PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 44


__ADS_3

" Akhirnya kamu sadar juga, Dewiku." kata Mas Haris saat pertama kali aku membuka mataku. Bau obat - obatan yang menusuk hidung dan selang infusan yang tertancap di lenganku, menjelaskan kepadaku dimana sekarang aku berada.


Aku bersyukur dalam hati karena Mas Haris akhirnya berhasil menemukan dan menolong diriku yang tak berdaya seorang diri di kamar.


" Kamu membuat aku hampir mati karena serangan jantung. " kata pria itu dengan ekspresi pura-pura marah.


" Maafkan Asma, Mas." ucapku lirih.


" Sudahlah, mau aku panggilkan dokter? " dia berucap seraya menggenggam sebelah tanganku yang tak terpasang selang infus. Aku menggeleng lemah seraya mengangkat sebelah tanganku yang lain. " Mas, aku sakit apa? "


Mas Haris mengangguk sambil tersenyum. Tapi yang kudapati bukan senyum manis, tapi senyum yang asam dan terkesan dipaksakan. " Mas tak bisa menjelaskannya, biar dokter aja, ya yang nanti menjelaskannya."


" Memangnya, parah ya, Mas? " Jantungku berdetak keras melihat ekspresi Mas Haris. Selintas, aku teringat akan penyakit jantung yang diderita oleh bapak. Apa mungkin aku juga terindikasi menderita penyakit itu. Sebab, yang aku tahu bahwa penyakit jantung bisa di dapatkan dari keturunan.


Mas Haris semakin salah tingkah mendengar pertanyaanku. Aku bisa melihat gelagatnya yang tampak tidak nyaman dan beberapa kali mendehem.


" Apa aku akan mati? "


" Sayang, itu bukanlah penyakit yang mematikan. Kalau ingin jelasnya, nanti dokter saja yang memberitahukan. Kalau aku yang jelaskan, khawatir kamu tak bisa menerima penjelasan aku." katanya sambil mengusap pucuk kepalaku.


" Sudah berapa lama aku di sini? " Ada rasa sesak yang menggumpal di dadaku sehingga mataku menjadi sedikit berembun. Aku teringat akan diri sendiri. Begitu banyak kesalahan diri yang belum sempat aku perbaiki. Jika sekarang aku akan didatangi oleh malaikat Izrail, rasanya aku belum siap. Dosa - dosaku pada mama saja masih menggunung. Dan aku belum lagi sempat untuk meminta maaf.


" Asma, tenanglah. Baru juga sepuluh jam kamu di sini. Kata dokter kamu kehilangan banyak cairan akibat muntah dan diare yang kamu alami. Karena itulah kamu pingsan. Sebentar aku panggilkan dokter, ya. " Pria itu kemudian berlalu untuk memanggil dokter yang tadi merawat aku.


Entah sudah berapa menit berlalu, Mas Haris tak kunjung jua muncul menampakan batang hidungnya. Saat jarum menit menunjuk ke angka sepuluh, seseorang mendorong pintu dan masuk dengan tergesa-gesa karena diluar sedang hujan.


" Maaf lama, aku tadi sempat berputar - putar berkeliling untuk mencari buah. Mungkin dia butuh saat dia bangun nanti." kata orang yang sedang berdiri di ambang pintu itu. Dia belum melihatku karena matanya masih sibuk mengibas - ngibaskan air yang melekat pada jaketnya akibat air hujan yang mengguyur deras di luar.


Aku memejamkan mata karena berpikir mungkin sedang berhalusinasi. Aku salah dengar dan salah liat orang. Efek obat - obatan bisa saja membuat orang mengalami halusinasi. Aku mengutuk jantungku yang lemah. Mengapa hanya karena efek sesaat seperti ini sudah berdetak sedemikian kencang.


" Kamu bangun..? "


Astaghfirullah..... aku sepertinya lupa baca doa, sehingga di ganggu oleh setan penghuni rumah sakit ini.

__ADS_1


Aku pasti bermimpi buruk. Yah... aku pastinya sedang bermimpi. Aku berbalik membelakangi pintu. Memandang tirai yang jatuh di bawah jendela kamarku. Saat mendengar langkah kaki pelan berjalan menghampiri dan membuka pintu kulkas yang berada di dekatku, maka kesadaranku datang.


Sial....Ini bukan mimpi. Dia ternyata benar-benar hadir di sini.... Syafrie berada di rumah sakit ini, di kamar tempat aku di rawat inap.


" Kau.... " kilat mataku menatap sosok pria yang kini sedang menekuk lutut seraya memegangi buah pir. Saat mendengar aku pria itu juga menoleh kepadaku.


Tatapan kami saling mengunci. Tapi itu tak berlangsung lama karena aku memutuskan tatapanku dan berpaling pada dinding kamar. Aku meninggalkan tatapannya yang tak ingin berpaling dariku.


" Aku sudah di sini, apakah ada yang kamu butuhkan? " dia bertanya tanpa melepaskan tajam pandangannya dariku.


Aku berbalik dan balas menatap tak kalah tajam. Namun, rupanya aku terkena sindrom anti Syafrie karena mendadak saja perutku merasa mual dan ingin muntah.


" Huuekkkk.....! Akhirnya....


" Nah, kan. Apa sudah, muntahkan... " Sudah ku katakan, aku ini anti sama ayahnya Fadil. Maka jangan salahkan aku saat melihat play boy kampung itu perutku kembali bertingkah memamerkan isi perutku.


Tak ada yang bisa dikeluarkan oleh isi perutku selain cairan bening. Namun tetap saja itu menjadi terasa menjijikkan apalagi kini muntah itu sudah jatuh berceceran ke lantai.


Syafrie bergerak mendekatiku. Sebenarnya dia ingin menolongku tapi mungkin dia pikir aku pasti akan menolak atau memberontak. Namun, tak urung, dia menyodorkan tisu kepadaku. Namun, mana sudi aku menerima bantuan dari Syafrie.


Diam - diam, aku memperhatikan setiap gerak - gerik Syafrie melalui ekor mataku. Dia menarik sepotong baju dari dalam tak ranselnya, lantas kembali lagi mendekatiku.


Aku memegang ujung gamisku dengan erat saat aku menyadari tatapannya yang tajam menghujamku. Mengapa dia menatapku sedemikian rupa? Lalu senyum itu, mengapa senyumnya demikian misterius? Apa yang sedang pria itu pikirkan? Apakah dia akan membekapku dengan kain yang sedang dia pegang? Apakah Syafrie ingin membunuhku karena ucapanku tadi. Begitu tersinggung kah dia dengan apa yang aku lakukan barusan? Ketakutan sudah mulai menjalari otakku. Aku ingin berteriak tapi mulutku terasa terkunci.


Ayah Fadil semakin mendekat ke arahku. Semakin besar pula ketakutan yang aku rasakan.


Saat berada di hadapanku, sebelah alis pria itu terangkat naik. Senyum mengejeknya terbit saat menangkap raut wajah pias yang aku tampilkan."Kenapa?"


"Apakah kamu mau membunuhku? "


cicitku. Astaga..... kemana Asma yang kemarin jahat dan galak.


" Takut? " Senyum sinisnya mengembang sambil berjalan melewatiku. Nanar pandangan mataku ke arah pintu, berharap ada seseorang atau perawat yang kebetulan lewat , bisa aku mintai pertolongan.

__ADS_1


" Awas kalau kamu berani macam - macam, Syafrie! Aku akan berteriak." bentak. Syafrie bergeming untuk sesaat, lalu...... hahahaha, tawanya pecah berderai.


Aku semakin takut melihat tawa Syafrie. Jangan - jangan dia sudah gila. Mulutku komat kamit membaca doa memohon keselamatan kepada Tuhan.


" Ckckck, seburuk itukah aku dalam pikiranmu? " Dia berdecak sambil menggeleng - gelengkan kepala. " Padahal aku cuma mau membersihkan ini saja. " katanya sambil menunjuk ke arah muntahku di lantai.


Aku mendelik ke arah Syafrie. " Tau ah, terserah kamu sajalah! " bentakku marah. Merasa di permainan oleh Syafrie. Jelas - jelas tadi dia berusaha menakutiku. Puas mungkin hatinya karena sudah berhasil mempermainkan aku. Dasar Syafrie keparat!


Beberapa menit setelah ayah Fadil berhasil berhasil membersihkan bekas muntahku yang tercecer di lantai, pintu ruangan tempatku dirawat terkuak kembali. Mas Haris dan seorang pria tua berjas putih masuk dan menghampiri kami.


" Aku kirain masih tidur." kata Mas Haris seraya berjalan mendekatiku. Mataku melirik ke arah Syafrie yang duduk di sofa. Mas Haris mengikuti arah lirikan mataku dan sedikit terkejut saat melihat kehadiran Syafrie di sana. " Loh, sudah kembali, ya? " tanyanya dengan kaku dan sedikit canggung. Syafrie mengangguk.


" Maaf ya, Asma. Mas lupa memberitahu kamu perihal kedatangan Syafrie." kata Mas Haris dengan mimik bersalah.


Aku diam tak menjawab perkataannya. Aku sangat marah saat ini. Mengapa dia lancang memanggil Syafrie kemari? Apa maksudnya meminta Syafrie datang ke rumah sakit ini?


Pria tua berjas putih itu mendehem sebelum berucap. " Ibu Asma, bagaimana perasaannya sekarang? " Aku tak menjawab pertanyaannya. Otakku bertanya - tanya saat melihat gelar yang ada di belakang namanya. Apa yang telah terjadi dengan perutku? Apakah aku didiagnosis menderita kanker kandungan seperti yang selama ini para wanita takutkan.


Pria tua itu melanjutkan perkataannya setelah mendapati tak ada respon dariku.


" Jadi setelah melalui pemeriksaan darah dan hasil tes urine, kami menyimpulkan kalau ibu positif. Dan berdasarkan keterangan dari suami ibu, maka kami memperkirakan usia kandungan ibu sudah memasuki bulan ketiga. Karena ibu pernah mengalaminya kelahiran prematur beberapa tahun yang lalu, maka kami menyarankan agar ibu memperbanyak mengkonsumsi makanan yang bergizi. Perbanyak makan yang mengandung asam folat dan hindari merokok. Dan satu lagi, untuk sementara hindari untuk mengkonsumsi kepiting. Karena makanan yang satu itu tidak cocok untuk ibu hamil karena kadang - kadang dapat memicu terjadinya alergi. Itulah sebabnya mengapa semalam anda menderita diare, pusing dan mual - mual. Karena anda keracunan makan kepiting. Kira - kira demikianlah penjelasan dari saya. Apa masih ada lagi yang ingin ditanyakan oleh ibu Asma? " tanya dokter itu. Aku hanya diam sampai dokter itu akhirnya pamit dan berlalu dari hadapanku.


Otakku masih mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut pria tua berjas putih itu. Hasil tes darah, tes urine, dan asam folat? Lantas Apa katanya tadi? Positif?


Apakah maksudnya aku positif, itu berarti aku hamil? Astaga.... aku pasti kembali berhalusinasi.


Mana mungkin aku hamil, jika Mas Haris menyentuhku saja tidak pernah. Lalu aku hamil anak siapa?


Aku hampir saja tertawa terbahak-bahak andai saja sosok manusia yang paling ku benci itu kemudian berdiri dan berjalan mendekatiku.


Astaga..... dua bulan yang lalu....?


Jadi malam itu... di penginapan dan di rumah Ammak.......

__ADS_1


Astaghfirullah.... Syafrie jahanam..!!!


__ADS_2