PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 45


__ADS_3

Hujan di luar masih saja deras. Suara air hujan yang jatuh di atap terdengar begitu keras. Jatuh bersama tempias air di jendela kaca kemudian luruh menyentuh lantai.


Suara Televisi di ruang perawat terdengar walaupun telah di setel dengan volume rendah. Bau obat - obatan masih saja menusuk hidung. Aku mengecilkan level AC di kamarku karena udara terasa dingin. Sesekali terdengar bunyi brankar yang di dorong melintasi ruangan.


Aku sedang memperhatikan seraut wajah tampan kekasihku. Wajah putih bersih yang kini tengah di selimuti mendung. Aku tahu dengan pasti mengapa wajah itu kini sesuram langit diluar sana.


Rambutnya agak berantakan dan sedikit lepek, menandakan bahwa pemiliknya belum pulang dan mandi. Ada raut lelah dan letih yang coba dia sembunyikan dariku. Aku semakin merasa bersalah.


Sudah sejak tadi aku memandang wajah itu namun sepertinya pemilik wajah itu tak menyadarinya. Matanya sibuk menatap layar televisi yang menayangkan acara komedi di televisi. Sesekali dia tersenyum, lain waktu dia terdengar menghela nafas panjang.


Aku tahu, priaku itu sedang tertekan saat ini. Hanya saja dia sedang berusaha menyembunyikan lukanya dengan berpura-pura tegar di hadapanku.


Kenapa tidak kau perlihatkan saja lukamu padaku, Mas. Biarkan aku melihat darah akibat dari penghianatanku. Mengapa dia memilih menelan sendiri kekecewaan dan sakit hatinya dan tetap memperlakukan diriku laksana ratu yang harus dipuja dan kasihi.


Ada air mata yang menggenang di sudut mataku. Sedari tadi, aku berjuang menahan pecahan butir-butir kristal yang tertahan di sudut pelupuk mataku. Sumpah mati..... aku merasa sangat malu sekali terhadap pria yang kini duduk di hadapanku.


" Mas... " Aku memanggilnya. Pria di sampingku itu dengan cepat menoleh ke arahku.


" Kenapa, ada yang sakit? "


Aku menggelengkan kepala, " Mas Haris, kenapa melamun? "


" Hm, masa? Mas lagi nonton kok, sayang." jawabnya sambil menunjuk ke arah televisi yang sedang menyala. Di layar televisi kini sedang menayangkan sebuah acara talk show. Aku tidak terlalu tertarik dengan acara televisi kecuali hanya tayangan film saja. Maka aku memutuskan untuk kembali berbaring menghadap ke dinding. Mas Haris menyangka jika aku marah maka dengan gemas dia membalikkan tubuhku dengan lembut dan menarik hidungku gemas. " Aku sedang nonton, Dewi ku. Bukan sedang marah." katanya. Aku mendengus ketika mendengar perkataannya.


" Mas,... "..


" Apa, kamu haus? Aku ambilin, ya? " tanyanya. Dia bangkit untuk mengambilkan aku air tapi suaraku menghentikannya.


" Mas... Sepertinya sudah saatnya aku menjelaskan apa yang telah terjadi di kampung." kataku pada Mas Haris. Aku pikir tak ada gunanya menunda - nunda untuk membicarakan masalah ini sebab cepat atau lambat, kami akan sampai pada pembahasan masalah ini. " Apa Mas tak ingin aku menjelaskan masalah ini? "


Pria pemilik hatiku itu tersenyum. " Tak apa - apa, Mas mengerti, kok. Cepatlah sehat, dan kita berdua akan meninggalkan tempat ini. Aku sakit jika melihatmu terbaring tak berdaya seperti ini." Mas Haris berkata sambil mengelus pucuk kepalaku yang tak lagi tertutup hijab. " Maaf, terpaksa melihat rambutmu, karena perawat kemarin terpaksa membuka jilbabmu karena terkena muntahan. Aku sudah menyuruh Eni dan Dira untuk membelikan kamu beberapa potong pakaian ganti dan jilbab, tapi sampai sekarang mereka belum muncul juga. Maafin, Mas ya." kata Mas Haris. Ada nyeri yang menusuk hatiku saat mendengar dia berkata seperti itu. Mas Haris terus saja minta maaf atas kesalahan kecil yang telah dia lakukan, lalu apa kabar dengan diriku si Pengkhianat ini? Bagaimana caraku meminta maaf kepadanya.


Bukan itu sebenarnya yang aku harapkan. Aku menginginkan dia mencaci maki dan menghujat saja padaku daripada dia memberikan aku senyuman yang terbalut kepalsuan duka. Aku lebih bisa menerima hal itu.


" Mengapa kamu tak mau mendengar penjelasanku, Mas? " Suaraku mencicit lemah. " Kenapa, Mas? " Ada kegetiran dalam nada pertanyaanku.


" Sayang, makan dulu. Mas suapin, ya? " kata Mas Haris seraya mengambil piring makanan dan menyodorkannya kepadaku. Aku tahu, Mas Haris sengaja mengalihkan pembicaraan agar tak mendengar penjelasanku yang mungkin akan membuat dadanya terbuka lebar akibat luka pengkhianatanku.


"Katakan saja jika Mas Haris jijik padaku!" Suaraku bergetar karena menahan emosi yang semenjak tadi sudah ku tahan.


" Asma, ....bukan seperti itu. Kamu sedang sakit dan kondisimu bukanlah kondisi yang tepat untuk membicarakan hal ini. Nanti saja, yah. Setelah kamu sehat, Mas akan meluangkan waktu untuk mendengar ceritamu. " Habis sudah..... mendapati kebaikan Mas Haris kepadaku, membuat aku merasa malu dan benar-benar kehilangan muka di hadapannya. Musnah sudah angan - angan dan harapanku untuk menjadi pendamping hidup Mas Haris.

__ADS_1


Semua ini karena Syafrie. Bedebah kamu, Syafrie. Aku menoleh ke arah pria yang kini sedang duduk di sofa. Pria itu.... duduk manis di sana sambil memainkan handphone miliknya. Aku kira dia sudah pulang kampung. Apa yang membuat dia bertahan di sini.


" Mas, aku mau dia diusir saja? "


" Siapa?" tanya Mas Haris. Aku melirik ke arah Syafrie. Mas Haris menghela nafas berat.


" Tidak bisa, sayang." Mas Haris menggeleng.


" Tapi, Mas... pliss." rengekku. Namun kembali Mas Haris menggeleng.


" Sabar ya, sayang." ucapnya padaku sambil menggengam tanganku yang tidak terpasang infus " Syafrie adalah perwakilan keluargamu. Dia diutus keluargamu untuk menemaniku menjagamu. Aku mau pergi ke Melak malam ini untuk mengurus masalah cabang perusahaan di sana. Urusan ini tak bisa ditunda. Jadi, aku minta dia untuk menemanimu di sini selama aku pergi. Baik - baiklah padanya. Jangan mengusirnya lagi. Takutnya dia tersinggung. " kata Mas Haris.


Hah.... Syafrie bisa tersinggung? Aku berdecih. Sudah ribuan sumpah serapah yang aku lontarkan pada Syafrie namun tak pernah sekali pun aku melihat Syafrie tersinggung.


Lucu sekali, mengapa harus aku yang harus menjaga perasaan Syafrie. Andai saja Mas Haris tahu apa yang sudah Syafrie lakukan padaku, apa mungkin dia masih menyuruhku berbuat baik dan tidak mengusirnya.


" Bukanya kemarin sudah selesai, Mas? " Aku bertanya pada Mas Haris karena setahuku urusan untuk cabang perusahaan di Melak sudah selesai. Apa Mas Haris sengaja menghindariku? Otak jahatku menerka - nerka .


" Kemarin belum complete, dewiku. Besok penentuannya." jawab Mas Haris sambil membelai pipiku.


" Apa bukan alasan Mas saja untuk menghindariku? " Lidah jahatku mulai keluar.


Dia masih terlihat sibuk dengan handphonenya. Seakan dia tak peduli dengan kemesraan kami di depannya. Aku kesal sendiri melihat si bedebah itu. Aku berharap dia akan gerah melihat kami, lalu pergi menjauh sejauh - jauhnya. Kemana saja asal tidak di hadapanku.


Seandainya tadi Mas Haris tidak ada di sini saat dokter menjelaskan perihal kesakitanku, maka sudah tentu pria itu akan terkapar oleh sumpah serapahku atau aku yang mati oleh karena shockku atau sesak nafas karena berada di dekatnya. Untung saja ada Mas Haris yang sekuat tenaga memberi dukungan padaku dan menenangkan diriku yang kalap dan ingin menerjang Syafrie saat itu.


Aku terbiasa menjadi wanita bermulut pedang saat berada di hadapan si Syafrie dan menjelma menjadi wanita bermulut manis jika di hadapan Mas Haris. Hal itu biasa aku lakoni selama ini.


Itulah sebabnya, selama berada di hadapan Mas Haris aku berusaha mati - matian untuk menahan diri agar tidak memaki Syafrie demi menjaga citra wanita baik - baik bermulut manis di hadapan priaku itu. Aku menganggapnya tak ada dan bertingkah laku seolah-olah aku tak melihat dan mengakui keberadaannya di sini bersama kami.


Namun, saat Mas Haris ke kamar mandi, aku benar-benar kaget. Pria itu tanpa tedeng aling langsung menyerangku.


" Sikapmu terlalu manis dan berlebih - lebihan. Terkesan dibuat - buat. Aku takut kamu terkena serangan jantung saat tahu apa yang terjadi nanti." bisiknya tajam di telingaku.


" Terus, masalah buat lo? " tanyaku dengan ekspresi mengejek.


" Ibu dari anak - anakku memang paling pandai bermain drama." Aku menggeram marah sampai - sampai ingin rasanya aku melempar piring salad yang ada di tanganku ke wajah pria itu.


" Bilang saja jika kamu cemburu melihat kemesraan kami. Kalau nggak tahan lihatnya, mending kamu pergi aja. Kamu tahu, kan ?Jalan keluar dari sini? "


" Hahaha, mana mungkin aku pergi. Aku mau nonton sinetron drama Korea. Lagi seru - serunya, sayang." kata Syafrie sambil menyeringai penuh kemenangan.

__ADS_1


" .Brengsek.... Sialan kamu Syafrie! " aku tidak tahan lagi untuk tidak mengumpat.


" Stts... pelankan suaramu, Asma. Kamu tidak mau, kan, citra dirimu sebagai kekasih yang bermulut manis menjadi rusak karena Mas Harismu memergoki kamu sedang berkata - kata kasar padaku. " Lihatlah.... sahabat Kak Mansyah itu selalu punya cara untuk membungkam mulutku di hadapannya.


" Istriku sayang, ibunya anak - anakku, jangan biasakan dirimu mengumpat di hadapan anak - anak kita. Jangan mengajarkan anak kita yang masih berbentuk janin memaki ayahnya. Lagi pula, mengapa kamu tidak bisa meredakan amarahmu? Padahal di luar sana sedang dingin, loh. "


Baru saja aku ingin menjawab perkataan Syafrie, derit pintu kamar mandi terdengar olehku. Terpaksa aku harus menelan kembali sumpah serapah yang baru saja hendak aku lontarkan kepada pria itu. Aku harus menjaga image ku di hadapan Mas Haris. Awas kamu, Syafrie.


Mas Haris tidak boleh tahu kalau aku sedang menahan lahar panas yang bergejolak di dalam dadaku. Seandainya boleh jujur, aku sudah gatal rasanya ingin menebas Syafrie dengan tajamnya pedang lidahku dan memutus urat lehernya agar tidak bisa lagi berkutik.


" Mas, ... tolong usir saja dia." tudingku pada Syafrie, saat pria itu sudah bersiap - siap untuk pergi.


" Tidak bisa.... dia tak akan kemana-mana. Dia tetap di sini untuk menemanimu." kata Mas Haris tak bisa dibantah.


" Mas, bisa tidak dia digantikan oleh Eni dan Dira saja. Aku tak nyaman bila bersamanya. " rengekku manja pada Mas Haris.


" Tidak bisa, Asma. Aku sedang butuh tenaga Eni dan Dira. Lagi pula keputusanku sudah tak bisa diganggu gugat. Pliss, Asma. Kali ini saja kamu nurut perkataan aku, ya."


" Mas, ayolah... aku tidak tenang bila ada dia."


Mas Haris menatapku dan sekali lagi menghela nafas. Ada guratan sendu dan kesedihan yang tertangkap di pancaran matanya. Sungguh.. tatapan mata itu seakan-akan menamparku. Ada sesuatu yang sedang tersirat di sana. Dan itu membuat aku merasa tak nyaman dan berdebar - debar.


Aku tercekat menyadari akting payah dari priaku yang setengah mati menahan luka di matanya. Dia pikir aku tak melihat percikan darah dari luka yang terlihat jelas berusaha dia sembunyikan dariku di matanya.


Priaku yang malang. Andai dulu aku tak membiarkan dia masuk ke dalam kehidupanku, mungkin tak akan begini akhirnya.


" Dia jauh bisa diandalkan Syafrie punya alasan memperlakukan kamu seperti ratu sama seperti yang aku lakukan. Bahkan keberadaannya jauh lebih berhak dari pada aku."


Aku terdiam mencerna kata - kata Mas Haris. Dadaku serasa dihantam palu. Apakah Mas Haris sudah tahu? Tidak... dia tidak boleh tahu selain hanya aku yang berhak memberitahunya.


" Aku ingin tahu, apa andilnya di sini, Mas. Segalanya sudah Mas yang urus, terus mengapa lagi sekarang harus melibatkan dia. Dia hanya patung bernyawa yang menghabiskan persediaan oksigen di ruangan ini. Membuatku sesak nafas saja." aku mendelik benci pada ayah Fadil yang terlihat masih asyik bermain dengan ponselnya.


" Astaga, Istighfar, Asma... "


" Aku tak suka melihat orang itu di sini, Mas. Aku benci setiap melihatnya.. Pliss, Mas. Tolonglah.. kali ini saja." aku masih tetap merengek pada Mas Haris. Entah mengapa, setiap mataku bertatapan dengan mata Syafrie, senyumnya seperti mengejekku dan mengolok-olok diriku. Setiap kali dia menatapku dengan senyuman yang penuh ejekan dan seringai penuh kemenangan, benar-benar membuat kepalaku peningpening karena menahan emosi.


" Asma, tolonglah. Tak enak jika di dengar Syafrie." kata Mas Haris sambil menatap ke arah Syafrie.


Mungkin Syafrie merasa jika dia diperhatikan, dia mengangkat wajah dan bertanya kepada Mas Haris dengan isyarat dahinya.


Mas Haris menggeleng dan mempersilahkan pria itu kembali pada keasyikannya bermain ponsel. Huh.. benar - benar menyebalkan. Syafrie keparat. ..

__ADS_1


__ADS_2