
" Iya, kupikir aku bisa memaafkanmu walaupun hanya sedikit." kataku pada Syafrie.
" Sungguh? "
" Hmm... "
" Buktikan sekarang! Apa aku boleh menyentuhnya?" Ayah pemilik janin yang ada di perutku itu melangkahkan kakinya ke arahku.
" Tapi bukan sekarang." jawabku cepat.
" Lalu kapan? "
Aku mencari Jawaban atas pertanyaannya. " Aku masih memikirkannya." Ada kilatan tak sabar yang tertangkap di sudut matanya.
Aku masih terdiam mempersiapkan segala amunisi untuk memberi ayah langit sebuah kejutan yang maha dahsyat untuknya. Bayi Syafrie di dalam perutku mulai kembali bertingkah. Tunggu saja bagianmu, aku akan membuat perhitungan denganmu, bisikku dalam hati.
Aku masih saja asyik berdiam diri. Membiarkan Ayah Fadil puas memandangi pahatan mahal karya yang terpahat indah di wajahku. Kecantikanku.
Aku tersenyum sinis. Tunggu saja, aku sedang bersiap untuk menembakkan senjata andalanku ke jantung pria ayah dari anakku itu.
" Mati satu kali baru hidup lagi, barulah aku bisa memaafkanmu. Bahkan bukan hanya memaafkanmu saja, aku mungkin akan jatuh cinta lagi kepadamu."
Wajah Syafrie pias. Tatapan matanya kosong. Aku pernah melihat tatapan yang seperti itu dulu, sepuluh tahun yang lalu. Yah..... saat pernikahannya dengan perempuan itu.
Maafkan aku ,Syafrie. Mungkin permintaan dariku terdengar kejam. Tapi kamu harus tahu, bahwa laku yang kau berikan padaku sangat kejam. Hingga aku perlu waktu untuk melupakannya.
Dia menggeleng - gelengkan kepala sambil tersenyum. " ck, ck.. syaratmu sadis dan mengerikan juga... Tapi bersiaplah untuk menerima diriku kembali." kata Syafrie penuh percaya diri. Sebelumnya pria itu sempat terpaku beberapa saat.
" Saat waktu itu tiba, aku khawatir kamu nggak bisa bangun - bangun lagi.. "
" Jika dikhawatirkan oleh kamu demikian ini, maka jangankan mati, sakit saja aku tak berani.. " kata Ayah Fadil.
" Jangan sombong dulu, Bapak Syafrie yang terhormat. Mungkin aku tak bisa melenyapkanmu. Tapi, apa kamu lupa bahwa di dalam perut wanita ini ada anak Bapak. Dari kemarin, aku sudah gerah ingin meluruhkannya. Untung saja janin ini kuat bertahan. Mungkin karena kualitas bibitnya lumayan bagus."
Rahang Syafrie mengetat.. Juga otot-otot di lehernya yang menegang. Keningnya berkerut. Dia mendekat dan langsung menjepit leherku dengan lima jarinya. Tak terlalu kuat, tapi cukup membuatku terkejut. Seandainya aku wanita yang lemah, sudah pasti aku akan mengkerut. Tapi aku bukanlah Asma yang lemah, aku adalah Asma yang tertempa kuat oleh kerasnya pengkhianatan.
" Aku akan membunuhmu jika sampai berani menggangu anakku." Tangan pria itu sudah terangkat ke atas.
" Silahkan saja, aku tak takut Bapak Syafrie yang terhormat." tantangku sambil mengangkat dagu. Kami sama-sama berdiri di tengah ruangan.
__ADS_1
Lama kami saling menatap. Tangan Syafrie kini turun ke belakang tengkukku. Lalu mengusapnya pelan. " Jangan benci dia. Benci saja aku. Aku yang bersalah di sini. Benci saja aku sepuas dan sebesar yang kamu mau."
Setelah mengatakan itu, Syafrie berjalan menjauhiku. Di sana, di ambang pintu, Kak Adit berdiri menatap ke arah kami dengan pandangan yang sulit dibaca.
...-----...
Aku duduk seorang diri di samping rumah mama. Pandangan mataku tertuju pada hamparan pohon bakau dan pohon kelapa yang berjejer di sepanjang jalan kecil yang menuju pematang sawah di belakang rumah.
" Kenapa ? Berantem, lagi? " tanya Kak Adit seraya menghempas pantatnya di batang kayu bulat yang teronggok tak jauh dari tempatku duduk selepas tadi cekcok dengan Syafrie.
" Hm... " jawabku hanya berupa deheman. Aku tak berniat untuk menjawab karena sudah jelas- jelas tadi dia melihat kami saat berantem di dalam kamar.
" Mau cerita? " tanya dia. Aku menggeleng. Malas. Untuk apa paling juga ujung-ujungnya aku juga yang disuruh mengalah.
" Kalau gitu, kakak saja yang cerita." kata Kak Adit. Aku mengernyitkan alis, heran.
" Cerita apa? "
Kak Adit tersenyum seraya merangkul bahuku.
" Kakak tidak tahu, apakah cerita kakak ini sudah ada yang menyampaikan padamu atau belum. Tapi kakak akan cerita saja sesuai versinya kakak. "
" Baiklah, kakak cerita saja. Tapi ingat jangan minta gaji. Aku sudah pengangguran sekarang... " Selorohku. Aku tersenyum miris saat mengingat kembali jika sekarang aku tak punya apa-apa lagi yang bisa kubanggakan. Karirku sudah kandas, seperti halnya juga kisah cintaku.
Menggadai semua harta peninggalan bapak adalah jalan satu-satunya. Rumah, kebun , dan sawah kami gadaikan kepada Ambo Tang. Dia pengusaha asal Bontang yang mempunyai usaha batu gunung di dekat Santan Ulu, dekat kampungnya Syafrie."
Tanganku reflek menutup mulut. Setelah menikah aku memang tinggal di rumah mertuaku. Aku ingat, betapa wanita tua itu sangat menyayangi aku sebagai menantu. Dia memperlakukan aku serasa putrinya sendiri. Aku yang asyik dengan kebahagiaanku bersama Syafrie lupa bahwa Bapak dan Mama masih berjuang untuk keluar dari jerat kemiskinan di keluarga kami.
Aku juga benar-benar tak menyangka pada apa yang telah terjadi. Kepergian aku yang tak berniat untuk kembali ternyata membawa rentetan kisah - kisah pilu yang di alami oleh orang - orang yang dekat denganku.
Aku lupa, ada sosok yang sama menderitanya selain aku di sini. Ada mama yang telah kehilangan suami, anak dan juga cucu yang bahkan belum pernah dia lihat matanya. Aku sibuk dengan duka dan nestapaku tanpa mau menoleh ke mama. Derita hidupnya dengan kepergian suami dan putrinya, pastilah suatu pukulan yang berat bagi mama. Namun, dia mungkin berusaha memendamnya sendiri. Mama memendam sendiri kesedihannya.
Ada rasa sesak di dadaku saat membayangkan mama yang terseok - Seok berjalan membawa deritanya. Astaga..... durhaka ya diriku yang tak tahu diri ini. Merasa diri paling tersakiti, tapi nyatanya, aku lupa bahwa masih ada yang lebih menderita lagi dari pada diriku.
Rasa panas mulai menjalari kelopak mataku. Aku tahu.... karena ada setetes air yang jatuh persis di atas punggung tanganku usai aku mengerjapkan mataku.
" Baik - baiklah sama Syafrie, dek. Karena sebenarnya mama dan kakak - kakakmu ini malu padanya. "
Syafrie lagi.
__ADS_1
Aku tersedu mendengar cerita Kak Adit. Sedih memang. Namun, entah mengapa saat melibatkan nama musuhku di sana, sedihku menguap. Aku kembali gusar. Mengapa harus Syafrie lagi.
' Baik - baik padanya? ' Bah..... bagaimana bisa? dendamku saja belum tuntas. Jadi bagaimana bisa aku bersikap baik padanya.
" Kakak bukan bermaksud untuk membelanya." Seolah-olah mengerti dengan isi hatiku, kak Adit tersenyum menatap ke arah diriku yang kini berubah masam mendengar nama Syafrie.
Aku membuang pandangan ke parit kecil di dekat sawah. Ada tanaman enceng gondok yang tumbuh subur di sana. Sangat cocok sebagai tempat tinggal katakan yang kulihat sedang menyemai telur di air yang tergenang di parit itu. Telur katakan yang laksana biji selasih yang menggenang itu seolah mengingatkan aku akan sesuatu.
aku menunduk dan memegangi perutku. Teringat bahwa di dalam sana ada embrio Syafrie yang masih sangat kecil. Akan jadi apa nantinya embrio ini karena sebenarnya kehadirannya sangat tidak kuinginkan. Aku sangat membenci ayahnya.
Seperti menyadari apa yang ada dalam pikiranku, embrio itu bertingkah. Dia berkedut - kedut di dalam sana. Karena kesal dengannya, maka diam - diam tanpa sepengetahuan Kak Adit, aku menyentil perutku sendiri. Kapok.... rasain. Kedutan di perutku itu langsung berhenti. Hahahaha,...Rasakan. Kagetkan ?
" Dulu, kita minus akan pengetahuan. Bapak sering membawa kita berobat ke dokter. Belum parah, kata dokter. Sehingga dia menyarankan agar mama mengkonsumsi obat saja. Kamu tahu bagaimana cara Tuhan menaikkan derajat hambanya. Mama diuji dengan penyakitnya. Setelah kepergian suami yang disusul dengan kepergian putrinya , penyakit mama mulai menggerogoti. Penyakit mama bertambah parah. Obat - obatan tidak lagi berguna untuk mengobati penyakitnya. Cuci darah adalah saran yang dianjurkan oleh dokter. Biayanya mahal, dek. Dan itu bukan hanya sekali, tapi seterusnya."
Aku tahu cerita kak Adit memang sedih. Tapi apa hubungannya cerita tentang mama dengan aku yang harus bersikap baik pada Syafrie. Perkara dia yang memberikan sebelah ginjalnya untuk mama aku sudah mengetahuinya. Lantas apa hubungannya? Ya Tuhan, maafkanlah kekerasan hati hambamu ini.
" Setelah kepergian Bapak dan anaknya yang kabur entah kemana, mama sedemikian tertekan. Hal itu membuat tekanan darah dan asam urat menjadi tinggi yang memicu penyakit gagal ginjal mama semakin kronis. " Aku tergugu.
Mata kak Adit menerawang jauh. " Mama kita adalah seorang istri, mama, dan juga nenek yang kuat. Dia bertahan dan tidak tumbang oleh penyakitnya. Sampai akhirnya, pada pesta demokrasi beberapa tahun yang lalu, Ambo Tang ikut berpartisipasi dalam pemilihan kepala desa. Ambo Tang ikut mencalonkan diri sebagai salah satu calon kepala desa.
Beliau butuh dana dan meminta kembali uang yang dipinjamkan.
Saat itu kondisi mama yang sakit - sakitan dan butuh biaya untuk berobat . Mana kami memiliki uang untuk mengembalikan uang kepada Ambo Tang sebesar uang yang kami pinjam. Akhirnya kami semua hanya pasrah dengan ketentuan takdir. Sawah yang merupakan satu - satunya kenangan dari bapak dan juga kebun kita semuanya menjadi milik Ambo Tang. "
Ngilu rasa di dadaku. aku turut merasakan kepasrahan mereka. Rasanya sangat menyakitkan membayangkan semua itu meski pada akhirnya mama bisa melewati semua dan bertahan dengan sebelah ginjal. Aku mengepal jemariku merasa sedih sekaligus ngilu akan cerita kak Adit.
" Mama yang mengetahui hal itu menjadi terpuruk dan bersedih. Sakitnya semakin parah. Hingga akhirnya kami menemukan beliau jatuh tak sadarkan diri. Kata dokter yang menanganinya, penyakit mama sudah tak bisa lagi di tolong. Jalan satu - satunya adalah dengan transplantasi ginjal secepatnya. Dunia kami runtuh saat itu. Ketiadaan biaya menjadi pedang yang siap menebas saat itu. Biaya donor ginjal sangat mahal. Lagi pula kita tidak tahu, dari mana kita bisa memperoleh ginjal. Sisa uang pinjaman Bapak pun jauh dari kata cukup. "
Waktu itu hanya kak Lela saja yang bekerja. Gaji kak Lela juga kecil, dek. Kak Darre, baru saja menikah. Aku dan kak Mansyah pengangguran. Tuhan mengirimkan pertolongannya melalui tangan suamimu, dek. "
Yah... aku memang tidak bisa memungkiri pengorbanan Syafrie. Walaupun kurasa hal itu belumlah cukup untuk membayar sakit hatiku.
" Orang tua Syafrie sangat terkejut waktu itu. Terutama Ammak. Beliau meratapi keputusan anaknya yang bodoh. Menyerahkan sebelah ginjalnya kepada mertua yang anaknya saja kabur dan meninggalkan cucunya entah kemana. Belum lagi, Syafrie yang menjual bagian dari harta warisannya untuk membayar sisa biaya pengobatan mama. Ibu mana yang tak meradang, dek. " Kak Adit menghela nafas panjang. Sepertinya kabar besar sebentar lagi akan dia berikan. " Semenjak itu, Ammak sakit keras dan tiga bulan kemudian, Ammak menyusul Bapak dan Fajri."
Aku seperti disambar petir di siang hari bolong seperti sekarang ini. Mulutku terpekik menahan keterkejutan yang maha dahsyat. Sumpah mati, aku benar-benar kaget dan tak percaya dengan semua ini. Aku sampai tak bisa bernafas untuk beberapa detik lamanya. Tanpa terasa air mataku mengalir dengan deras.
Ammak adalah orang baik. Selama menjadi menantunya, aku diperlakukan selayaknya putrinya sendiri. Tak pernah sekalipun dia membuat aku merasa tak nyaman. Hanya satu yang kubenci dari Ammak, yaitu dia mendukung pernikahan diam - diam Syafrie. Itu saja. Selebihnya aku masih tetap menghormati dan menghargainya.
" Untuk pengkhianatan Syafrie, untuk kesakitan yang kamu rasakan, untuk anggapan bahwa kamu dicurangi olehnya dahulu, tanyakan saja pada Bapak. Tanyakan pada Bapak melalui gundukan tanah makamnya, mengapa dia memilihkan jalan ini untukmu. Ketahuilah, dek. Bahwa bukan hanya kamu yang merasakan sakit dan hampir gila karena keputusan Bapak, tetapi Syafrie juga. " Kak Adit memandangku yang tertunduk menghitung satu demi satu air mata yang jatuh di atas gamisku.
__ADS_1
" Tapi dia tersenyum di atas pelaminan itu." cicitku membela diri. Aku takut kehilangan kata - kata karena tak ada lagi
alasan untuk membenci Syafrie.