PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Extra Bab. 103


__ADS_3

Tujuh Bulan kemudian......


Hari ini, rumah Niah kembali terlihat ramai dipenuhi oleh warga kampung yang berdatangan untuk merewang.


Terlihat berbagai kesibukan rewangan di rumah Niah. Ada sekelompok ibu - ibu yang sedang membuat bermacam - macam kue basah dan jajanan. Di tempat yang sama ada juga sekelompok ibu - ibu yang terlihat asyik membuat bumbu masakan.


Sambil bekerja, mereka bercerita dan kadang diselingi dengan banyolan atau candaan yang membuat suasana semakin ramai. Terkadang suasana riuh itu masih ditambah lagi oleh teriakan para bocah yang bermain dan bersenda gurau di halaman depan dan juga samping rumah Niah. Mereka semua adalah tetangga warga kampung Suka Rahmat ini.


Di depan rumah, seorang wanita hamil sedang duduk di kursi teras di temani oleh seorang pria ganteng berbaju koko putih. Pria itu adalah suami dari wanita hamil itu. Terlihat dia sedang mengipas - ngipaskan kipas plastik ke arah sang istri.


" Prime rose, di sini agak panas. Ayo pindah ke dalam saja. Di kamar kita, kan ada AC-nya.! " bujuknya pada Sang istri yang kekeuh pengen duduk di teras rumah, padahal cuaca sedang panas - panasnya.


" Aih.... Mas Haris, nyebelin banget,sih. Aku kan pengen lihat bocah - bocah yang sedang bermain itu, Mas." tunjuknya pada sekumpulan bocah yang sedang asyik bermain di halaman.


" Lagian, Ini bukan maunya aku, loh. Tapi maunya dedek bayi di perut aku, Mas... " rengeknya manja.


Haris, menghela napas panjang. Dia memang tak pernah menang kalo berdebat dengan sang Istri. Jadi, sebagai suami yang baik dan bertanggung jawab, dia terpaksa menyerah.


Dia akhirnya lebih memilih untuk tidak memaksakan kehendaknya kepada Sang istri yang memang sedikit agak keras kepala dan manja itu.

__ADS_1


Terlebih lagi Niah sedang hamil tujuh bulan. Jadi di usia ini, konon, katanya wanita hamil rawan stress dan keguguran. Dia tak ingin mengambil tersebut. Dengan sabar dia menemani sangat istri sambil mengipasi wanita tersebut agar tak merasa gerah.


Saniah langsung bersandar manja di bahu Haris. Wanita itu memang sedikit manja ketika memasuki usia kehamilan. Haris bisa memaklumi hal itu. Bahkan dia suka jika Saniah bersikap manja padanya.


Dulu, ketika baru pertama menikah, Saniah masih malu - malu terhadapnya. Dia juga baru tahu jika ternyata Saniah masih perawan. Hingga jadilah malam pertama pernikahan mereka, dia harus ektra kerja keras untuk menjebol gawang Saniah yang masih tersegel. Sungguh sebuah anugrah bagi Haris. Dia menikah dengan seorang janda malah dapat perawan.


Haris sadar, mungkin inilah yang membuat seorang Jubair merasa berat untuk melepaskan wanita itu. Adalah aib bagi Jubair jika Saniah menikah dengan orang lain dan ternyata sampai saat ini ternyata Saniah masih perawan. Dia tahu dengan baik, bagaimana perasaan pria itu.


Haris sangat menyayangi Saniah. Dia begitu memanjakan wanita cantik itu. Sehingga apapun keinginan Saniah, sebisa mungkin dia akan berusaha untuk memenuhinya.


" Hari sudah menjelang siang. Sebaiknya kamu bersiap - siap karena sebentar lagi acara tujuh bulanan kamu akan dimulai, nak." Mamak muncul dari dalam rumah dan mengingatkan Saniah.


" Cepatlah.... sebentar lagi Sandro Bunga datang. Nanti kamu dampingi istrimu, Ya Nak Haris. " pinta mamak pada Mas Haris.


" Siap, Mak. Apapun itu untuk ratuku ini." kata Mas Haris. Dia merangkul mesra bahu Niah dan membantu istrinya untuk bangun. Usia kandungan sang istri yang menginjak tujuh bulan membuat istrinya sedikit kesulitan untuk bergerak.


Karena sebentar lagi dukun atau Sandro yang akan memimpin acara tujuh bulanan akan segera tiba, maka mau tak mau Niah harus segera bersiap.


Acara tujuh bulanan itu berlangsung meriah dan juga penuh arti bagi Saniah dan Haris tentu saja.

__ADS_1


Semua yang mereka lakukan merupakan hal yang pertama kali bagi mereka berdua. Ini adalah pengalaman pertama bagi pasangan tersebut sebagai calon orang tua.


Bagi Niah sendiri, walaupun ini adalah pernikahan keduanya, namun ini adalah kehamilan dia yang pertama. Jadi wajar saja dia merasa canggung. Namun, alhamdulillah, selama prosesi acara siraman, Mas Haris suaminya selalu mendampingi.


" Selamat, ya Niah. Semoga lancar sampai lahiran. " Asma memberi ucapan selamat kepadanya. Kedua sahabat itu saling berpelukan melepas rindu. Sementara Syafrie dan Haris suami Niah terlihat sedang asyik ngobrol berdua.


Semenjak Niah menikah dengan Haris, hubungan Syafrie dan Haris terlihat kompak. Asma juga heran, suaminya dan mantan kekasihnya bisa terlihat hangat seperti itu.


Niah memandang Haris. Sementara yang dipandang nampak tersenyum mesra menatap kearahnya.


Dia tak berbohong, jika sekarang dia merasa bahwa dia adalah wanita yang paling berbahagia saat ini. Akhirnya dia bisa merasakan bahagianya menjadi seorang istri seutuhnya dan juga seorang ibu dan itu karena Mas Haris.


Dia mengetikkan pesan kepada Haris, suaminya.


" Terima kasih karena sudah menjadi suamiku. Aku cinta kamu, Mas. "


Tak lama kemudian, masuk chat balasan dari suaminya.


" Terima kasih kembali karena sudi menjadi istri dari bujang lapuk ini. Aku juga mencintaimu, Prime Roseku. "

__ADS_1


__ADS_2