PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 28


__ADS_3

Sebelas jam sudah kami lalui, Perjalanan menuju ke Tenggarong. Awalnya ku kira kami akan singgah di Samarinda untuk beristirahat. Namun rupanya aku tertidur saat melewati Sungai Kunjang dan terbangun saat perjalanan sudah memasuki daerah Jongon.


Sepanjang perjalanan dari desa Suka Rahmat menuju Tanah Hulu rasanya penuh dengan kebosanan. Satu-satunya hiburanku adalah jajaran pohon - pohon di sepanjang jalan, dan juga pemandangan bukit - bukit yang berjejer, serta rumah - rumah penduduk yang berjejer di sepanjang jalan.


Aku lebih suka memilih diam dan hanyut dalam pikiranku sendiri daripada harus berbicara dengan pria menyebalkan di sebelahku ini. Kadang-kadang aku memainkan gawaiku sekedar untuk melihat - lihat postingan - postingan teman media sosialku atau membaca novel di aplikasi novel online. Selebihnya.. kembali membosankan.


Bahkan saat istirahat untuk makan malam di Tenggarong, aku juga memilih bungkam. Kadang aku memergoki Syafrie yang diam - diam memperhatikan aku. Namun, aku tetap acuh tak memperdulikannya.


Kadang-kadang aku memaki Syafrie dengan sebutan " tak punya otak ", saat mobil yang di kemudikan nya melewati jalan yang rusak dan berlobang, dan dia mengemudikannya seperti orang yang baru saja mendapat SIM A. Semua di lalui, biar itu jalanan rusak, dia tetap melajukan kendaraannya tanpa mengurangi kecepatan.


Aku mengutuk dalam hati. Lihat saja, jika aku sampai mabuk, maka biar dia yang membersihkannya. Siapa suruh bawa mobil tidak pake otak.


Lalu, disinilah aku sekarang. Aku duduk di dalam mobil seorang diri sambil menunggu Syafrie yang memesan kamar di sebuah penginapan.


" Kata Kak Mansyah, sebaiknya kita tidur di Hotel saja, karena rumah Kak Agus pasti penuh oleh sanak keluarga yang datang. Kamu mau, kan? " tanyanya dengan ragu.


" Hm.. " aku menjawab dengan mengguman. Aku sebenarnya malas jika harus bertukar kata dengannya.


" Hari sudah malam, dan ini adalah satu-satunya penginapan yang masih buka. Masalahnya, hanya ada tersisa satu kamar tidur. Aku ragu apakah kamu mau berbagi kamar tidur denganku? " masih dengan ekspresi ragu Syafrie berkata padaku.


Aku yang sial atau Syafrie yang selalu saja beruntung.


Aku terdiam menyadari kesialannku.


" Jadi bagaimana? " tanyanya kembali.


" Apanya? " tanyaku kesal.


" Kamarnya tersisa satu. Jadi tidak, sewa kamarnya? "


" Ya, mau bagaimana lagi?"

__ADS_1


" Jadi kamu mau? "


" Hm. " lagi aku hanya berguman saat menjawab pertanyaan Syafrie.


" Ok, sebentar. Aku check-in dulu." ada binar senang di matanya. Dia kemudian berlalu sambil tersenyum.


Setelah hampir sepuluh menit menunggu, pria yang menggunakan stelan kaos putih yang dipadu dengan jacket dan celana panjang Denim itu berjalan menghampiri.


" Ayo! " katanya sambil membuka pintu mobil. Aku turun dari mobil dengan tubuh yang sedikit terhuyung. Maklum saja berada di dalam mobil untuk waktu yang lama membuat pinggangku seperti mau putus.


" Kamu berjalan saja duluan. Ini kunci kamar kita.Oh ya, kamar kita nomor 2 di lantai atas. Aku mau mengeluarkan barang - barang kita. " kata Syafrie seraya tangannya membuka bagasi mobil dan mengeluarkan tas ransel dan koper kecilku dari bagasi.


Suasana sudah larut malam hingga sulit untuk melihat - lihat lokasi di sekitar penginapan.Yang ku tangkap melalui indra penglihatan ku hanyalah sebuah mesjid besar saja yang terletak di sebelah penginapan.


Aku berjalan menyusuri lorong di penginapan itu lalu menaiki tangga menuju ke lantai dua. Tidak sulit menemukan kamar yang akan kami tempati karena letaknya nomor dua dari ujung tangga.


Aku berdiri di depan pintu kamar sambil menunggu pria itu datang. Iseng aku mengeluarkan hapeku dan membuka Whatsapp untuk memeriksa pesan yang masuk.


Namun, aku kembali kecewa. Tak ada satupun pesan dari Mas Haris untukku. Kesal aku langsung mengetik chat di nomor nya. " Assalamualaikum Mas, mengapa tak menghubungi aku. Sudah lupa, ya? " sengaja ku pasang emoticon sedih pada akhir chatku, lalu mengirimnya. Tak sabar rasanya aku ingin cepat - cepat mendapat balasan dari Mas Haris.


Syukur kalau dia langsung menelpon. Aku kangen sekali mendengar suaranya.


Ting..! bunyi notif pemberitahuan bahwa pesan sudah terkirim, namun saat ku. lihat, masih centang dua. Berarti hape mas Haris tidak aktif.


Aku menghentakkan kaki dengan kesal. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Mas Haris.


" Ayo kita masuk. Aku akan memesan makanan untuk kita setelah meletakkan ini. " ujar Syafrie yang muncul tiba-tiba dan cukup mengagetkan aku.


Ayah Fadil itu kemudian membuka pintu kamar dan meletakkan barang - barang bawaan kami di sudut kamar dekat dengan tempat tidur. " Lapar? "


Aku menggeleng menjawab pertanyaan pria itu. Walaupun sebenarnya aku sangat lelah dan lapar namun keras kepalaku dan egoku yang tinggi menepis semua itu. " Makin banyak bantuan yang kamu berikan makin sulit aku untuk membayarnya kelak dikemudian hari. " lirih mulutku mengeluarkan kata - kata yang aku yakin membuat pria itu menggeleng kesal.

__ADS_1


" Kamu kenapa lagi, sih? Oh... apa pacarmu... eh salah.. selingkuhanmu itu tidak menelpon? " sindirnya.


" Jangan kurang ajar, Syafrie! " kataku marah. Aku yakin dia berkata demikian karena tadi sempat mengintip pesan aku.


" Sudahlah.. aku cape. Nanti saja kita bertengkar lagi. " katanya sambil berlalu dari hadapanku. " Di atas meja ada air putih, kalau kau tak sabar! " Kemudian dia berlalu menyeret langkah meninggalkan aku yang masih sempat melemparkan bantal ke arahnya dan hanya mengenai punggungnya saja.


Setelah yakin bahwa Ayah Fadil itu sudah tak muncul lagi di sana, aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Badanku terasa lengket semua setelah seharian berkutat dengan debu jalanan dan panasnya hari. Walaupun kata orang mandi malam itu tak baik untuk kesehatan, namun kali ini aku tak perduli. Dari pada aku tak bisa tidur karena kegerahan. Lagi pula mana aku percaya diri jika berdekatan dengan ayah Fadil itu jika aku tak mandi.


Bukankah sudah jelas tujuanku. Aku akan membuat laki-laki itu terpesona dengan kecantikanku yang nyaris sempurna dari pahatan yang Tuhan ciptakan di wajahku, lalu untuk kemudian menendangnya tampa ampun.


Aku faham, rencanaku memang gila. Aku merencanakan sebuah pembalasan dendam untuk Syafrie. Akan kubuat hal yang sama seperti yang dia lakukan dulu pada seorang gadis kampung yang lugu yang begitu tergila-gila dan memuja pada pria pengkhianat seperti dia.


Anggap saja kalau kita impas.


Aku tak perduli apa nanti kata saudara - saudaraku. Mereka pasti beranggapan bahwa aku adalah wanita yang kejam. Mirip seperti Medusa. Wanita cantik namun berhati kejam dan licik. Namun sepertinya saudaraku lebih menyukai menyebutku sebagai " Wanita Durhaka".


Kadang sebutan itu terasa amat mengganggu ku. Benarkah aku sudah berlaku durhaka pada suamiku. Namun, jika aku berbuat durhaka pada suamiku, lantas apa namanya perlakuan Syafrie padaku sepuluh tahun yang lalu.


Syafrie belum juga kembali dari membeli nasi, padahal perutku sudah terasa perih dan nyeri karena belum terisi. Aku mengambil botol air mineral yang tergeletak di atas meja dan meminumnya hingga habis tak bersisa.


Rasakan... biar Syafrie tahu diri. Aku menghabiskan air minumnya. Siapa suruh perginya lama. Semoga saat dia kembali aku memiliki tenaga untuk memaki menantu mama itu karena pergi terlalu lama dan membiarkan aku kelaparan.


Bosan menunggu, aku memilih merebahkan diri di atas tempat tidur dan bermain ponsel. Entah berapa lama waktu yang berlalu, tapi mataku terasa berat sekali dan tak bisa lagi di ajak kompromi saat ku dengar Syafrie kembali dan bunyi derit pintu di dorong.


Selanjutnya bunyi langkah kaki yang mendekat, lalu bunyi pintu yang di tutup, bunyi tas kresek yang di buka dan suara Syafrie yang sedang makan. Lalu pintu yang di buka dan tak lama kemudian bunyi pintu yang kembali di tutup... semua itu memenuhi gendang pendengaran ku. Namun... anehnya.. mataku tak bisa terbuka.


Hening.... lama.. kemudian hidungku mencium aroma sabun mandi hotel dan seseorang mendekat ke arahku. Lalu ranjang di sebelahku bergerak tanda seseorang sedang berbaring di sebelah ku.


Syafrie di sampingku. Aku yakin itu. Namun, mengapa....mataku amat sulit untuk dibuka.


" Aku tahu, .....ini salah." kurasakan jari jemari Syafrie membelai pipiku dan kemudian mengusap kedua alisku.

__ADS_1


" Maafkan aku...karena menandaimu. " Lirih kudengar suara Syafrie di telingaku sebelum akhirnya aku benar-benar terbuai dalam mimpi - mimpi.


__ADS_2