
" Dia tersenyum dipelaminannya.. " kembali aku berteman. Sesak lagi saat mengingat semua.
" dek, sore nanti , kalau Syafrie jadi mengajak kamu untuk bertemu ayah Marina, kamu jangan menolak. Semenjak tahu bahwa kamu sudah kembali, beliau sangat ingin bertemu denganmu.
" Aku tak bisa melupakan saat dia tersenyum di samping wanita itu." gaungku disela isakku.
" Kamu hanya melihat dari kaca matamu yang terkhianati pada masa itu, dek."
" Mereka tertawa, mentertawakan kebodohanku, mentertawakan diriku." Aku terus saja menyuarakan apa yang ada di hatiku. Mencoba mengusir apa saja yang menjadi menjadi penyebab mulutnya hati akan pengorbanan Syafrie.
" Syafrie mengusirku.... " Entah yang mana yang lebih menyakitiku kala ini. Perjuangan keluargaku atau pernikahan Syafrie yang diam - diam. Semau terasa menyentil dadaku hingga menyisakan rasa perih di hatiku.
Isakku menyentuh telinga.
" Hari yang sama saat kamu pergi, kak Mansyah mendatangi Syafrie. Katanya memberi pelajaran kepada iparnya itu. Tapi perbuatannya justru hampir membunuh ipar kesayangannya itu. hidung Syafrie patah, mulut Syafrie robek. Wajahnya luka parah dan perutnya berlubang hadiah dari Mansyah. katanya sebagai balasan karena sudah mengkhianati adik kesayangannya, menyebabkan Bapak dan satu keponakannya pergi. Syafrie langsung dilarikan ke rumah sakit dan kak Mansyah digiring ke polsek. Seminggu Syafrie berada dalam masa penyembuhan, seminggu pula kak Mansyah harus memdekam di Polsek Marangkayu. Syafrie tak ingin memperpanjang kasus ini, tapi ayah Marina yang merupakan mertua Syafrie, bersikeras dan merasa keberatan dengan kasus ini dan melaporkan Kak Mansyah ke polisi. Setelah sembuh, Syafrie kemudian mencabut tuntutan ayah Marina dan kak Mansyah bebas.
Untuk cerita yang satu ini, aku tak tahu harus berkata apa. Satu demi satu kejutan menghantam diriku. Sudah lebih satu jam aku menangis hingga aku tak bisa lagi rasanya untuk bersuara. Terlalu banyak cerita baru yang baru kuketahui, sehingga aku rasanya tak memiliki lagi tenaga, bahkan hanya untuk sekedar menangis. Aku rasa setelah ini, aku wajib memeriksakan diri ke dokter mengenai kesehatan hati dan jantungku. Siap tahu saja, terlalu banyak menangis dan memakan kejutan demi kejutan, jantungku bisa berhenti berdetak dengan sendirinya.
" Sampai akhirnya, Syafrie mendonorkan ginjalnya untuk mama. Setelahnya, mereka berdamai. Sekarang kamu tahu, kan? Alasan mengapa kak Mansyah begitu membela Syafrie? Dia teramat malu dengan suamimu itu, dek. Dia yang menikam iparnya itu dan ironisnya iparnya itu pula yang akhirnya memberikan sebelah ginjalnya untuk mama.... "
Aku menutup telinga dengan kedua belah tangan. Demi apapun, aku tak ingin lagi mendengar cerita kak Adit. Kepalaku serasa mau pecah dan dadaku sesak oleh cerita kak Adit yang terlalu menyakitkan untuk di dengar. Aku tak ingin lagi mendengar kisah - kisah sedih yang telah terlewatkan begitu saja selama sepuluh tahun.
Diam-diam, kak Adit pergi meninggalkan aku yang masih sibuk dengan sedikit sedanku. Saat hujan air mataku berhenti, aku mendapati kak Adit sudah tak ada lagi di sebelahku.
Sebanyak apa pun aku menangis, nyatanya aku tak bisa menghilangkan semua beban yang menghimpit di dadaku. Terlebih lagi saat mengingat ucapan kak Adit yang terakhir.
" *Sekali saja dalam hidupmu, kamu memposisikan dirimu menjadi Syafrie. Menjadi seorang pria dan seorang suami, yang dipaksa menikah lagi oleh mertuanya sendiri tanpa ridhonya dan ditinggalkan istri yang sangat dicintainya bersama bayi merah mereka. Ditikam ipar dan ibunya meninggal demi menolong mertua . Dimusuhi oleh keluarga besarnya dan membesarkan anak seorang diridiri dengan satu ginjal. Itu semua berat, dek. Jika semua itu tak menggerakkan hatimu, maka maafkan kami yang semua yang telah memaksamu untuk kembali pada Syafrie. Mulai saat ini, apa pun keputusanmu, kakak akan selalu mendukungmu."
Ya, Allah, aku sudah tak kuat lagi. Cabut saja nyawaku.....
...----...
Keadaanku saat ini tidak baik - baik saja. Semenjak ayah Fadil itu mengatakan ingin membawaku untuk menemui ayah Marina, sejak itu pula bayangan mimpi buruk selalu saja menghantuiku.
Aku tak dapat melupakan wajah - wajah bahagia mereka yang terpancar lewat senyuman yang mereka tampilkan di depan semua orang.
Aku benci melihat senyum bahagia yang terpancar dari wajah Syafrie dan Marina di atas pelaminan yang berdiri megah seolah mentertawakan kebodohanku. Aku benci wajah bahagia ayah Marina yang tersenyum bangga kerena putrinya sudah berhasil dipersunting oleh Syafrie. Aku benci wajah - wajah setiap orang yang tersenyum bahagia di sana, sementara aku yang menangis meratap berharap suamiku yang gagah dengan busana pengantinnya, akan menaruh iba pada wanita hamil berbaju lusuh yang menghiba mengharapkan dia pulang dan membatalkan pernikahannya dengan wanita itu. Dan aku benci dengan wanita hamil yang sedang mengamuk dan meradang oleh penghianatan suami yang dia agung - agungkan seperti dewa.
Gambaran demi gambaran itu, semua seperti film rusak yang berkelebatan di benakku. Senyum Syafrie dan binar bahagia di wajah Marina, teriakan orang yang memanggil - manggil Bapak, darah yang mengalir di betisku, nisan Bapak dan Fajri. Allah....aku rasanya tak sanggup lagi. Ingin rasanya aku memecahkan kepalaku, dan menggilas habis isi otakku, agar aku tak lagi mengingat semua itu.
Saat ini aku berharap ada mobil yang menabrakku dan melindas kepalaku, agar tak ada lagi serpihan dari otakku yang mengingat pengkhianatan Syafrie. Dadaku sesak, bahkan untuk bernafas saat tidur saja aku sulit sekali.
Lihatlah, gara-gara aku yang terlalu mencintai dan begitu memuja Syafrie, maka aku akhirnya merasakan yang namanya kedukaan yang terlalu lara.
Namun, hal itu juga yang membuatku sadar, bahwa terlalu mencintai seseorang hingga bahkan memujanya itu tidak baik. Intinya, hal - hal yang melewati batas dan terlalu berlebihan itu tidak baik. Sayangnya, untuk pelajaran yang satu itu, aku terlambat untuk menyadarinya. Baru setelah aku berenang dalam nestapa yang tak berkesudahan, aku akhirnya bisa mengerti semua itu.
Setiap hari yang kulakukan hanya mencaci maki dan melaknat ayah dari bayi yang ada dalam perutku. Sampai - sampai kak Mansyah angkat tangan untuk menasehati diriku. Katanya jin yang menempel di badanku sudah menjadi satu dengan diriku dan tak bisa pergi kecuali aku yang minta.
Aku tak peduli dengan semua itu. Asal saja hatiku puas bisa mencabik - cabik Syafrie dengan sumpah serapah dan caci makiku, maka aku tak peduli dengan petuah dan wejangan dari pria yang sialnya adalah kakak laki-lakiku yang tertua.
Dua hari yang lalu, Syafrie berencana untuk mengajakku menemui orang yang sudah pernah meludahi wajahku sepuluh tahun yang lalu. Dasar Syafrie sok menaruh hormat pada pria yang pernah menggoreskan merahnya darah penghianatan pada rumah tanggaku.
__ADS_1
Masih segar dalam ingatanku, pria itulah yang telah menyebabkan aku harus kehilangan suami , kehilangan Bapak , dan juga anak yang berada dalam kandunganku, demi menutupi aib anaknya dengan si Brengsek Syafrie.
Selama dua hari ini, aku selalu memikirkan tentang perkataan ayah Fadil yang mengatakan bahwa ayah Marina, mantan mertuanya itu ingin menemuiku.
Hah, aku ingin tertawa menyadari bahwa ternyata pria tua itu masih punya nyali untuk meminta bertemu denganku. Apa yang dia mau?
Jangan dikira waktu selama sepuluh tahun bisa membuatku lupa akan apa yang telah dia lakukan padaku.? Jawabnya tidak.
Jika dia berpikir dengan menemuiku maka akan menghapus dosa - dosanya padaku di masa lalu, maka dia salah. Aku tak pernah melupakan pria itu yang demi pangkat dan jabatannya, tega mengorbankan rumah tanggaku, membuat aku kehilangan Bapak dan anakku. Jadi, aku katakan, bahwa aku adalah musuh abadinya.
Aku, Asma, tak akan pernah lupa pada semua orang - orang yang telah berjasa menjerumuskan diriku ke lembah nestapa bahkan nyaris gila karena depresi.
Jika kemarin aku merasa gelisah karena Syafrie ingin mengajakku untuk bertemu dengan ayah Marina. Sekarang, aku justru yang bersemangat untuk bertemu dengan ayah dari mantan maduku itu. Aku tak mempersiapkan apapun untuk bertemu dengan pria tua itu. Karena sebenarnya, racun di ujung ludahku sudah lebih dari cukup untuk melumatkan kesombongan pria mantan kepala desa itu. Akan aku pamerkan kehamilanku pada mantan maduku dan ayahnya. Biar kapok dia...
Sayangnya, pada saat hari H, justru hal yang tak kami sangka dan kami inginkan terjadi.
Fadil sakit.
Siang itu, dengan wajah seperti mayat hidup, Syafrie membawa Fadil ke rumah sakit terdekat di kota kami.
Aku juga cemas melihat wajah pucat Fadil dan suhu badan anak itu yang sangat tinggi. Namun, saat melihat wajah Syafrie, aku jadi berpikir, rasanya agak berlebihan dia bersikap seperti itu.
Aku tahu bahwa Fadil sakit. Namun, wajah Syafrie yang seperti orang linglung menegaskan bahwa dia ayah yang tidak siaga.
" Apa dia sudah mau makan? " tanya Syafrie sesaat setelah dia baru keluar dari kamar mandi. Rupanya dia bagi saja selesai mandi. Sudah sehari semalam kami bertiga berada di rumah sakit ini.
Aku menggeleng .
Kembali aku menggeleng.
" Seharusnya kamu memaksanya, dia pasti nurut sama kamu, kamu kan ibunya." kata Syafrie.
" Dia gak minta disuapin. Jadi aku kira, mungkin dia nggak lapar. Dari pada menyuruhku kenapa tidak kamu saja yang melakukannya."
" Dia tak mau." Syafrie menjatuhkan diri dengan frustasi di sofa ruangan tempat Fadil dirawat.
" Nah, sama kamu yang jelas - jelas ibunya saja dia menolak, lantas bagaimana dengan aku? " Ayah Fadil itu menghela nafas.
Aku kesal. Syafrie memojokan aku. Apa dia tak tahu, jika aku juga lelah. Semalam aku tak bisa tidur karena ikut menjaga Fadil semalaman.
" Maaf, aku tak bermaksud untuk menyalahkanmu. "
" Bosan aku mendengar kata maafmu. Aku lapar. Dia butuh nutrisi." Aku menunjuk ke arah perutku.
Syafrie tersenyum. " Anak kita lapar, kamu mau makan apa? "
" Apa saja yang penting bisa dimakan." jawabku.
" Hmm, kamu juga bisa dimakan, Asma." katanya dengan kode senyum mesumnya.
" Mimpi kamu, bung! " kesalku seraya melotot ke arah Syafrie.
__ADS_1
Syafrie tergelak hingga bahunya terguncang - guncang.
" Sumpah, makin galak makin cantik kamu, Asma." Sialan...pipiku bersemu merah. Bajingan kamu Syafrie...
Ini adalah pertama kalinya aku menemani Syafrie menjaga Fadil di rumah sakit. Dari situ aku mengetahui jika badan anakku yang kecil itu bukan lantaran kurang gizi, tetapi karena dia menderita suatu penyakit. Anak pertamaku itu menderita kelainan gizi yang membuat pertumbuhan badannya jauh dari kata normalnya anak seusia dia.
Aku jadi ingat cerita kak Lela, bahwa saat lahir, anakku itu memiliki ukuran yang lebih kecil dari ukuran bayi yang lahir secara normal.
Sakit hatiku, membayangkan anakku yang berjuang sendiri melewati hari - harinya yang sulit tanpa kehadiranku, membuat aku ingin sekali menghabisi Syafrie dan juga keluarga Marina.
Andai bukan karena keluarga mereka, anakku tak akan mengalami nasib seperti ini. Aku kehilangan Fajri dan hampir kehilangan Fadil. Kesalahan mereka berakibat Fatal, bukan saja padaku, tapi juga berimbas kepada kedua buah hatiku.
" Mamah, haus! " sebuah suara membuyarkan semua lamunanku.
" Astaghfirullahalazim... terkutuklah Syafrie. " Aku menampar mulutku sendiri menyadari jika anakku sudah mendengarku mengutuk ayahnya.
" Kamu bikin kaget saja. Hampir saja aku jatuh. " kataku pura- pura marah.
" Maafin Fadil, mamah." ucapnya sedih.
" Yah.... nggak papa, Fadil. Becanda, kok." kataku seraya memamerkan sederet gigi - gigiku pada anak itu.
" Fadil memang anak yang tak beruntung." katanya dengan ekspresi yang sedih. Dadaku serasa di hantam palu besar.
" Loh, loh, kenapa ngomong, begitu? "
" Karena Fadil hanya punya ayah. "
Sumpah, hatiku sakit saat mendengar dia mengatakan hal itu.
" Tapi kamu juga punya aku." aku tersenyum kaku. Jujur saja ku akui, aku merasa kikuk sekali saat berada di dekat anakku sendiri. Bayangkan, selama dua bulan aku berada di kampung, aku bahkan tak pernah bertegur sapa dengan anak itu. Dia diungsikan ke rumah Kak Adit dan aku sibuk meratapi nasib.
" Tapi mamah tidak menginginkan Fadil." kata anak itu dengan berkaca - kaca. Aku tahu, dia sedang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
" Siapa yang bilang begitu? " Aku meraih jemarinya yang tidak terpasang jarum infus.
.
" Tidak ada. Tapi Fadil bisa melihat di mata mama tak ada aku. Hanya ada kebencian untuk ayah saja."
Aku terhenyak. Apakah sejelas itu benciku pada Ayah Fadil? Mengapa Fadil bisa berkata demikian?
Ruangan tempat kami menginap adalah kamar VIP yang dilengkapi dengan AC. Namun saat mendengar Fadil mengatakan hal seperti itu, mendadak ruangan di kamar ini menjadi panas dan udara terasa sesak. Aku hampir tak bisa bernafas.
" Jangan dengarkan kata siapa - siapa. Dan jangan menilai sendiri. Tahu tidak, kamu itu begitu istimewa di hatiku." kataku sambil menunjuk dadaku.
" Mamah bohong! " lirihnya.
" Aku tidak bohong, Fadil. Aku mengatakan semua itu karena semua itu benar adanya." Ya Tuhan... sulit sekali membujuk anak ini. Sifat keras kepalanya agaknya tertular dariku.
" Buktinya, mamah menyebut diri mamah 'Aku'. Apa demikian sulit bagi mamah untuk menyebut Mamah. Katakan saja jika mamah keberatanMamah. Aku tidak apa - apa, kok. " Cucu mama itu berbalik dan membelakangi diriku. Tampaknya dia merajuk.
__ADS_1
Nah, loh. Jika sudah begini, siapa yang harus di salahkan. Sifat kami jelas - jelas sama. Sama-sama keras kepala....