
Aku menatap muak ke arah ayah dan anak yang sedang berdiri di hadapanku. "Drama banget, sih! "" umpatku dalam hati. Bocah laki-laki itu sedang menangis tersedu-sedu dalam dekapan Sang ayah.
Sudah lebih dari satu jam, aku berdiri di depan mereka. Menunggu dengan tak sabar. " Jadi berangkat nggak, nih? " tanyaku kesal.
" Sabar, Asma. Anakmu ini masih di bujuk dulu. " Kak Adit yang menyahut.
" Sampai kapan? Lama amat! " ketusku dengan wajah kesal yang sengaja kuperljhatkan. Siapa suruh meminta aku pergi. Ini yang mereka dapat.
" Asma, Fadil itu anakmu. Seharusnya kamu yang bujukin dia, bukannya Syafrie!" kata mama yang berjalan ke arahku.
B**ah, muak aku mendengarnya! Benarkah?
Aku menoleh dan menatap tak suka pada mamaku atas ucapannya. Namun mama malah balik menatapku dengan pandangan yang tajam. " Kenapa? " tanya mama saat menyadari aku menegang.
" Anakku? " aku menelan air liur yang mendadak kering di tenggorokan. " Aku belum lupa, sepuluh tahun yang lalu kalian menguburnya di sana! " tunjukku pada sebuah kuburan yang terletak di samping rumah mama. " Hanya dia, anakku hanya satu dia. Dan dia sudah mati akibat pengkhianatan seseorang." tajam mataku beralih pada seseorang yang masih saja sibuk menenangkan bocah laki-laki itu.
Mata tua mama menampakan keterkejutan atas ucapanku itu. Suasana menjadi hening seketika. Tak ada seorangpun yang berani bicara.
" Sepuluh menit lagi, jika drama indosiar nya belum selesai juga, aku pergi sendiri." kataku seraya keluar dan menyeret koper kecil milikku.
Syafrie menoleh sesaat, namun bisa kulihat matanya yang kesal menatapku.
" Tunggu saja di depan, ya dek." kak Adit menjejeri langkahku. " Mulai sekarang, belajarlah lebih dekat dengan Fadil. Kamu harus mengenal Fadil. " kata Kak Adit sambil meraih koper dari pegangan tanganku.
" Memang harus, ya? Aku mengenal anak itu? " tanyaku dengan wajah sebal.
" .... dek, Fadil masih kecil. "
" Oh, jadi karena dia masih kecil dan aku tua, jadi kalian bisa merongrong perasaanku, gitu? "
" Bukan begitu, dek." kak Adit terlihat jadi serba salah.
" Aku pikir kak Adit berbeda dengan mereka. Tapi nyatanya sama saja. Lagi - lagi Syafrie, lagi - lagi Fadil. Syafrie Fadil, mereka dan mereka. Selalu saja mereka. Aku jadi muak pada kalian. " kataku dengan air mata yang sudah mulai menggenang di sudut mata. Jujur saja, emosiku jadi meningkat saat mendapati perlakuan yang bagiku terasa tak adil.
Dengan kasar aku menarik koper di tangan Kak Adit dan berjalan sendiri keluar.
" Dek, Fadil itu.... "
" Sudah.... sudah. Bisa tidak Kak Adit berhenti menyebutkan nama itu. Lama-lama aku bisa mati karena stroke, karena tekanan darahku naik terus."
" Tapi, dek. Fadil...! "
" Kak, aku mual. bisa berhenti tidak..! " kataku sambil memegang perutku.
" Kamu hamil, dek? "
Lancangnya tanganku karena tanpa terasa sudah mendarat di kepala kakakku. " Aduh, sakit, dek! "
" Makanya, mulut di rem, kak! " sungutku sambil mendelik marah.
" Siapa tau, Asma. Lagian, kamu juga kan punya suami. Mana tahu jadi, kalau melihat peristiwa kaya tadi subuh, bisa - bisa saja kan itu terjadi? " candanya sembari cengar - cengir.
Sungguh nggak lucu. Bagiku candaan Kak Adit bukan hal yang lucu. Malah sebaliknya, makin membuat aku kesal dan membenci mantan suamiku yang kini kembali menjadi suamiku lagi.
" Dek, nanti sampai di sana, baik - baik. sama suamimu. Hormati dia, ya dek." kata Kak Adit menasehatiku.
__ADS_1
" Emang harus? "
" Dek, bisakah kita melupakan masa lalu. Dia sama menderitanya sepertimu. "
Aku mengepalkan tangan. " Masih kurang pengorbananku? "
" Dek, percayalah. Kami melakukan semua ini bukan semata-mata demi Syafrie saja, melainkan demi untuk kebaikanmu juga, dek."
" Kebaikan? Demi untuk membuatku kembali gila, maksudnya? "
" Sabar, dek. Kamu hanya sedang kecewa. Kamu merasa sedih karena tak ada yang membela. Tapi sebenarnya dek, semua itu demi kebaikanmu. Percayalah. Sudah ya, dek. Jangan marah lagi. Kakak mau memanaskan mesin mobil yang akan kalian pakai nanti." kata kak Adit kemudian berlalu untuk memanaskan mesin mobil di depan rumah.
Aku mendengus kesal.
Beberapa menit kemudian, Syafrie muncul di balik pintu bersama bocah laki-laki kesayangannya itu. Masih dengan air mata yang berlinang di pipi. Matanya terlihat bengkak dan merah karena kebanyakan menangis.
Aku membuang pandang ke arah lain. Tak ingin di bilang kurang ajar karena sebenarnya aku sangat ingin mencibir.
Rasanya terlalu berlebihan. Seperti akan ditinggal jauh dan lama saja. Bocah seumuran dia harusnya sudah tak perlu lagi gendongan dan bujukan seperti yang Syafrie lakukan tadi. Cengeng, persis seperti ibunya.
" Sudah siap? "
" Pake nanya, lagi? Dari tadi malahan. Sampai pegal aku menunggu. Mana pake acara sinetron segala lagi.! " bukan main jahatnya mulutku.
" Asma, Fadil itu benaran sedih. Bisa nggak mulutmu itu sedikit di jaga! " kata Syafrie dengan rahang yang terlihat mengeras karena jengkel mendengar ucapanku.
"Santai, bro. Nggak perlu ngegas juga kelesss...! " kataku sambil beranjak menghampiri rak sepatu yang terbuat dari Plastik. Mengambil sepatu skets milikku dan memasangkannya dengan cepat.
" Aku ini suamimu, Asma. Bisa tidak sikapmu sopan sedikit. Tatap mataku saat bicara, Asma! "
" Aku pernah memintamu untuk menolaknya. Tapi kamu sendiri yang menyodorkan diri. Sekarang mengapa sikapmu seperti ini..? "
Tanganku yang sedang mengikat tali sepatu terhenti. " Jangan tanya aku, tanyakan saja pada sahabat dekatmu! "
" Lihatlah, tingkah polah wanitamu, Syafrie!. Masih berani kamu meragukan saranku. Kabur selama sepuluh tahun saja berani dia lakukan. "
Sejak kapan kakakku yang menyebalkan itu berdiri di sana. Tamatlah sudah riwayatku. Pasti mulut tajamnya itu tak. akan berhenti merobek - robek hati dan juga perasaanku.
" Sudahlah, syah! " kata Syafrie.
Dia mendengus kesal ke arahku. Sebelum berbalik sempat dia berkata. " Baik baik sama suamimu, Asma. Karena surgamu ada padanya. Neraka itu panas. Nabi saja yang orang suci menangis saat melihat neraka, apalagi kita yang orang awam. Terutama kamu yang banyak dosa karena telah meninggalkan suamimu bertahun-tahun lamanya."
" Sudah.. sudah.., Syah. Kami mau melakukan perjalanan jauh. Tak baik jika diawali dengan pertengkaran. Aku tak apa - apa. Lagi pula, dia sudah kembali pada kita. Itu sudah lebih dari cukup."
" Dia itu harus diingatkan, Syaf. Kabur selama bertahun-tahun saja dia berani, apa lagi cuma untuk menginjak-injak harga dirimu! " kata Kak Mansyah seraya menatap tajam ke arahku.
Aku balas menatap ke arah kakakku itu. Kuhadiahkan pandangan tak sukaku padanya. Biar saja, biar dia tahu.
Aku heran. Sebenarnya adik kak Mansyah itu aku atau Syafrie? Mengapa dia selalu saja mencari celah untuk menyerang dan memojokkan aku. Seakan-akan aku ini seperti seteru baginya.
Dulu, dialah kakak yang paling menyayangiku. Kenapa sekarang jadi berbalik paling membenciku.
Sejak kedatangan ku kembali ke desa ini, tak ada sekali pun baik - baiknya dia padaku.
Aku memilih diam tak menjawab. Kesal hatiku makin menjadi.
__ADS_1
" Nanti sampai di Samarinda, kalau tak sempat untuk melanjutkan perjalanan, kalian menginap saja, dulu. Berbahaya kalau melanjutkan perjalanan saat malam hari, apalagi mengantuk! " kembali kakakku itu berucap.
" Sepertinya memang begitu. Ini sudah terlalu siang. Sampai di Samarinda pasti sudah malam. Terlalu berbahaya dan berisiko. Banyak perbaikan jalan dan juga sopir taksi gelap yang ugal-ugalan mengejar penumpang." kata Syafrie menimpali.
Aku melirik jam tangan pemberian Mas Haris, pukul satu. Pantas saja mereka berkata demikian. Perjalanan dari sini ke Tanah Hulu memakan waktu sekitar sebelas jam perjalanan darat dengan berkendara.
Syafrie kemudian berlutut di depan anaknya. " Jagoan ayah, jangan nakal, ya. ayah tak akan lama. Mau di beliin oleh - oleh apa, nanti? "
Ada yang menyesak di ulu hatiku saat melihat semua itu. Kulirik gundukan tanah makam di samping rumah mama. Tepat di bawah pohon kelapa, terbaring sosok mungil yang andai saja masih hidup, tentulah akan sebesar putra Syafrie.
Kata Kak Darre, mereka memberinya nama Fajri.
Aku merasa miris saat melihat Syafrie memeluk putra semata wayangnya itu dengan penuh kasih. Seharusnya yang dia peluk sekarang itu adalah putraku., bukan putra dari wanita itu.
Aku meringis menahan sesak yang kembali menghantam dada. Saking sakitnya aku terpaksa meremas ujung gamisku. " Kenapa? " Syafrie melihatku dengan tatapan cemas.
Aku meliriknya dengan tatapan sinis lantas membuang muka. Aku tak ingin dia melihatku menangisi piluku.
" Asma, kamu kenapa? " katanya dengan cemas yang tak bisa dia sembunyikan. Dia memegang lenganku dengan erat.
" Berisik..! " sentakku seraya menepis lengannya. Dia menggelengkan kepala sambil melepas tangannya. Lelaki itu kemudian berjalan menghampiri anaknya. " Fadil, ayo kesini salim sama mamah!" katanya.
Aku memejamkan mata menahan emosi yang kini perlahan mulai tersulut. " Aku sudah bilang.. "
" Apa..? "
" Untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu! " bentakku emosi.
" Hmm, apa aku setuju waktu itu ? Tidak. Ayo jagoan ayah, salim dulu sama mamah..! Syafrie bersikeras. Dia cari mati. Rupanya genderang perang sudah berbunyi. Baik... ayo kita mulai, Syafrie.
Bocah kecil itu berlari mendekat. Dia menyodorkan tangannya. " Mamah, salim. " katanya.
Aku masih diam tak bergeming. Malas menanggapi.
" Asma, anakmu mau salim.! " Kak Mansyah muncul dari balik pintu bersama - sama dengan mama, dan kakak - kakakku yang lain.
Mereka semua menatap ke arahku. Di tatap oleh berpasang - pasang mata membuat nyaliku ciut. Baiklah, dari pada leherku di tebas oleh tajamnya lidah dari mulut kak Mansyah aku lebih memilih mengalah.
Kubiarkan saja bocah kecil itu mencium tanganku. " Mamah, peluk! "
Bah,apa tadi dia bilang? Peluk? Wah..... ini bocah ngelunjak..!
Syafrie berdehem memberi isyarat agar aku menuruti saja keinginan bocah itu.
Aku melirik Kak Mansyah yang kembali memberikan tatapan tajamnya padaku.
Baiklah, kali ini saja aku mengalah. Aku membiarkan saja ketika bocah itu merentangkan tangannya memelukku. Anak dari musuhku memelukku. Seperti ini rasanya di peluk oleh anak dari musuh mu..?
Tapi.....
tunggu sebentar....
Perasaan apa ini...?
Seperti perahu yang menemukan pulau setelah berbulan-bulan berlayar di tengah laut. Lega... tenang ... dan damai...
__ADS_1
Ada perasaan hangat yang merambat sampai ke dasar hati.