PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 89


__ADS_3

Aku akhirnya memutuskan untuk pergi dan mencari kebahagiaanku sendiri. Walaupun sidang gugatan ceraiku belum lagi putus.


Aku sudah minta tolong kepada seorang teman untuk membantu mengurus semua permasalahan gugatan perceraian ku dengan kak Jubair.


Dertttt..... handphone aku berbunyi. Aku tersadar dari lamunan. Ternyata sebuah panggilan video masuk .


Deg.....


Aku membaca nama yang tertera di layar handphone.


Pak Haris.....????


Untuk apa malam malam begini Pak Haris menelponku? Mana panggilan video lagi. Bergegas aku menggeser tombol biru di layar handphoneku agar panggilan itu terhubung.


" Halo.., Assalamu'alaikum. " aku mengucap salam dengan gugup. Wajar saja, baru kali ini pria yang merupakan atasanku itu menelponku saat malam - malam begini. Lagi pula kami belum terlalu akrab.


( Wa'alaikumussalam. Maaf, apa telepon saya menggangumu?) dia bertanya begitu layar handphone kami terhubung.


" Tidak, Pak. Saya juga belum tidur kok." jawabku merasa tak enak mendengar pertanyaan Pak Haris.


Terlihat keningnya berkerut mendengar ucapanku yang terakhir.( Mengapa? Apakah ada sesuatu yang sedang menggangu pikiranmu? )


Aku menggeleng cepat. Bagaimana mungkin aku bisa jujur mengatakan kepada pria itu bahwa aku baru saja menangisi sebuah kenangan masa laluku.


" Saya hanya sedang merasa rindu akan kampung halaman saja. " jawabku asal. Tapi memang benar, aku sedang merindukan kampung halamanku yang sarat akan kenangan pahit dan manisnya lembaran kehidupanku di masa lalu.


( Oh, ....kirain rindu sama pacarnya.) ucap Pak Haris di seberang di barengi dengan tawa kecilnya. Aku tercekat mendengar ucapannya. Apa maksudnya pria itu berkata seperti tadi. Apa dia sedang memancing di air akuarium?


" Saya nggak punya pacar, Pak." jawabku sedikit sewot. Boro - boro pacar, sempat mikir buat nyari saja kagak. Aku masih sedikit trauma untuk membina kembali hubungan dengan seorang pria karena pengalamanku dengan Jubair di masa lalu mengajarkan aku apa artinya nilai sebuah kebebasan.


Pak Haris kembali terkekeh di ujung telepon. (Ya udah, nggak usah marah juga kalee.. Yakin nggak mau cerita?)


Aku terhenyak mendengar tawarannya. Masa iya... aku cerita tentang masa lalu yang setengah mati aku simpan kepada pria itu. Lagi pula hello... siapa dia? Dia hanya atasanku. Mantan kekasih sahabatku. Apa jadinya jika akhirnya aku jadi baper sendiri ketika nantinya pria itu sok - sok perhatian padaku. Tidak..... aku tak ingin sejarah lama terulang kembali. Apa jadinya nanti jika cerita masa lalu seperti kisah aku dan Jubair terulang kembali? Aku sedikit ogah - ogahan jadinya menerima telepon pria itu. Entahlah.... merasa sedikit kurang nyaman saja.


( Sani.... kamu masih di sana? )


" Eh... iya, Pak. Bapak ada perlu apa menghubungi saya? " Astaga....Apa kentara sekali jika aku merasa terganggu dengan teleponnya...? Aku berdoa semoga saja dia tak marah dengan pertanyaan aku barusan.


(" Eh.., maaf. Saya ganggu kamu, Ya? " )


" Enggak, cuma sedikit heran saja.. " jawabku mencari alasan. Aku mengutuk habis mulutku yang kelepasan bertanya.


(Hanya ingin memastikan saya jemput kamu jam berapa? )


Keningku berkerut mendengar pertanyaan darinya. Aneh sekali.. bukankah yang mengajar aku pergi ke pesta pernikahan mantannya adalah dia? mengapa seolah aku yang mengajak? Mengapa aku yang harus menentukan waktunya?


" Terserah bapak saja. Bukankah yang ngajak kesana adalah Bapak? " jawabku.


( Iya, gitu ya? Baiklah kita pergi jam sembilan pagi saja, ya? Atau kepagian, ya? Baiklah... jam sepuluh aja kalo gitu? )


" Baiklah, Bapak besok bisa jemput saya jam sepuluh. " jawabku kemudian.


( Sani, makasih, ya? .....)

__ADS_1


" Hemm.... "


( Sani....)


" Iya, ada apa lagi, Pak.... " Ya ampun, kenapa juga nih, mulut... judesku keluar lagi.


( Are you oke? ....)


" Iya, saya baik - baik saja. Maaf, saya hanya sedikit merasa tak enak hati dan perasaan. Bapak mau ngomong apa tadi?"


( Nggak, saya.... saya cuma mau bilang, tolong jangan panggil saya dengan panggilan Bapak. Emang saya sudah keliatan tua banget, ya? )


Ya... ampun..... markonah*!!!


Aku menepuk jidat kesal. Pria itu, kenapa sih, dimana - mana sama saja. Kalau sudah berhadapan sama cewek, egonya tak ingin dikalahkan. Rupanya dia tak ingin dianggap tua dan tidak pantas jalan sama wanita muda. Huh.... aku tersenyum jahil. Timbul isengku untuk mengerjai atasanku itu.


" Tapi emang Bapak sudah tua, kan? Apalagi di kantor, Bapak adalah atasanku. Jadi sudah sewajarnya aku memanggil dengan sebutan Bapak. Apa Bapak keberatan dengan panggilan itu? "


( Eh... enggak juga sih. Tapi... masa sih, aku sudah setia itu, Sani? )


Aku tersenyum sendiri membayangkan wajah Pak Haris yang pastinya merah padam dan salah tingkah. Bisa jadi dia langsung mencari cermin untuk sekedar mematut diri untuk mengecek kebenaran ucapanku.


( Sani.... aku mohon, bisa tidak memanggilku dengan panggilan Mas saja besok. Apa jadinya nanti jika Isna mendengar kamu memanggilku dengan panggilan 'Pak'. Nanti bisa - bisa dia mengira hubungan kita hanyalah atasan dan bawahan saja. )


" Loh.... tapi memang benar, kan..? Besok memang atasanku. Jadi hubungan kita murni hanya sebatas hubungan antara bawahan dan atasn."


Diam.... tak ada sahutan dari Pak Haris. Mungkin juga pria itu sedang memikirkan ucapanku. Aku tersenyum sendiri sambil memainkan ujung piyamaku.


" Waalaikum salam.. " jawabku sambil menutup dan melempar handphoneku ke atas kasur. Tak perlu waktu lama, aku akhirnya terlelap juga. Mungkin karena lelah seharian bekerja kemudian harus menemani Mas Haris jalan - jalan untuk mencari baju.


Keesokan harinya aku bangun agak sedikit siang. Kulirik handphoneku yang berbunyi terus sejak tadi. Siapa sih orang yang usil pagi - pagi gini sudah menelpon dan mengirim chat padaku. Aku sempat kesal karena merasa berisik.


Aku mengacuhkan handphoneku dan memilih beranjak bangun menuju ke kamar mandi tanpa berniat untuk melihat siapa yang mengirim pesan.


Alaaahhhh.....paling - paling juga itu ulah Asma. Di dunia ini yang tahu nomorku bisa dihitung dengan jari. Bukan apa - apa, aku takut jika ada keluarga Jubair yang bisa melacak keberadaanku dan menyeretku pulang ke desa. Bisa kacau semua.


Aku merasa tulang belulangku seperti remuk semua. Aku nyaris menabrak pintu kamar mandi akibat masih sedikit mengantuk.


Selesai mandi aku memakai pakaian. Iseng aku membuka handphoneku untuk melihat jam dan mengintip pesan yang masuk. Astaga... sudah hampir pukul setengah sepuluh....


Kulirik pesan yang tadi belum dibaca... dari Pak Haris. ( Sani..apa kamu sudah siap? )


Astaga.... aku menepuk jidat. Bego.... pantas saja pria itu berulang kali menelpon dan mengechat aku. Ini sudah jam berapa....?


Bergegas aku berpakaian dan berdandan pake mode fast and furious. Aku memakai pakaian yang kemarin Mas Haris pilihkan untukku. Tak lupa memakai jilbab warna senada dengan bajuku.


Aku berdandan senatural mungkin agar tak terkesan menor dan menarik perhatian. Terakhir aku menyambar kotak yang berisi tas dan juga sepatu dari Pak Haris. Sempurna...


Aku kembali melirik jam di handphoneku. Pukul sepuluh pas....! Aku selesai berdandan. Aku mematut puas menatap cermin. Cantik.....! Aku memuji diri sendiri. Hehehe.... Memang Saniah cantik, Jubair saja yang matanya jereng.


Handphoneku berbunyi kembali. Sebuah pesan masuk melalui aplikasi Whatsapp.


( Aku sudah di depan rumah..)

__ADS_1


Aku tersenyum setelah membaca chat tersebut, kemudian bergegas melangkah ke ruang tamu.


" Assalamu'alaikum...." Terdengar sapaan salam dari luar.


" Walaikum salam.. " sahutku sambil meraih gagang pintu.


Pintu terbuka dan kulihat Pak Haris sudah berdiri di depan pintu. Pria itu sedikit terkejut ketika melihat penampilan diriku. Untuk beberapa saat, pria itu hanya diam terpaku menatapku.


" Pak, jadi nggak? ... Pak.. " panggilku.


Pak Haris terlihat gelagapan. " Eh, iya. Ayo kita pergi sekarang.. " ajaknya kemudian. Setelah mengunci pintu, aku berjalan mengikuti Pak Haris yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan.


Pak Haris membukakan pintu mobil dan membimbingku memasuki mobilnya. Setelah itu, kami berdua meluncur ke tempat acara.


Sesampainya di tempat pesta, suasana di sana sudah terlihat ramai. Aku sedikit grogi ketika Pak Haris mengulurkan tangannya dan menggandeng tanganku memasuki tenda pernikahan. Beberapa tamu undangan terlihat melihat kearah kami sambil berbisik - bisik menatap ke arahku.


Dari jauh, sepasang mata mempelai wanita memperhatikan kami dengan pandangan tak berkedip. Aku tahu, mantan kekasih Pak Haris pastilah mengira aku adalah kekasih Pak Haris yang baru.


Dengan penuh percaya diri, Pak Haris berjalan menuju ke pelaminan dengan tangan yang masih tetap menggandengku. Aku semakin gugup ketika jarak kami dengan kedua mempelai sudah semakin dekat. Tanganku sampai berkeringat dingin. Jantungku berdetak semakin cepat.


" Selamat ya, Isna. Mas do'ain semoga langgeng sampai tua. " ucap Pak Haris kepada Isna.


" Terima kasih, Mas. " balas Isna dengan bibir bergetar. Ada riak bening yang setengah mati dia tahan. Aku sebenarnya tak tega. Jujur saja, aku pernah merasakan di posisinya. Dan rasanya sungguh sangat menyiksa.


Aku tersenyum manis ke arah mempelai wanita. " Selamat ya, Mbak.. " ucapku.


Matanya menatap ke arah Pak Haris. Seolah paham Pak Haris kemudian mengangguk kepadaku. " Oh, ya. Kenalkan, ini Sani, dia adalah calon istriku... "


Duarrrrr.......


Aku kaget setengah mati......


Wajah Isna pucat seperti mayat hidup....


Bibirnya bergetar dan ada bening yang perlahan - lahan jatuh di sudut matanya.


Aku menatap Pak Haris, berharap penjelasan lewat matanya. Namun pria itu bergeming. Dengan tenang dia menggandeng tanganku dan berlalu dari hadapan kedua mempelai.


Sepanjang keberadaan kami di pesta itu, tatapan Isna tak pernah lepas dari kami. Sampai - sampai aku menjadi risih dan salah tingkah.


" Sayang, kamu mau makan apa, aku ambilkan, ya? "


Apa..? Sayang..? Astaga.... ini tidak ada dalam skenario atau perjanjian. Apa maksud Pak Haris memanggilku dengan panggilan sayang...? Apakah dia bermaksud ingin membuat Isna benar-benar percaya jika kami adalah sepasang kekasih atau ada hal lain lagi.


Aku hanya bisa mengangguk pasrah. "Baiklah, kamu tunggu aku di sini, ya..!Aku akan mengambil makanan untuk kita berdua... "


Sepeninggal Pak Haris, aku tercenung sendiri. Rasanya masih tak percaya mengapa aku bisa sampai di tempat ini. Berperan sebagai kekasih pura-puranya Pak Haris.


" Saniah...... "


Aku menoleh ketika seseorang memanggil namaku....


What....? Mengapa dia ada di tempat ini?

__ADS_1


__ADS_2