PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 54


__ADS_3

Sebenarnya aku tidak benar-benar pingsan, karena telingaku masih bisa mendengar suara- suara yang ada di sekitarku. Hanya saja, aku kesulitan untuk membuka mata. Sehingga aku tahu betul, dimana dan apa yang sedang terjadi. Aku jelas tahu saat Syafrie mencoba membaringkan tubuhku di atas tempat tidur di kamar perempuan itu.


Dalam hati, aku mengumpat habis- habisan pada Syafrie.


Sialan... dasar pria tak peka, tak berguna. Mengapa dia menaruhku di sini, di tempat ini. Tempat kamu dan wanita itu pernah menghabiskan malam - malam panas kalian di tempat ini. Aku tak sudi.... Syafrie, aku semakin membencimu, bajingan...!


Aku mengutuk dan menyumpahi Syafrie dalam hati.


" Syaf, hey Syafrie.... sadarlah. Jangan hilang kendali seperti itu. Dia membutuhkan dirimu untuk menguatkan dirinya. Bukannya linglung seperti ini." kembali aku mendengar suara wanita itu yang sedang membentak mantan suaminya. Aku ingin tertawa terbahak - bahak andai tidak sedang sakit. Sialnya lagi kelopak mata ini sangat sulit untuk terbuka.


Aku ingin menjerit untuk menumpahkan isi hatiku. Tapi mana mungkin pria yang bergelar suami itu bisa memahami isi hatiku. Ujung-ujungnya, pria itu malah meminta kepada Marina untuk meminta tolong diambilkan ini dan itu.


" Oleskan di dekat hidung dan kakinya, Kak Rie. " Amboi... rupanya dia punya panggilan tersendiri untuk Syafrie. Dia memanggil Ayah dari kecebong di perutku itu dengan panggilan sayang Kak Rie,.. ... hahaha, aku ingin tertawa. Kak Rie, seperti ka'ri ayam, ejekku dalam hati.


Aku terlihat seperti cemburu. Hah.... cemburu?


Bagaimana mungkin? Cuihhh


Najissss........


" Bagaimana ceritanya bisa begini, Kak Rie ? " Syafrie menggeleng.


" Atau, apa dia trauma dengan kami? " kembali Syafrie menggeleng.


" Aku tidak tahu, dek Ina. Tahu - tahu sudah kejang - kejang seperti ini. Aku takut sekali." jawab Syafrie.


" Oke, tak usah cemas, kak Rie. Aku sudah menghubungi mantri desa dr. Ahmad. Sebentar lagi dia datang."


Hah, lihatlah... keduanya saling menguatkan dan mendukung satu sama lain. Amboi.... kedua mantan suami istri itu terdengar masih saja mesra dan saling memanggil dengan nama panggilan kesayangan. Cuih.....


Setelah itu aku tak ingat apa pun lagi. Setelah diperiksa oleh mantri tadi, rupanya aku tertidur pulas dan lama. Mungkin karena pengaruh obat yang disuntikan.


Setelah sadar, aku langsung terbangun karena merasakan seseorang sedang berbaring di sebelahku. Sialan si Syafrie... dia pasti memanfaatkan keadaan dengan mencari - cari kesempatan dalam kelemahanku.


Tangannya melingkar erat di pinggangku. Dapat kurasakan deru nafasnya di atas kepalaku yang kini tak lagi memakai hijab.


Karena jengkel, aku menyikut dan menendang Syafrie hingga jatuh terguling ke lantai.


" Aduh.... " Dengan meringis Syafrie bangkit dan mengusap punggungnya. Rasain.... siapa suruh cari kesempatan dalam kesempitan.


" Apaan sih, Asma. Main sikut dan dorong saja. Bilang awas kek, atau minggir. Apa kamu tidak takut dosa sama suami? " kata Syafrie.


" Nggak... lagi pula siapa suruh main peluk - peluk segala." sentakku.


Aku sedang tidak ingin berdebat. Aku memandangi isi kamar ini dan mengurungkan niatku untuk berdebat dengan ayah dari anak - anakku. Pergi dari ruangan ini adalah ide terbaik yang ada saat ini.


" Antar aku pulang sekarang. Setelah itu, terserah. Kamu mau balik lagi ke sini juga terserah. Siapa tahu kamu mau manja - manja sama mantanmu."


Syafrie bangkit dari pinggir ranjang dan berjalan menghampiriku.

__ADS_1


" Aku tahu kamu cemburu. Jadi aku tidak akan kesal padamu untuk tuduhan yang tidak beralasan itu." katanya sambil menatapku.


" Apa? Aku cemburu? Sama kamu? Hah... mimpi kamu, Pak. Kasian banget... Amit - amit deh.. Kalau kamu mau balikan aku malah senang." aku mencibir memunggungi Syafrie.


" Jangan marah, sayang. Mereka sudah menunggu kita untuk makan bersama."


Huh, aku mendelik memandang ke arah Syafrie tajam. Pria ini, pandai sekali membuat api amarah dalam dadaku kembali berkobar.


" Aku mau pulang. Terserah kalau kamu mau makan malam bersama mereka. Semoga kamu tersedak tulang ayam dan mati.. " ketusku.


Syafrie menggeleng kepala. Tak habis pikir dia dengan diriku. Bangun dari sekarat rupanya tak membuang racun di lidahku berkurang. Kasihan sekali dia.


Aku berniat melangkah keluar. Aku mau pulang sendiri jika saja Syafrie masih betah berada di sini. Aku bisa menyetir mobil sendiri. Jadi tanpa menunggu Syafrie, aku berniat untuk pulang sendiri.


" Mau kemana, nak? " sebuah suara menghentikan langkahku. Tanpa menoleh aku sudah tahu siapa yang menegurku.


Di sana, di ruang tamu, duduk di kursi roda pesakitan, mantan kepala desa, ayah dari Marina dan mantan mertua Syafrie yang terhormat, sedang menatapku. Baiklah..... sepertinya hari ini aku memang harus menghadapi para musuh - musuhku.


" Sebelum kamu pulang, kita bisa makan malam dulu, Nak. " .Mantan mertua Syafrie itu berbicara kepadaku. Bicaranya agak kurang jelas akibat stroke yang di deritanya.


Aku hanya diam saja menanggapi ucapannya.


Pandangan mataku menelisik ke arah pria itu. Ya Tuhan....lihatlah waktu berputar. Dan karma itu nyata terbukti. Aku sebenarnya iba melihat tubuh kurus kering yang kini hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Menyedihkan sekali nasib mantan kepala desa ini. Dia yang dulu dengan kekuasaannya, bagaikan tak tersentuh kini seperti kerangka berjalan yang tergolek ringkih di atas kursi roda pesakitan.


" Asma, salim dulu sama Bapak! " Syafrie muncul dari dalam dan memeluk pinggangku dengan mesra.


" Aku mau pulang." Aku mendengus kasar dan menarik tangannya dari pinggangku.


Ingin rasanya aku mengamuk menumpahkan segala kekecewaan dan kekesalanku pada lelaki tua bangka penyebab segala malapetaka yang terjadi dalam hidupku. Tapi, aku tidak memiliki tenaga untuk melakukan semua itu. Dasar tubuh sialan. Mengapa dia tak bertenaga saat musuh sudah berada di depan mata.


Baik, sekarang aku mau pulang dulu. Karena saat ini, tubuhku tak bisa diajak kompromi. Sepertinya aku harus mengumpulkan energi dan kesehatan mental biar bisa menghadapi musuh - musuhku. Aku harus siapkan amunisi untuk menghabisi wanita penyihir dan kakek tua bangka itu. Biar sekali serang, kakek tua bangka itu langsung terkapar kejang-kejang.


Aku melenggangkan kaki melangkah keluar. Seseorang menarik gamisku.


" Asma.. "


Aku tak peduli dan kembali melangkah.


" Kamu bisa makan di sini, Nak. Marina sudah memasak kepiting santan kesukaan suamimu. Dia pasti suka itu."


Fix.... habis sudah sabarku. Amunisiku langsung terisi full. Jangan salahkan aku. Siap - siaplah kalian merasakan racun yang sebentar lagi akan segera ku semburkan.


Dengan berkacak pinggang aku berdiri di hadapan pria tua .


" Hei, tua bangka.!" tunjukku tepat di wajahnya, membuat pria tua itu langsung terjengkit kaget tak menyangka akan sikap kurang ajarku.


" Apa kamu pikir aku mau? Aku sudi? memakan atau memasukkan sesuatu ke dalam mulutku yang berasal dari rumahmu. Apalagi yang dimasak oleh putri kesayanganmu itu, hah? " Aku berteriak nyaring tak peduli lagi pada tetangga mereka yang kini langsung berdatangan ingin melihat apa yang terjadi. Aku juga tak tahu, entah semenjak kapan Marina sudah berada di ruang tamu itu. Wanita itu menghampiri bapaknya yang sedang mengayuh kursi rodanya ke arahku.


Syafrie langsung memeluk tubuhku. Mungkin bermaksud untuk menenangkan diriku yang tengah dikuasai oleh nafsu amarah. Mungkin saat ini, setan di badanku sedang jingkrak - jingkrak kegirangan melihat diriku.

__ADS_1


Jadi, maaf saja. Saat ini aku tak akan mundur lagi.


" Asma, istighfar.... jaga mulutmu."


Aku berontak di dalam pelukan Syafrie. Berteriak memaki menantu mama itu.


" Lepaskan aku bajingan.!" Aku memaki Syafrie dengan kalap. " Apa? Apa. Kmau mau aku diam saja atau pura - pura baik di depan mantan selirmu itu. Maaf, silahkan kalau kamu mau kembali lagi dengan dia. Aku relakan, aku juga sudah tidak mau lagi dengan barang bekas musuhku." semburku. Wajah Syafrie pias. Aku murka.....


" Maafkan aku, Nak. Kami yang salah. Jangan memarahi dan memaki suamimu"


" Mengapa baru sekarang kamu minta maafnya, bedebah. Terlambat. Bisa kalian menghidupkan kembali bapak dan putraku, bisa tidak? " aku kalap. Syafrie semakin erat memelukku.


" Pak, maafkan istriku, Pak. Maafkan aku yang kurang dalam mendidiknya." Aku semakin kalap mendengar Syafrie yang mengucapkan kata maaf kepada lelaki tua bangka itu.


" Bedebah, kamu Syafrie. Mengapa kamu meminta maaf kepada mereka. Mereka yang telah memisahkan kita. Mereka yang menyebabkan aku kehilangan bapak dan Fajri. Mereka yang membuat aku nyaris gila. Mereka... mereka yang telah menghancurkan rumah tangga dan hidupku. Syafrie, kamu jangan minta maaf pada mereka!" Meledak sudah apa yang ada di dalam kepalaku. Aku meraung seperti singa terluka menatap kepada Bapak dan anak yang kini sedang berpelukan sambil berderai air mata.


"Maafkan kami, Nak. Kami memang salah. Kami banyak berbuat dosa kepadamu. Sudah, jangan kamu maki lagi suamimu.Demi Tuhan, nak. Kami yang salah ." lirih lelaki tua itu sambil menangis di atas kursi rodanya. Aku tak tersentuh. Aku malah tertawa nyaring mirip orang kesurupan. Kali saja memang benar saat ini aku sedang kesurupan. Tapi yang pasti, aku benar-benar tak bisa lagi mengontrol diri.


" wah, wah... sepertinya kamu begitu menyayangi mantan menantumu itu, Pak Tua. Baiklah... nih, .. " Aku mendorong Syafrie ke hadapan mereka. " Ambilah.... aku tak butuh dia. Aku tak butuh pria pengkhianat ini dalam kehidupanku. Ambilah Marina, karena sepertinya kamu masih suka dengan barang bekasku.."


Wajah Marina pucat pasi. Wajah Syafrie merah dan otot rahangnya mengeras. Aku tertawa mengejek. Hatiku tersenyum puas. Hari ini aku sudah membantai habis semua musuhku.


Aku tak peduli jika aku sudah berlaku kurang ajar pada orang yang lebih tua. Atau berlaku durhaka pada suamiku. Masa bodoh. Biarlah... sekali jatuh, maka jatuh dan berenanglah aku di lautan lumpur dosa sekalian. Aku sudah tak peduli.


Hari ini, aku bukan saja sudah berhasil menebas barang leher kesombongan musuhku, tetapi juga aku sudah menginjak-injak harga diri dan kedudukan Syafrie sebagai suami di depan musuhku. Mungkin setan saat ini sedang bersorak gembira atas semua yang sudah berlaku atas diriku. Entahlah.... yang pastinya, sebelah kakiku sudah berada di neraka Jahannam.


Syafrie terdiam tak mampu berkata-kata. Dia terlalu shock mendengar kata - kataku. Tubuhnya merosot terduduk di samping kursi sofa ruang tamu yang sudah usang itu. Sempat kutangkap melalui ekor mataku, tangannya yang gemetaran menahan emosi.


Aku menatap pigura yang terpajang di dinding ruang tamu rumah besar itu. Ada foto suamiku yang sedang tersenyum bersama seluruh anggota keluarga Marina. Aku rasa foto itu diambil saat pesta pernikahannya dengan Marina dulu.


Aku berjalan mendekati pigura tersebut. "Hah, kalian semua tersenyum bahagia sementara aku harus menangis sepanjang malam dan hampir gila karena kehilangan suami, Bapakku dan anakku." Aku meraih pigura tersebut dan dengan sekali hempasan, pigura tersebut sudah tak berbentuk lagi. Berserakan di lantai bersama dengan tatapan nanar Syafrie. Biar saja .... dia mau apa, aku tak peduli.


Belum puas dengan semua itu, kembali aku meraih vas bunga yang ada di meja dan melemparkan ke arah pigura lain yang di dalamnya berisi foto Syafrie bersama Bapak tua itu dan istrinya serta seorang lagi yang entah siapa.


Pecahan kaca kembali berhamburan di lantai ruang tamu rumah Marina. Aku berjalan melewati mereka yang menatapku dengan berbagai ekspresi.


Beberapa pasang mata tetangga yang mencoba untuk mengintip ke dalam tampak terlihat ketakutan sambil berbisik melihat kearahku. Mungkin mereka mengira aku sedang kesurupan.


Biar saja. Seringai sinis kuberikan pada mantan menantu kepala desa itu. Puas hatiku walaupun belum sepenuhnya puas. Karena aku belum bisa membantai lelaki tua yang kini sedang berpelukan erat dengan putrinya di ruang tamu.


Perutku terasa kencang. Mungkin karena lelah dan stres. Aku terduduk sambil memegangi perutku. Mencoba mengusap dan memberi ketenangan pada kecebong Dadaku berdetak lebih kencang dan nafasku memburu. Dasar anak Syafrie, anak pengkhianat. Bukannya tenang, dia membuat ulah dan mulai bertingkah. Membuat aku meringis sambil memegangi perutku yang sakit sekali. Rasanya seperti di remas-remas.


" Astaghfirullah... apa yang terjadi? " jerit seorang wanita tua dari arah dapur. Aku menoleh. Rupanya yang datang itu adalah ibunya Marina yang sedang menggendong bayi dalam pelukannya. Seorang balita dan seorang anak perempuan tampak berdiri di hadapannya. Dan di belakangnya berdiri seorang pria.


Pandangan mataku sedikit menggelap.


" Mamah, rumah kita kenapa berantakan begini? " Anak perempuan itu berlari ingin mendatangi ibunya.


" Sasha... jangan ke sana. Banyak pecahan kaca.. " Tangan seorang pria mencekal bahu gadis kecil itu. Mataku nanar menatap ke arah tongkat yang tersampir di bahunya.

__ADS_1


Reflek mataku melayang jatuh ke arah kakinya yang hanya sebelah saja. Siapa pria berkaki satu itu?


__ADS_2