
Aku tersenyum sendiri membaca pesan Pak Haris. Astaghfirullah, sadar diri Saniah...... jangan baper. Dia begitu karena ingin bersikap sopan saja padamu.... tegur hatiku yang merasa baper.
Sani.... Sani...
" Assalamu'alaikum, Niah." kembali sebuah chat masuk . Kali ini dari Asma. Selain Asma hanya Syafrie yang tahu nomor baruku ini.
Saniah mengetikkan balasan untuk Asma, sahabatnya itu. "waalaikum salam. Apa kabar, Asma? "
" Kabarku baik, kamu gimana, Niah? " kembali Asma membalas chat dari Saniah.
" Aku baik, hanya lumayan sedikit cape. Bagaimana kabar di kampung, Asma? "
" Masih sama seperti dulu. Oh ya, mantan suamimu kemarin mendatangi Syafrie."
Keningku berkerut ketika membaca balasan dari Asma. Untuk apa Jubair mendatangi Syafrie. Apa maunya lelaki banci itu? Berbagai pertanyaan berputar - putar di kepalaku. " Mau apa dia mendatangi suamimu, Asma? " Rasa Penasaran di hatiku membuat pertanyaan itu akhirnya terlontar juga dari bibirku.
" Entahlah..... aku tak bisa mencuri dengar pembicaraan mereka karena Vikar rewel sekali." jawab Asma. Vikar adalah putra Asma yang ketiga dengan Syafrie. Setelah melahirkan Fika, tak lama kemudian Asma kembali hamil dan beberapa bulan kemudian Vikar lahir. Kini usia Vikar sudah hampir satu tahun.
" Apa yang diinginkan si Jubair? "
" Entahlah, tapi sepertinya mereka sedang membicarakan suatu masalah yang sangat serius. Aku melihat wajah Jubair sampai tegang begitu." jawab Asma.
Pikiranku mendadak menerawang jauh kembali ke masa lalu. Masa kurang lebih dua tahun yang lalu.
Dua tahun yang lalu.
Setelah kepergianku meninggalkan desa hampir dua tahun yang lalu, aku memang telah mengganti nomor WhatsApp Ku dengan yang baru dan membuang nomor lamaku. Sehingga aku kehilangan semua kontak dengan orang - orang di desa. Aku mencoba membuang semua hal yang berhubungan dengan masa laluku termasuk juga nomor telepon keluargaku.
Aku tahu, mungkin di mata sebagian orang aku adalah anak yang tak berbakti kepada orang tua atau suami. Namun aku juga punya alasan mengapa aku berbuat demikian. Aku pergi begitu saja dari mereka, tanpa ada kata - kata yang terucap.
Jujur saja, mungkin orang menganggap aku lemah. Namun aku sudah tak sanggup lagi menelan pahitnya kenyataan yang terbentang di depan mata.
Pahit rasanya ketika mengetahui jika ternyata kamu ditumbalkan oleh keluargamu hanya demi harta dan kedudukan di mata masyarakat. Demi untuk menaikkan taraf hidup keluarga mereka rela menyerahkan diriku pada pria yang bahkan menyentuhku saja dia gak sudi, apalagi berperan sebagai suami seutuhnya.
Terbayang jelas di ingatanku dua tahun yang silam. Setelah pulang dari mengantarkan Syafrie ke rumah istri kedua Jubair. Bapakku memarahi aku habis - habisan di hadapan lelaki 'banci' itu.
Rupanya Jubair mengadu kepada Bapak. Hingga dengan muka merah padam menahan murka, bapakku bahkan sampai rela menanti kedatangan kami malam - malam sepulang dari rumah Meli.
Aku menangis di hadapan Bapak dan mengatakan jika Asma melakukan semua itu demi untuk membela diriku yang diselingkuhi oleh si Jubair.
__ADS_1
Bapak bukannya membela aku yang nyata - nyata tersakiti oleh pengkhianatan Jubair. Malahan Bapak menampar aku karena katanya sudah membuat malu suami di depan orang lain dan mengumbar aib keluarga dan juga aib keluarga suamiku.
" Kenapa memangnya jika Jubair beristri lagi. Bukankah itu hal yang wajar jika pria beristri lebih dari satu jika memang dia mampu. Masih untung kamu tidak diceraikan olehnya. Kita semua ini bisa begini, karena kebaikan suamimu itu. Camkan itu, Niah..! " kata Bapak berapi-api.
Astaga..... pertama kali dalam hidupku aku sadar, bahwa betapa bodohnya aku selama ini. Aku pikir kediaman bapakku selama ini karena dia tidak tahu akan pengkhianatan Jubair, nyatanya pria yang kuhormati dari sejak lahir hingga kini itu mengetahui dengan benar perihal perselingkuhan suamiku dan tampaknya dia diam saja demi agar kehidupan ekonomi keluarga kami tetap aman dan stabil.
Aku akui, betapa besar jasa Jubair pada keluargaku. Namun apakah pantas mereka mengabaikan kebahagiaanku. Bapakku yang sudah tahu akan semua ini seolah menutup mata dan tak peduli akan nasib perkawinan aku putrinya. Baginya amatlah wajar pria seperti Jubair yang mampu secara finansial beristri lebih dari satu. Hatiku serasa dicubit. Wajahku memerah, bukan karena tamparan bapak tapi karena amarah yang membuncah. Harga diriku serasa di tampar dan diinjak - injak oleh dua orang pria yang sedang berdiri di hadapanku kini.
Walaupun aku terpukul dan merasa sangat marah sekalil. Tapi aku cukup tahu diri dan sebenarnya tak masalah bagiku dengan semua itu andai saja suamiku dapat berlaku adil terhadap kami berdua. Tapi kenyataannya, semenjak menikah tak pernah ada perlakuan adil untuk diriku.
Rasa bagai dilempar sebuah batu besar. Kepalaku mendadak nyeri dan pusing. Rasa sakit di hatiku lebih parah lagi. Nyeri itu tak sebanding dengan tamparan bapak yang masih membekas merah di pipiku.
Tak tahan lagi, aku berlari masuk ke dalam kamar dan menangis di dalam sana menumpahkan semua luka dan kesedihanku. Tak aku hiraukan lagi omelan bapakku yang masih terus berlanjut. Aku juga tak tahu entah kapan bapakku pulang dari rumahku.
" Maafkan aku, Niah. Aku terpaksa melakukan semua ini demi untuk melindungi Meli. Jika saja keluargaku tahu perihal pernikahan aku dengan Meli, maka mereka akan marah besar. Karena bagi mereka kamu adalah menantu mereka satu - satunya. Aku mohon kamu bisa mengerti. Aku juga sudah bilang pada Meli untuk tidak lagi mengusikmu."
Pria itu menyentuh bahuku yang masih saja terguncang akibat tangis. Aku diam tak bergeming. Terlalu sakit untuk berkata - kata maka aku membiarkan saja pria itu di sana sampai kemudian ku dengar langkah kakinya menjauh dari tempat tidurku. Sedang aku, semakin tenggelam dalam kesedihanku.
Malam itu berlalu di antara kami dengan kebisuanku sepanjang malam hingga menjelang pagi.
Subuh setelah sholat subuh dan puas menangis mengadukan nasibku kepada Allah pemilik segala takdir, aku berangkat ke tempat kerjaku yang berjarak sekitar dua kilometer dari desa tempat tinggalku. Aku bekerja di kantor desa sebagai salah satu staf administrasi di bagian kesejahteraan sosial Masyarakat atau kesra. Dan itu juga lagi - lagi karena bantuan koneksi dari Jubair.
Semenjak malam itu, aku tak pernah lagi berbicara dengan pria yang memiliki status suamiku itu. Aku lebih memilih menghindar dengan bekerja lembur sampai larut malam. Terkadang aku tidak pulang ke rumah dan memilih menginap di rumah Mardiyah, teman kerjaku yang sekaligus juga sepupuku. Bapaknya Mardiyah adalah adik dari bapakku. Kebetulan di rumah Mardiyah tersedia satu kamar kosong yang memang disediakan untuk kamar tamu.
Semenjak hari itu juga aku berhenti mengurus semua kebutuhan Jubair. Toh ada Meli yang bisa menggantikan tugas - tugasku. Jika biasanya pria itu terbiasa bangun tidur dengan pakaian ganti dan sarapan yang sudah tersedia. Maka sejak saat ini, dia harus membiasakan diri tak ada lagi yang akan menyiapkan semua itu.
Tiga bulan sudah keadaan seperti itu berlangsung. Bahkan sudah lebih satu bulan aku tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah itu. Rumah yang dibangunkan Jubair untuk diriku. Aku sekarang memilih menyewa sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari tempat kerjaku. Aku tak enak dengan Ammak Beddu, adik Bapakku. Beberapa waktu yang lalu pria yang terpaut tiga tahun lebih muda usianya dari bapakku itu sempat menanyakan apakah aku ada masalah dengan suamiku. Aku tak bisa berkutik dengan pertanyaan itu, namun aku juga tak bisa menjawab dengan jujur pertanyaan Ammakku itu, karena ini menyangkut persoalan rumah tanggaku dengan suamiku.
Pada suatu hari.
" Niah, dipanggil Pak kepala Desa di ruangannya. " kata Ridha, teman sejawatku.
Aku terdiam sejenak, berpikir dalam hati apakah aku ada melakukan kesalahan. Menilai kembali kinerjaku siapa tahu ada yang aku lewatkan. Namun aku menggelengkan kepala, aku merasa tidak pernah melakukan kesalahan.
" Niah, cepatlah. Kamu sudah ditunggu dari tadi. "
Cepat aku melangkah menuju ruang Kepala Desa. Setibanya di ruangan Kepala Desa, aku melongo tak percaya.. Di ruangan tamu Bapak Kepala Desa yang merupakan pimpinan kami semua sudah duduk dengan tenang Jubair dan juga tentu saja Bapak Kepala Desa kami sendiri.
Aku mendecih dalam hati, baru kusadari, aku melupakan satu hal. Kepala desa tempat aku bekerja saat ini adalah teman baik Jubair. Tentu saja dengan mudahnya Jubair bisa datang kemari dan menemuiku kapan saja dia mau.
__ADS_1
" Nah, itu Saniah sudah datang. Silahkan kamu bawa istrimu itu keluar. Jangan di sini. Malu, banyak mata yang melihat. Selesaikan saja urusan kalian berdua di luar sana. Jika sudah selesai, Saniah bisa kembali lagi kemari. " kata Bapak Kepala Desa kepada Jubair.
Setelah mengucapkan Terima kasih kepada temannya, Jubair kemudian menarik tanganku keluar dari kantor kelurahan menuju ke mobil.
Aku ingin menangis menahan malu karena beberapa pasang mata menatap kepadaku dengan pandangan iba dan sebagian lagi terlihat seperti mencemooh diriku. Seperti aku ini wanita yang ketangkap basah oleh suaminya karena melakukan perselingkuhan.
Jubair membawaku kembali ke rumah. Di sana sudah ada Bapak dan ibuku yang duduk saling bersebelahan. Ada juga kedua orang tua Jubair. Aku terkejut melihat kehadiran mereka di rumahku. Namun ada hal lain yang membuat darahku mendadak mendidih tiba-tiba. Di sana juga hadir pelakor itu. Meli datang ke rumahku bersama dengan kedua orang anaknya.
Mataku mendelik sempurna ketika menatap wajah suamiku .
" Apa maksudmu membawa perempuan selingkuhanmu itu kemari, Kak? " tantangku berapi-api. Hilang sudah rasa hormat dan takutku pada pria yang bergelar suamiku itu dan juga kepada kedua orang tuaku dan mertuaku.
" Maafkan aku, dek. Aku tak bisa lagi menyembunyikan semua ini dari kedua orang tuaku. Mereka juga sudah mengetahui perihal anak aku dan Meli. Awalnya mereka marah besar. Namun kemudian mereka akhirnya bisa menerima kehadiran Meli terlebih karena kami sudah memiliki anak."
Bagaikan disambar petir saat kudengar Jawaban dari Kak Jubair. Jadi karena mereka sudah memiliki anak, maka mereka dengan mudahnya mau memaafkan kesalahan Jubair. Lagi - lagi aku kalah telak.
Ada nyeri yang menohok di dada. Wajahku serasa ditampar. Aku sadar diri. Selama pernikahan kami yang hampir sembilan tahun, tak ada sepotong anakpun yang lahir dari rahimku sebagai penerus keturunan keluarga Jubair. Wajar saja walaupun mereka marah besar kepada Jubair dan Meli, tetapi tetap saja mereka tak bisa membuang darah daging mereka begitu saja.
Air mataku tumpah tanpa kusadari. Aku merasa telah kalah dan putus harapan. Merasa diri tak berarti apa-apa. Jadi wajarlah jika selama ini bapak dan ibuku tak banyak menuntut kepada Pria itu karena sampai kini aku tak juga kunjung memberikan keturunan kepada keluarga Jubair. Mereka membiarkan saja pria itu berselingkuh walaupun mereka mengetahuinya, karena beranggapan bahwa aku tak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Jubair.
" Kamu licik, Kak. Selama sembilan tahun aku menjadi istrimu, kamu tak pernah memberikan hakku sebagai istri lalu bagaimana aku bisa hamil dan memberikan keturunan kepada keluargamu? "
Semua yang hadir di ruang tamu itu terperanjat tak percaya mendengar ucapanku. Aku tak perduli lagi dengan rasa malu atau harga diriku. Sudah kepalang basah mereka menyakitiku.
Plak....
Tiba-tiba mertua lelaki berdiri dan menampar wajah Jubair dengan muka yang merah padam. Mertua perempuanku langsung berdiri memegangi lengan suaminya.
" Sabar, pak. Ingat tekanan darahmu... " katanya sambil mengelus tangan mertua laki.
" Bajingan...! Aku tak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi lelaki banci atau pengecut. Kamu sudah bikin malu keluarga."
" Maafkan saya, Pak. Tapi saya tidak mencintai Saniah. Saya sudah terlanjur mencintai Meli." jawab Jubair seolah - olah tanpa beban dia mengatakan hal itu
Aku tak bisa berkata-kata lagi . Malu dan benci bercampur dengan marah menjadi satu di hatiku. Aku benci pria itu karena tak pernah tegas dalam mengambil keputusan. Andai saja dia katakan dsri dulu, maka tak perlu aku berharap padanya. Andai saja dia menalakku daei dulu, maka tak seperti ini jadinya rumah tangga kami.
Sudah jelas selama ini alasan Jubair tidak pernah menyentuhku adalah karena pria itu tidak pernah mencintai diriku. Aku saja yang terlalu naif mengharapkan keajaiban dari pepatah lama yang mengatakan bahwa cinta tumbuh karena sering bertemu. Nyatanya sudah bertemu dan bersama hampir sembilan tahun lamanya tak juga ada tumbuh perasaan cinta di hati Jubair untukku. Aku begitu bodoh berharap cinta dari laki-laki yang sudah dibutakan oleh perasaan cinta kepada perempuan lain. Sekarang, aku merasa sangat terhina dan merasa di rendahkan sekali di hadapan suamiku.
Sedangkan Meli, wajah perempuan itu tersenyum lebar penuh kemenangan.
__ADS_1
Aku menatap penuh luka ke arah pria yang sudah sembilan tahun menjadi suamiku.
" Ceraikan aku sekarang juga, kak...! " desisku lirih.