
Satu hal yang paling ku rindukan dari desa kelahiran ku ini adalah bunyi kicauan burung di pagi hari yang menyambut hadirnya matahari dan mengantarkan manusianya untuk beraktivitas mencari rezeki.
Kehangatan dan keramahan penduduknya selalu sukses membuatku selalu merasa kangen.
Aku memperbaiki posisi tidurku, masih dengan mata terpejam. Merasa enggan untuk bangun. Badanku rasanya pegal semua karena semalaman aku tidur di sofa yang sempit.
Aku melirik sekilas ke arah jam yang tergantung di dinding. Pukul lima kurang seperempat. Lantunan suara ayat suci Al-Quran belum terdengar dari surau, namun aku tahu sekarang sudah masuk waktu subuh.
Tangisan anak kak Adit, dan dan riuh kokok ayam jantan, menguatkan keyakinanku. Namun, untuk membuka mata, terasa sangat sulit aku lakukan. Memang semalam, aku agak larut tidurnya. Semalam, setelah menghadiahkan Syafrie sebuah tamparan, aku memutuskan untuk tidur di sofa, tanpa bantal dan juga selimut.
Aku engan meminta bantuan kepada seluruh penghuni rumah ini. Bagiku mereka, tak lebih dari musuhku saat ini. Sejak aku tahu mereka lebih membela si Pengkhianat Syafrie, maka sejak itulah aku mengibarkan bendera permusuhan pada mereka.
Aku tidak ingin mengeluh. Kehidupan yang ku alami saat melarikan diri dahulu jauh lebih keras. Namun aku bisa bertahan. Maka tidur tanpa bantal dan selimut masih hal yang sepele. Angin malam yang berhembus menembus dinding rumah mama, juga menembus kulitku tetap membuatku bergeming.
Apalah artinya dingin malam ini dibandingkan dengan panasnya lava kemarahan yang terlanjur tumpah di hatiku apabila berdekatan dengan Syafrie dan ingatan masa lalu kami.
Saat pertama kali membuka mata, pandanganku menyapu plafon rumah yang di cat putih. Mataku menyipit, silau oleh cahaya putih plafon yang terpapar oleh kilauan lampu neon yang terpasang di tengah ruang tamu. Semalam saking ngantuk nya aku sampai lupa untuk mematikan lampu.
Aku memejamkan mata. Satu detik.... dua detik.... tiga detik.... empat detik.... lima detik......
" Sudah bangun? " Aku nyaris terpekik. Bukan main terkejutnya aku. Secepat kilat aku menoleh kearah datangnya suara.
Di depanku, berjarak sekitar tiga puluh sentimeter, Syafrie duduk dengan tangan yang bertumpu pada dagu di atas sofa, bersisian dengan lenganku. Lelaki tak tahu malu itu melempar senyum tak terbaca.
Kesadaranku belum sepenuhnya pulih. Tubuhku masih lagi mengumpulkan tenaga, setelah sisa kemarahan semalam terbuang saat tidur. Mana mungkin lagi aku mengeluarkan sisa - sisa amarah pada raut wajah lelaki yang memuakkan ini.
" Tetap cantik seperti dulu." katanya lirih.
Astaga.... ternyata.... dia nyata
di depanku.....
Aku langsung bangun dan duduk sambil mendekap dadaku, melindungi diri.
" Tenang, belum terjadi apa - apa. Kamu di atas sana, aku di bawah sini." Dia menunjuk tempat tidurnya, persis di bawahku. " Salah posisi, Asma. Seharusnya aku di atas, kamu di bawah. Seperti dulu, posisi yang paling kamu suka." ucapnya dengan pandangan mata yang aneh.
Aku diam tak bergeming.
" Maaf, aku tak memberimu selimut, karena setahuku selama berada di desa ini, kamu selalu saja merasa panas saat berada di dekatku. " Dia berkata sambil meregangkan kedua lengannya.
Aku masih berjuang mengumpulkan kesadaran ku. Rasa sakit yang menyerang kepalaku, membuatku tidak bisa langsung mencerna dengan baik apa yang baru saja terjadi.
Hal pertama yang kulakukan begitu kesadaranku pulih adalah mencari jilbabku dan memasangnya.
" Tak perlu menutupinya. Di rumah ini tak ada yang haram bagimu. Semuanya halal. " ucapnya seraya memegang ujung jilbabku.
Tangannya sudah bergerak untuk membuka kembali jilbabku, saat kesadaran ku langsung bekerja.
"Jauhkan tangan kotormu, dariku! " Dengan kasar ku sentak lengannya hingga menyenggol asbak yang tergeletak di atas meja. Asbak itu terjatuh ke lantai. Untung saja tidak pecah karena terjatuh tepat di atas selimut yang di pakainya semalam.
" Jangan membuat keributan jika tidak ingin membuatmu malu sendiri nantinya!"
katanya membuatku mendelik dengan mata sebesar bola.
" Tutup mulutmu! " Entah setan apa yang datang, hingga sepagi ini aku harus bertengkar dengan ayahnya Fadil.
" Hmm, jika kamu bersikap seperti ini, nanti orang rumah mengira kamu jual mahal padaku. " katanya.
" Tutup mulutmu, Syafrie? " bentakku sambil menahan geram. Ingin sekali rasanya aku mencekik pemilik lesung pipit itu.
" Hmm, sikapmu ini seperti istri yang kurang jatah saja... "
Brukk! sebuah bantal melayang tepat di wajahnya. Rasakan... itu hadiah dariku atas mulut lancangnya yang tak pake saringan.
__ADS_1
" Sopan sekali istriku ini. Apakah ini yang kamu dapat setelah melarikan diri sepuluh tahun dariku? " katanya dengan senyum meremehkan.
" Kalau memang iya, masalah buat lo? " balasku dengan senyum mengejek. " Jangankan bantal, kursi saja masih bisa kulempar kemukamu, Syafrie! " kasar ucapanku padanya.
" Hmm, kalau aku mendesah, kira - kira apa yang akan di pikirkan oleh orang - orang? " dia bertanya pada diri sendiri, namun lebih menyindir ke diriku.
" Mungkin ipar - iparku tidak ada yang akan berani keluar kamar karena mereka berpikir pastilah kita sedang melewatkan subuh panas kita berdua."
" Jangan memancing emosiku, Syafrie! Siapa tahu aku nekat.." kataku dengan pandangan tajam menusuk
" Senekat apa, sih? " tanyanya dengan wajah mengejek. " Apakah senekat ini? " dia maju dan mendekatkan wajahnya ke dekat wajahku. Tanpa minta izin, dia langsung mengecup bibirku singkat.
Lagi, laki-laki itu kembali merendahkan diriku. Dengan tidak tahu malu dia mencium ku. Alih-alih menunjukkan sikap marah, yang malah akan membuat dia makin besar kepala, aku lebih menunjukkan sikap angkuh dan mendominasi. " Cuih... Najis. Kamu tahu tidak, selepas ini aku akan mencuci bibirku dengan air tujuh kali, lalu menggosoknya dengan tanah." kataku sambil menggosok bibirku berulang - ulang dengan lengan bajuku.
Ia terlihat santai saja menanggapi ucapanku. Masih dengan senyum merendahkan yang terbiasa di sudut bibirnya.
Kesal, aku memilih untuk meninggalkannya. Namun, baru saja aku hendak beranjak pergi lengannya kembali mencekal lenganku.
" Apa..?! " ketusku. Mataku mendelik tajam ke matanya.
" Aku tak akan minta maaf."
" Terserah..! "
" Asma, aku tak akan minta maaf. "
" T. e. r. s. e. r. a. h... bodo amat. Bukan urusanku..! " Aku membuang pandang, acuh. Aku tak ingin menoleh pada laki-laki yang tak punya malu ini.
" Aku tak akan minta maaf, padamu" Kesal aku berbalik menatap ke arahnya. Menghadiahkan tatapan marah dan benciku padanya. " Sumpah, aku tak butuh maafmu..! " jawabku ketus.
Jika tadi yang kuterima adalah ciuman sekilas, maka kini yang ku dapatkan adalah ******* bibirnya. Ciuman yang kasar dan lama. Seperti ciuman yang penuh dengan perasaan kerinduan yang dalam.
Aku berontak ingin melepaskan diri namun dia memelukku dengan erat dalam dekapannya. Aku marah, terlebih lagi pada diriku sendiri. Otakku tidak sejalan dengan tubuhku yang terlihat gampangan sekali saat ini.
" Jangan lihat, dek!" kak Adit menutup mata istrinya sambil kembali menuntunnya memasuki kamar. Tepat di depan pintu, dia berbalik dan berkata, "Emangnya nggak ada kamarkah, dek. Sehingga kalian harus bermesraan di ruang tamu?" katanya dengan pandangan penuh arti.
" Eh..tapi ngomong - ngomong, selamat ya, Syafrie. Ternyata harimau mu sudah sedikit jinak, hingga mau juga diajak mesra - mesraan meski sambil marah, hehehe " kekehnya sebelum berbalik lagi menutup pintu.
Mukaku merah menahan amarah. Mau di taruh di mana wajahku. Tatapan membunuh, tajam kuhujamkan pada Syafrie. Andai mataku terbuat dari laser, aku yakin tubuhnya sudah pasti terbelah menjadi dua bagian saat ini.
Syafrie menyeringai penuh kemenangan.
...-----...
Setelah sholat subuh berjamaah di ruang tamu yang beralih fungsi sebagai mushola darurat, aku membantu di dapur menyiapkan sarapan. Berkali-kali mama menegurku karena salah memotong sayuran. Aku tahu maksud sebenarnya, tujuan dia menegurku bukan karena sayuran itu, melainkan dia ingin mencairkan suasana yang terlihat beku antara aku dan keluarga ku.
Aku tahu, keluarga ku terutama mama, mendiamkan diriku. Yang dia lakukan tadi adalah usahanya untuk mencairkan kekakuan di antara kami.
Tak butuh waktu lama, sarapan pagi telah siap. Semua bekerja membantu di dapur. Setelah siap, para lelaki duduk di meja makan dengan sarapan yang sudah tersaji di depan mereka. Mereka kemudian sarapan pagi bersama.
" Asma, mama akan memberi makan ayam - ayam dulu.Kau makanlah dulu sana!" perintah mama.
" Iya !" jawabku sambil beranjak bangun untuk mandi.
" Oh, ya. Apa Fadil sudah bangun? " tanyanya padaku. Aku mengangkat bahu tanda tak tahu. Dan aku memang berniat tak mau untuk cari tahu. Mama menghela nafas panjang.
" Asma, tolong bilang sama Syafrie untuk membangunkan cucuku itu !"
Hah..! apa tadi kata mama? Cucuku? Apa mama tak salah ucap. Anak dari musuhku, dia akui sebagai cucunya. Aku pasti salah dengar atau sedang bermimpi. Lelucon mama lucu sekali sepagi ini. Ingin rasanya aku tertawa terbahak - bahak.
Dari pada darahku mendidih, aku lebih memilih kembali masuk ke kamar.
" Dek, sini. Ayo sarapan sama-sama! " ajak kak Adit ketika melihatku berjalan ke kamar. Cuih, mana sudi aku bergabung dengan mereka.Di sana ada Syafrie, musuh bebuyutanku.
__ADS_1
" Nanti saja, kak. Aku mau mandi dulu.! " Setelah berkata demikian aku buru - buru masuk ke kamar untuk mengambil peralatan mandi dan baju ganti yang baru.
Saat kembali, aku melewati mereka begitu saja dan berlalu pergi ke kamar mandi. Namun, baru saja aku hendak memasuki kamar mandi, pandanganku teralihkan pada istri Kak Adit yang sedang memandikan anaknya di pancuran air yang terdapat di belakang rumah.
Aku urung mandi dan memilih melangkahkan kaki mendatangi balita yang terlihat sedang asyik bermain air pancuran yang jatuh ke baskom tanpa terpengaruh oleh dinginnya suasana pagi. Tawanya riang ketika percikan air yang jatuh mengenai wajahnya.
" Lucu sekali, siapa namanya, kak? " tanyaku pada istri kak Adit yang berdiri tak jauh dari anaknya.
" Renata, tante. " jawabnya mengajari anaknya memanggilku tante.
" Aih, lucu sekali kamu, Renata." kataku sambil berjongkok mendekati anaknya kak Adit.
" Kenapa tidak di dalam rumah, kak? Di sini dingin. " kataku seraya tanganku ikut menyiramkan air ke tubuh Renata.
" Di sini lebih luas, dek. Air dari pancuran langsung dari gunung. Lebih bagus dari pada air di dalam sana. Di dalam sana airnya dari sumur bor. Kurang bagus untuk anak bayi. " kata istri kak Adit itu.
" Apa tidak dingin? " aku mengenggam tangan mungil Renata.
" Sudah biasa, dek. Aku belajar dari suamimu, Syafrie. Dari kecil, Fadil sudah terbiasa di mandikan Syafrie di tempat ini. "
" Memangnya, dari kecil Fadil sudah tinggal di sini? tanyaku heran.
" Iya, bahkan sebelum kakak dan kakakmu menikah, Fadil sudah tinggal di sini. Apa kamu tidak tahu? " tanyanya padaku.
Aku menggelengkan kepala. Sungguh, aku tidak tahu. Tapi, benarkah hal itu? Jujur saja, aku sedikit terkejut setelah menemukan fakta baru ini.
" Renata sudah selesai mandi, tante. Yuk kita ke dalam. Tante duluan dulu, ya! Soalnya kakak mau menjemur pakaian. " Aku mengantuk kemudian berlalu masuk ke dalam. Melanjutkan acara mandiku yang tadi sempat tertunda.
Aku melangkah melewati ruang makan, setelah selesai mandi. Kudapati, para lelaki sedang asyik berbicara mengenai sesuatu. Di hadapan mereka, masih tergeletak piring - piring bekas sarapan yang kini sudah kosong.
" Cuma itu satu - satunya cara, Syaf! " ujar Kak Mansyah pada Syafrie.
" Tapi, itu salah, Syah! " jawab Syafrie.
" Aku tahu, tapi hanya itu satu - satunya cara agar dia tak punya alasan untuk pergi lagi dari sisimu. " kata Kak Mansyah pada Syafrie.
"Lakukan saja, nanti kita tanggung bersama akibatnya. " kali ini Kak Adit yang angkat bicara.
Aku tercekat. Otakku kiriku sudah mulai mencerna setiap kata yang berhasil ku tangkap. Apa sebenarnya yang sedang mereka rencanakan. Aku berharap semoga bukan tentang diriku.
Aku merasa tidak nyaman mencuri dengar pembicaraan mereka. Akhirnya terpaksa aku mendehem agar mereka menyadari kehadihanku. Mereka serentak menoleh kepadaku. Setelah itu mereka saling melempar pandangan dengan tatapan aneh.
" Dek, sini! " panggil Kak Adit.
" Aku mau sarapan dulu, Kak. " tolakku halus. Duduk bersama mereka, apalagi ada Syafrie di sana, aku sih ogah!
" Kesini dulu sebentar, dek. Kak Mansyah ingin ngomong sesuatu." desaknya.
Kak Mansyah lagi. Kakakku yang satu itu selalu saja membuatku kesal. Apapun itu yang keluar dari mulut Kak Mansyah selalu merugikan aku.
Aku menyeret langkahku, mendekat.
" Asma, kamu ingat tidak sama saudara sepupu kita Agus, yang di tenggarong? " kata Kak Mansyah.
Aku menggangguk dengan malas.
" Nah, minggu ini dia akan menikah. Rencananya mama yang akan ke sana. Tapi seperti yang kamu tahu, mama kan baru pulang dari Sangatta, baru saja selesai mengurus perayaan sunnat dan aqiqah anak kak Adit. Jadi, bisakah kamu dan Syafrie mewakili kami? "
Nah, benar dugaanku! Aku sudah bisa mencium aroma persekongkolan dari mereka.
Kakak - kakakku rupanya sedang menyusun seribu satu rencana untuk mendekatkan aku dengan Syafrie kembali.
Aku menatap Syafrie dengan tajam. Memberinya kode melalui tatapan agar dia menolak rencana itu.
__ADS_1
Namun, sekali lagi aku membenci Syafrie. Dia hanya mengangkat bahunya acuh. Terkutuklah kau Syafrie, rutukku dalam hati.