PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 21


__ADS_3

" Sah..! " Seruan kata yang amat kutakutkan itu pun terdengar. Mengakhiri kisahku dengan Mas Haris. Baru saja beberapa saat aku mereguk manisnya kembali bunga - bunga cinta dari Mas Haris, kini semua itu harus kandas, gara - gara kepulanganku kembali ke desa ini. Sesuatu yang sangat kusesali seutuhnya hidupku. Andai kutahu, aku bersumpah tak akan pernah mau menginjakkan kaki kembali ke kampung halamanku.


" Apa kamu mau keluar menemui suamimu atau mau menunggu dijemput oleh suamimu ? " Istri Kak Adit bertanya padaku.


Hah, terasa aneh bagiku mendengar kata 'Suami'. Aku yang sengaja pergi menjauh dengan meninggalkan desa ini demi untuk menghilangkan kata itu dari mulutmu. Namun, mirisnya saat kembali, aku tetap harus menjadi istri dari pria itu kembali dengan embel - embel bonus 'anak ' satu. Sungguh miris sekali nasib hidupku.


" Aku ingin di sini. Bisakah kakak meninggalkan aku di sini sendiri saja? Otakku rasanya mau pecah menerima semua kegilaan ini. Aku tak akan kabur, jika itu yang kalian takutkan. " mohonku sambil menahan riak kecil di sudut mataku yang terasa ingin jatuh.


Wanita yang merupakan istri dari kakakku itu menatapku dengan pandangan iba. Dielusnya kepalaku sebelum berlalu keluar dari kamar ku.


...------...


Sudah hampir jam 11.00 malam, namun tak juga aku beranjak meninggalkan kamar. Aku masih betah menerima kesendirianku walaupun sudah beberapa kali mama dan juga kakak - kakakku bergantian memintaku untuk keluar. Banyak tamu dan tetangga yang ingin bertemu dan mengucapkan selamat. Aku menolak secara halus dengan alasan asam lambungku kumat. Aku memang tak sepenuhnya bohong, memang benar asam lambungku saat ini mulai bertingkah. Buktinya rasa mual di perutku dan rasa sakit yang semakin menusuk - nusuk. Namun, yang paling sakit bukanlah asam lambungku, tetapi jiwaku yang semakin sakit dan merana.

__ADS_1


Aku memejamkan mata untuk beberapa lama sampai sebuah suara membuatku terbangun. " Aku tak ingin kembali menyandang status duda setelah baru saja resmi memperoleh gelar sebagai suami. "Lelaki dengan bulu mata lentik itu masuk begitu saja ke kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dengan memakai baju koko lengkap dengan peci hitam serta celana panjang hitam yang masih melekat di badannya.


Aku memindai penampilannya dengan tatapan sinis. " hmm, .. mirip sales penjual obat." cibirku seraya membuang muka.


Aku pikir dia akan marah mendengar ejekanku. Namun nyatanya dia malah tersenyum seraya berjalan ke arahku.


" Jadi.. Nyonya Syafrie, apakah kau mau makan bersamaku ? Sales penjual obat ini dengan senang hati akan menemanimu makan. " senyumnya terlihat di paksakan.


" Keluar..!! " usirku padanya.


" Bajingan! keluar kamu dari sini! " Aku benar-benar marah dan melemparnya dengan bantal, namun dengan sigap di tangkap olehnya.


" Ckckck, rupanya ibunya Fadil sudah tak sabar ingin merasakan malam pertama denganku. " ledeknya yang semakin membuat aku murka.

__ADS_1


" KELUAR!! bentakku dengan nada yang semakin tinggi. Aku tak peduli apakah suaraku akan terdengar sampai ke tetangga, yang aku mau adalah bedebah itu segera keluar dari kamarku.


Bukannya keluar, Si Laknat Syafrie itu malah semakin gencar menggodaku. " Persiapkan dirimu malam ini, kita akan membuatkan Fadil adik lagi..! " Dia melempar senyum lebar bersama tatapan mesumnya.


Fix .... habis sudah sabarku. Aku merasa dihina dan dilecehkan. Serta merta aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arahnya dengan amarah yang meluap - luap. Tanganku rasanya gatal sekali ingin menamparnya.


" Stop, Asma. Jangan mendekat! Siapa tahu aku tak bisa menahan diri, maka proses pembuatan adik Fadil bisa semakin cepat.! " ejeknya mampu mengurungkan niatku untuk maju mendatanginya.


Mukaku merah padam menahan geram. Gudang persediaan cacian, makian, dan sumpah serapah di mulutku hampir saja terkuak dari mulut berbisaku. Seandainya saja bukan karena ketukan di pintu kamarku.


" Asma, ada tamu di luar yang mencarimu. Katanya ingin bertemu denganmu! " kata Kak Adit saat daun pintu kamarku terkuak.


Aku bergeming, sementara kening Syafrie berkerut. Dadaku berdegup kencang. Mungkinkah dia?

__ADS_1


" Mas Haris.. " gumanku lirih.


...----...


__ADS_2