
Niah, bangun, nak.!" Suara mamak yang memanggilku dari luar kamar, membuyarkan seluruh lamunanku.
Aku baru saja selesai membantu mamak membereskan sisa - sisa bekas makan malam kami sekeluarga bersama dengan Mas Haris dan tentu saja Si Manusia Purba itu.
Aku kira dia sudah pergi dari rumahku. Tetapi nyatanya dia masih saja di rumah ini. Sungguh tak tahu diri sekali. Bukankah seharusnya dia tak berada di rumahku.
Dia tentunya tak lupa jika aku sudah menggugat cerai dirinya. Dan gugatanku juga sudah dikabulkan oleh pengadilan agama kala itu, sehingga sudah dapat dipastikan bahwa status kami saat ini bukan lagi sebagai suami istri.
" Biar saja dia di sini, Niah! " sahut mama ketika aku sempat melayangkan protes mengapa pria purba itu masih saja di rumah ini. .
"Tapi, Mak.. Kami kan sudah bercerai. Apa kata orang nanti jika melihat Jubair dan aku masih tinggal bersama dalam satu atap? " ujarku dengan suara pelan berharap suaraku tidak di dengar oleh Bapak dan juga Mas Haris yang sedang duduk di ruang tengah keluarga.
" Tak ada yang tahu kalau kalian sudah bercerai. Orang desa ini masih menganggap kalian itu sebagai suami istri yang sah.. " jawab mamak.
" Tapi kami sudah lama bercerai, Mak!" ujarku dengan nada bicara yang sedikit agak tinggi.
Mamak terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapanku.
" Niah, sejak kapan kamu menggugat cerai Jubair, nak? " tanya mamak kemudian.
" Dua tahun yang lalu, Mak. Tepatnya sebelum aku pergi meninggalkan desa ini. Dan gugatan Niah ternyata dikabulkan. Kami sudah resmi bercerai empat bulan setelah aku meninggalkan desa ini. Aku memiliki salinan akte cerai kami kalau mamak masih tak percaya." jelasku pada mamak.
Tangan mamak menekan mulutnya agar tak bersuara saat dia memekik tak percaya dengan ucapanku. Artinya selama ini mamak belum percaya seratus persen ketika aku mengatakan jika aku dan Jubair sudah bercerai. Pantas saja sikapnya amat dingin pada Mas Haris.
Aku melihat ada air mata yang mulai menggenang di sudut matanya yang sudah mulai banyak dipenuhi kerutan. Terlihat sekali kekecewaan di wajahnya atas perceraian kami.
" Mak, .... maafkan Niah." bisikku serba salah. Aku tak tahu harus berbuat dan berkata apa. Aku tak menyangka jika keluargaku ternyata belum mengetahui tentang perceraian kami. Dan berita tentang perceraian aku dengan Jubair amat melukai mamak.
Lantas, apakah keluarga Jubair sudah pula mengetahuinya? Apakah mantan mertuaku itu sudah mengetahui jika aku dan anaknya sudah bukan lagi suami istri?
Jika belum, maka aku memaki dan mengutuk pria banci itu habis - habisan. Bedebah...!! Terkutuklah, kamu Jubair?
Apa alasan Pria itu menyembunyikan perceraian kami selama ini. Apa dia masih berharap jika aku akan berubah pikiran dan kembali lagi kepada pria brengsek itu.
" Kak Niah, dipanggil Bapak ke depan!" Fian adikku yang nomor dua datang menghampiri diriku dan menyampaikan pesan Bapak.
Aku dan mamak saling pandang. Apa yang ingin Bapak katakan. Jantungku mendadak berdetak lebih cepat. Tiba-tiba saja aku merasa takut jika Bapak mengetahui perceraian antara aku dengan menantu kesayangannya itu. Aku takut seperti mamak, Bapak juga menjadi shock karena belum siap mental menghadapi masalah ini sehingga penyakit Bapak semakin bertambah parah.
Aku bergegas menghampiri Bapak yang duduk di kursi rodanya di dekat sofa ruang tengah.
" Bapak panggil Niah, kah? "
__ADS_1
" Duduklah, Nak..! " perintah Bapak.
Aku menurut dan duduk di sofa yang tak jauh dari Bapak. Sejenak aku memandang ke arah pria tua itu. Di balik kondisinya yang seperti ini, wajah kerasnya masih saja sama seperti dulu.
Aku duduk diam sambil mengutak - atik handphone di tanganku.
" Niah...!" panggil Bapak.
" Iya, ada apa,Pak?" Aku menghentikan kegiatanku dan mulai fokus mendengarkan Bapak
" Bapak mau Niah jujur sama Bapak. Katakan terus terang pada Bapak, ada hubungan apa kamu dengan laki-laki itu? " tanya Bapak sambil tatapannya menunjuk Mas Haris yang kini sedang duduk - duduk di teras rumah bersama kedua adikku.
Ketiganya terlihat sedang terlibat obrolan serius sambil sesekali Mas Haris terlihat tertawa lepas. Mungkin karena candaan kedua adikku.
Aku menghela nafas sambil melirik ke arah yang berada persis di hadapan Bapak. Sedangkan Jubair, pria itu duduk tak jauh dari Bapak.
" Apa maksud Bapak bertanya seperti itu? " aku balik bertanya pada Bapak.
" Tidak ada, Nak. Bapak bertanya hanya untuk memastikan bahwa kamu tak ada hubungan apa - apa dengannya.
Aku melirik Jubair yang berada di seberangku. Pria itu terlihat masih terdiam tak bersuara. "Apa yang telah terjadi?" pikirku mulai meraba-raba ke arah mana maksud pembicaraan Bapakku.
Jika benar Mas Haris sendiri yang mengutarakan keinginannya kepada Bapak, maka aku tak masalah. Bagiku, aku justru bersyukur, karena dengan demikian, aku tak perlu lagi bersusah payah memikirkan cara mengatakan hal itu kepada Bapak.
" Niah, kamu belum menjawab pertanyaan Bapak. Apa hubungan kamu dengan laki-laki itu? " Bapak kembali mengulangi pertanyaannya.
" Eh.... dia... dia adalah.... " aku tergagap.
Bodoh....!!.Tolol,......tolol sekali. Aku mendadak saja merasa gugup ketika Bapak bertanya seperti itu tentang hubunganku dengan Mas Haris.
" Dia adalah atasan Niah di kantornya, Pak.. " suara Jubair memotong ucapanku.
Aku menoleh ke arah pria itu dengan wajah merah padam. Apa maksud Jubair memotong ucapanku? Apa karena dia tak ingin aku berterus terang tentang siapa Mas Haris kepada Bapak.
Lantas apa maksud dari semua ini? Aku sebenarnya ingin mengatakan kepada Bapak bahwa pria tampan yang datang bersamaku dari kota itu adalah calon suamiku. Tapi urung terlaksana karena Jubair keburu menyela ucapanku.
" Apa itu benar,Niah? "" tanya Bapak ingin memastikan ucapan Jubair.
Aku mengangguk tanda membenarkan ucapan Jubair. Astaga.. rasanya ingin sekali kugunting bibir lemes pria itu yang resek. Bisa - bisanya dia mengatakan siapa Mas Haris tanpa izin dariku.
" Kenapa kamu membawa atasanmu ke rumah tanpa izin sama suamimu, nak. Untung saja Jubair tak merasa keberatan dengan semua ini." kata Bapak.
__ADS_1
Tatapanku langsung menghujam ke arah Jubair. Aku sedikit mulai faham ke arah mana pembicaraan ini. Pasti mulut ember pria itu yang sudah menghasut Bapak tentang adanya kehadiran pria lain dalam hidupku. Baik.... kamu yang memulai perang, Jubair. Kamu jual aku beli, ucapku dalam hati.
" Apa maksud Bapak, bicara seperti itu? Aku bebas mengajak siapa saja yang aku suka, Pak." ucapku dengan nada yang agak tinggi.
Kulihat ada keterkejutan di mata Bapak dan pria itu ketika mendengar jawabanku. Aku mengangkat wajah untuk memperlihatkan wajah tidak senangku kepada Jubair. Biar saja....biar dia tahu bahwa aku merasa tidak senang dengan obrolan ini.
" Niah...! Maksud Bapak, kamu itu perempuan yang sudah bersuami, apa pantas kamu pulang - pulang dari kota bersama laki-laki lain. Apa nanti kata orang tentang kamu. Kamu tak bisa seenaknya seperti itu karena disini status kamu itu bukan perempuan single. " jawab Bapak dengan wajah tegang.
" Niah tidak perduli apa kata orang, Pak. Lagi pula siapa bilang Niah bukan perempuan single. " sahutku. Kulihat raut wajah Bapak dan juga Jubair berubah seketika.
Aku bisa melihat lutut Bapak yang gemetar karena menahan emosi. Barangkali, seandainya saja Bapak sehat, mungkin lelaki itu sudah berdiri dan melayangkan pukulan ke arahku.
Jubair langsung bergerak mendekati Bapak.
" Sudah... sudah, Pak. Malu, kita sedang ada tamu. " ucapnya seraya menepuk bahu Bapak berusaha menenangkan Bapak.
" Huh, tahu malu juga kamu. Kukira sudah hilang urat malumu. Kalau masih tahu malu, kenapa masih berada di sini, hah? "bentakku melepas uneg - uneg yang sejak tadi kupendam.
" Tentu saja dia masih di sini. Ini juga rumahnya. Dia itu suamimu, jadi wajar saja kalau dia di sini." bentak Bapak dengan wajah memerah menahan geram.
Aku tertawa terbahak - bahak mendengar ucapan Bapak. Lucu sekali mendengar kata 'suamimu' yang diucapkan oleh Bapak.
" Suami? Apa tak salah dengar? Niah tidak merasa punya suami, Pak. Kami sudah lama.... "
" NIAH..!!!" kali ini aku mendengar suara bentakan Jubair.
Aku mendelik mendengar bentakan pria itu. Tak percaya dia masih bisa membentakku di hadapan Bapak. Kurang ajar!!!
" APA.?! " balasku dengan bentakan yang tak kalah keras.
Sejenak raut wajah pria itu menegang. Lalu kemudian berubah sendu.
" Jangan diteruskan lagi perdebatan ini. Kasihan Bapak, nanti penyakitnya kambuh." ucapnya memelas. Terlihat sorot mata memohon yang tertangkap olehku saat pria itu berucap.
" Ahh.... sudahlah... aku capek! tukasku.
Aku menghela nafas panjang, lalu beranjak meninggalkan kedua pria yang masih berdiri terpaku memandang kepergianku.
Kupikir tak ada gunanya berdebat dengan keduanya. Apalagi saat ini, aku menyadari bahwa ternyata Bapak masih belum tahu tentang status aku dan Jubair yang telah bercerai.
Jubair memang Bedebah...!
__ADS_1