur, aku agak sedikit mendongkol mendengar pembicaraan mereka. Kalau menurutkan kata hati, maka sebenarnya aku tak rela jika baru sekarang mereka mau memikirkan tentang perasaanku. Kemarin, kemarin kemana saja?
Aku sebenarnya merasa agak risih juga harus menguping pembicaraan mereka tentang masalah rumah tanggaku yang berantakan. Aku ingin kelaut dari tempat ini secepatnya.Namun saat mengingat mama, aku jadi merasa kasihan pada mama yang nantinya akan merasa serba salah karena telah menggibah anaknya. Jadi aku memutuskan untuk tetap di sini saja sampai mereka semua selesai.
Aku memilih duduk di lantai dan memijit pelan kakiku yang keram karena kelamaan berdiri. Tak lupa pula aku berdoa agar tak ada orang yang masuk ke kamar mandi dan memergoki aku yang sedang menguping.
Pintu kamar mandi terbuka. Di sana, berdiri pria yang sedang tidak ingin aku temui. Dia berdiri mematung sambil memandang ke arahku. Apakah Syafrie juga sudah mendengar pembicaraan mereka?
Aku bertanya- tanya dalam hati. Jujur saja, cara dia memandangku membuat aku tak nyaman. Pria itu kemudian menyeret langkahnya mendekati cermin. Tepat di sebelahku.
Aku bergeser tubuh karena merasa terganggu dengan kehadirannya. Beberapa hari setelah kejadian di rumah Marina itu, ayah dari anakku itu mendiamkan diriku. " Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu mau membunuhku dengan tatapanmu yang membuat aku jengkel itu? Berhenti menatapku. Aku tak suka.. " sungutku.
Wajah Syafrie berpaling dari wajahku. " Bahkan melihat kamu saja aku sudah salah menurutmu." kata pria itu.
" Memangnya, kamu mau apa?" aku menantang ayah Fadil dengan mengangkat wajah.
" Masih pagi, sayang. Pamali kalau bertengkar. Jauh rejeki. Oke, aku ngaku salah, maafin aku, ya." katanya sambil tersenyum manis.
What.... apa aku tak salah dengar. Syafrie tadi tu yang ngomong? Aku tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Syafrie minta maaf dan lebih memilih mengalah padaku.
Lidahku mendadak kelu. Menghadapi sikap Syafrie yang seperti itu, membuatku kehabisan kata-kata untuk mendebatnya. Aku terpaksa berdiam diri mengikuti Syafrie yang juga terdiam.
Jika begini terus, bisa aman dunia.
Aku tersenyum padanya. " Kamu baik - baik saja, kan? " tanyaku padanya.
" Aku baik, kenapa? " Syafrie bingung melihat sikapku.
__ADS_1
" Tolong cubit aku..! " pintaku pada pemilik lesung pipit itu.
" Aneh, kenapa kamu minta dicubit? "
" Iya, agar aku tahu bahwa ini semua bukan mimpi." kataku pada Syafrie.
" Tentu saja ini bukan mimpi. Ini... nih, ... " Ayah Fadil itu lalu menepuk pelan pipiku.
" Gimana, masih belum sadar juga? "
Aku menepis tangannya dari pipiku. " Jangan GR, aku hanya memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. tumben sekali kamu mengalah. Apa kamu sedang merencanakan sesuatu? "
ucapku.
" Maaf, aku kira kamu tadi mencemaskan aku. Sekali lagi maaf jika rasa percaya diriku membuatmu tidak nyaman."
Sudah dua kali Syafrie meminta maaf. Terbentur dimana tadi dia sebelum datang ke rumah ini. Tapi benaran, aku bisa melihat ada ketulusan di mata pria itu.
" Aku heran saja melihat kamu mau mengalah padaku."
" Kamu dengar sendiri, kan? Kata - kata mama tadi. saat ini, aku sedang belajar untuk menjadi suami yang lebih baik lagi untukmu. Aku sedang belajar untuk lebih bersabar dan mencoba lebih mengerti lagi tentang dirimu. Lebih dewasa lagi dan lebih bijaksana. Agar istriku tak lagi pergi meninggalkan aku." katanya sambil mengelus kepalaku yang saat ini sedang tak tertutup.
" Ya, ya... terserahmu, lah. " Aku pergi berlaku meninggalkan pria itu. Dia berjalan mengikutiku dari belakang.
Apa dia tak merasa takut setelah pernah melihatku mengamuk. Apa perlu kubenturkan lagi kepalanya agar dia tahu bahwa aku tak pernah ingin kembali hidup bersamanya.
Ngomong - ngomong tentang aku yang pernah mengamuk. Aku jadi teringat lagi tentang kejadian beberapa waktu yang lalu di rumah mantan mertuanya Syafrie itu.
Membayangkan kejadian di rumah Marina itu membuatku bergidik sendiri. Ternyata sedemikian hebatnya luka batin yang kualami hingga membuat seorang wanita dengan perut buncit seperti diriku mengamuk sedemikian hebat.
Aku mengamuk membabi buta disana. Sampai - sampai perutku menjadi keram dan nyeri. Aku tak mengira, jika ku sangka setelah kelelahan mencaci maki dan menghancurkan seluruh isi ruangan di rumah mantan maduku, aku merasa puas. Tidak... terkutuklah setan yang ada di dalalm tubuhku.
Aku ingat bagaimana aku dengan congkaknya duduk di kursi ruang tamu keluarga itu. Memandang sinis kepada kelima manusia yang baru saja tiba itu.
Dasar memang aku sedang dirasuki iblis. Tak puas dengan membantai habis perasaan tiga orang manusia yang kini sudah terkapar tak berdaya itu, aku kini malah menyasar anak kecil yang kini sudah berada di hadapan kami.
Aku lantas berdiri mendatangi bocah perempuan yang berdiri tepat di depan pria berkaki satu itu.
" Hmm, apakah kamu anak Marina? " tanyaku seraya mengelus kepala bocah itu.
" Iya, tante." jawabnya takut - takut seraya menatapku.
' siapa namamu nak? " tanyaku lembut.
" Sasha... tante. " jawabnya masih dengan ekspresi wajah takut.
Tatapannya mengingatkan aku pada seorang wanita yang dulu sangat ingin kubantai di atas pelaminan itu. Wanita yang telah merebut suamiku dengan memanfaatkan wajah cantiknya yang lembut dan keibuan.
" Hem, namamu cantik, tapi sayangnya wajahmu tak secantik namamu. Oh ya, apakah ibumu sudah memberimu pelajaran bahwa jangan pernah merebut suami orang jika tak ingin mendapat karma. " Begitulah cara aku membalas Marina melalui anaknya. Wajah Marina semakin pucat pasi mendengar perkataanku.
" Kamu... " Pria berkaki satu itu maju dengan langkah tertatih - tatih mendekatiku.
" Jaga ucapanmu. Berani sekali kamu menghina anakku."
" Kenapa? Memangnya aku takut padamu? Hei, bung. Berdiri dengan satu kaki saja kamu sudah kesulitan, apa lagi untuk melawanku." ejekkku pada pria itu. Parah.... aku memang sudah keterlaluan.
__ADS_1
Pria itu merasa geram dan mungkin dia berniat hendak memukulku. Namun sebelum tangannya jatuh ke tubuhku, Syafrie sudah lebih dahulu berdiri di hadapanku. Ayah Fadil itu segera menyeret diriku secara paksa meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya meminta maaf kepada semua orang yang ada di sana.
" Kamu sakit, Asma. " katanya saat itu seraya menyentak tanganku dengan kasar. Matanya memerah menahan amarah. Baju dan rambutnya acak - acakan.
Dengan emosi, beberapa kali kulihat dia meninju badan mobil sehingga tangannya kini berdarah karena terluka.
" Terus saja, Syafrie kamu melakukan itu. Cih.... kamu memang selalu membela keluarga itu sampai - sampai kamu tega mengorbankan aku dan anak kita demi selir tersayangmu itu."
Sungguh, aku sangat marah pada Syafrie yang melakukan tindakan brutal dengan menyakiti diri sendiri. Tindakannya ini menurutku sama saja dengan membela wanita itu dan mantan mertuanya.
Karana dongkol dengan sikap Syafrie, maka saat melihat dia menenangkan diri dengan berjongkok membelakangi mobil,
aku dengan sigap membuka pintu mobil dan langsung tancap gas bersama mobilnya itu.
Tak kuhiraukan lagi suaranya yang berteriak-teriak memanggil agar aku segera menghentikan kendaraan. Masa bodoh. Aku wanita kota yang mandiri. Hidup sendiri saja aku berani, apa lagi hanya menjalankan mobil. Aku memang mahir membawa mobil. Kehidupan di kota membuat aku bisa beradaptasi dengan cara hidup mereka yang metropolitan. Aku belajar mobil dan mengambil SIM saat kuliah dulu.
Sebagai balasan karena membuatku kesal, aku menabrakkan bagian depan mobil Syafrie ke pohon mangga yang beragama di halaman rumah mama. Alhasil bagian depan mobil itu ringsek dan rusak meski tidak terlalu parah. Perut aku kembali kram dan tegang. Ini bagianmu, Syafrie. Siapa suruh me curangi dan berani membawa aku pergi menemui 'keluarga' mu yang lain.
...---...
Hari ini aku sudah janjian dengan Saniah untuk keluar bersama. Oh ya, kami sudah baikan beberapa hari yang lalu. Tepatnya saat mendengar aku pingsan di rumah Marina, dia langsung bergegas mendatangiku untuk menjengukku.
Awalnya aku malas menemuinya. Aku malas bertemu kembali dengan bekas sahabat yang sudah menjadi sahabat dari musuhku itu. Namun, seperti tidak tahu dengan sifat Saniah saja. Dia ternyata masih saja punya sifat tak punya muka dan tak punya malu.
Mana segan dia bertamu denganku. Setelah insiden tidak sengaja di Puskesmas beberapa bulan yang lalu, dia seolah tidak punya malu untuk datang menemuiku kembali.
Dahulu, kami berteman sangat akrab. Kami selalu kemana-mana berdua. Aku suka datang ke rumahnya. Ada miniatur beruang dan manusia di rumahnya.
Saat akan keluar rumah, aku minta izin kepada mama, tapi tidak kepada Syafrie. Dasar istri durhaka. Aku hanya melewatinya saja setelah merampas kunci mobil dari sakunya.
" Apakah kamu sudah izin dahulu sama Syafrie? " Saniah mendekati dan berbisik sambil melirik ke arah Syafrie.
" Sudah, tak usah hiraukan dia. Ayo kita pergi.!" ajakk pada Saniah.
" Asma, hati - hati bawa mobil. Jangan terlalu lelah." kata Syafrie. Aku mendelik, tapi tak urung menjawab juga ucapannya.
" Iya! " jawabku sekenanya.
" Asma.... "
" Apa lagi, sih.. " bentakku. Saniah geleng - geleng kepala.
" Kamu melupakan sesuatu? "
Bola mataku memutar jengah. Sialan Syafrie.... aku bukannya tak faham akan maksudnya. Tapi, di depan mama dan Saniah? Bah.... bisa hancur reputasi Asma yang galak dan keras kepala.
Syafrie berdiri menghadap ke arahku. Terpaksa aku meraih tangannya dan mencium punggung tangannya untuk yang pertama kalinya selama pernikahan kami yang kedua ini.
" Apakah kamu membawa uang? " Ayah Fadil memang selalu bisa memancing emosi. Tas salempangku mendarat di pinggang Syafrie. "Uang dari mana. Kan, kamu yang telah membuat aku jadi pengangguran." Syafrie terkekeh lantas menyerahkan sebuah kartu ATM kepadaku. " Tanggal sandinya, hari pernikahan kita yang kemarin."
Aku tak menjawab perkataan Syafrie. Tanpa mengucapkan terima kasih aku berlalu dari hadapan Syafrie.
" Asma, hati - hati. Dan jangan terlalu lelah. Ingat, kamu sedang hamil." Ah.......rasanya aku ingin cepat - cepat terbang meninggalkan rumah mama agar tak mendengar suara ' bebek' Syafrie lagi.
Ada keraguan di wajah Saniah ketika aku memasukkan kunci mobil Syafrie kedalam kunci mobil Syafrie.
__ADS_1
" Kamu beneran bisa bawa mobil? "
Aku mengendikan bahu. " Aku ini wanita yang mandiri. Jangankan untuk menyetir mobil, cari uang untuk makan sendiri saja, aku bisa. "