
Sejak satu jam yang lalu angin bertiup kencang membawa riuh daun kelapa di depan rumahku memecah heningnya malam. Sesekali suara guntur tak mau kalah ikut juga berteriak menambah riuh malam ini.
Rintik air di langit mulai jatuh satu persatu di atap rumah. Bibirku terbuka setelah tadi kukatup rapat, siap untuk mencurahkan ratusan cacian untuk sosok pria yang kini hadir di kamarku. Pria yang sedari tadi asyik bermain dengan benda segi empat tipis di tangannya tanpa memperdulikan keberadaanku.
Beberapa kali aku menghembuskan napas, mencoba menahan amarah yang mulai membakar dada. Perasaan tertekan mulai menyelimuti hatiku. Bagaimana mungkin dia memutuskan untuk menghabiskan malam ini dengan tidur di kamarku. Astaga... dimana otaknya?
Belum lagi kesalku semakin bertambah saat mengingat kejadian tadi saat kami berjalan menuju teras rumah.
Ditengah tegangnya diriku menghadapi kemunculan Mas Haris yang tiba-tiba, pria itu membisikan kata-kata yang sukses membuat aku terbakar dari telinga hingga ke wajah.
" Andai aku tak lelah, sudah tentu aku akan menemani istriku menjamu kekasihnya. Satu hal... yang harus kau ingat. Jangan terlalu memberinya harapan jika Ujung-ujungnya nanti akan membuat dia jatuh semakin sakit. Lambat laun akhirnya dia akan tahu juga mengenai status kita. Dan saat hal itu terjadi, aku yakin hatinya akan berdarah - darah. " Begitu bisikan Syafrie kala laki-laki yang bakal menjadi imam masa depanku itu mendekat.
Beratus-ratus kali ku ucap kalimat istighfar. Mungkin lebih dari seratus atau mungkin ribuan kali aku minta disabarkan dalam menghadapi Syafrie.
Dalam setiap tarikan napasku mungkin aku sudah ribuan kali meminta kepada Sang Pemilik Takdir untuk memberiku ratusan atau jutaan kata maaf karena telah berbuat kurang ajar kepada suami.
Namun rupanya untuk membunuh amarah dalam dada tidaklah mudah. Apalagi saat kuingat uluran tangan Mas Haris yang memperkenalkan diri pada Syafrie, akan tetapi dengan congkaknya dia berlalu tanpa menoleh sedikitpun kepada priaku.
Semoga Kak Mansyah tak semakin membenciku karena kini rasa hormatku kepada ipar kesayangannya itu seperti debu yang ditiup angin.
" Jangan menatapku seperti itu, aku takut nanti badanku terbelah dua. " Ia mengalihkan pandangannya dari hapenya sekilas lalu kembali lagi fokus menatap benda segi empat pipih berwarna hitam itu.
Aku memicingkan mata mencoba menahan emosi yang mulai bergejolak naik dalam dada. " Siapa yang mengizinkanmu tidur di sini? "
Gerakan tangannya berhenti mengutak-atik benda berbentuk segi empat dan bercahaya di tangannya.
Dia menoleh dan tersenyum manis padaku. " Ok, aku akan tidur bersama kekasihmu. " Dia lalu bergerak bangkit.
"Jangan salahkan bibirku, karena setelah menghabiskan waktu seminggu tidur di kamar yang sama denganmu, sedikit banyak tertular bisa jahat lidahmu. Hanya sedikit khawatir kalau racun pada ujung lidahku akhirnya menceritakan tentang pernikahanku minggu lalu."
Tangannya sudah memegang handle pintu. " Pernikahanku dengan seorang wanita keras kepala yang telah kembali dari pelarian konyolnya beberapa waktu yang lalu. " Ada getar amarah dalam nada suaranya.
" Brengsek..! Kamu mengancamku, hah?"
Aku melompat siap menghajarnya. Mataku melotot hampir keluar. Kedua tanganku terkepal karena menahan geram. Aku tak menghiraukan lagi hantaman bunyi yang keras dari jendela yang tertiup angin. Akh... aku lupa tadi mengunci jendela.
" Stts... jangan berteriak keras - keras, Asma. Kamu tak mau, kan. Kekasihmu itu terbangun dan mengetahui kita tidur berdua sekamar? Bisa jantungan dia. " Ayah dari anak yang bernama Fadil itu menempelkan ujung telunjuknya di bibirku.
Dia menggeleng pelan. " Dan jangan ulangi lagi memanggilku brengsek. Demi Allah, dosa besar hukumnya memanggil suami dengan sebutan seperti itu, Asma." katanya.
Hawa dingin merambat memasuki kamarku karena jendela di kamarku benar-benar terbuka oleh tiupan angin. Kesal yang tadinya menggebu-gebu di hatiku kini padam. Berganti dengan rasa malu yang menamparku. Dosa besar? Benarkah aku telah berdosa besar?
Aku bergerak pelan, sebisa mungkin untuk tidak menarik perhatian pria yang kini sedang memunggungiku. Seolah dia seperti sedang merajuk dan aku tak tahu apa salahku.
Aku memilih diam agar tak ada pembicaraan di antara kami. Biar saja, aku suka begini. Kalau bisa sampai aku pulang kembali kota bersama Mas Haris.
" Asma.. " Syafrie tiba-tiba berbalik menghadapku, membuatku kaget saja.
__ADS_1
" Hm? " Aku malas menanggapinya.
" Apa yang membuatmu bisa tetap bertahan di desa ini? " Syafrie kini duduk bersila menghadapiku.
" Tidak ada. " Aku memperbaiki letak jilbabku yang sedikit miring. Sejujurnya aku sedikit gerah memakai jilbab saat di kamar. Tapi mau bagaimana lagi, Pria itu mengancamku jika tidak mengizinkan dia tidur di kamar ini.
Ada kilatan luka di matanya. "Bagaimana jika aku mengatakan suatu kebenaran?"
" Aku tetap tak akan tinggal."
" Walau yang aku katakan padamu beberapa hari yang lalu adalah benar."
Keningku berkerut mencoba mengingat - ingat hal penting apa yang pernah pria itu katakan padaku beberapa hari yang lalu. " Semua yang kamu katakan adalah kebohongan." ketusku.
" Bagaimana kalau memang benar di dalam tubuh seseorang mengalir darah kita berdua."
"Aku tidak percaya."
" Fadil anak kita."
" Dia anakmu dengan wanita itu, bukan anakku. Berhentilah berkata kebohongan untuk menahanku. Lusa aku akan pergi bersama Mas Haris."
Sakit rasanya saat yafrie mencekal pergelangan tanganku dengan keras. "Demi Allah, demi Muhammad dan demi Alquran sebagai kitabku, aku berani bersumpah, Asma. Fadil memang anak kita. Dia terlahir dari rahimmu. Jadi aku mohon... aku mohon sekali lagi... demi Fadil, jangan lagi tinggalkan kami."
Hah,... aku benci guntur yang menyambar tepat di hatiku. Apa benar Fadil anakku??
Omong kosong! Hati dan otakku tertawa keras mentertawakan keputusasaan Syafrie. Dia mengira dengan membawa nama Tuhan, aku akan mempercayainya. Mati saja dia tenggelam di laut Merah bersama Fir'aun. Dasar pendusta.
Bagaimana mungkin aku bisa mempercayainya. Aku tak mungkin hilang ingatan. Aku tak pernah lupa atau tidak sedang mengalami amnesia. Walaupun aku pernah depresi dan hampir gila. Namun aku tak pernah lupa bahwa aku pernah melahirkan seorang putra dan mereka menguburnya tepat di bawah pohon kelapa di samping rumahku.
Lalu, jika aku tak pernah amnesia atau geger otak, mengapa tak pernah ada sepotong pun ingatanku tentang Fadil?
Untuk pertanyaan yang satu ini aku yakin Syafrie tak punya jawabannya karena aku yakin, ini semua adalah maha karya dari kebohongannya semata untuk mencoba menahanku untuk tetap tinggal di desa ini.
Senyum kecutku berhasil terlukis, demi kuingat kesalahan yang telah dia perbuatan di masa lalu. Senyum itu semakin masam saja saat kuingat kejadian dimana aku memohon kepada pria itu untuk meninggalkan pelaminannya demiku dengan hadiah ratusan pasang mata yang menatap iba atau yang mencemooh kepadaku sepuluh tahun yang silam.
Dan sekarang setelah aku melewati jutaan perihnya kecewa karena dirinya, pria itu dengan seenaknya kembali mengharapkan cinta yang dahulu pernah dia injak - injak tanpa perasaan, cuih.
Semakin aneh lagi karena dia menggunakan cara - cara kotor untuk membuatku mengulang keromantisan pernikahan kami. Hah, maaf - maaf saja. Tapi aku tak bisa... aku sudah tak mau lagi sekalipun dia berlutut memohon padaku.
Sebab, hakikatnya sebuah permohonan tak lagi memiliki makna jika kita telah tahu bagaimana sakitnya hati akibat sebuah janji yang terkhianat. Sakit sekali.
Lalu sekarang dia menggunakan Fadil untuk menjeratku. Ya ampun, dimana otaknya? Ia ingin menciptakan sebuah kebingungan tentang kehamilanku. Seandainya tak berdosa mendoakan keburukan untuk seseorang, maka aku ingin agar dia mati saja atau lenyap dari hadapanku saat ini. Entah mengapa bibirku sangat gatal ingin mengatakannya.
Seingatku, selama kehamilan Fajri, sedikitpun aku tak pernah mengalami masalah. Kalau pun ada itu hanyalah masalah ngidam saja. Memang fase ngidamku sangat lama, bahkan hingga sampai akhir trimester ketiga. Dan menurut bidan yang biasa memeriksa kehamilanku, itu adalah hal yang kadang terjadi pada wanita hamil akibat hormon bawaan hamil.
Selama kehamilanku, kondisiku normal - normal saja. Tak ada keluhan, tak ada sakit dan tak ada yang namanya morning sickness.
__ADS_1
Fajri anakku memang anak yang kuat. Namun sayangnya, Tuhan telah mengambilnya. Mungkin itu merupakan teguran Tuhan atas kelalaianku dalam menjaga kehamilanku. Akhirnya Tuhan tidak memberiku kesempatan untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku.
Pernah pada suatu hari, Syafrie membawaku ke satu - satunya dokter kandungan yang ada di tempatku untuk memeriksakan kandunganku. Dia ingin memeriksakan jenis kelamin anak dalam kandunganku. Dokter muda yang bergelar SpOG di belakang namanya itu mengatakan bahwa anak kami berjenis kelamin laki-laki. Kandunganku dalam keadaan sehat - sehat saja. Sehingga dia hanya memberi resep berupa vitamin - vitamin untuk menyehatkan bayi kami dan juga asam folat yang katanya untuk membantu pertumbuhan otak bayi kami.
Dari semua ingatanku yang kuhimpun, tak ada satupun dari bagian itu yang berhubungan dengan kisah keberadaan Fadil di sana? Tidak ada? Lantas haruskah aku mempercayai Syafrie? Terlalu tolol kalau percaya.
Kuakui untuk sesaat ucapan Syafrie sempat membuat cairan merah di tubuhku terkuras habis. Tapi itu hanya untuk sesaat saja. Maaf, tapi aku yang sekarang bukan lagi Asma yang sepuluh tahun yang lalu. Aku tak akan lagi mudah percaya begitu saja semua yang Syafrie katakan.
Aku pun kembali bersikap kalem seraya melipat tangan di depan dada. " Mau dikasih judul apa? "
" Kamu pikir aku mengarang cerita? menoleh cepat dengan ekspresi yang tidak percaya. Pria itu mengernyit, tak ada ganteng - gantengnya sama sekali. Dia lalu berpikir sejenak. " Tunggu, mungkin ini bisa meyakinkanmu! " kata Pria itu seraya bangkit mendekati lemari di belakang ranjang.
Aku ikut menoleh ke arahnya, ikut memperhatikan apa yang sedang dia lakukan. " Ah, di mana aku menyimpannya? Seingatku aku menyimpannya di sini. " dia bergumam sendiri sambil tangannya sibuk mencari - cari sesuatu di lemari tiga pintu. di bawah rak dan di laci - lacinya.
Tiga menit berlalu, namun dia belum juga menemukan apa yang dia cari. Dia mulai menggeram. " Astaghfirullah...! Di mana..? Di mana aku menaruhnya? " Dia mulai terlihat frustasi.
Dalam penglihatanku, dia tidak sedang mencari - cari sesuatu melainkan sudah mengobrak-abrik seisi lemari. Lihat saja pakaian miliknya dan milik Fadil berserakan di lantai.
" Awweaahh...! Siapa yang simpan silet di sini! " Pria itu terjengkit kaget seraya mengibas - ngibaskan tangannya. Darah menetes dari ujung jarinya, jatuh menetes di atas lantai keramik kamar ini. Kapok! sumpahku dalam hati.
" Isap, bodoh! "
" Apa? " Dia masih mengibas - ngibaskan tangannya. Tapi tidak terlihat kesakitan, mungkin hanya merasa tak nyaman saja. Tetesan darahnya jatuh di mana-mana.
" Kepalamu! " kataku tanpa sedikitpun berniat untuk menolong.
" Hah? "Sekarang dia membungkus jari tangannya dengan selembar kain yang dia temukan, mungkin bermaksud untuk menghambat agar darah berhenti keluar. Mungkin silet yang mengenai jari tangannya masih baru sehingga luka di jarinya cukup dalam. Buktinya walaupun sudah dibungkus kain, darah masih tetap saja merembes dari sela - sela jemarinya. " Kepala yang mana? " dia bertanya dengan sedikit bingung.
" Dasar sinting. Tentu saja jarimu yang diisap. " perintahku. Aku pernah mendengar bahwa dengan menghisap luka darah akan berhenti mengalir. Aku hanya menyarankan saja. Tanpa berniat menolong.
" Tak apa - apa. Luka ini tak akan mencabut nyawa. " katanya.
Alah.. terserah kamu, Syafrie. Terserah saja..! bathinku.
" Nah, ketemu. Asma. " Dia menenteng sebuah benda di tangannya yang sekilas lalu seperti sebuah gelang.
Keningku berkerut saat tangan Syafrie yang tak terluka meletakkan benda itu di telapakku. " Gelang identitas? " ucapku tak mengertimengerti saat melihat itu.
" Milik Fadil." kata pria itu. Kepalaku sedikit menunduk memperhatikan inisial huruf singkatan rumah sakit di gelang itu. Seingatku dulu, itu adalah rumah sakit daerah tempatku dulu melahirkan Fajri. Ada barcode tanggal yang sama dengan tanggal lahir Fajri, dan juga jenis kelamin laki-laki. Warna gelang itu sudah mulai memudar pertanda itu sudah sangat lama.
Kembali kepalaku terangkat, meminta penjelasan kepada Syafrie tentang semua ini.
" Lihat nama ibu bayi yang tertulis di situ. Bacalah! " tunjuknya pada tulisan besar yang tertera pada gelang itu. Ada binar bahagia yang terlihat dalam riak matanya.
Demi Allah dan penciptaan alam semesta. Demi mama yang telah melahirkan aku ke dunia ini. Napasku seketika terhenti. Jiwaku melayang hilang tak lagi berada di badan. Perasaanku mendadak kosong. Entah mengapa, ada sebuah rasa yang tak bisa kusebutkan. Perasaan yang membuat jantung hatiku mendadak menjadi kebas.
Akhirnya, perasaan terguncang yang pernah kualami sepuluh tahun yang silam kembali lagi terjadi dan sialnya Syafrie Lah yang kembali menjadi penyebabnya.
__ADS_1