
Jika dipikir - pikir lagi, aku memang tamak. Kala aku jatuh dan terpuruk, Mas Haris yang menolongku, merawat, dan mengobati lukaku hingga sembuh. Namun, yang aku lakukan sungguh tak bisa dikatakan berakhlaq. Aku dengan keangkuhanku, telah menjadi pengkhianat terhadap cintanya.
Jadi saat ini, satu - satunya hal yang dia pinta, yaitu melupakannya adalah suatu hal yang mau tak mau harus kupenuhi demi balas budiku dan cara menebus kesalahan yang telah kulakukan.
Aku setuju saja, meskipun itu berarti aku kembali lagi terpuruk dalam jurang nestapa yang tak berkesudahan.
Tak apa - apa, toh aku pernah merasakan yang lebih parah dari hal ini. Tapi lihatlah, aku masih tetap baik - baik saja. Aku masih bisa bernafas meskipun tersengal. Aku masih bisa berdiri meski terhuyung - huyung. Dan yang pastinya, aku masih bisa membalaskan dendamku. Yah.. kepada siapa lagi jika bukan kepada Si Syafrie sialan itu. Karena dialah sumber nestapaku selama ini. Dia yang kembali menghancurkan mahligai impian cintaku. Untuk Syafrie.. selimut neraka akan kuhadiahkan kepadanya.
" Kamu lelah? " Suara Syafrie yang bertanya kepadaku. Aku diam tak menjawab. " Jika kamu capek, kita bisa istirahat dulu sebentar, bagaimana? " kembali dia berucap yang sama sekali tak kugubris. Aku masih saja diam seribu bahasa. Bagiku, aku seperti berasa mati segan hidup tak mau. Sehingga untuk mengucapkan sepatah katapun, aku tak sanggup lagi.
Kak Lela menyentuh bahuku dan bertanya. " Kamu sakit? " Aku menggeleng. " Lapar? " Aku kembali menggeleng. Malas untuk menjawab. " Kita istirahat sebentar, yah. Mau magriban dan makan malam. "
Mereka bertanya banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mereka menanyakan segala sesuatu yang bisa membuat aku merasa nyaman. Tapi aku tidak suka. Aku sungguh tidak suka mereka memperlakukan aku demikian. Mereka berlaku seolah - olah mereka peduli dengan diriku. Tapi pada kenyataannya, mereka telah menjerumuskan aku. Aku sudah tahu bagaimana topeng asli mereka semua. Jadi bersikap baik padaku tak akan membuat aku melupakan kebencianku kepada mereka atas semua yang telah mereka lakukan padaku.
Lagi pula, aku masih berduka akan nasib karirku yang kini sudah hancur. Nasib perjalanan cintaku yang kandas. Apakah mereka tak merasa iba kepadaku sehingga mereka bisa memberikan sedikit ruang untukku agar bisa berpikir jernih. Mereka seakan-akan buta dengan luka hatiku yang kembali terbuka lebar. Aku tak habis pikir, apa yang ada dalam pikiran mereka. Mengapa mereka semua tega padaku?
Minggu, sesudah asar tadi, kami semua meninggalkan tempat kontrakanku di Samarinda. Ada sesak yang menghimpit di dada saat memandangi rumah kontrakanku yang kini semakin menjauh. Ada rasa tak rela saat bayangannya tak lagi terlihat. Seperti bayang - bayang Mas Haris yang semakin lama semakin menjauh. Kenangan itu seperti melambai mengucapkan salam perpisahan. Selamat tinggal Mas Haris. Selamat tinggal karirku. Sebenarnya.. ingin juga kukatakan, selamat tinggal Asma. Matilah ... kembali dalam lumpur duka bersama kenangan Mas Haris dan kepiluan yang baru saja Syafrie ciptakan kembali.
Aku tersenyum getir menyadari bahwa segalanya kini sudah berakhir. Alih - alih menangisi semua kesedihanku, aku malah senyum - senyum sendiri mengingat semua kepiluanku.
Hari sudah mulai gelap. Lampu - lampu di rumah penduduk di sepanjang jalan sudah menyala sedari tadi. Pohon - pohon karet yang rimbun berjajar seolah sedang menari - nari bersama angin malam yang berhembus menemani laju kendaraan yang dikemudikan Syafrie. Sesekali, bau karet dan juga batu bara yang terbakar karena tersiram hujan merasuki indra penciumanku. Membuat perutku semakin bertambah mual.
Semilir angin malam membawa kembali ingatanku tentang Mas Haris, pria si pemilik mata teduh itu. Kembali sesak menghantam dadaku. Setitik butiran kristal bening lolos dari mataku. Satu.... satu.... terus mengalir. Tanpa sadar, aku terisak.
Jujur saja, aku merindukan Mas Haris. Aku merindukan semuanya dari sosok pria itu. Senyumnya, tatapannya, candanya, ucapan - ucapannya. Ya.
Tuhan, aku tak bisa menipu diri, aku merindukan pria itu.
Ternyata untuk melupakannya sangatlah sulit. Aku tak mampu mengusir bayang- bayang wajah Mas Haris dari ingatanku.
"Asma, ada yang sakit? " istri Mas Adit menyentuh pundakku, lagi. Aku makin tersedu.
Kecepatan mobil perlahan-lahan menurun lalu kemudian berhenti. Dua orang pria yang berada di depan buru - buru turun dari mobil dan membuka pintu lalu bertanya padaku.
" Kenapa? Hei, mana yang sakit? katakan padaku. Jangan hanya diam. " Itu Syafrie. Dia berusaha mengangkat wajahku dari sandaran kursi tempat aku menyembunyikan wajahku. " Asma, jangan begini, kamu membuatku takut."
Aku benci mendengar suara Syafrie. Namun entah mengapa kali ini terdengar membujuk membuat aku semakin sedih. Entah mungkin juga karena bawaan bayi. Syafrie menarikku kedalam pelukannya. Sialan.... kenapa dadanya terasa nyaman sekali. Ya.. Tuhan. Seputus asa itukah diriku? Sampai-sampai dada musuhku terasa begitu nyaman.
" Dek, katakan apa yang sakit. Kita semua sedang berada di hutan karet. Jangan bikin khawatir." kata Kak Adit.
Aku tersedu. Mengapa aku merasa semua orang kini perhatian kepadaku. Membuat sisi melankolisku tersentuh. Aku menjaga semakin terisak.
" Apa perutmu keram, dek? " tanya Kak Adit lagi.
" Kak, Asma jangan di tanya terus, nanti dia tambah sedih." kata Istri kak Adit. Hebat.... istri kak Adit jauh lebih peka ketimbang yang lain. Makin mereka perhatian padaku, sisi senduku semakin unjuk muka.
" Habisnya dia nangis kejer, begitu. Siapa yang tak khawatir, coba." suara kak Adit agak meninggi.
__ADS_1
" Habisnya abang nanya terus. Asmanya loh, jadi tambah sedih. "
" Iya, dek. Nangis tiba-tiba di tengah hutan gini, siapa tau aja dia kerasukan. Amit-amit, deh. "
" Abang bisa diam, nggak. Kalau nggak bisa diam, ini ambil anak abang. Biar aku yang bantu Syafrie buat tenangin Asma." kata istri kak Adit gemes. Nah loh... kenapa suami istri ini jadi bertengkar.
Syafrie mengusap - usap punggungku pelan. Dia menyamakan tingginya denganku sehingga aku bisa dengan nyaman bersandar di dadanya.
" Kenapa, ada lagi yang sakit? " kembali ayah Fadil bertanya dengan lembut.
Aku menggeleng pelan.
" Terus kenapa, nangis? "
" Aku rindu Mas Haris."
Gerakan tangan istri Mas Adit terhenti. Terdengar suara helaan dari Syafrie. Nafasnya ditarik dengan berat. Kak Adit memggerutu. Mereka semua frustasi mendengar jawabanku.
Kesunyian mendatangi kami semua. Tak ada yang bersuara. Mereka dengan sabar menanti sampai keadaanku sedikit tenang.
Bau khas karet yang terbakar tercium keras di hidungku. Malam ini, cuaca cukup bagus. Langit cerah dan terang bulan. Sehingga sinarnya menjadi penerangan yang lumayan membantu di tengah - tengah gelapnya hutan karet yang terbentang di hadapan kami.
" Hm, masih mau lanjut nangisnya? " Aku masih terdiam. Namun sudah berhenti menangis. " Ok, lanjut..! "
Apa - apaan sih, Syafrie. " Dasar sinting! " Aku langsung mendorong tubuhnya menjauh dariku. Buru - buru aku menyeka sisa air mata yang masih menempel di sudut mataku.
" Dek, tidak baik memaki suami seperti itu." sebuah teguran melayang di telingaku. Kali ini suara Kak Lela.
" Bukan begitu, dek. Tapi memang benar, dosa hukumnya jika memaki suami. " kata Kak Lela.
"Aku sedang bersedih saat ini. Tidak bisakah kakak membiarkan aku sejenak untuk meratapi nasibku. Bisa? "
" Tentu saja tidak, dek. Tugasku sebagai kakak yaitu mengingatkan adiknya jika berbuat bersalah. Kami, kakak - kakakmu semua berkewajiban menegurmu bila kamu salah, dek. "
" Lagi pula, orang yang kamu tangisi adalah orang yang kehadirannya hanya sesaat saja memberi warna dalam kehidupanmu. Tak seharusnya kamu menangisi kepergiannya seperti ini. Disamping tidak pantas, juga merupakan sebuah dosa , dek."
" Kak, aku menangisi kemalangan diriku." jawabku membela diri.
" Nah, sudah bisa bicara ternyata. Kirain tadi kesambet, soalnya pake nangis kejer - kejer segala. " Kak Adit becanda atau menyindir, ya?
Ipar Kak Mansyah itu tidak menanggapi obrolan kami, tatapannya malah fokus ke perutku yang berada di balik baju gamisku, membuat aku sedikit risih.
" Apa? "
" Hah, ya."
" Kamu lihat apa? "
__ADS_1
" Itu...! " dia menunjuk tempat anaknya berada.
" Iya, emangnya ada apa dengan perutku" tanyaku pada pemilik mata lentik itu.
Dia mencoba membelai perutku yang masih rata.
" Jauhkan tanganmu dari perutku. " kataku pada Syafrie.
" Maaf! " kembali ayah Fadil berucap kata maaf. Aku sungguh muak.
Syafrie berjalan ke depan dan berbicara dengan kak Adit pelan. Entah apa yang mereka bicarakan.
Aku memandang ke sekeliling tempat ini. Bulu kuduk merinding melihat kegelapan pekat yang ada di sekitar tempat ini.
Tiba-tiba Syafrie kembali mendekatiku. Sebelah tangannya menyusup di bawah pangkal pahaku, membuatku terjengkit kaget. " Hah, mau apa? " sentakku seraya menepis tangannya kasar.
" Kamu pindah ke depan, tukaran sama Kak Adit. " katanya.
" Tidak.. " jawabku tegas.
" Maaf ya, Asma. Bukannya kami Bersekongkol, tapi aku memang sudah pegel memangku Sifa. Biar kak Adit duduk di belakang, biar ada yang memangku anak kami. "
Aku melirik balita yang ada di pangkuan kak Adit. Baiklah....
" Aku bisa jalan sendiri. Aku masih punya kaki. " Biar kapok dia. Alasan saja mau membantu, bilang saja nafsu.
" Masya Allah, apa harus menunggu dulu kakimu patah, baru ku gendong? "
Astaga.... mantu mama, benar-benar menguji habis kesabaran.
Syafrie melarikan kendaraan dengan kencang. Mungkin ingin mengejar waktu sholat dan juga istirahat. Tak beberapa lama, akhirnya kami menemukan sebuah rumah makan.
Di langit, mendung sudah mulai menampakan diri untuk menggarak hujan. Syafrie memarkirkan mobil dan kami semua turun untuk beristirahat sambil menumpang sholat isya.
Rumah makan ini berada persis di tempat yang strategis. Di depannya ada pom bensin, sehingga banyak sekali mobil - mobil yang datang untuk singgah sambil mengisi bahan bakar.
Aku mendengar menu andalan di tempat ini adalah bebek goreng. Belum apa - apa, perutku sudah terasa mual.
" Hoek...! "
Beberapa pasang mata langsung mengarahkan pandangannya kepadaku.
" Mohon maaf saudara - saudara, adik ipar saya sedang hamil empat bulan.Jadi sedang mabuk - mabuknya. Silahkan dilanjutkan makannya" kata istri Kak Adit.
" Dimaafkan, karena mbaknya cantik. " pria yang berada di barisan bangku paling depan seperti mewakili yang lainnya untuk berbicara kepadaku. Sedangkan yang lain hanya menatapku.
" Terima kasih. Saya calon suaminya."
__ADS_1
Astaga... Syafrie... dimana otaknya. ?
Sontak saja berpasang - pasang mata menatap ke arahku, membuat aku menjadi risih. Dasar Syafrie.....