
Matahari sudah meninggi, namun Asma belum juga beranjak dari pembaringan. Sementara Syafrie sudah sedari tadi bermain dengan Fika.
" Asma sayang, .... Fika sepertinya sudah mengantuk. Kamu tidurkan dulu, Fika. Aku akan membuatkan susunya, dulu." Syafrie menyerahkan Fika kedalam pelukanku yang masih bergelung selimut di tempat tidur sambil tak lupa mengucup kepalaku sekilas.
Aku menggeliat dan membuka mataku. Lalu bergerak bangun mengangkat bayi montok itu ke dalam pelukanku.
" Fika sayang, sudah cantik dan wangi. Hmmm..... sudah dimandiin sama ayah, ya..? "
" Besok lusa, kita jadi kan berangkat ke Melak? " Syafrie sudah kembali dengan botol susu Fika di tangannya.
Aku menoleh dan mengangguk ke arah Pria paling tampan di Suka Rahmat itu.
Memang, sudah dua hari ini Syafrie tidak bekerja, karena sedang mendapat cuti tahunan. Menurutnya, dia ingin memanfaatkan cuti tahunan ini dengan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kecil kami.
Untuk itulah, kami memutuskan untuk berlibur bersama ke Melak. Kali ini kami pergi bersama dengan mengajak Fadil dan juga Fika.
" Iya, jadi dong. Tapi sore ini aku mau ke rumah Saniah, dulu. Kamu mau ikut, tidak? "
Syafrie mengangguk dan menyerahkan botol dot itu ke tanganku. Aku memasukkan ke mulut Fika yang langsung menyedotnya dengan lahap. Sudah hampir sembilan bulan usia Fika. Balita itu sudah mulai terlihat lucu - lucunya karena sudah mulai belajar berjalan. Tubuhnya semakin montok dan berisi saja karena di samping asi dan makanan tambahan, aku juga memberinya susu bubuk formula, karena kualitas air susuku yang sedikit berkurang.
Syafrie duduk di belakangku. Mengusap lembut tengkuk dan leherku, lalu menggigitnya pelan sehingga menimbulkan bekas kemerahan di sana.
" Asma.... "
" Hmmm,... "
" Sepertinya kecebong di perutmu belum berubah juga menjadi berudu. Apa perlu aku menambahkan bibit kecebong lagi...?"
Astaga..... Syafrie....
Pipiku langsung bersemu merah mendengar ucapan absurdnya. Sejak kapan pria ini bisa merayu dan ngomong mesum seperti ini. Apa dia sudah tertular setan mesum dalam diriku.
" Tadi malam, kan udah.... "
" Aku mau lagi, sayang. Mumpung cuti... aku mau banyak - banyak menabur bibit kecebong di rahimmu. Biar Fadil dan Fika cepat punya adek lagi... "
Aku hanya tersenyum mendengar keinginannya. Namun tetap saja aku pun akhirnya melayani keinginan Syafrie yang ingin menabur benih kecebongnya di rahimku.
Aku dan Syafrie tertidur kembali setelah lelah melewati pergumulan berpeluh kami pagi ini.
" Ayah, ...ibu,...! " Terdengar suara Fadil menggedor pintu sambil memanggil kami berdua. Aku terkejut dan langsung terbangun. Namun aku kesulitan bergerak karena tangan Syafrie yang melingkar erat di pinggangku.
__ADS_1
" Syafrie.. Syafrie, bangun.. "
" Kebiasaan, kamu, Asma. Panggil sayang, atau kakak, gitu. Berdosa hukumnya memanggi suami dengan namanya.. "
Aduh.....Syafrie kembali lagi berulah. Dia memang sudah berkali-kali melayangkan protes akan panggilanku kepadanya.
" Iya, .... iya. Kak Syafrieku sayang. Sekarang cepatlah bangun. Putra kesayanganmu itu sudah dari tadi memanggil - manggil kita."
" Ayah.... Ibu... kenapa lama sekali membuka pintunya. Fadil mau masuk... " Kembali Fadil menggedor - gedor pintu dengan keras.
" Iya, Fadil... sabaaar. Huh, putra Syafrie ini benar-benar tak sabaran. Persis sama seperti....."
" Huss... dia putra kita berdua. Tapi sifat tak sabarannya menurun darimu... " kata Syafrie sambil terkekeh membukakan Fadil pintu. Pintu pun akhirnya terkuak dan Fadil langsung masuk menerobos ke dalam kamar kami.
" Ayah, mamah.... besok mamah mau pergi ke Melak, kah? "
" Iya... kenapa memangnya, abang? " tanyaku sengaja menaikkan sebelah alis.
" Fadil boleh ikut, kah mah? " tanya dengan wajah memelas.
" Kamu tidak usah ikut. Kasihan mamak sendirian di sini. Mama dan ayah saja yang pergi Fika.. " kataku sambil tersenyum geli dalam hati. Aku yakin jika putra Syafrie itu bakalan akan merengek dan menangis minta ikut seperti beberapa waktu lalu.
" Tapi apa..? " tanyaku pura-pura tak faham.
" Fadil mau ikut. Fadil tak mau ditinggal. Fadil mau ikutan sama Fika. Boleh ya, Mah, ayah...? " Fadil memohon dengan wajah memelas. Lucu sekali... dia sampai menubruk tubuhku segala dan menyusupkan kepalanya ke dadaku.
Aku melirik pada Syafrie yang menyaksikan drama Fadil. " Sudah.... sudah.. kamu boleh ikut. Tapi ingat jangan nakal. Dan juga jangan cengeng! "
" Benarkah, ayah? Hore... aku ikut... aaakuu ikut.... aakuu ikut...! " dia berjingkrak Kegiaraanngan dan melompat - lompat di atas kasur.
" Fadil, jangan ribut! Nati adek Fika bangun.. "
Fadil seketika menghentikan aksinya dan melompat turun dari kasur. " Maaf, mah. Fadil lupa. Sangking senangnya.." putraku itu kemudian mencium pipiku dan tangan Syafrie lalu pergi keluar.
Syafrie hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan putra semata wayangnya itu.
" Sama persis seperti mamanya..."
" Apa..? " Aku melotot pada Syafrie.
" Iya, melihat Fadil seperti melihat Asma dalam versi wanita. Hahaha... " ledeknya.
__ADS_1
Aku merajuk dan memayunkan bibir. Lantas berdiri menyambar handuk yang tergantung di depan pintu kamar mandi. Sementara Syafrie masih saja tergelak melihat kelakuanku yang merajuk dengan membanting pintu kamar mandi.
...-------...
Aku dan Saniah sedang duduk di sebuah kafe yang berada di Bontang. Cafe yang terletak di pinggir pesisir itu tampak sedikit Lenggang sehingga kami bisa leluasa untuk ngobrol.
Setelah memesan makanan dan minuman, aku dan Saniah terlibat obrolan.
" Jadi bagaimana sudah hubunganmu dan Syafrie? Apakah akhirnya kamu memutuskan untuk berpisah dengannya?" tanya Saniah mengawali pembicaraan kami. Oh.... rupanya dia belum tahu kabar terbaru. Wajar sih.. aku kan belum cerita padanya tentang aku dan Syafrie.
" Kami sudah kembali bersama. Bahkan.. aku merasa sepertinya bakal ada kecebong Syafrie lagi di perutku... " Aku menceritakan padanya bagaimana prosesnya aku dan ayah Fadil dan Fika itu akhirnya bisa kembali bersama lagi.
" Astaga... ,Asma.. " Saniah memekik menutup mulutnya setelah mendengar ceritaku.
" Kamu jahat.... kenapa kamu dan keluargamu tak ada satupun juga yang menceritakan jika kamu
" Yah.... bagaimana lagi. Akhirnya aku sadar, bahwa aku mungkin tak bisa menerima kesedihan lagi jika harus kembali berpisah dengannya. Maka aku memutuskan untuk menyembuhkan luka bersama Syafrie, bukan untuk merawat luka. Aku menyadari bahwa aku masih mencintainya. Dan betapa Syafrie juga sangat mencintai aku. "
" Nah, pang sudah ulun padahi kalo? Untung saja kamu belum terlambat.. Syafrie itu cinta mati sama kamu. Dia tak bisa melupakan dirimu. Maka dari itu dia tak bisa menerima pernikahannya bersama Marina dan memilih melepaskan Marina..... " ucapannya terhenti ketika melihat ekpresi mendung di wajahku ketika mendengar dia menyebabkan nama mantan istri Syafrie itu. " Maaf, aku tak bermaksud mengungkit luka lamamu... " katanya dengan ekspresi bersalah yang terlihat jelas.
" Sudah.... aku tak apa - apa. Terus.. bagaimana kabar kamu sama Kak Jubair? Apa ' burungnya' masih loyo juga tak bisa bangun. Potong saja, sekalian." Entah mengapa aku kembali geram saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
" Aku memutuskan untuk mundur dari pernikahan kami, Asma. "
Kali ini giliran aku yang membuka mulut mendengar ucapannya.
" Alhamdulillah..... " ucapku sambil mengatupkan kedua tangan dan mengusap wajah.
" Gila kamu, Asma. Teman mau cerai kamu syukurin... " sungut Saniah.
Aku terkekeh mendengar omelannya.
" Ya, aku senang aja, pikiranmu sudah terbuka. Tapi aku penasaran, apa yang membuatmu berubah pikiran tak jadi mempertahankan Jubair? " kepoku lagi.
" Aku memikirkan ucapanmu, Asma. Aku tak mau terlalu egois. Aku juga lelah berharap cinta Kak Jubair akan luluh padaku. Sejak peristiwa di pasar malam itu, aku menyadari satu hal, bahwa selamanya aku tak pernah ada di hatinya. Lalu untuk apa aku mengorbankan diri pada lelaki yang tidak pernah mengharapkan dan menghargai aku sama sekali. Sehingga aku pun memutuskan untuk membebaskan Kak Jubair dengan pernikahan ini. Mungkin saja dia merasa tersiksa dengan pernikahan kami, hingga dengan berpisah dariku, beban di hatinya akan berkurang, dan aku lagi tidak terlalu merasa berhutang budi padanya.
" Hmm, jadi intinya kamu Sudah lelah dengan semuaa hubungan omong kosong ini? "
" Iya, dan aku juga memutuskan untuk pindah ke kota saja dan mencari bahagia aku sendiri, Asma. Seperti kamu, kamu bisa menjadi diri sendiri dan menemukan bahagiamu tanpa menjadi beban orang tuaku."
" ok, aku mendukungmu. " sahutku senang. Dasar sahabat Asma,...
__ADS_1