
Syafrie tertawa mendengar ucapanku. Aku juga ikut tertawa.
Kami pun tertawa bersama...
Pagi itu, untuk yang pertama kalinya dalam pernikahan kami yang kedua ini, kami berbagi tawa bersama....
...----...
Aku rasa aku adalah wanita yang bermental baja. Pahitnya penderitaan hidup membuatku menjadi wanita yang kuat dan tahan banting. Jadi saat kembali kesakitan akibat luka yang di torehkan oleh Mas Haris aku kira aku akan mampu untuk mengatasinya.
Namun nyatanya aku keliru...
Hari ini seorang kurir dari kita telah datang mengantarkan paket yang di tujukan untuk Syafrie. Saat kubuka, aku mendapati sebuah Undangan berwana merah muda bergambar hati dengan tulisan tinta emas.
Saat membaca inisial nama yang tertulis pada sampul depan undangan, maka aku tersadar bahwa apa yang telah aku perjuangkan selama ini semua sudah berakhir. Aku terhenyak dan mati rasa. Tanganku bergetar menahan pedih dalam dada. Ada emosi yang tiba-tiba datang menyeruak di dada. Sedih, cemburu, marah, semua menjadi satu dalam dada.
Tak perlu dibuka lebih lanjut, aku sudah tahu siapa pemilik inisial 'I' dan 'H' itu.
Hari ini, mendadak dunia seperti mau runtuh. Hatiku masih sulit menerima kenyataan bahwa seseorang yang sampai detik ini masih saja ku rindukan, kini sudah berpaling hati ke ladang cinta yang lain. Tega sekali Mas Haris melakukan semua ini tanpa belas kasih.
Seseorang datang dan menghampiri diriku. Dialah Fadil, putraku yang baru saja pulang dari bermain bersama temannya.
" Mamah.... ngapain melamun di sini? " Tangannya terulur meraih tanganku bermaksud ingin salim. Setelah itu pandangan matanya tertuju pada undangan di tanganku. " Dari siapa, mah?" tanyanya ingin tahu. Cucu mama itu mengambil alih undangan di tanganku dan membukanya.
Aku tak menjawab pertanyaan Putraku itu melainkan hanya diam saja sambil memperhatikan semua gerak - gerik Fadil. Demi Tuhan... aku sudah tak sanggup lagi berkata-kata ataupun bergerak. Rohku serasa melayang meninggalkan raga.
Aku benar-benar patah hati. Baru kini aku merasakan yang namanya patah hati. Teryata rasa sakitnya bisa membunuhmu. Sekarang ini, yang ada di pikiranku adalah semua hal yang berhubungan dengan Mas Haris. Semua kenangan manis yang kulalui bersama pria itu seakan masih membekas rapi dalam ingatanmu. Seandainya saja aku tak larut dan terbuai dalam perhatian dan cinta pria itu. Mungkin tak akan begini rasa yang kudapati. Masalahnya, aku terlalu hanyut dan larut dalam buaian nyanyian cinta Mas Haris hingga aku akhirnya menaruh ada yang tinggi pada pria itu.
Hingga hari ini, sehelai kertas undangan ini menyadarkan aku bahwa Mas Haris sudah membunuh sekali lagi seorang Asma karena cinta.
" Oh... ini om Haris ya Mah, yang akan menikah? " kata bocah itu seraya membolak-balikan undangan itu di tangannya.
" Om Haris ganteng sekali. Calon istrinya juga cantik, Mah." oceh anak Syafrie itu tanpa tahu betapa hatiku serasa di iris dan ditumpahi perasan jeruk.
__ADS_1
Aku menatap foto Mas Haris dan wanita itu. Seketika, tanganku terkepal dan gemetar. Bulu kudukku meremang dan tiba-tiba saja, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos juga. Aku menangis melolong nelangsa macam ditinggal mati.
" Mah.... mamah kenapa? " Fadil yang sedang asyik membaca undangan berjongkok menghampiriku. Wajahnya terlihat khawatir.
Aku tak menjawab namun makin mengeraskan tangisku. " Mamah, kenapa? Apa ada yang sakit? Mah... mamah.. " Tangan Fadil mengusap air mataku dan kemudian beralih ke perutku. Mengusap lembut perutku.
Semakin sedih aku dengan sikap Fadil hingga tangisku makin menjadi. Napasku tersengal-sengal. Fadil menjadi panik. Putraku itu lantas menarik juga ke dalam pelukannya. " Mamah, kenapa, sih. Mamah sedih? Apa yang membuat mamah sedih. Cerita sama Fadil, ya." bujuknya. Aku hanya menggeleng dari balik bahunya.
" Sebentar ya, Mah. Fadil ambilkan mamah minum, dulu." Mata Fadil celingukan ke sana kemari mencari orang rumah. " Orang - orang rumah pada kemana, sih. Mengapa mamah di biarin saja kayak begini." Rupanya anak itu tak tega jika harus meninggalkan aku sendirian saja.
Aku memandang ke arah Fadil. Entah mengapa, pikiran jahat yang sudah lama kubuang jauh, kini kembali merasuki. Jika bukan karena Fadil dan anak yang ada dalam perutku ini yang menjadi penghalang, mungkin bukan foto wanita itu yang ada dalam undangan ini.
Maka, aku meraih lengan putraku itu, mencengkramnya dengan sedikit kasar. Entah dorongan dari mana, aku jadi ingin sekali menyakiti putraku itu. Sekuat tenaga aku bergulat melawan amarah yang merasuki dalam diriku.
" Mah.... mamah kenapa? " tanya putraku dengan bingung.
Aku tanpa sadar melepas tanganku di lengan Fadil. Menatap Fadil dengan perasaan gamang dan rasa bersalah yang membuncah. Astaga... hampir saja aku melukai anakku sendiri karena sakit hati.
" Nenek...! Tolong... mamah kerasukan...!" putraku itu berlari ketakutan mencari neneknya.
Tangisku semakin kencang dan terdengar pilu. Aku menangis sejadi-jadinya. Tak tahu... aku tak bisa lagi menahan diri.
Dua kali dikhianati... Aku tak tahu bagaimana sudah bentuknya hatiku.
Kembali... aku tenggelam di lumpur duka.
Setelah semua itu, aku mengurung diri di kamar. Aku mengunci pintu dan jendela. Mematikan lampu dan berbaring di tumpukan bantal sambil menutupi tubuhku dengan selimut. Aku butuh sendiri. Aku butuh ruang dan waktu untuk memikirkan kembali semua tindakan yang bakal ku ambil agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Meskipun aku tenggelam dalam lautan kesedihan.
Berulang kali mama mengetuk pintu, mengajakku untuk bicara dan membujuk diriku untuk mengisi perut. Sebab dari semenjak tadi pagi, hingga sore ini, tak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutku. Namun, aku mengabaikan ajakan mama.
Menyendiri saja di dalam kamar sambil bergelung membuat aku merasa sedikit nyaman. Aku mengikat kepalaku yang sakit dengan kain agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Yah... pikiran - pikiran yang ada di benakku tentang Mas Haris membuat sakit kepalaku kembali datang menyerang.
Layar ponselku berkali-kali menyala dan kembali lagi terdengar nada panggilan di hapeku berbunyi. Tertera di layar ' Si Pengkhianat' . Aku tak tahu, itu panggilan yang ke berapa. Mungkin saja mama sudah menelpon ayah dari bayi dalam kandunganku ini dan mengadukan semuanya.
__ADS_1
Aku meraih benda segi empat itu dan menggeser permukaannya. Kemudian menekan aplikasi berwarna hijau. Astaga... Ada lima puluh notifikasi dari Syafrie di sana. Isinya semuanya menanyakan bagaimana keadaanku. Juga ada puluhan panggilan tak terjawab. Semuanya juga berasal dari ayah anakku.
Oke.. rupanya berita tentang diriku sudah sampai ke telinga menantu mama.
( Jangan seperti itu, sayang. Maaf aku belum bisa pulang. Ada masalah dengan beberapa alat berat di sini.. Tunggu aku sebentar.. Aku harap kamu bersabar)
Sebuah pesan dari Syafrie kembali masuk melalui whatsapp.
Aku mengabaikan pesan itu dan kembali bergelung dengan bantal dan selimut. Menenggelamkan diriku di sana.
( Jangan bergelung seperti itu, kasihan anak kita di dalam perutmu. Dia bisa kesulitan bernafas.)
Astaga... Bagaimana bisa Syafrie mengetahui apa saja tingkah polahku di dalam kamar ini. Aku langsung bangun dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhku. Selimut itupun jatuh ke lantai bersama bantal yang tadi menutupi tubuhku. Mataku mendongak menyisir setiap sudut kamarku. Apa mungkin Syafrie memasang CCTV di kamar ini?
Astaga... keterlaluan sekali kalau begitu. Dia memata - matai aku.
Dasar licik..! mesum..! Kurang ajar sekali dia. Pria itu rupanya sudah memasang alat pengintai di atas ventilasi jendela kamarku yang mengarah langsung ke pintu.
Aku menggelengkan kepala. Sejak kapan pria yang katanya paling ganteng di desa Suka Rahmat ini memasang alat itu?
Apakah sudah lama? Apakah sesudah melihat aku mengamuk dan mencoba bunuh diri atau membunuhnya?
Saking geramnya aku pada mantan suami Marina itu maka aku menulis balasan untuk pria itu.
( Terkutuklah kamu Syafrie)
Lalu disinilah aku sekarang. Menghabiskan waktu di pasar malam bersama Saniah. Pasar Malam di desa Marangkayu di adakan setiap sepekan sekali. Setiap Jumat malam.
Pasar yang berada di pinggir jalan itu berdiri persis di sepanjang trotoar yang melintasi jalan di sepanjang jalur lintas Samarinda - Sangatta.
Kebetulan sekali, pas aku datang, pasar malam ini baru saja buka. Di desa ini, ada juga keluarga mama yang tinggal tak jauh dari pasar malam. Tepatnya di dekat Puskesmas Marangkayu.Jadi aku sengaja singgah dulu ke rumah keluarga mama itu sebelum bergerilya ke pasar malam.
Beruntunglah aku, rupanya rumah Jubair, suami sahabatku itu juga berada di dekat sini. Jadi.. aku tersenyum licik. Di otak wanita hamil ini sudah tersusun sebuah rencana licik untuk suami sahabatnya itu.
__ADS_1