PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 48


__ADS_3

Terima kasih aku katakan kepada pemilik janin di perutku ini. Sebab, begitu selesai dia berkata, berpasang - pasang mata menatapku. Aku ' hamil ' dan dia calon suamiku. Ditaruh di mana otak si Syafrie? Hebat sekali


Istilahnya, aku ibarat bunga layu sebelum berkembang. Di ambil jatah duluan, baru di beli. Kasarnya, hamil duluan kata orang jaman sekarang. Dasar Syafrie.. sialan.


" Mualkah? " Mantan suami Marina itu bertanya padaku tanpa khawatir tatapan horor dan menghina orang - orang kepadaku.


Janin dalam perutku juga semakin bertingkah. Huh, mentang - mentang ada ayahnya, semakin bertingkah saja dia.


" Mas, calon istrinya yang sedang hamil disuruh saja berbaring biar tidak mual. Diolesi minyak kayu putih kalo ada.


Seorang wanita berhijab memberi saran sekaligus menyindir membuat telingaku seperti dibakar bara.


Alih-alih tersinggung, Syafrie justru mengucapkan terima kasih kepada wanita berhijab itu.


" Kok bilang terima kasih, sih? " tanyaku geram.


" Dia memberi solusi. " jawab Syafrie enteng.


" Dia menyindirmu. Seharusnya kamu marah. "


" Mengapa mesti, marah? "


" Astaghfirullah..... " Rasanya kepalaku semakin pening saja.


" Dek, orang yang mudah marah, hatinya sempit. " bela Kak Lela.


" Tapi itu sama saja dengan menyindirku. " sentakku makin kesal.


" Mengapa merasa tersindir, dek. Kan, memang kamu lagi hamil, dek." kata Kak Lela lagi. Ya Allah, aku tak habis pikir dengan jalan pemikiran kakak dan ayah Fadil. Aku benci sekali saat melihat Kak Lela yang mengangkat bahu seolah tak peduli dan senyuman samar Syafrie.


Ya, Allah.... aku tak tahan lagi. " Silahkan kalian menikmati makanannya, aku kenyang." kataku sambil melangkah berjalan keluar dari rumah makan itu. Aku tak kuat berada dalam ruangan yang baunya membuat perutku semakin mual.


Rinai hujan mengenai punggung tanganku ketika aku menangkupkan tanganku di atas kepala. Aku menengadah menatap langit. Sangat gelap. Sepertinya hujan akan segera turun.


" Asma, jangan kekanak-kanakan." suara seseorang di belakangku. Rupanya Syafrie menyusul di belakang.


" Aku, kekanak-kanakan? " cibirku.


" Ya, kamu meninggalkan makananmu."

__ADS_1


" Seseorang sedang menghina diriku dan kamu pikir makanan bisa dengan mudah masuk begitu saja ke kerongkonganku, begitu? "


" Dia tidak menghinamu, Asma."


" Dia menghinaku! Baik, jika kamu tidak perduli dia menertawakan aku, makan aku tak mengapa. Tapi aku masih punya harga diri."


" Allahu akbar... " seru Syafrie frustasi. Dia menjambak rambutnya. " Mengapa hal sekecil itu saja, bisa membuatmu naik darah, sih? " kata Syafrie yang tak bisa menyembunyikan kejengkelannya.


" Sudahlah, aku bilang kalau kalian tak peduli padaku, tak masalah. Terus ngapain juga kamu pake ngejar aku segala? "


" Ya Allah, ya Rabb.... " Syafrie tak hentinya menyebut. Dia makin frustasi seraya memegangi keningnya. " Oke, terus kamu maunya apa? "


Syafrie memang tak pernah bisa memahami bagaimana perasaan wanita dan mengerti apa mauku. Sungguh berbeda sekali dengan Mas Haris. Aku jadi tak sadar, kembali memikirkan priaku dan membandingkannya dengan Syafrie.


" Masuk ke sana, dan amuk ibu tadi, bisa?" Syafrie bertanya apa mauku, jadi aku katakan padanya apa yang kumau.


" Serius kamu maunya seperti itu? " tanyanya kesal.


" Iya, kau mau apa? " tantangan jengkel.


" Sudah, tidak usah diladeni. Memang begitu pengaruh hormon pada ibu hamil. Gampang marah dan gampang tersinggung. Tidak usah dituruti apa maunya asma. " Kak Lela datang menghampiri dan membela si Syafrie.


" Syaf, masuklah. Makan makananmu dan biarkan Asma sendirian. Dia butuh menenangkan hatinya." kata Kak Adit yang datang dan menyeret ayah Fadil meninggalkan aku.


Pandanganku jatuh ke ujung percikan air yang jatuh menetes ke bawah. Kembali bayangan Mas Haris menghampiriku. Mengapa sesakit ini rasanya merindukan seseorang.


" Kepalamu perlu dioperasi biar keluar batu yang ada dikepalamu" dulu Mas Haris pernah mengatakan hal itu kepadaku. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.


Mas Haris menarik ujung jilbabku sehingga jilbabku sedikit melorot ke depan.


" Mas, kalau seujung rambutku sampai terlihat, kamu tanggungjawab kelak di neraka. " kataku sambil memperbaiki kembali jilbabku.


" Maaf... maaf. Nyonya Haris. " katanya sambil terkekek mencubit hidungku. " Sepertinya itu sebuah kode agar aku cepat - cepat buat halalin kamu." Aku mencibir dan menjulurkan lidah ke arahnya.


" Asma, dewi Mas yang cantik. Tingkah kamu bikin Mas makin gemas. Tapi awas, jangan coba - coba bertingkah seperti itu dihadapkan orang lain."


" Memangnya, kenapa? Suka aku lah.. " kataku sambil melangkah meninggalkan Mas Haris. Dengan gemas pria bermata teduh itu mengejar dan merangkul bahuku ke dalam peluknya.


Aku tersenyum saat mengingat sepotong kenangan itu. Tak terasa ada riak bening kembali muncul di sudut mataku. Baru aku sadari, ternyata ada sesuatu pada diri pria itu yang membuat rasaku untuknya sedemikian kuat. Mas Haris mampu membangun suasana di hatiku menjadi berbeda. Dia dapat melihat apa yang orang lain tidak mampu melihat apa yang ada dalam diriku. Dia mampu menyelami perasaanku. Hanya dia yang bisa mengerti jiwaku.

__ADS_1


Langit bergemuruh dan setelah itu riak air jatuh saling berlomba-lomba turun dari langit. Suara geledek yang sekali - sekali berbunyi serasa menyambar telinga hingga sampai ke dadaku. Seakan dadaku di remas - remas oleh tangan yang tak kasat mata dan menyerpih bunga - bunga cinta untuk Mas Haris yang semakin lama semakin mengecil, menciut lalu hilang.


Tidakkah dia sadari, betapa laranya hati ini. Dengan seenaknya dia menyemai benih - benih kasih ini di dadaku... lalu kemudian pergi membawa semua bunga - bunga itu. Yang tersisa hanyalah kesedihan dan antipati yang tumbuh subur bersama dendamku.


Aku menjulurkan tanganku menadah air hujan yang jatuh di gazebo teras rumah makan ini. Aku mengeluh pilu. Kemana dia yang dulu selalu ada saat laraku. Aku selalu terbiasa dengan tepukan lembut di bahu dan senyuman manis yang menemani saat aku lelah dan terjatuh. Riak bening di sudut mataku makin deras mengalir bersamaan dengan hujan yang turun semakin deras.


Aku mengeluarkan handphone dari sakuku dan mengetikan sesuatu di sana ke nomor seseorang.


" Kamu tahu betul rasanya merindukan seseorang. Apakah kamu tahu bagaimana aku disini? "


Pesan terkirim. Centang satu....


" Tidak adakah sedikit rindu untukku? " Berbelas kasihlah padaku. "


Kembali pesan itu terkirim. Centang satu..


"Butuh usaha untuk mencintaimu dan sekarang aku juga butuh usaha untuk melupakanmu. "


Masih centang satu....


" *Aku merindukanmu"


" Aku rindu*.. "


Centang satu.


Betapa mirisnya. Aku mengemis cinta kepada pria itu. Berharap agar pria itu mau memaafkan dan menerima cintaku kembali. Jika memang Mas Haris mencintaiku, tentu dia tak mempermasalahkan anak yang ada dalam kandunganku. Tapi, pria itu lebih memilih melepaskan diriku, dengan dalih bahwa Syafrie lah yang lebih berhak atas diriku.


Dia pikir dia siapa. Mengapa semua orang tak bertanya tentang pilihanku. Mengapa tak ada yang ingin tahu apa keinginanku?


Aku tersenyum kecut. Hari ini aku merasakan kembali yang namanya patah hati. Aku patah hati berkali-kali oleh orang yang sama, Mas Haris.


Cintaku kandas. Mas Haris mencampakkan aku. Jangankan membalasku, mungkin sebentar lagi pria itu akan memblokir nomorku karena merasa terganggu.


Aku tahu aku salah. Aku mencuranginya dengan pengkhianatan cinta. Menikah dengan Syafrie sementara kami sudah membuat komitmen untuk membangun rumah tangga bersama.


Akan tetapi, mengapa sesadis ini dia membalasku? Aku sudah minta maaf padanya berkali-kali. Aku sudah mengemis cinta padanya. Tetapi, tetap saja, dia tak bergeming untuk memberi aku kesempatan. Dia telah benar-benar melupakan aku.


Aku memang tak tahu malu mengemis cinta pada pria itu. Aku dan status anak dalam perutku. Pengkhianatanku. Mana pantas aku kembali mendapatkan cintanya.

__ADS_1


Aku benar-benar sedih. Merasa diri sangat tak berarti. Seperti pungguk yang merindukan bulan. Bulan itu Mas Haris. Yang sekarang, jangankan membalas cintaku, menoleh saja pun barangkali dia tak sudi lagi.


Menyadari Fakta ini rasanya aku ingin menegak racun saja. Aku rasanya tak ingin lagi hidup. Rasa di hatiku tak dapat lagi kulukiskan. Mengapa Tuhan tak mencabut saja nyawaku.....


__ADS_2