
Apa maksudnya dengan perkataan ' aku akan ke sana', maksudnya ke rumahku? Malam - malam begini? Mendadak aku ingin menghilang saja dari sini.
Pak Haris menepati kata - katanya untuk datang ke rumahku. Sekarang pria itu benar - benar sudah berada di hadapanku. Aku mendadak bingung dan tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Bibirku terasa kelu, tak bisa berkata apa - apa lagi kepada pria yang merupakan atasanku itu.
"Kenapa bengong, Ayo dimakan, Sani..!" perintahnya ketika melihat aku hanya bengong saja sejak kedatangannya kemari.
" Eh, iya, Pak.. " jawabku sambil tersipu malu. Aku bangkit dari tempatku dan hendak bergerak...
" Mau kemana? " tanya Pak Haris.
" Mau ambil piring dan sendok dulu, Pak eh...Mas." kataku.
" Oh... iya, baiklah... " katanya sambil tersenyum.
Aku segera kembali ke ruang tamu setelah mengambil sendok dan piring untuk kami. Berdua kami makan nasi goreng di ruang tamu kontakan rumahku.
Selesai makan, Pak Haris eh.... salah kini aku harus membiasakan untuk mengubah panggilan Pak Haris menjadi Mas Haris, menyuruhku istirahat dan minum obat. Tak lama setelah itu dia pun pamit, mohon diri kepadaku. Tinggallah aku seorang diri di dalam kamarku. Aku pun memutuskan untuk kembali beristirahat karena rasanya tubuhku sangat lemas sekali dan kepalaku masih terasa pusing. Aku berharap dengan beristirahat yang cukup, rasa lemas dan pusing yang aku rasakan akan hilang keesokan harinya.
Namun ternyata aku salah. Penyakit yang ku anggap sepele itu ternyata kini berubah menjadi serius. Keesokan harinya ketika aku terbangun, keadaanku bukannya membaik, tapi malah semakin parah.
Bangun tidur aku merasakan pusing yang semakin menjadi - jadi, melebihi rasa sakit yang kurasakan kemarin. Ditambah lagi deraan demam yang semakin tinggi membuat aku semakin tak mampu lagi untuk bangkit dan berdiri.
Mas Haris menelponku pagi - pagi sekali saat aku hendak beranjak pergi ke kamar kecil. Aku menguatkan diri agar tidak jatuh saat berjalan ke kamar mandi. Akan tetapi, rupanya rasa sakit di kepalaku mengalahkan egoku. Alhasil aku ambruk ke lantai persis di depan kamar mandi masih dengan handphone yang menyala. Samar - Samar aku mendengar teriakan Mas Haris yang memanggil - manggil namaku. Setelah itu, gelap.....
Aku tersadar saat mencium bau obat - obatan yang kuat menusuk hidungku. Aku mengerjapkan mata lalu memandang ke sekeliling ruangan yang semuanya berwarna putih. Sebelah tanganku sudah terpasang jarum infus.
Segera aku menyadari di mana aku berada saat ini. Tapi, tunggu dulu.. bukankah aku tadi berada di dalam kamarku. Lantas siapa yang membawaku kemari. Bagaimana Mas Haris atau siapapun itu bisa masuk ke rumahku?
" Kamu sudah sadar..? " seseorang bersuara di sebelahku. Tapi itu bukan suara Mas Haris. Lalu siapa.....? Apa ada orang lain di sebelahku ?
Tapi tunggu dulu. Suara itu.... suara itu seperti aku pernah mendengar. Tapi di mana? Astaga..... benarkah.... benarkah dia kini yang ada di sebelahku? Lalu kemana Mas Haris? Apakah dia yang atau Mas Haris yang tadi membawaku ke tempat ini.
__ADS_1
Dengan menahan nafas, aku mencoba menoleh ke tempat suara itu berasal. Di sebelah kananku, tak jauh dari tempatku berbaring, Jubair sedang duduk sambil menatapku tak berkedip.
" Kau..... " hanya itu kata yang mampu aku ucapkan. Aku tak sanggup lagi berkata yang lainnya. Mulutku serasa terkunci.
Kilasan masa lalu selintas berkelebat kembali di depan mataku. Bayangan semua perlakuan pria di hadapanku ini di masa lalu, Lalu bayangan Meli dan anak-anaknya, dan yang terakhir adalah semua penghianatan yang dilakukannya t hadir begitu saja seperti rangkaian film teledrama yang berputar di kepalaku.
Pria itu... mengapa bisa berada di tempat ini. Aku tak ingin lagi bertemu dengannya. Tapi rupanya takdir Allah sekali lagi menggariskan kami untuk bertemu kembali. Aku menatap tajam mata kelam itu. Tatapan mata yang sudah lama sekali tak pernah kulihat. Tatapan mata yang setengah mati ingin kuhapus dari bingkai memoriku yang masih tersimpan rapi di catatan memori perjalanan hidupku yang tersimpan di lubuk jiwaku yang paling dalam.
Cekrekkk...... pintu ruangan tempatku di rawat dibuka dari luar. Kami menoleh bersamaan. Ternyata yang masuk adalah Mas Haris.
" Kau sudah sadar rupanya." tanya Mas Haris sambil tersenyum manis. Dia mengelus pucuk kepalaku yang tak tertutup hijab. Aku tersenyum menerima perlakuan atasanku itu. Sejenak aku lupa tentang keberadaan makhluk 'purba' yang berada tepat di sebelahku.
" Kok, aku bisa berada di tempat ini, Mas?" aku bertanya padanya. Pria itu kembali tersenyum sambil menatapku, menggengam sebelah tanganku yang tidak di infus.
" Tadi kami menemukan kamu tak sadarkan diri di depan kamar mandi. Maka tanpa pikir panjang, kami langsung membawamu kemari. "
Aku mencerna setiap kata - kata yang keluar dari mulut pria itu. Apa katanya tadi? Kami? Maksudnya kami itu adalah Mas Haris dan Jubair? Aku menjadi semakin heran dan tak mengerti.
" Iya, aku dan kakakmu .... " katanya sambil melirik kearah Jubair yang sedang menatap kami berdua. Aku mengikuti arah lirikan Mas Haris dan mendengus menyadari bahwa Jubair sedang menatapku.
" Ngapain juga dia ikut ke sini, Mas.? " tanyaku sambil menampakkan wajah tak senang secara Prontal ke arah Jubair.
" Huss.... sayang. Kamu jangan gitu ngomongnya. Kasian, kan..? Sudah jauh - jauh datang dari desa, kok malah di cuekin,sih. Lagian, dia itu kakak kamu,loh. Masa sama kakak sendiri, kok Judes amat, ckck..ck.." omel Mas Haris.
" Terus bagaimana bisa dia bareng sama kamu, sih? " aku masih penasaran bagaimana bisa dia bersama Mas Haris.
"Jadi ceritanya gini, saat di telpon tadi, aku panik sekali mendengar suara kamu yang lemah lalu suara benda terjatuh. Aku semakin panik ketika kamu tak menjawab panggilanku. Aku bergegas datang ke rumahmu dan mendapati kakakmu juga sedang berdiri di depan rumahmu. Mulanya aku sempat heran melihat ada laki-laki yang berdiri di depan rumahmu. Saat kutanya, katanya dia adalah saudaramu yang baru saja datang dari kampung. Saat kukatakan bahwa maksud kedatanganku ke rumahmu adalah karena aku mengkhawatirkan keadaanmu yang sedang tidak baik - baik saja, dia juga menjadi panik. Maka kami berdua lantas membuka paksa rumahmu. Maaf, pintu rumahmu jadi rusak. Tapi aku sudah menyuruh tukang untuk segera memperbaiki kunci rumahmu yang baru. Begitu kira - kiranya......" kata Mas Haris seraya menggenggam tanganku dan mengecup punggung tanganku dengan mesra.
Merah padam wajah Jubair saat melihat adegan tersebut. Kapok... siapa suruh ikut kemari. Lihat sudah mantan istrimu dengan kekasih barunya. Hehehe....gimana? enak, Khan......? " Aku mencibir dalam hati. Sementara di wajahku aku memasang mode cemberut.
.
__ADS_1
" Keluarga mbak Saniah, ada? " seorang perawat tiba-tiba masuk dan mencari keluargaku. Sejenak kedua pria di hadapanku saling pandang.
" Iya, saya... " jawab Mas Haris.
" Oh, iya Pak, ditunggu di ruang administrasi, ya? "
Aku memandang ke arah Mas Haris. Dia mengangguk seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
" Aku ke ruang administrasi dulu, ya sayang."
" Tapi, ..... " aku menatap ragu ke arah Mas Haris dan juga Jubair. Pria itu juga sudah akan berdiri ketika tangan Mas Haris menahannya.
" Mas, di sini saja. Siapa tahu Sani membutuhkan sesuatu. Saya perlu seseorang untuk menjaga Sani di sini. "
Aku mendongak dan menggeleng ke arah Mas Haris. Aku tidak rela jika ditinggal bersama manusia purba itu. Itu julukan yang aku sematkan pada Jubair. Karena pria itu datang dari masa laluku. Jadi aku menamainya manusia purba.
" Mas hanya sebentar, Sani. Toh ada kakakmu di sini, sayang. Mas pergi dulu, ya.. "
Aku terpaksa mengangguk pasrah. Mau apa lagi. Aku juga tak bisa berbuat apa - apa.
Sepeninggal Mas Haris, aku menarik selimut dan berbaring memunggungi Jubair. Aku memilih pura-pura tidur untuk menghindari pria itu.
Sebenarnya aku masih heran mengapa pria itu bisa berada di depan rumahku. Dari mana dia tahu alamat rumahku. Aku tak yakin jika Mas Haris yang memberitahukan, karena Mas Haris tadinya juga tak mengenal Jubair. Apakah orang kantor...? Aku rasa juga tidak. Tapi siapa, ya...?
Pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan seputar kehadiran pria itu sejak kemarin dan kini, tadi pagi di depan rumahku.
" Aku mengikuti kalian, kemarin. Maaf... " katanya tiba-tiba. Memecah keheningan di kamar ini.
Astaga.... pria ini seperti peramal. Dia bisa mengetahui isi kepalaku.
" Pulanglah, Niah..! Bapakmu sedang sakit."
__ADS_1
Deg......