PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 57


__ADS_3

Aku tak menjawab lagi perkataan Syafrie. Tanpa mengucapkan terima kasih aku berlalu dari hadapan Syafrie.


" Ingat Asma, hati - hati. Dan jangan terlalu lelah. Ingat, kamu sedang hamil." Ah.......rasanya aku ingin cepat - cepat terbang meninggalkan rumah mama agar tak mendengar suara ' bebek' Syafrie.


Ada keraguan di wajah Saniah ketika aku memasukkan kunci mobil Syafrie kedalam kunci mobil Syafrie.


" Kamu beneran bisa bawa mobil? "


Aku mengendikan bahu. " Aku ini wanita yang mandiri. Jangankan untuk menyetir mobil, cari uang untuk makan sendiri saja, aku bisa. "


Demikianlah, akhirnya kami pun tertawa bersama. Saniah sahabatku itu telah kembali lagi menjadi sahabatku. Begitu saja, tanpa ada kata basa basi, kami langsung berbaikan begitu saja.


Kemarin malam, aku mengirim pesan padanya. Aku minta tolong ditemani mencari pakaian bayi di Bontang. Dan dia dengan senang hati mengawal dan menemani aku kemana pun yang aku mau.


Lalu, disinilah kami berdua terdampar. Setelah lelah dan puas berkeliling, sebuah kafe yang terletak di sisi laut Bontang Koala menjadi pilihan kami.


Aku menyeruput jus alpukat yang ku pesan tadi, sambil menunggu pesanan coto daging yang kupesan. Rasanya lelah sekali setelah kami keluar masuk beberapa toko pakaian bayi hanya untuk mencari yang sesuai dengan seleraku.


" Apa Syafrie tak keberatan kamu memakai mobilnya? " tanya Saniah.


" Mau keberatan? Mana berani dia? Aku tinju batang lehernya, baru nyahok."


Saniah tergelak sampai air matanya jatuh menitik.


" Kualat, kamu Asma. Ngomong sebenci itu, tapi melendung juga kamu."


Aku ikut terkekeh mendengar ucapannya.


" Bagaimana nggak melendung. Dia bikinnya pake obat tidur."


" Hahaha, obat tidur tapi kamu enak juga. Makanya sampai nagih."


" Isss... najaiss.... Benciku sama si Syafrie sampai ke liang lahat. Andai aku masih sadar saat itu, mana mau aku sama dia. "


" Istighfar, Asma. Dicatat sama malaikat, baru nyaho. "


" Halah,... rasanya tak berlebihan jika aku membenci Syafrie. Seandainya saja kamu di posisi aku, maka apa kamu juga akan bisa memaafkannya. Kami baru bertemu lagi setelah beberapa tahun terpisah. Terakhir kami bertemu, dalam suasana yang tidak baik. Jadi setelah bertemu kembali, apa kamu bisa langsung memaafkan, meski orang itu sudah menebus semua kesalahannya. Katakan padaku, apa kamu bisa? "


Saniah terdiam. Lalu kemudian tersenyum samar.


" Kamu melihat dari kaca mata kesedihanmu sendiri, tanpa mau melihat apa yang terjadi di sekelilingmu. "


" Oh, iya. Lantas bagaimana aku seharusnya melihat? "


" ck, manusia punya cerita tentang kesakitan versi masing-masing, Asma. Sekarang, kamu mungkin menilai aku atau Marina hidup senang dan bahagia, begitu? " Saniah menghela nafas. " Kalau begitu pemikiran kamu, Asma. Kamu jelas salah besar. Kenyataannya, kami juga punya nestapa yang sama, yang tak kalah pedih darimu."

__ADS_1


" Hmm, seberapa sedih, sih, lara kalian. Apa pernah kalian dikhianati dan di tinggal menikah lagi saat kalian hamil? Apa pernah kalian hampir gila karena disaat bersamaan, harus kehilangan orang - orang yang begitu kalian cintai? Yang aku lihat, kalian selalu hidup dalam kenyamanan dan senyum kebahagiaan. Mana pernah kalian mengalami hampir mati, karena mengiris nadi sendiri dengan silet."


" Kalau kadar kesakitan yang kamu tentukan setinggi itu, amat sulit bagimu untuk menerima omongan orang lain. Kamu selalu menganggap dirimu selalu benar. Karena apa? Karena kamu sudah memasang standar mu sendiri. Tinggi dan pastinya benar."


" Kamu tak akan faham, Niah. Dulu, saat menjadi Asma yang lugu dan lembut. Palu penderitaan dan duka lara selalu jatuh padaku. Maka saat ini, aku tak ingin lagi menjadi Asma yang lugu dan bisa dibodohi. Aku harus bisa membangun sekat itu agar tak ada lagi orang yang bisa menginjak - injak harga diriku"


Saniah manggut-manggut. " bukankah dunia berputar, Asma. Semua pasti berubah. Bahkan Syafrie dan Marina, juga. Maaf, bukan aku bermaksud mengguruimu. Aku tak bermaksud untuk mencampuri urusanmu."


" Dunia memang berubah. Dan aku juga tahu semua pasti juga ikut berubah. Tapi kisahku tidak pernah bisa berubah. Bapakku dan putraku tak bisa hidup kembali. Dan aku tak bisa menyingkirkan dendam di hatiku . Aku tak bisa menghilangkan rasa sakit hatiku dan duka nestapaku saat mengingat kembali Bapak dan anakku."


" Jadi peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu, adalah pembalasan dendam?" tanya Saniah.


" Hmm, entahlah... "


" Apa kamu, puas? "


" Kayaknya, belum. Soalnya aku belum lagi menjambak rambut sahabatmu itu, hahaha.. " kataku yang membuat Saniah geleng - geleng kepala dengan mata melotot.


" Kamu sinting. Maaf,.... aku keceplosan " katanya sambil tertawa terbahak - bahak.


Mendengar kata - kata Saniah, aku bukannya marah. Tapi malah ikutan terbahak seperti dia. Jadi kami tertawa terbahak - bahak bersama. Sampai - sampai pengunjung di cafe itu menatap heran ke arah kami.


" Ngomong - ngomong, kamu sudah ketemu sama suaminya Marina? " Saniah mengalihkan pembicaraan. Aku menggeleng. Memangnya apa peduliku dengan suaminya Marina?


" Buat apa? Apa untungnya buat aku? "


" Yah, ... siapa tahu, setelah bertemu dengan suaminya Marina, rasa sakit hatimu berkurang."


" Apa hubungannya? Apa kamu mau bilang kalau akulah yang menyebabkan kakinya pincang sebelah."


" Aih.... kasarnya Asma..... " kata Saniah sambil menepuk punggung tanganku pelan.


" Loh, memang pincang, kan? Aku harus ngomong, apa? "


" Asma, Marina itu sama menderitanya sama seperti kamu."


Aku mencondongkan wajah ke arah Saniah. Meraih garam dan juga tempat sambel yang ada di dekat Saniah. Aku menuang sedikit garam dan beberapa sendok sambel ke mangkuk Coto daging yang ada di depanku. Mata Saniah melotot melihat jumlah sambel yang kutuang ke dalam mangkukku.


" Gila, Asma. Kamu mau meracuni anak yang ada dalam perutmu? Sambel sebanyak itu. Entar sakit perut, baru kapok." Saniah menarik mangkokku dan bermaksud membuang separuh sambel yang menggunung di dalam cotoku.


" Stop! Jangan coba - coba untuk membuang sambelnya. Aku tak akan memaafkan kamu, jika itu kamu lakukan." Saniah urung melakukan apa yang tadinya ingin di lakukan karena mendengar ancamanku.


" Aku heran, dulu kamu nggak suka makanan pedas. Kamu itu selalu protes kalau aku makan terlalu pedas. Tapi sekarang, lihatlah.... kamu makan sambel segitu banyaknya. "


" Aku suka apa yang dulunya aku benci dan membenci apa yang dulu aku suka.

__ADS_1


Oh, ya. Tadi kamu ngomong sama menderitanya. Apa dia kehilangan Bapaknya? Anaknya sehat semua. Atau karena suaminya yang cacat itu? Kalau itu sebabnya, salah dia sendiri, kenapa mau sama dia. " Aku berkata sinis sambil kembali menambahkan sambel ke mangkuk.


Mata Saniah melotot. " Asma, kalau kamu nggak suka kita membicarakan masalah Marina, tidak usah dilanjutkan."


katanya dengan tatapan yang cemas sambil meraih sebelah tanganku.


Satu tarikan dari bibirku berhasil ku hadiahkan kepada sahabatku itu.


" Tak apa. Lanjutkan saja. Toh kamu adalah duta perdamaian bagi mereka. Oh ya, maaf jika kata - kataku terlalu kasar." kataku


Saniah tersenyum dan semakin erat menggenggam tanganku. " Jangan marah, dong. Kita kan sudah baikan."


Aku menarik tanganku dari genggamannya. Kutatap Sahabatku itu dengan sorot mata yang tajam. " Apa yang terjadi pada wanita itu sampai - sampai sekarang kamu jadi berbalik membelanya."


Jujur saja, aku tak suka ketika Saniah membela mantan istri Syafrie itu. Aku mau dia membela aku dan selalu mendukungku.


" Seperti yang sudah kamu ketahui, bapaknya sekarang sudah tua renta. Suaminya cacat. Anaknya tiga, masih kecil-kecil lagi. Menurutmu siapa yang menjadi tulang punggung keluarga itu sekarang? Siapa yang mencukupi kebutuhan makan tujuh mulut dalam keluarga itu? Siapa, Asma? "


Aku diam saja. Tidak menanggapi pertanyaan Saniah. Karena merasa aku diam saja, Saniah menjawab sendiri. " Ya Marina, Asma."


Demi Tuhan aku kaget sekali. Aku baru tahu berita ini sekarang.


" Kamu mau tahu dia kerja apa? " Saniah kembali bertanya.


Oh Tuhan, tidak.. Aku mohon jangan katakan lagi. Aku tak ingin rasa benciku untuk wanita itu hilang. Tapi dasar Saniah sialan...


" Dia bekerja sebagai buruh cuci di laudry Anisa. Itu loh, laundry yang letaknya dekat dengan gapura jalan masuk ke desa kita itu."


" Dia digaji harian dengan gaji yang cuma cukup untuk makan mereka sekali." Sialan Saniah.... selera makanku mendadak hilang.


Aku benci tema pembicaraan kali ini, karena mendadak ada perasaan ameh yang melahirkan sesak di dadaku.


" Tapi Bapaknya kan, kepala desa. Dan Marina itu lulusan sarjana."


" Hellow Asma Basrie, masih belum sadar juga di mana kamu berada. Ijazah sarjana tidak menjamin seseorang bakal hidup enak. Dan lagi pula... dia itu sudah menikah dan punya anak, tiga lagi. "


Aku terdiam. Iya sih, Saniah benar. Ijazah saja tidak menjamin hidup seseorang akan makmur. Karena sekarang ini, mencari pekerjaan sangatlah sulit. Apalagi jika yang diincar adalah posisi yang bagus dan gaji yang besar. Sulit.. jika tidak ada koneksi dan pengalaman.


" Tapi, mereka kan kaya, punya tanah dimana-mana. Kemana semua itu? Masa langsung miskin begitu saja? "


Saniah tertawa sambil menepuk sebelah pipiku. " Makanya mbak, kalau kabur itu ingat - ingat pulang. Biar tahu kabar."


" Hei Asma, denger ya. Ambo Tahang memang menjabat sebagai kepala desa untuk dua periode. Tapi pada tahun ke tujuh, dia di non aktifkan sementara sebagai kepala desa. Saat itu terdengar isu bahwa dia terlibat kasus jual beli jabatan dan korupsi dana desa. "


Mulutku terbuka lebar. Astaga......

__ADS_1


__ADS_2