PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 46


__ADS_3

Orang sering berkata, membuat luka tak butuh waktu lama. Namun, bekas luka akan abadi untuk waktu yang lama.


Tak ubahnya seperti diriku saat ini. Aku yang terlebamkan oleh luka penghianatan Syafrie kini tanpa sadar juga telah memberikan luka yang sama kepada Mas Haris.


Tak habisnya ku sesali diri, mengapa aku harus kembali ke kampung kelahiranku, jika ternyata itulah awal malapetaka akan kehancuran cinta yang baru saja kutemukan kembali di sisi Mas Haris.


Aku termangu menatap Syafrie dan Kak Lela yang sedang sibuk memasukkan pakaian - pakaianku ke dalam koper dan juga tas.


Sejak tadi, mereka hilir mudik di kontrakanku, membongkar dan mencari apa saja barang - barang yang akan kubawa dan nantinya bakal aku butuhkan saat berada di rumah mama.


Sudah satu minggu aku keluar dari rumah sakit, dan selama itu pula, aku tak pernah lagi bertemu dengan Mas Haris.


Sudah berkali-kali aku mencoba menghubungi Mas Haris namun hasilnya nihil. Nomor Mas Haris selalu saja tidak aktif. Ratusan chat dan SmS dariku tak terkirim.


Aku sudah bertanya pada teman - teman kantorku tentang keberadaan Mas Haris, namun semuanya dari mereka bungkam. Tak ada yang mau memberitahukan di mana keberadaan Mas Haris. Bahkan Eni dan Dira yang ku anggap seperti saudara melebihi teman, memilih bungkam dan mengunci rapat mulut mereka.


Pikiranku gelisah setiap waktu. Otakku terasa buntu, tak bisa berpikir. Belum lagi mual yang kuderita karena bawaan hamil anak Syafrie yang berada di perutku semakin membuat aku merasa kepayahan.


Dan sudah seminggu ini, Kak Lela dan kak Adit yang datang bersama istrinya, datang untuk menemani Syafrie merawatku. Andai saja mereka tak berada di tempat ini, sudah tentu anak Syafrie yang ada di perutku kenyang mendengar umpatan dan caci makiku untuk ayahnya.


Demi apapun, aku amat membenci keberadaan anak ini di dalam perutku. Apalagi sekarang ditambah dengan kerewelannya selama berada di dalam perutku, alhasil.... anak ini menjadi makhluk kedua di muka bumi ini yang paling kubenci setelah ayahnya.


Aku membenci dia, dan seperti tahu akan ketidak suka aku padanya, dia pun membalas aku dengan caranya. Aku mengalami fase ngidam yang parah. Muntah, pingsan, dan pendarahan ringan. Muntah, pingsan, hanya itu saja yang ku alami selama satu minggu ini dalam masa kehamilan anak Syafrie itu. Sehingga aku menjadi langganan rumah sakit karena seringnya keluar masuk rumah sakit untuk waktu yang relatif singkat.


Dia seolah - olah berniat untuk membalaskan perlakuanku yang kejam terhadap ayahnya dengan cara menyiksaku.


Karena alasan itulah, tanpa berdiskusi kepadaku terlebih dahulu, Kak Mansyah yang merupakan anak tertua dalam keluargaku dan berperan sebagai pengganti bapak, bersama iparnya si Syafrie , kedua manusia itu mendatangi tempat kerjaku dan menyerahkan surat pengunduran diriku tanpa sepengetahuanku dan tanpa persetujuanku.


Perusahaan tempat aku bekerja tidak bisa menolak karena mereka membawa surat rekomendasi dari dokter yang mengatakan bahwa aku harus istirahat total selama masa kehamilan.


Serasa gedung pencakar langit dengan ratusan lantai seperti runtuh dan menghantam jiwa ragaku hingga hancur tak bersisa.

__ADS_1


Hari itu, aku menangis sejadi-jadinya. meraung dengan segala sumpah serapah yang aku keluarkan untuk mereka semua. Menyesali semua yang telah mereka lakukan untukku.


Mengapa mereka setega itu kepadaku? Mereka baru saja menghancurkan karirku, mimpiku, kerja kerasku dan juga masa depanku yang dengan susah payah kubangun dari nol, kini hilang dalam sekejap saja.


Aku mengamuk membabi buta dan menghancurkan apa saja barang - barang yang ada di dekatku dan setelah itu lagi - lagi semua berakhir dengan pingsan.


Yang paling menderita dari semuanya adalah Syafrie. Aku bahkan sampai menghadiahi pria itu vas bunga yang secara tepat mencium kening pria itu sebelum akhirnya jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.


Darah segar langsung mengucur di dahi Syafrie yang bocor karena hantaman vas bunga dariku.


Belum cukup sampai disitu, aku berlari ke dapur dan menyambar pisau dapur yang tergeletak di meja dekat kompor dan kembali berlari menghampiri manusia yang paling ingin kulenyapkan di dunia itu. Andai teriakan dan tamparan kak Mansyah tak kudengar sudah tentu besok aku mendapati nisan bertuliskan nama ipar kak Mansyah itu tertancap di atas tanah.


" Asma, di luar ada Haris." Seseorang yang kemudian ku kenalinsebagi istri Mas Adit, menyentuh bahuku dan menyadarkan aku yang sedang terduduk melamun.


Segera aku berlari ke luar menuju ruang tamu untuk menemui pria yang selama hampir dua minggu ini tak kutemui.


Di sana, aku melihat pria yang teramat sangat kurindukan itu sedang berbicara serius dengan Syafrie. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, namun sempat aku mendengar Syafrie memohon maaf kepada Pria itu. Aku tak tahu, mengapa Syafrie memohon maaf kepada priaku.


" Aku minta izin untuk berbicara dengannya." kata Mas Haris.


" Mas... " panggilan pada Mas Haris. Kedua pria itu menoleh.


" Hati - hati. Aku yang akan menghampiri." kata Mas Haris seraya berjalan menghampiriku.


Hatiku berdebar - debar saat melihat pria itu berjalan ke arahku. Rasanya ribuan berbunga bermunculan di dadaku. Tapi tunggu dulu..... Mas Haris tidak datang sendirian. Ada seseorang bersamanya.


Seketika senyumku lenyap. Euporia yang tadi sempat hadir di hatiku kini lenyap hilang entah kemana.


Aku memandang lekat ke arah wanita yang terlihat sedang bergayut manja di lengan pria itu. Seketika dadaku berdesir. Ada sesak yang membongkah di sana. Seketika ada embun di mataku yang setengah mati kutahan agar tak memyeruak keluar ketika menyambut kehadiran kedua manusia itu.


" Asma, apa kabar? Perkenalkan, ini Isna . Dia adalah calon istriku." Tuhan.....

__ADS_1


Wajahku pias. Serasa darah tidak mengalir lagi di tubuhku. Tubuhku bergetar menahan emosi yang tiba-tiba membakar hati. Astaga.. belum hilang lemasnya akibat amukanku saat Kak Mansyah dan Syafrie menyerahkan surat pengunduran diriku tanpa persetujuanku, kini aku harus di dihadapkan lagi pada kenyataan pahit yang berada di hadapanku. Mas Haris datang dan memperkenalkan seorang wanita yang dia sebut sebagai calon istrinya.


" Apa - apaan ini? Ini semua tidak benar, kan.? Kamu hanya ingin membalasku karena aku sudah mengkhianati kamu. Iya, kan? " sergahku dengan suara yang bergetar. Hilang sudah rasa hormat dan seganku pada pria itu. Tanpa ada embel-embel panggilan 'Mas', yang biasa aku lakukan. Aku memanggilnya dengan sebutan Kamu.


" Asma, Mas tak bisa lagi bertemu denganmu. Kamu haram untuk Mas Cintai. Mengertilah....Semua kini sudah tidak lagi sama. Mas harap kamu bisa mengerti dan menerima semua ini." katanya berucap sambil memandang Isna.


":Tatap mataku jika sedang bicara. Jangan jadi pengecut." mataku sambil menahan geram. Aku benar-benar merasa sangat direndahkan. " Apa karena aku hamil"


" Asma.. "


" Kita bisa membesarkannya bersama. Aku mohon, jangan perlakukan aku seperti ini." aku memohon dan menangkap baju pria itu.


" Asma, mengertilah. Kita tak mungkin lagi bisa bersama. Seseorang lebih berhak atas dirimu dari pada aku. " kata Mas Haris. Ada air mata yang berurai lepas saat Mas Haris m ucapkan hal itu.


Wanita yang menjadi calon istri Mas Haris itu mungkin merasa tidak nyaman berada di antara kami. Dia kemudian memutuskan untuk minta izin keluar dari ruang tamu itu.


" Apa kamu tidak ingin bersamaku lagi karena adanya bayi ini? "


" Asma..., bukan seperti itu. "


" Lalu apa, Mas? Jika kita tidak bisa bersama karena bayi yang ada di perutku ini, maka aku bisa menggugurkannya. Lagi pula, kehadirannya tidaklah kuinginkan."


" Astaghfirullah....Istighfar, Asma. Tak baik berpikiran seperti itu. Walau kehadirannya bukan keinginanmu dan cara kehadirannya pun tanpa sepengetahuanmu, tetapi lihatlah! itu sebenarnya sudah menjadi takdir Allah atas dirimu. Kamu tak boleh punya pikiran untuk menggugurkannya karena itu dosa, Asma. Perbanyaklah istighfar, Takutlah akan azab Allah. Semua ini sudah diatur oleh-Nya. Jadi izinkanlah mulai hari ini Mas akan belajar untuk berhenti mencintaimu."


Apa? Dia bilang akan belajar untuk berhenti mencintaiku? Aku rasanya ingin tertawa. Seingatku.... dulu dialah yang mengatakan ' Belajarlah untuk membuka hatimu dan mencintai diriku'. Tetapi apa yang terjadi?..... Setelah aku berhasil membuka hatiku dan kini mulai mencintainya, dia mencampakkan aku begitu saja? enak sekali dia!


Entah mengapa, perasaan ngilu dihatiku begitu tajam menghentak membuat aku serasa mati rasa.


Rasa sakit ini, membuatku merasa mati segan, hidup tak mau. Baiklah....


Aku memang harus tahu diri. Selama ini walaupun sudah mengetahui bahwa aku telah mengkhianati cinta kami dengan pernikahan dua minggu aku dengan Syafrie sehingga membuahkan janin yang ada di dalam tubuhku, tapi Mas Haris masih tetap mau mengurusi aku saat sakit, masih tetap mencurahkan kasih sayangnya padaku, bahkan masih bersedia untuk membayar semua biaya rumah sakitku.

__ADS_1


Ok... Aku bisa menerimanya. Anggap saja balas budiku karena Mas Haris sudah berbaik hati kepadaku. Aku akan bisa menjalaninya. Luka kesakitan karena pengkhianatan Syafrie saja aku masih kuat, maka untuk terluka lagi kali yang kedua, aku rasa aku akan mampu bertahan.


Jika sudah begini, siapa yang harus aku salahkan. Syafrie ataukah keserakahanku ?


__ADS_2