PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 100


__ADS_3

Dia, eh..... dia itu, Aku dan Pak..... " aku tergagap tak mampu berkata - kata lagi. Ada kabut kecewa di matanya...


" Dia adalah keponakan dari tante Melda, istri dari Tettah Hamdan di kota, mbo."celetuk Jubair.


Ada keterkejutan di wajah Ambo. Dia mungkin tak menyangka jika ternyata Mas Haris masih memiliki hubungan kekerabatan dengan dirinya meskipun jauh. Suami tante Melda yang merupakan adik ibunya ternyata adalah saudara sepupu dari Ambo, ayah Jubair.


" Jadi kamu adalah keponakan dari Melda, istrinya Hamdan ? "tanyanya menyakinkan jika apa yang dia dengar dari Jubair benar adanya.


" Iya, itu benar Ambo, saya adalah keponakan dari tante Melda. Tante Melda adalah adik mommy saya. Dan saya juga adalah calon suami Saniah. " kata Mas Harus dengan tenangnya.


Namun tidak dengan Jubair. Wajah pria itu langsung berubah pucat pasi. Dia tak menyangka jika Mas Haris akan berani mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya di hadapan Ambo.


Demikian juga halnya dengan wajah Ambo. Lelaki tua yang wajahnya sudah banyak dipenuhi oleh keriput itu menatap sang putra dengan pandangan penuh tanya dan tentu saja terkejut.


" Apa maksudnya ini, Jubair? Sejak kapan kamu dan Niah bercerai?" pertanyaan itu langsung terlontar dari bibirnya dengan marah.


Saking marahnya, Ambo sampai berdiri terhuyung - huyung dan langsung mendatangi Jubair yang berdiri di sebelah Meli. Lelaki tua itu sudah tak ingat lagi akan kondisinya yang sedang sakit.


Plak.....


Sebuah tamparan mendarat di pipi Jubair. Semua orang yang ada di ruangan itu menjadi terkejut.


" Jelaskan dulu padaku, mengapa ini sampai bisa terjadi? Mengapa tak seorangpun yang memberitahuku perihal perceraian kamu sama Niah. Kapan itu terjadi, hah?. JAWAB, Jubair..!! " bentak Ambo semakin murka. Wajah lelaki tua itu sudah dipenuhi oleh amarah. Tatapannya berapi - api, menatap garang kepada Sang putra.


Wajah Jubair menunduk, tak kuasa menatap Ambo. Pria itu tak mampu lagi untuk membantah atau menutupi sesuatu yang sudah lama dia rahasiakan dari kedua orang tuanya dan juga orang tua Niah tentu saja.


" Sudah sejak dua tahun yang lalu, Ambo. " jawabnya lesu. Dia menatap kepadaku dan Mas Haris bergantian, lalu beralih menatap Ambo.


"Niah mengajukan gugatan cerainya untukku, tepat pada hari dimana dia pergi meninggalkan desa ini. Dan gugatannya itu disetujui oleh pengadilan karena di dukung oleh bukti adanya pernikahanku dengan Meli secara siri.


Aku tak pernah tahu jika Niah mengajukan gugatan cerainya padaku sampai datang surat Panggilan sidang dari Pengadilan Agama hari itu. Aku tak bisa menggagalkan gugatan cerai itu karena aku tak pernah bisa menemukan dimana keberadaan Niah. Hanya pengacara sialan itu saja yang selalu kutemui sampai akhirnya jatuh putusan talak dari pengadilan untuk kami. Aku terpaksa menyetujui perceraian itu. Namun, aku berjanji jika Niah kembali lagi, aku akan meminta kepada Niah supaya kami rujuk kembali. Jujur saja, aku tak mau cerai ataupun berpisah dengan Niah, Ambo. Karena aku mulai menyadari jika ternyata aku sangat mencintainya ." lirih Jubair berucap dengan ekspresi memelas.

__ADS_1


Cuih.... aku tak percaya, pria itu mengucapkan kata-kata seperti itu. Dulu saja, dia bilang jangan pernah bermimpi mengharap bahwa dia akan mencintaiku, karena cintanya hanya untuk perempuan gatal itu. Tapi mengapa sekarang justru berubah pikiran.


Meli yang mendengar pengakuan suaminya seperti disiram setandon air es. Wajahnya berubah pucat dan tampak terpukul sekali. Sungguh, dia tak berharap akan mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria yang selama ini dia percaya begitu tergila - gila padanya. Nyatanya pria itu sudah jatuh cinta pada wanita lain yang tidak lain adalah mantan istrinya sendiri.


Plak.......


Kembali sebuah tamparan mengenai pipi Jubair. Kali ini bukan dari Ambo, melainkan dari Meli. Tampak ada keterkejutan di wajah Jubair. Mungkin selama ini dia tak menyangka, jika Meli yang selalu menurut dan manja padanya, bisa juga melayangkan tangan ke wajah suaminya.


"Meli, ... kau..! " bentak Jubair pada Meli dengan mata melotot.


" Apa ...?! Abang mau marah? Mau pukul? Pukul saja, Bang.!!" sentak Meli sambil menyodorkan sebelah pipinya. " " Abang sungguh tak punya hati. Bisa - bisanya abang berkata demikian tanpa memikirkan perasaanku." ucap Meli dengan tidak menyembunyikan wajah terlukanya. Hatinya merasa sakit oleh pengakuan jujur suaminya itu.


Perempuan itu akhirnya keluar dari kamar Ambo dengan kesal dan kecewa.


Sedangkan Jubair hanya bergeming memandangi punggung istrinya.


" Maafkan saya Ambo, tapi saya sudah tidak bisa kembali lagi pada Kak Jubair." sahutku setelah suasana hening untuk beberapa saat.


" Ambo.... Ya Allah Ambo, apa yang terjadi..? " pekikku ketika melihat Ambo untuk kemudian tumbang ke lantai. Suasana langsung berubah menjadi panik dan gaduh.


Jubair yang melihat hal itu langsung berlari dan menangkap tubuh renta sang ayah yang sudah terjerembab ke lantai. Juga tak ketinggalan Mas Haris yang berada di sisiku. Priaku ituitu dengan sigap ikut membantu dan membopong tubuh Ambo. Berdua mereka membawa tubuh Ambo ke atas tempat tidur dan membaringkannya di sana.


Kulihat mertua perempuanku menangis saat melihat keadaan mertua laki-laki yang kini sedang terbaring tidak sadarkan diri.


Ada rasa iba dan sedikit rasa bersalah karena secara tidak langsung kedatangan aku kemarilah yang menjadi pemicu kejadian ini.


Aku menghampiri wanita itu dan memeluknya. Aku tak tahu apakah hal yang aku lakukan dapat mengurangi beban kecewa di hatinya atas apa yang terjadi pada aku dan anaknya.


" Maafkan, Niah, Mak. Bukan ini yang Niah mau. Sesungguhnya Niah juga berat karena harus berpisah dengan mamak dan Ambo. Tetapi Niah juga ingin hidup bahagia. Niah tak sanggup jika selama pernikahan, Niah hanya dijadikan sebagai pajangan saja. Tanpa pernah dihargai dan diperlakukan layaknya manusia apalagi sebagai istri. Sekali lagi maafkan Niah, Mak."


Tangis mamak semakin keras terdengar. " Sudah, sudah.. Niah. Jangan kau teruskan kata - katamu, Nak. Ini semua, bukan je, salahmu. Tapi salah laki-laki brengsek itu. Andai dulu dia tak berselingkuh dan menikah dengan perempuan gatal itu. Mungkin semua ini tak akan terjadi." tutuk mamak sambil melirik ke arah Meli yang kembali lagi masuk ke dalam kamar saat mendengar keributan tadi.

__ADS_1


Raut wajah Meli berubah merah menahan marah. Dia kesal karena mertuanya itu seakan-akan menyalahkan dirinya dan suaminya atas peristiwa yang terjadi pada Ambo.


" Apa maksud mamak berkata seperti itu? Mamak berkata seperti itu, seolah - olah mengatakan bahwa akulah yang menjadi pangkal sebab semua masalah ini, begitu?" cecar Meli habis - habisan. Rupanya wanita itu sudah kehabisan kesabarannya mendengar ucapan mamak. Belum hilang sakit hatinya mendengar pengakuan jujur suaminya tentang perasaan yang dia pendam selama ini, kini mertuanya malah menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.


Sedang mamak hanya diam dan mencibir seraya berpaling membuang pandangannya. Dia tak ingin melihat wajah menantunya yang dia anggap sebagai wanita yang tidak cukup baik untuk mendampingi sang putra.


" Kau juga, Niah. Kamu itu harusnya


ngaca. Dasar wanita tak tahu diuntung. Sudah syukur dulu Jubair menikah denganmu dan mengangkat derajat hidupmu, tapi nyatanya yang kamu lakukan malah pergi meninggalkannya saat dia hanya mencoba untuk sedikit saja mencari kebahagiaannya. Kamu memang dasar perempuan tak tahu berterima kasih..... "


" Meli, cukup,.. hentikan..! " bentak Jubair agar sang istri diam. Ternyata usahanya tidak berhasil. Meli masih saja meracau tak jelas.


" Tahukah kamu,Niah ....? Aku benci kamu ! Aku, sangat membenci dirimu..! Apalagi saat kamu datang kembali kemari. Aku mau kamu pergi sekarang juga, Niah.Aku sudah muak denganmu."


Plak......


Mulutku ternganga...


Tamparan mertua perempuan mendarat telak di wajah Meli.


" Mamak.. " seruku tertahan.


" Kenapa bukan kamu saja yang pergi dari sini ? Jubair,... bawa pulang istrimu. Bikin rusuh saja jika dia ada disini." usir mamak dengan tubuh gemetar. Kentara sekali perempuan itu menahan emosi yang sudah sampai ke ubun - ubun.


Tanpa bicara lagi, Jubair menarik lengan istrinya dan membawanya keluar dari kamar Ambo.


Sempat kulirik Meli yang menatapku dengan sinis dan marah.


" Mamak dan Ambo selalu membela Niah, padahal aku menantu di rumah ini. Kenapa kalian tidak mau mengakui aku sebagai menantu kalian. Wanita itu hanya sampah.. dia hanya masa lalu kamu Jubair, kenapa masih saja kamu mengemis cintanya...? Aku benci kamu, Bang! Aku benci kamu Jubair..! " jerit wanita itu sambil meronta - ronta dalam cengkraman Jubair. dengan tatapan yang penuh kebencian.


Aku menangis dalam pelukan Mas Haris, merasa bersalah akan semua ini. Aku tak tahu jika kedatangan aku akan berakhir seperti ini. Ambo yang kini terbaring tak berdaya akibat shock yang dia alami saat mengetahui fakta tentang perceraian aku dan Jubair yang baru saja diketahuinya. Meli yang marah dan mengamuk mendengar pengakuan Jubair.

__ADS_1


Sedangkan mamak, hanya bisa menangis meratapi nasib karena kehilangan menantu yang sangat mereka sayangi.


__ADS_2