
Tubuhku sempoyongan hampir terjatuh.. Untung saja pria yang paling kubenci selama sepuluh tahun terakhir ini menangkap tubuhku. Jika tidak, mungkin aku akan benar-benar kehilangan ingatan karena kepalaku jatuh dan terantuk ubin.
Aku benar-benar shock saat ini. Itu adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan keadaan diriku saat ini. Aku sengaja menggigit bibirku sekuat tenaga untuk menahan agar aku tak berteriak histeris tak peduli bibirku jadi berdarah karenanya.
Aku harus bisa mengendalikan diriku. Aku harus bisa menguasai diriku jika tak ingin depresi kembali menjadi sahabatku.
Syafrie memeluk tubuhku dan segera menuntun tubuhku duduk di tepi ranjang. Segera dia melepaskan pelukannya dan memberi jarak pada kami ketika dilihatnya tubuhku gemetar menggigil.
" Asma, jangan begini.. " ucapnya lirih.
" Aku sengaja menahan memberitahukan hal ini karena hal yang seperti inilah yang aku takutkan. Kamu shock. Lihatlah.. kamu berantakan sekali. Maaf aku tak sabar. " Dia ingin mendekatiku. Namun saat melihat aura membunuh di mataku, dia urung mendekat.
" Kamu menyembunyikannya dariku? "
" Tidak. Demi Tuhan, Asma. Aku hanya menundanya. " Wajah bersalah yang ditunjukkan Syafrie membuatku benar-benar muak.
" Bohong..! Kamu pembohong, Syafrie! Kamu sengaja menyembunyikannya dariku! " Aku ingin berteriak keras pada Syafrie tapi karena gemetar sialan ini yang masih saja betah menempel di tubuhku maka suara yang kukeluarkan hanya berupa desisan yang lirih. " Kamu dan semua keluargaku. Kalian semua berengsek."
" Asma.... "
" Jadi Fadil adalah Fajri? " Tuntutku. Teganya mereka mengatakan anakku mati dan membuat kuburan palsu di atasnya.
" Asma, bukan seperti itu ceritanya."
" Lalu? "
" Oke, tapi kamu janji untuk tidak histeris, kan? " Lama aku terdiam. Aku berusaha untuk menenangkan diri sebelum akhirnya menganggukkan kepala tanda setuju. Aku siap mendengar walau sepahit apapun kenyataannya.
__ADS_1
Syafrie menghela nafas panjang. Sorot matanya seakan menerawang jauh ke depan. " Fadil dan Fajri adalah dua anak yang berbeda. "
" Maksudmu? " tanyaku seraya menahan embun yang bakal luruh dan ternyata itu amatlah susah kulakukan. Mataku sedari tadi sudah terasa panas menahan tetesan air yang meruak - ruak di ujung mataku. Sekuat tenaga aku berjuang agar tetesan air mata itu tidak sampai jatuh di pipiku. Namun, kali ini aku gagal untuk menahannya.
Dadaku sesak. Ya Tuhan... ternyata selama ini aku adalah seorang ibu. Betapa mirisnya diriku sebagai wanita yang bahkan sudah memiliki seorang anak saja pun aku tak tahu. Betapa menyedihkan sekali. Sesaknya dadaku, pedih...
" Fadil anak kita. Fajri anak.... "
" Siapa? Marina?" Aku memotong ucapan Syafrie dengan cepat. Jika itu semua benar, maka terkutuklah kau, Syafrie! Teganya dia menukar anakku demi untuk tidak menyakiti hati wanita keduanya. Berbagai pikiran - pikiran buruk memenuhi otakku. Terlebih lagi saat itu aku tidak melihat Fajri dikuburkan. Jadi pikiran- pikiran jelek itu kini berkeliaran di benakku
Sosok pria berhidung mancung itu mengusap wajahnya dengan frustasi.
" Bisa tidak kita bicara tanpa harus dibarengi dengan emosi, Asma? " dia menatap kesal padaku.
Baiklah..... aku memejamkan mata mencoba meredam amarah yang kini sudah mulai merasuki isi kepalaku. Bukannya aku ingin berbaik hati dengan Syafrie, hanya saja, dengan bersikeras melawan aku yakin dia tak akan mengatakan apapun padaku.
Mataku tak sengaja melirik jam weker di atas nakas. Ya ampun.... sudah pukul dua dini hari. Sudah terlalu malam untuk membicarakan hal penting yang seperti ini. Tapi mau apalagi? Aku bisa saja tak bisa bernafas lagi esok hari, jika Syafrie tidak menjelaskan keberadaan Fadil kepadaku.
" Fajri putramu, demikian juga halnya dengan Fadil. "
Jika mengetahui Fadil adalah putraku membuat nafas di paru-paruku menghilang seketika, maka demi mengetahui bahwa keduanya adalah putraku, membuat ragaku terpisah dari tubuhku. Astaga... aku sekarat. Tubuhku semakin bergetar, menggigil. Syafrie datang dan memeluk tubuhku.
Anehnya, dari sekian banyak hujaman sembilu yang dia torehkan padaku, aku tak lagi menangis. Air mataku kering...hampa. Aku sudah tak sanggup lagi menangis.
" Asma, tenangkan dirimu." Dia masih memelukku erat. Bahkan sudah beberapa kali dia mencium pucuk kepalaku. Aku sudah tak peduli. Aku mengutuk gemetar di kakiku yang tak juga mau berhenti. Tubuhku lemas seolah tak bertenaga. Sialan.... sialan...
" Asma, berbaring, ya? " Dia membujukku untuk berbaring. Aku patuh dan menurut saja saat dia kemudian membaringkan diriku di atas ranjang. Kemudian dia beranjak menuju lemari yang isinya sudah berserakan di lantai. Dia meraih sebuah selimut dan kemudian menyelimuti seluruh tubuhku dengan selimut itu.
__ADS_1
Selimut dengan motif garis - garis biru dan putih itu telah membungkus seluruh tubuhku. Aku tak peduli. Aku hanya diam menyaksikan semua yang Syafrie lakukan itu dengan pandangan kosong dan bibir yang terkunci rapat.
" Aku tidur di sini, ya. Aku janji aku tidak akan macam - macam. Aku hanya ingin menjaga. " katanya sambil mengelus pucuk kepalaku. " Boleh aku membuka ini?" Ia menunjuk jilbabku. Karena melihat tak ada respon apapun dariku, Syafrie akhirnya memberanikan diri melepaskan tutup kepalaku itu. Sesaat dia tertegun menatap panjang dan hitamnya rambutku. " Masih seperti dulu.. " dia bergumam lirih.
" Mereka kembar? " Aku akhirnya berhasil membuka suara. Syafrie menoleh kepadaku. Pandangan matanya kini beralih dari suraiku ke wajah. Dia mengangguk. " Kenapa aku tak mengetahuinya? "
Dia kembali menghela nafas panjang. " Entahlah, aku juga tak begitu tahu dengan pasti bagaimana bidan di kampung yang biasa memeriksa kandunganmu tak mengetahui bahwa kandunganmu kembar. Dokter kandungan yang menangani kelahiran Fadil dan Fajri mengatakan bahwa hal itu bisa saja terjadi, mengingat minimnya fasilitas kesehatan yang ada di kampung kita. Aku saja sama kagetnya denganmu begitu tahu bahwa mereka berdua kembar. " kata Syafrie sambil mengenggam tanganku.
" Tapi dokter yang kita datangi dirumah sakit waktu USG? " Aku tak habis pikir bagaimana bisa hasil pemeriksaan USG tidak bisa mendeteksi bahwa bayiku kembar. Hasil dari USG waktu itu tidak menampilkan citraan bahwa aku memiliki anak kembar.
" Dokter itu juga yang membantumu saat melahirkan di rumah sakit. Katanya, walaupun langka, tapi kasus sepertimu pernah beberapa kali terjadi. Janin kembarnya tersembunyi. Kamu mau tahu mengapa itu bisa terjadi? " Dia bertanya dan aku mengangguk patuh. Mungkin jika dalam keadaan biasa, maka sudah pasti aku menolak mentah-mentah.
" Karena kedua janin berada dalam satu kantung Chorion , sehingga membuat posisi mereka saling berdekatan dan membuat salah satunya tersembunyi dan tidak terdeteksi oleh mesin pemindai. Itu menurut penjelasan yang dokter itu berikan padaku. " Senyumnya mengembang sambil tangannya semakin erat menggenggam jemariku. Oke.. baiklah, malam ini saja dia kubebaskan untuk menyentuhku. Besok? jangan harap!
" Kamu ingat, tidak? Kamu kan pernah mengeluh, mengapa perutmu sangat besar. Padahal waktu itu kandunganmu baru memasuki usia enam bulan? " Aku mengangguk. Aku ingat dulu aku sering mengeluh dan menangis karena berat membawa perutku. Dan pria di sebelahku inilah yang dulu selalu mengusap - usap perutku dengan sayang sambil menghujaninya dengan ciuman di perutku, untuk menghentikan tangisku.
" Itu karena mereka kembar, Asma. Kamu memiliki dua orang bayi laki-laki."
Ada sedikit rasa hangat di hatiku setelah mendengar cerita Syafrie. Aku lega dan bersyukur keduanya adalah putraku. Mereka berdua lahir dari rahimku. Awalnya kukira satu di antara mereka adalah anak dari Syafrie dan Marina. Allahhu akbar.. aku sangat bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya
Tapi itu tidak bertahan lama, sebab...
Ingatan tentang Fajri kembali menghisap hangat yang sempat hadir di dalam dada. Kemudian.... semuanya tergantikan dengan warna kelabu kesedihan.
*Kamu pembunuh....
Kamu membunuh putramu*.
__ADS_1
Kalimat itu yang kini menari - nari di kepalaku, membuat seakan - akan kepalaku ingin pecah. Aku tak sanggup lagi... Tuhan tolong aku......!