
Sepuluh tahun yang silam
" Asma, jika kamu memiliki sebuah benda kesayangan, apakah kamu mau berbaginya bersama orang lain? " Syafrie bertanya padaku sesaat setelah kami menjalankan sunah rasul bersama. Napasnya masih lagi memburu.
" Selama dia tidak meminta suamiku, aku mungkin akan memberikannya. " jawabku seraya menarik selimut untuk menutupi bagian dadaku yang tidak tertutup selembar kain pun.
" Abang serius, Asma. Jangan menggoda abang lagi. " kata Syafrie ketika tanganku kembali mengusap dadanya.
" Hmm, Asma juga serius. Kalau hanya benda saja yang dia minta, Asma akan kasih, bang! " Aku kembali mengelus dadanya. Kali ini dengan gerakan yang terputus-putus.
Syafrie menggeram karena aktivitasku membuatnya on kembali, sedangkan dia belum lagi mendapatkan jawaban yang memuaskan dariku.
" Asma, abang bertanya, kamu kasih jawabannya yang benar, dong! "
Aku kemudian bangkit dari tidur dan duduk bersandar di kepala ranjang. Masih dengan posisi tubuh dalam keadaan bugil, kutarik kepalanya ke pangkuanku dan mulai memijit - mijit kepalanya agar terasa rilek.
" Abang, sejujurnya Asma tak suka dengan pertanyaan abang." Aku mendengus kesal.
" 'Andai' saja, Asma! " ucapnya cepat.
"Seandainya saja, barang yang kau punya itu dulu milik orang lain. Dan suatu hari orang itu datang dan memintanya kembali. Apakah kamu akan menyerahkannya atau memilih berbagi dengannya?" tanya Syafrie dengan mimik serius.
" Aku tak punya barang berharga yang lain, selain abang. " jawabku pelan seraya menghela nafas. Jujur saja, aku kurang suka dengan arah pembicaraan Syafrie saat ini.
" Jawab, Asma! pinta Syafrie setengah mendesak.
" Kok abang maksa, sih. Apa yang mau diminta, kan abang sudah tahu, aku tak punya sesuatu yang berharga selain abang. Apa abang mau kalau kubagi? Atau bagaimana kalau abang saja yang menjawab..!" Kini aku yang balik bertanya pada Syafrie.
Kini gantian dia yang mendengus. "Ditanya, malah balik bertanya."
Hening, Syafrie menghela nafas panjang. Pandangannya menerawang jauh, seperti ada yang menggangu pikirannya. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
...----...
Usia kandunganku sudah memasuki bulan ke tujuh. Atas keinginan Syafrie, aku mengungsi ke rumah mama, karena dia takut, jika sewaktu - waktu aku ingin melahirkan, sedangkan di rumah tak ada siapapun saat dia bekerja.
Sebenarnya, mertuaku juga menyuruhku untuk melahirkan di rumahnya. Namun, aku lebih memilih untuk mempersiapkan kelahiran anakku di rumah mama saja. Alasannya selain ini adalah cucu pertama mamaku, mama juga tak ingin aku merepotkan mertuaku. Dan alhamdulillah, Syafrie tampaknya setuju - setuju saja dengan ide ini.
__ADS_1
" Asma.!"
" Hmm, ...apa?"
" Temanku ingin menikah..! "
" Terus...? Masalahnya apa? " Aku menghampiri dan duduk di sebelahnya. Jari - jemariku yang lentik mengelus dan mengusap kepalanya. Pandangan matanya tak terbaca.
" Rumit..! " Dia menghela nafas panjang. Berkali - kali dia menarik nafas, seakan - akan ada beban berat yang mengganjal di hatinya.
" Rumit? Masa nikah aja, kok rumit. Atau nggak ada modal buat nikah? " Aku bertanya. Apa lagi yang rumit dari masalah pernikahan selain masalah dana.
Syafrie mendengus kesal. " Dengar dulu, Asma. Aku belum selesai bicara. Jangan main potong, aja! "
Aku diam. Kembali mendengarkan ucapan Syafrie.
" Temanku itu sudah beristri. Dan istrinya sedang hamil anak pertama mereka. Namun, dulu sebelum dia menikah, temanku itu memiliki seseorang yang boleh di bilang sangat spesial. Bahkan mereka juga menempuh pendidikan di kampus yang sama saat masih kuliah. Hanya saja berbeda jurusan." Pandangan mata Syafrie jauh menerawang ke suatu masa. " Sampai suatu sebab, mereka akhirnya sepakat untuk mengakhiri hubungan itu." ucapnya getir. Aku yang mendengar cerita itu, jadi ikut terbawa suasana.
Suasana hening sesaat. Syafrie kembali melanjutkan ceritanya. " Waktu berlalu begitu cepat. Cerita lama berganti dengan cerita baru. Demikian juga dengan teman abang itu. Dia kemudian bertemu dengan gadis lain dan jatuh hati. Teman abang itu benar-benar mencintai gadis itu hingga dia kemudian menikahinya. Menjadikan gadis itu sebagai satu-satunya wanita dalam hidupnya. Teman abang itu sangat bahagia. Dia pikir hidupnya nyaris sempurna. Istri yang cantik, pekerjaan yang tetap dan mapan, dan mereka berdua juga sedang menantikan kehadiran anggota keluarga baru mereka. Namun, rupanya masa lalu teman abang itu kembali. Membawa kotornya dosa yang pernah mereka lakukan. Bukankah sangat ironis sekali? " ucapnya getir.
" Dan kini dia akan menikahi masa lalunya sementara istrinya sedang mengandung anak mereka." Aku memotong ucapan Syafrie itu bersama rasa nyeri yang menyambit di dadaku. Aku membayangkan bagaimana sakitnya yang di alami oleh istri temannya Syafrie itu.
" Tapi dia punya alasan, Asma.! "
" Halah, apapun itu alasannya, tetap saja dia menyakiti istrinya. " jawabku dengan ketus. Entahlah, aku tiba-tiba saja terbawa emosi saat mendengar Syafrie seolah - olah membela temannya itu. Pikiranku kini traveling kemana-mana. Aku mencoba mengabsen nama - nama teman Syafrie. Namun, tak satupun juga kutemui nama yang pantas masuk sebagai kandidat.
Sementara aku sibuk berpikir dan menerka - nerka, suamiku itu malah terlihat makin gelisah dan muram.
" Sudahlah, nggak usah di pikirkan, kamu juga nggak kenal." Tangan kekar itu sudah melingkari pinggangku.
Aku mendengus kesal pada teman Syafrie. Rasanya mulai malam ini, aku mendeklarasikan diri sebagai musuhnya.
Suasana kembali hening. " Asma, kau benar. Teman abang itu menikahi masa lalunya untuk bertanggung jawab menutupi dosa dari masa lalunya." Lalu Lelaki yang membuatku selalu tergila-gila itu berdiri meninggalkan aku untuk mengambil rokoknya.
Sungguh, walaupun aku bukan istri dari temannya Syafrie itu, tapi nyeri dan ngilu di sudut hatiku sangat terasa sekali. Aku mengutuk habis teman Syafrie agar mati saja dan membusuk di neraka.
Syafrie kembali merebahkan tubuhnya di atasnya pangkuanku. Sambil merokok dia kembali melanjutkan ceritanya. Dia mengatakan betapa temannya itu merasa stress memikirkan istrinya dan langkah yang harus dia tempuh. Dia tak bisa memilih karena keduanya membutuhkan dirinya.
__ADS_1
Pertemuan kembali teman Syafrie itu rupanya telah memutarkan kembali roda masa lalu. Apalagi ternyata temannya Syafrie telah menggoreskan noda pada wanita itu. Menurut temannya Syafrie, ini bukanlah tentang cinta, tapi lebih menuntut ke arah tanggung jawab akan perbuatan dosa masa lalu yang akan berpengaruh pada diri seseorang di masa depan.
" Asma, menurutmu, ada nggak istri yang mau dimadu? " tanya Syafrie.
" Hmm, banyak, bang. Salah satunya mungkin istri teman abang itu. Tapi bagi Asma, dari pada mati perlahan karena menahan sakitnya berbagi, lebih baik mati sekarang dengan berpisah. Itu lebih baik. Sudah malam, bang. Ayo tidur! " jawabku memutuskan pembicaraan. Makin lama aku makin geram pada temannya si Syafrie itu.
Wajah Syafrie menegang saat mendengar ucapan terakhirku itu. Untuk beberapa saat dia tak bisa berucap. Sebelum akhirnya dia beranjak bangun dan menepuk kasur di sebelahnya. " Tidur sini, Asma! " ucapnya. Aku pun menurut dan berbaring di sebelahnya. Dalam hati aku berdoa, agar istri teman Syafrie itu di beri ketabahan dan juga keluasan hati dalam menerima segala cobaan hidup yang dialaminya.
...-----...
Dua bulan berlalu sejak percakapan malam itu. Aku tak pernah lagi mendengar kabar dari teman Syafrie itu. Syafrie saat ini tak ada di rumah. Dia di kirim perusahaan untuk mengikuti pelatihan alat berat yang diadakan oleh perusahaan. Pekerjaannya sebagai mekanik alat berat membuatnya sering mendapat pelatihan skill baik individu maupun kelompok.
Hari ini, seminggu sudah sejak kepergian Syafrie. Tak ada komunikasi di antara kami. Rinduku, jangan di tanya lagi. Rasanya tak tertahankan. Membuncah dalam dadaku.
" Asma..! " Saniah temanku mendatangiku dengan napas yang tersengal - sengal dan wajah yang merah padam. Aku sedang berjongkok memetik sayuran di kebun belakang rumah mama.
Langkahnya lebar dan penuh tekanan. Setiap hentakan kakinya seperti ingin menginjak-injak sesuatu dengan geram. Aku jadi kasihan melihat rumput yang di injaknya.
Napasnya naik turun saat tiba di hadapanku. Aku meliriknya sekilas, tanpa berniat untuk menanyainya. Aku yakin kedatangannya kali ini seperti biasa, mau curhat tentang pacarnya yang bernama Rusman itu.
" Asma! " Astaga... apaan, sih. Nih, anak dari tadi manggil - manggil melulu. Sudah nggak punya kerjaan lain dia, pikirku kesal.
" Telepon Syafrie, tanyakan dimana dia sekarang berada? " katanya dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan.
Aku bingung dengan perkataannya. "Untuk apa? tanyaku dengan raut wajah tak mengerti. " Kau kan tahu, aku tak punya hape. Dan. lagi pula, Syafrie kan kerja. Yang ada entar ganggu, lagi."
Kenapa pula dengan gadis itu. Apa dia marah padaku dan Syafrie, karena kemarin kami meledeknya habis - habisan saat dia curhat tentang Rusman pacarnya.
" Pake hapeku, aja! " Dia menyodorkan hape jadul miliknya. Aku makin bingung dengan kelakuan Saniah.
" Ada apa, sih ini. Kamu bikin aku takut aja, ni." kataku pada Saniah.
Saniah membuang pandangannya dariku sambil menghapus air mata yang jatuh di sudut matanya.
" Ikut aku! " Dia menarik tanganku agar bangun dan mengikutinya. Aku terpaksa juga menurut dan melangkahkan kakiku mengikuti langkahnya.
" Kita mau kemana, Ni? " Aku bertanya karena tak mengerti kemana Saniah akan membawaku.
__ADS_1
" Ikutlah, atau kau mau anak dalam kandungan mu tak memiliki Yusuf.!! kata - bentak Saniah dengan suara keras dan nyaring karena persis di depan wajahku.
Lututku mendadak lemas. Bukan lantaran kaget bentakan Saniah, namun karena yang lain...