PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 39


__ADS_3

" Brengsek kamu, Syafrie..! " kutukku di sela - sela tawaku yang mengandung lara.


Lihatlah.. Siapa di sana yang sedang merangkul erat Fadiku! Wanita itu! Wanita laknat penghancur rumah tanggaku.


Lalu, siapa pula pria yang sedang menenteng tas kresek hitam di kedua tangannya itu? Dia tak lain adalah Syafrie.


Teganya Syafrie


Jahatnya Syafrie


Terkutuklah Syafrie


Sialan Syafrie


Beraninya dia membawa Fadilku menemui wanita itu, sedangkan aku ibunya sudah kembali.


Amarahku sudah tak berwarna. Terlebih lagi saat dia mencium kening Fadilku dengan sayang. Bah... percaya diri sekali dia menyentuh anak dari wanita yang sudah dia hancurkan kebahagiaannya.


Dan Fadil, tak kuragukan lagi dia memang titisan Syafrie. Bocah lelaki itu sukses membuat magma di dalam dadaku meletup - letup. Dengan penuh sayang dia mengelus - elus perut besar wanita itu. Bahkan tak cukup hanya mengelus, darah dagingku itu juga menunduk dan mengecupnya dengan kecupan ringan.


Perih..! dadaku kebas menyaksikan pemandangan yang menyakitkan di depan mata. Mereka tertawa - tawa. Terlihat seperti sebuah keluarga yang sangat bahagia. Marina sukses merebut semua yang aku miliki. Suami dan juga anakku. Lalu, apakah aku Asmawati Basrie akan memberikan ucapan selamat atas pencapaiannya? Jawabnya tentu saja tidak. Tidak akan pernah. Seorang Asma tidak akan pernah menghamba pada wanita itu.


" Maaf lama menunggu." Mas Haris tiba-tiba muncul dengan keringat yang menetes di keningnya. " Yang kecil sudah habis, jadi aku ambil yang ini saja." Mas Haris menyodorkan botol air mineral besar padaku.


" Mas, bisakah kita pulang saja ?" Kening Mas Haris berkerut. " Kenapa, apa ada yang sakit? " Tidak ada. Demi apapun, tidak ada yang sakit pada seluruh anggota tubuhku. Yang sakit adalah hatiku. Jiwaku merana. Tapi aku tak mungkin mengatakannya pada Mas Haris secara gamblang. Aku menggeleng.


" Baiklah, kalau memang kamu maunya di rumah saja. " kata Mas Haris sambil bersiap memutar mobil.


" Mas,... kita ke pantai saja."


" Loh, tadi katanya pulang? "


" Bukan itu, hanya sayang saja... kita sudah jauh - jauh datang ke tempat ini."


Mas Haris menatap manik mataku dalam. Dari pandangan matanya, aku bisa menebak bahwa benak priaku itu penuh dengan tanda tanya.


" Hamba akan mengantarkan Nyonya Haris kemana saja yang Nyonya mau." ucapannya terdengar menyindir namun aku menulikan telinga, masa bodoh.


Hamparan laut biru di depan mataku. Namun fokusku tertinggal di tempat tadi. Ada hampa yang kurasa. Mengapa rasanya sakit sekali.Sekarang aku merasa menyesal mengajak Mas Haris datang ke tempat ini. Dasar labil.


" Ayo, turun ! " suara Mas Haris mengagetkan aku. Dia menuntun tanganku untuk keluar dari mobil.


" Kita duduk di bawah pohon itu saja, ya!" ajaknya sambil menggandeng tanganku berjalan ke bawah pohon ketapang. "Mau menunggu sunset ?"


" Mas, keberatan? " Lelaki itu menggeleng. Aku berpikir, lebih baik berlama-lama di sini dari pada pulang dan bertemu dengan bedebah itu. Aku tak yakin masih menaruh hormat pada pria itu. Setelah pemandangan yang tadi aku lihat, kebencian di hatiku semakin menggunung. Ternyata hatiku masih punya ruang untuk menyimpan banyak kebencian di hatiku untuk pria itu.


" Tentu saja tidak. Jarang - jarang, loh kita punya waktu untuk pergi ke pantai. Kamu tahu, kan. Di Samarinda, tidak ada pantai." kata Mas Haris.


" Iya, betul. " aku setuju dengan perkataan Mas Haris. Setelah itu, aku menarik nafas dalam sambil menatap ke depan.


" Mau cerita? "


Pandanganku yang semula menatap jauh kapal nelayan yang sedang berlayar kini menoleh ke arah pria di sebelahku. Keningku berkerut. " Maksud Mas, apa?"


" Kamu menyembunyikan sesuatu. Kalau kamu mau, kamu bisa cerita sama aku. Aku tak akan memaksamu, untuk bercerita sekarang. Tapi jika kamu mau, aku akan senang hati untuk mendengarkan." katanya seraya memperbaiki rambutnya yang tertiup angin.


Aku membuang pandangan pada garis laut di ujung cakrawala. Entahlah.. aku tak tahu harus berkata apa. Pikiranku kusut. Aku tak tahu harus berbuat apa nanti. Aku tak ingin bertemu dengan pria itu saat di rumah nanti. Walaupun pria itu telah mengibarkan bendera perangnya, tapi aku tak yakin aku akan mampu melawannya jika ada Mas Haris di sisiku. Aku rasa belum waktunya Mas Haris tahu tentang status ayah Fadil itu.


" Apa yang lebih menyakitkan dari kembali ke desa ini? " aku bertanya tapi lebih dari bertanya pada diri sendiri.


Mas Haris menatap perahu kecil yang perlahan-lahan mengecil ditelan cakrawala. " Tak akan menyakitimu, andai kamu mau berdamai dengan hatimu."


Berdamai? itu sama saja dengan memaafkan, bukan? Memaafkan Syafrie? Mana aku mau. Syafrie telah menyakiti diriku. Dengan jahatnya dia telah melempar aku pada neraka dunia sedangkan dia sendiri bersenang-senang dengan surga dunia. Enak saja!

__ADS_1


Arrgghh.... aku ingin membalas Syafrie dan juga anaknya serta perempuan yang bernama Marina itu. Tapi bagaimana caranya?"


" Asma, aku ingin kamu berhenti menghakimi diri sendiri. Berhenti menjadi orang yang pendendam, dan melihat dunia dari sisi yang baik. Semenyakitkan apa hal yang pernah terjadi pada dirimu di masa lalu dengan keluargamu, ada baiknya kamu melupakan semuanya. Kamu tak bisa terus menerus menggugat keluargamu. Semua itu adalah takdir, Asma. kita tak bisa mengubahnya. Itu semua sudah terjadi di masa lalu. Ada baiknya kamu belajar untuk memaafkan dan melupakan. Aku rinduku Dewi-ku yang dulu selalu ceria dan berseri - seri. Tidak seperti sekarang ini, mati segan hidup pun tak mau."


Aku terdiam, tak berniat untuk menanggapi ucapan dari pria yang menjadi bos di kantorku itu. Rasanya semakin pedih saat mendapati kenyataan bahwa kini Mas Haris juga memihak keluargaku walaupun dia tak tahu apa yang telah terjadi.


Ada rasa panas di dalam dadaku dan juga kabut yang merayap di sudut mataku. Aku ingin menangis. Aku tak punya kata - kata lagi untuk menyangkal Mas Haris. Biarlah aku membiarkan dia dengan pemikirannya tentang semua yang ada di sekitarnya dan aku dengan egoku yang tak ingin kalah dan terinjak-injak oleh Syafrie dan keluargaku.


...----...


Hari ini aku bangunnya agak terlambat. Saat aku bangun, tak ada yang berubah. Pikiran dan hatiku sama kusutnya seperti kemarin.


Setelah membersihkan diri, aku berniat untuk berjalan - jalan ke rumah Saniah. Agak tak tahu diri memang. Setelah hampir sebelas tahun lamanya, aku tak pernah berbagi kabar dengannya. Sahabat macam apa aku ini?


" Dek, sarapan dulu." Kak Darre mengejarku. " Temanmu Haris, dia sudah sarapan tadi. Sekarang dia sedang berjalan - jalan mengelilingi desa bersama Fadil." Hah... bersama Fadil. Astaga... mudah - mudahan Fadil tak bercerita banyak pada pria itu. Kini dadaku berdetak tak karuan.


" Ayo, ada Mansyah dan Syafrie juga. Mereka sudah menunggumu." Pandai sekali kakakku ini melempar adiknya pada dua jelmaan jin ifrit itu.


" Aku tidak lapar." jawabku. Aku merasa kenyang oleh bayangan demi bayangan tentang keluarga bahagia dari musuhku kemarin. Mana mungkin aku bernafsu untuk makan.


" Sedikit saja. Sebentar lagi kak Adit akan datang ke sini. " Kak Darre memegang tanganku dan sedikit agak memaksa. "Ayo! "


" Aku bisa jalan sendiri. Tak usah menyeretku seperti ini."


" dek. "


Aku mendengus dan melawati tubuhnya. Huh, mau apa dia. Sepagi ini jangan sampai dia membuatku muntah dengan sikap sok baik dari orang - orang ini yang sama sekali tidak pernah mendukungku.


Aku menolak duduk di samping Syafrie, aku lebih memilih untuk menghempaskan bokongku di kursi di samping kak Mansyah.


" Jam berapa kamu pulang semalam? "


" Harus, aku buat laporan? " Aku tak jadi menyendok nasi goreng ke mulutku dan kini mendelik ke arah si pembela Syafrie itu.


" Asma, kakakmu bertanya? "


Aku semakin tak bernafsu menyantap makananku.


Kami semua makan dalam diam. Sepuluh menit kemudian, tampaklah kak Adit dan suami kak Lela muncul di hadapan kami. Namun mereka menolak sarapan bersama kami karena sudah makan di rumah masing-masing.


Setelah selesai sarapan, kak Darre mengajak kami berpindah ke ruang keluarga.


" Nah, karena semua sudah hadir, maka sebaiknya kita mulai saja sekarang." Apa ini? perasaanku mendadak tidak enak. Sepertinya mereka akan membahas tentang hubunganku dengan Mas Haris. Kak Adit berdehem beberapa kali sebelum kembali berucap. " Dek, kami sudah tahu maksud kedatangan temanmu kemari. Walaupun temanmu itu belum mengutarakannya secara langsung kepada kami."


" Hm, lalu? "


" Apa lagi, ya, tentu saja kami tidak setuju." Suara Kak Mansyah langsung menyambar perkataanku. Menyebalkan sekali.


" Lalu, masalahnya apa denganku? " mataku memicing, mencoba menahan panas di hati. Walaupun dadaku bergemuruh sesak oleh luapan amarah yang semenjak kemarin sudah kupendam.


" Jangan kurang ajar, dek! Begini - begini, kami adalah kakakmu! " kembali suara Kak Mansyah tajam terdengar.


" oh, yah! " aku mengejek.


" Asma..!! " Gebrakan meja di depanku terdengar. Seseorang sudah menghantamnya.


" Apa..!! " Aku menantangnya.


" Mansyah.. sudah. Kendalikan emosimu. Kita tak bisa bicara jika mengedepankan emosi." tegur suami Kak Lela. Sedangkan Kak Adit, Kak Lela, Kak Darre, Suami Kak Darre dan Syafrie lebih memilih diam. Sempat kulihat melalui ekor mata, Syafrie menarik nafas dalam.


Baiklah...Aku sudah muak. Jadi mari kita selesai masalah ini hari ini juga.


" Dek, kamu tak bisa bersama pria lain jika masih ada suamimu di sini. "

__ADS_1


" Siapa yang pria lain? Dia? " tunjukku pada Syafrie.


" Dek, apa Fadil tidak bisa menghapus kecewamu pada Syafrie. Cobalah demi Fadil, kamu dan Syafrie mencoba kembali dari awal."


" Terlambat, seharusnya pertanyaan itu kalian tanyakan padaku sebelum menjebakku."


" Lancang, ternyata kota benar-benar telah menjadi racun untukmu, dek! "


" Bisa tidak, kak Mansyah diam? Siapa yang telah membuat aku jadi seperti ini? Dia...!! "


" Kamu harusnya berterima kasih, Asma. Syafrie masih mau menerimamu kembali setelah kabur sekian lama."


Cukup!! Ini sudah keterlaluan.


" Siapa yang menerima, hah? Apa kamu pikir aku melempar diriku pada lelaki yang duduk di sana? " tunjukku pada Syafrie. Aku melupakan jika dia adalah kakakku. Biar saja, Kak Mansyah pantas mendapat murkaku.


" Kamu.. "


" AKU BELUM SELESAI "teriakku. Aku benar-benar muak. Mereka pikir, dikeroyok oleh mereka semua akan membuat aku takut. Maaf saja!


" Asal kalian tahu, aku menerima pernikahan ini dengan sangat terpaksa. Aku bahkan ingin mengiris nadiku setelah kata ' Sah ' keluar dari mulut pria itu. Kalian tahu kenapa? Karena aku tak sudi. Hanya karena demi membalas dendam, aku menahan mual saat berdampingan dengannya! " Sekali lagi aku menunjuk menantu mama dengan nafas memburu. Badanku terasa panas di bakar amarah. Tubuhku gemetar berdiri menjulang menantang mereka semua dengan mata memicing penuh kebencian. Aku rasa ini adalah penampilanku yang paling sangar dan menakutkan.


" Dek... " Kak Darre mendekat ingin merangkul, namun aku menepisnya dengan kasar.


" Jangan panggil aku adek jika kalian senang melihatku menderita. Kamu.. " tunjukku pada kak Darre. " Apakah kamu tahu rasanya di khianati? Tidak, kamu tidak akan pernah tahu rasanya karena kamu tak pernah merasakannya. Tak heran, kamu selalu mendesakku untuk menerimanya. " Aku benar-benar kesurupan.


Aku tak peduli dengan tatapan terluka dari mata - mata mereka. Aku sudah terlanjur marahmarah. Dan amarahku semakin menyala saat mataku menangkap sosok Syafrie.


Kak Darre dan Kak Lela terisak. Rahang Syafrie mengetat. Kak Mansyah? Jangan ditanya? Matanya selayaknya bara yang siap membakar. Sementara suami Kak Lela dan Kak Darre, mereka hanya terdiam sambil mengelus dada. Mungkin mereka terlalu terkejut saat mengetahui kekurangajaran mulutku. Diantara semuanya, hanya kak Adit yang tidak terlalu terluka mendapati sikapku. Dia lalu bergerak, duduk di sisiku, mengelusku dan memintaku untuk beristighfar.


" Ada kalian menyambutku saat pertama kali bertemu? " aku mengangkat dagu


menantang. Tidak ada yang berani berucap. Hening, tak ada suara. " tidak? " lalu tertawa getir. Getir memang, tapi itulah caraku untuk menghalau air mataku agar tidak meluncur keluar.


" Selain tatapan menghakimi, apa ada pelukan untukku? "


" Dek, istighfar, jangan mengikuti amarah!" kak Adit menggengam jemariku erat. Memintaku untuk berhenti berdebat.


" Jangan hentikan aku, kak. Kalian harus mendengar aku, kali ini. " Aku menghalau tangan kak Adit. " Aku tak bisa memaafkan pria itu! " Tajam mataku memandang Syafrie yang terduduk di ujung Sofa.


" Aku berniat akan menghancurkan dia, tapi sialnya, dia bahkan tak memiliki apapun juga untuk dihancurkan, ckck."


" Asma!!! " bentak Kak Mansyah dengan keras.


" Apa Kak Mansyah yang terhormat? " aku mengatupkan kedua telapak tanganku ke depan wajah dengan maksud untuk mengejeknya.


" Apa kakak juga berpikir bahwa aku akan luluh dengan fakta bahwa Fadil adalah anakku? Hah, jangan mimpi! Aku bahkan bisa membuat banyak Fadil - Fadil yang lain bersama pria lain." nyeri di ujung hatiku saat mengatakannya. Rasa tercekik sampai ke tenggorokan. Aku sampai kesulitan untuk bernapas. Fadil putraku, tapi aku mengingkarinya demi untuk menyakiti Syafrie.


Aku tak berhenti mengeluarkan kata - kata kasar. Seperti bukan diriku saja. Aku benar-benar kesurupan. Bisa jadi jin di pantai kemarin sedang merasukiku. Aku tak peduli dengan mereka. Wajah - wajah pias dan terkejut kakak - kakakku dan Syafrie yang mendengar perkataanku menjadi pemandangan yang memuaskan mata bagiku.


" Dan kamu..! " Aku menunjuk ipar kak Mansyah itu. " Apa kamu pikir yang sedang berdiri saat ini adalah Asma yang kau kenal sepuluh tahun yang lalu? Kalau begitu, jelas engkau sedang bermimpi, Bung! " Aku jelas - jelas Asma yang berbeda. Kau tahu kan, bagaimana kota telah mengubah seseorang? " Senyum paling sinis kuhadiahkan pada pria yang kedua belah tangannya sudah mengepal erat di kedua sisisisi tubuh. Matanya terpejam erat, mungkin sedang berjuang untuk menahan emosi.


" Jangan lupa bagaimana kota sudah mengubah seorang gadis polos hanya dalam semalam. Aku bahkan sudah tidur dengan banyak pria di luar sana. Apa kamu tidak jijik padaku, Syafrie. Atau.. " aku berhenti sejenak. " Kamu sudah terbiasa melakukan hal itu bersama Marina."


Plak!!


Rasa panas menjalari pipi. Perihnya menjalar ke hati. Namun hanya sesaat. Aku kemudian menatap wajah - wajah mereka semua setelah salah satu diantara mereka ada yang menamparku.


Wajah Kak Lela dan Kak Darre pucat. Suami Kak Lela dan Kak Darre menegang. Juga wajah Kak Adit. Sedangkan wajah orang yang memberi cap lima jari di pipiku, murka. Lalu wajah Syafrie? Pria itu sudah tak ada lagi. Kemana dia? Apa dia bahagia melihat Kak Mansyah menampar pipiku?


" Puas kamu mempermalukan saudara - saudaramu? Puas kamu menghina suamimu? Menghina anakmu? Apa kamu puas sekarang, hah? " Bola mata Kak Mansyah memerah mengerikan. Dia lalu mendorong bahuku. " Pergi kamu dari sini, jika itu maumu! Lupakan kami dan hiduplah bahagia." Setelah itu dia berlalu meninggalkan aku, disusul oleh yang lainnya.


Aku terdiam setelah semuanya selesai. Aku kira setelah menumpahkan semua amarahku, maka aku akan merasa lega. Ternyata aku salah... karena detik berikutnya adalah hampa yang merasuki kalbuku.

__ADS_1


Aku ingin menangis. Sayangnya.. tak satupun air mataku yang sudi jatuh.


Aku benar-benar mati.


__ADS_2