
Dalam pelukan Syafrielah, aku berada. Aku tahu, tak ada siapa - siapa lagi di antara kami. Yang ada hanyalah, aku, dia dan keluarga kecil kami.
" Syafrie... "
" Hmmm.... apa? "
" Aku telat dua minggu.... "
...------...
Kisah Saniah.
Aku duduk menatap layar monitor di depanku yang berisi deretan angka - angka laporan hasil penjualan bulan lalu. Sudah seminggu aku kerja lembur karena harus menyelesaikan laporan keuangan yang di audit oleh devisiku.
Yah.... di sinilah aku sekarang berada. Sudah hampir dua tahun aku bekerja di tempat ini. Tempat di mana dulu Asma bekerja. Berkat bantuan sahabatku itu, akhirnya aku bisa di terima bekerja di tempat ini. Posisinya pun sama dengan posisi Asma dulu. Atasan yang sama yaitu Pak Haris Wicaksono. Aku bekerja sebagai salah satu staf akuntansi dan otomatis menjadi bawahan Pak Haris yang notabene adalah mantan kekasih Asma.
" Sani.... tolong laporan penjualan bulan lalu sejam lagi taruh di mejaku. Aku ada meeting di luar. Sejam lagi, aku kembali. Tolong, taruh saja di mejaku, ya! " kata Pak Haris. Aku mengangguk patuh lalu segera membuat salinan untuk laporan penjualan yang dimaksud.
Selesai mengeprint laporan penjualan, aku langsung membawa laporan penjualan ke meja Pak Haris dan meletakkannya di sana. Selesai sudah tugasku.... aku menarik nafas lega.
Lalu kembali duduk ke mejaku.
Sejam kemudian, Pak Haris atasanku itu sudah terlihat bayangannya duduk di ruang kerjanya sambil memeriksa laporan penjualan yang aku serahkan tadi.
" Sani.... masuk sebentar. Saya ada perlu sedikit."
Aku masuk ke ruang kerja Pak Haris.
"Bapak memanggil saya?"
" Aku mau minta tolong ke kamu untuk mengecek semua data produk yang penjualannya kurang atau malah tak ada sama sekali, sehingga bisa kita reture. Dari pada merugikan perusahaan. "
" Oh.... begitu, ya Pak. Baik, Pak. " jawabku. Kemudian, entah untuk berapa lama, aku tenggelam dalam kesibukanku mengecek satu demi satu produk yang masuk dan kemudian mengecek kembali data penjualan. Lalu mencari produk mana yang memiliki penjualan terendah atau tidak laku sama sekali.
Tanpa terasa, waktu terus berjalan. Perutku lapar sekali. Aku menghentikan pekerjaanku dan menengok jam dinding yang tergantung di dinding ruangan Pak Haris. Ya.. ampun! Pantas saja aku merasa lapar sekali, ternyata sekarang sudah jam tujuh malam. Aku melirik atasanku yang berada di sebelahku. Dia terlihat masih saja asyik dengan deretan angka dan data - data yang ada di layar monitor.
. " Pak, saya izin ke toilet dulu, ya! " Aku minta izin karena kebelet pipis.
Dia menoleh ke arahku. Menatapku sekilas lalu mengangguk. Aku pun segera berlalu ke toilet dengan tergesa-gesa karena sudah sangat kebelet.
Aku kembali masuk ke dalam ruangan dan kulihat bosku itu sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Aku pun kembali meneruskan pekerjaanku. Sedikit lagi dan pekerjaanku akan selesai.
Sekilas aku melirik ke arah bosku itu. Dia masih berbicara di telepon. Tak lama kemudian dia menyudahi pembicaraan dan beranjak mendekati diriku.
Sejenak dia tampak ragu untuk mengatakan sesuatu. Aku berpaling menatap ke arah Pak Haris.
" Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu? "
__ADS_1
" Eh... itu, saya mau tanya, apa besok kamu ada kegiatan? "
Aku mengernyitkan alis tak mengerti. Besok hari Sabtu. Tentu saja aku ada kegiatan. Bekerja.
" Iya, besok kan hari Sabtu. tentu saja saya bekerja seperti biasa, Pak. " jawabku.
" Eh.. bukan. Maksudnya... malam minggu? Besok malam? " dia menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal.
" Nggak, biasanya sepulang kerja, saya langsung pulang dan istirahat"
" Apa kamu bisa bantu saya, tidak. "
" Bantu apa, ya Pak? "
" Begini, saya diundang datang ke acara pernikahan mantan tunangan saya. Dulu kami hampir menikah, tapi aku membatalkan pernikahan tersebut karena aku tak bisa menikah dengannya karena sebuah alasan. Sekarang, wanita itu akan menikah dan dia mengundangku untuk hadir di pesta pernikahan dia. Tapi aku bingung, karena aku tak tahu harus pergi dengan siapa. Aku tak punya temen wanita. " kata Pak Haris menjelaskan panjang lebar tentang alasannya.
" Jadi, maksud Pak Haris, Bapak meminta saya untuk menemani Bapak pergi ke pesta itu? "
" I.. iya... itu juga jika kamu tidak keberatan. "
" Baiklah.... saya tidak keberatan untuk menemani Bapak. " jawabku.
Wajah Pak Haris langsung berbinar cerah.
" Tapi... saya ke sana pake baju apa, Pak?" Tolol..... aku kenapa bertanya seperti itu. Tapi masalahnya.. aku tak pernah punya pakaian pesta. Pakaian yang aku pakai modelnya paling hanya kemeja dan rok lalu jilbab saja.
Dan sekarang, Pak Haris adalah orang pertama yang mengajakku ke pesta dan mirisnya aku tak memiliki selembar pun gaun untuk kupakai pesta.
" Masalah itu, kamu tenang saja. Setelah ini kita pulang sama-sama, ya? "
" Sama-sama, Pak? "
" Iya, saya akan membelikan kamu baju untuk di pakai ke pesta pernikahan teman saya itu besok. "
" Oh....
Jadilah malam itu, selesai mengerjakan semua tugas - tugas, aku pulang bersama Pak Haris, atasanku.
Agak canggung aku menaiki mobil Toyota Yaris keluaran terbaru miliknya. Bukan apa - apa, aku takut menjadi bahan gosip di tempat kerja ini.
" Naiklah.... hari sudah semakin malam. Mudah - mudahan masih belum tutup. " kata Pak Haris sambil menutup kembali pintu mobil dan berjalan mengitari mobil lalu masuk dan mengendarai mobilnya meninggalkan pelataran parkir.
Pak Haris memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik. Kami lalu turun bersama. Terlihat dia sedang menghubungi seseorang. Tak lama kemudian seorang wanita cantik berpakaian elegan muncul dari dalam butik dan menghampiri kami.
" Eh... Pak Haris. Lama tak kemari. Kirain sudah nikah sama Mbak Isna. Jadi lupa sama kita...."
Aku tersenyum kecut saat mendengar wanita itu menyebutkan nama Isna. Yah... aku baru ingat, Pak Haris adalah mantan kekasih Asma, tapi mengapa wanita itu menyebutkan nama Isna?
__ADS_1
Pak Haris menoleh dan tersenyum padaku. " Perkenalkan, ini Sani. Dia kekasihku. "
Astaga..... mukaku merona merah menahan malu. Aku tahu, mungkin Pak Haris hanya bersandiwara saja di depan wanita itu, tapi jujur saja, aku belum siap dengan semuanya. Alhasil..
Akau kikuk setengah mati, dan ujung - ujungnya aku malahan tanpa sengaja memegang ujung lengan baju Pak Haris. Sialnya lagi, entah di sengaja atau tidak tangan Pah Haris terulur dan menggenggam erat jemariku.
Deg..... Ya Tuhan. Jantungku nyaris berhenti berdetak. Jujur, ini adalah pertama kalinya aku bersentuhan langsung dengan lelaki, dan sialnya itu bukanlah dengan suamiku, tapi atasanku.
Mukaku seperti kepiting rebus. Terlebih saat berikutnya, dengan enteng Pak Haris membimbingku masuk ke dalam butik dan memilihkan busana untuk wanita muslimah yang sesuai untuk kupakai besok. Lengkap dengan sepatu dan tas tenteng juga. Awalnya aku menolak dengan mengatakan cukup hanya baju saja. Tetapi dengan tegas Pak Haris mengatakan bahwa itu adalah perintahnya. Kalau sudah begini, aku bisa apa?
Aku hanya bisa pasrah ketika pelayan butik membungkus semua barang yang di beli oleh Pak Haris dan menyerahkannya kepadaku setelah di bayar oleh Pak Haris.
Bukan itu saja, setelah berbelanja baju di butik, Pak Haris mengajak aku makan malam di sebuah restoran. Lagi - lagi aku tak bisa menolak.
Pukul sebelas malam aku tiba di depan kos - kosan di antar oleh Pak Haris. Sebelum turun dari mobil, Pak Haris meraih tanganku. " Maafkan atas kejadian tadi. Aku terpaksa mengatakan pada wanita itu kalau kamu kekasihku. Karena dia adalah teman Isna, mantan tunanganku. Aku mohon kamu tidak marah." ucap Pak Haris dengan wajah memelas.
Aku mengangguk sambil tersenyum. "Aman kok, Pak. Tenang saja. Saya paham kok posisi Bapak. " Aku segera keluar dari mobil Pak Haris dan bergegas masuk ke kosanku sebelum ada yang melihat. Gosip..? ihh... ngeri.
Melalui jendela kamarku, aku mengintip pria itu yang ternyata masih betah berada di mobilnya. Tak lama, ada pesan masuk melalui Whatsapp.
( Pak Bos: Terima kasih, sudah menemaniku makan malamdan sudah mau menemaniku besok)
Aku tersenyum saat membaca pesan Pak Haris. Astaga... aku sampai lupa mengucapkan terima kasih karena atasanku itu sudah berbaik hati membelikan aku busana pesta lengkap dengan sepatu dan tas. Aku jadi merasakan tersindir dan tak enak. Langsung saja kubalas pesan tersebut.
( Sama-sama, Pak. Saya yang harusnya berterima kasih karena sudah ditraktir makan dan dibelikan baju) .
Ting.... pesanku terkirim.
Centang Biru. Cepat amat....
Aku masih asyik membuka pakaian dan bersiap untuk mandi.
( Pak Bos: Sudahlah, tak usah berlebihan. Anggap saja itu hadiah karena sudah menolongku.)
Aku meraih handphoneku dan membaca pesan Pak Haris. Lalu mengetik balasan.
( Terima kasih sekali lagi. Selamat malam. Semoga mimpi indah) lalu ku bubuhi dengan emot senyum.
Ting.... kembali pesanku terkirim.
Tak lama, pesanku langsung dibalas.
( Pak Bos: Selamat malam juga. Sweet dream, too)
Aku tersenyum sendiri membaca pesan Pak Haris. Astaghfirullah, sadar diri Saniah...... jangan baper. Dia begitu karena ingin bersikap sopan saja padamu.... tegur hatiku yang merasa baper.
Sani.... Sani...
__ADS_1