
Aku terduduk lemas sesaat setelah membaca pesan dari Syafrie. Astagfirullah...apa yang telah terjadi dengan kamu Asma..... ?
" Bagaimana sudah keadaan Asma? " kembali aku mengetikan pesan untuk Syafrie.
" Masih sama, dia masih belum sadarkan diri.? " balas Syafrie.
" Terus, bagaimana dengan Afika? "
" Aku titip sama orang - orang di rumah. Aku rasa pasti Fika menangis mencari - cari ibunya. "
" Apakah kamu tidak membawa Afika dan Fadil ke Samarinda? "
" Tidak, mereka aku titipkan di rumah saja. Banyak yang mengurus di sana."
" Oke, secepatnya Aku akan menengok Asma. Aku berharap semoga Asma bisa sadar secepatnya. "
" Amien... " balas Syafrie.
Aku bergegas menyiapkan beberapa helai pakaian dan juga perlengkapan lainnya lalu buru - buru menyambar motorku dan bergegas menyusul Syafrie ke rumah sakit Wahab Syahrani Samarinda. Mumpung hari masih siang, aku pikir aku masih bisa sempat tiba di Samarinda sebelum menjelang malam.
Dugaanku ternyata tidak meleset. Aku tiba di Samarinda tepat pukul enam sore. Bergegas aku menuju ke tempat di mana Asma sedang dirawat.
Aku melihat Syafrie yang duduk terpekur di kursi ruang tunggudi depan kamar operasi. Tampak juga Kak Mansyah dan juga mamanya Asma.
Aku menghampiri mamanya Asma dan menyentuh bahunya. Beliau sedikit terlonjak saat mengetahui kedatanganku. Dia langsung memelukku dan menumpahkan tangisnya di dadaku. "Asma, Niah..... kasian sekali nasibnya anakku, Niah. Baru saja sebentar merasa bahagia, sudah ada lagi cobaannya. " ratapnya. Kembali perempuan tua ini menumpahkan air matanya untuk sang putri untuk yang kedua kalinya. Dulu dia melakukannya ketika percobaan bunuh diri yang dilakukan Asma hingga berakhir dengan kehilangan suaminya dan Asma yang terpaksa melahirkan dan kehilangan salah seorang bayinya.
" Sabar, Ma. Semua cobaan itu dari Allah untuk menguji derajat kita. Jika kita berhasil melewati semua ini maka sudah pasti Allah akan memberi kita derajat kemuliaan yang lebih tinggi dari sebelumnya." ucapku bijak sambil mengelus bahu mama Asma. Perempuan tua itu mengangguk sambil mengusap air matanya dengan ujung jilbabnya yang sudah terlihat basah karena Aku yakin dari tadi bahwa wanita tua itu puas menangis.
Aku melirik ke arah Syafrie. Pria yang berstatus suami sahabatku itu terlihat melamun. Pandangan matanya lurus ke depan dan terlihat kosong. Terlihat tangannya bergetar dan mulutnya komat kamit entah mengucap sesuatu atau berzikir. Aku menduga pria itu pastinya sedang berzikir saat ini. Di sebelahnya duduk Kak Mansyah yang wajahnya terlihat sangat kusut.
" Bagaimana dengan Asma? Apakah sudah ada kabar selanjutnya? " aku bertanya pada Syafrie untuk menyadarkan pria itu dari lamunannya.
" Entahlah... dokter sedang menangani Asma, tapi kata dokter.... "
Kreeitkkk..... pintu ruang operasi di dorong dari dalam, di susul keluarnya seorang pria yang berpakaian baju operasi dan bertopi serta memakai masker hijau.
Bergegas Syafrie beranjak mendatangi sang dokter . Demikian juga halnya denganku dan juga seluruh keluarganya Asma.
" Dok, bagaimana kabar istri saya, dok? " tanya Syafrie.
Dokter tersebut menatap ke arah Syafrie sambil menghela nafas panjang.
" Maaf, kalau boleh tahu, Bapak ini siapanya pasien saya ?"
__ADS_1
"Saya suaminya, Pak. " jawab Syafrie cepat.
" Begini, ya Pak. Istri bapak sampai saat ini kondisinya masih kritis. Terjadi pendarahan di bagian perut karena luka mungkin akibat benturan yang sangat keras. Ada kemungkinan terjadi benturan yang sangat keras di bagian dada hingga mengakibatkan ada tulang rusuk yang patah dan merobek paru-parunya. Kemudian patah tulang kaki sebelah kanan dan lengan kiri bagian atas. Akibat dari kebocoran paru-paru dan luka pada bagian perut itulah yang memyebabkan kondisi istri bapak menjadi kritis saat ini. Untuk itu saat ini kami sedang melakukan prosedur operasi darurat untuk penanganan paru-paru dan luka di perut istri bapak, setelah itu baru kami akan melakukan penanganan selanjutnya pada kaki dan tangan. Untuk keluarga, kami mohon banyak - banyaklah berdo'a, supaya operasi ibu Asma dapat berjalan lancar dan selamat. Ok, Bapak, ibu, saya mohon diri." Jelas dokter panjang lebar menerangkan kondisi Asma saat ini.
Syafrie hanya mengangguk pasrah ketika dokter itu kemudian berlalu ati hadapan kami. Pria itu seperti tak bisa bernafas dengan benar saat dokter menjelaskan kondisi Asma tadi. Aku yakin sekali, jika saat ini Syafrie begitu terpukul ketika mengetahui bahwa nyawa Asma saat ini tengah berada di ujung lorong kematian.
Aku juga tak kalah kagetnya sambil mendekap mulut menahan isak mendengar kondisi sahabatku itu. Ya Allah, kasihan sekali nasibnya. Aku berdoa dalam hati semoga sahabatku iyi masih diberi umur panjang dan keselamatan. Miris sekali membayangkan nasib anak-anaknya kelak terutama Fadil jika harus kembali kehilangan ibunya.
Sementara mamanya Asma semakin terisak mendengar semua penjelasan dokter tadi. Kami berdua saling berpelukan melepas kesedihan. Sementara Syafrie, pria itu semakin pucat dan terlihat kehilangan semangat hidup. Baru kali ini aku melihat Syafrie yang demikian. Selama ini aku melihat dia sebagai pria yang berpenampilan tenang dan penuh kharisma. Tapi kini semua berbanding seratus delapan puluh derajat.
Kulihat Kak Mansyah memeluk Syafrie dan berusaha memberi dukungan untuk menguatkan pria itu.
" Aku yang salah, Syah... Aku yang telah membuatnya jadi begini." ratap Syafrie di bahu Kak Mansyah. " Andai saja aku bisa mengerti apa yang dia inginkan, tak mungkin dia pergi dari rumah dalam keadaan marah. Akhirnya jadi begini, hik..... hik... hik... "
" Sudahlah, Syaf.... ini semua bukan salahmu. Semua sudah takdir Allah. Kamu sudah tahu bagaimana watak Asma. Jadi jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. " hibur Kak Mansyah.
Astaga Syafrie menangis. Pria itu menangisi istrinya dan menyalahkan semua yang terjadi pada Asma adalah karena dia. Aku menjadi heran. Apa yang telah terjadi? Mengapa Syafrie menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Sahabatku itu.
...----...
Pukul sepuluh malam operasi penanganan paru-paru dan luka dalam di perut Asma akhirnya selesai. Lampu di ruang operasi yang tadinya menyala kini sudah padam. Terlihat beberapa orang keluar dari ruang operasi.
Bergegas Syafrie menghampiri dokter yang tadi berbicara dengan kami.
" Bagaimana operasi istri saya, dok? " Ayah Fadil itu bertanya dengan tidak sabar.
Sejam kemudian, Asma terlihat digiring keluar dari ruang operasi.
Semua keluarga bergegas menhampiri sahabatku itu yang masih terrgolek tak berdaya dan tak sadarkan diri.
" Asma.... " aku memanggil sahabatku itu.
" Asma, bangun nak. Ini ada Niah datang. Kami semua ada di sini, Asma. " isak mama Asma.
" Maaf ya, bapak - bapak dan ibu - ibu semua, pasien akan segera di pindahkan ke ruang ICU. " kata perawat mengingatkan kami semua. Kemudian berlalu sambil membawa Asma ke ruang ICU. Sementara itu Asma masih belum juga sadarkan diri.
Dua hari sudah paska operasi namun belum juga ada tanda - tanda yang menunjukkan jika Asma akan segera bangun dari pingsan. Kami juga masih setia menunggu Asma yang masih di rawat di ruang ICU.
Hari ketiga, dokter kembali melakukan operasi untuk Asma. Kali ini dokter mengoperasi kaki dan tangan Asma. Operasi kali berlangsung selama tiga jam. Setelah selesai operasi, kali ini Asma dipindahkan di ruang perawatan biasa. Syafrie meminta ruang perawatan kelas satu untuk Asma untuk memudahkan dalam menjaga pasien.
Sudah seminggu Asma tak kunjung sadarkan diri. Hari ini aku berpamitan pada Syafrie dan juga mamanya Asma untuk pulang kembali ke Desa Suka Rahmat karena masa izinku sudah habis dan besok aku sudah harus kembali bekerja. Sebenarnya aku masih ingin di sini untuk menemani Asma. Tapi karena pekerjaan dan tuntutan profesi, maka terpaksa aku harus kembali pulang ke desa.
Aku memang sudah minta izin kepada Bapak Lurah di desaku selaku pimpinan dengan alasan menjaga keluargaku yang sedang sakit. Dan aku diberi izin oleh beliau selama seminggu dan hari ini adalah hari terakhir dari masa izinku.
__ADS_1
Sore hari pukul enam aku tiba di jalanan masuk rumah kontrakanku. Dari jauh aku melihat seseorang sedang berdiri di depan pintu rumah kontrakanku. Aku terlambat menyadari jika yang berdiri di sana adalah Jubair. Saat aku ingin berputar kembali, pria ' banci' itu sudah terlebih dahulu melihatku.
" Saniah, berhenti..... " Jubair berteriak memanggil namaku. Aku pura-pura tak mendengar dan terus melajukan motorku. Terlihat Pria itu bergegas masuk ke dalam mobil dan mengejarku.
Aku terus melajukan motorku bagaikan di kejar setan. ( Iya, setannya Jubair). Sampai akhirnya mobil Jubair berhasil menyusulku. Dia menghadang laju motorku tepat di depan jalan. Aku terpaksa berhenti dengan perasaan marah. Jubair turun dari mobil dan berjalan menghampiriku.
" Turun dulu, dek! " titahnya.
Aku bergeming tak juga mau bergerak dari motorku.
Jubair menghela nafas panjang lalu berkata.
" Bapakmu sedang sakit, dek. Apa kamu tak mau menengoknya? " ucap pria itu lirih. Aku sebenarnya cukup terkejut dan panik mendengar bapak sakit. Tapi aku sengaja memasang wajah datar tanpa ekspresi di hadapan pria itu.
Namun jauh di lubuk hatiku, aku sangat sedih. Bagaimanapun juga dia adalah bapakku, dan aku sebagai anak tak mungkin membuang begitu saja bapak dari kehidupanku, walaupun dia telah menyakiti aku sedemikian rupa.
" Dek.. " Jubair menyentuh tanganku yang masih memegang stang kemudi motor. Aku sontak tersadar dari lamunanku.
" Apa? " ketusku sambil menepis tangannya.
" Ikut aku pulang, kita jenguk ayahmu bersama-sama. "
" Tidak, terima kasih. Nanti saja, aku sedang lelah. "
" Tapi, dek. Bapakmu sudah menanyakan keberadaan kamu sejak kemarin. Aku harus bilang apa..? "
" Bilang saja Saniah sudah mati...! " jawabku ketus.
" Dek, jaga bicaramu. Ucapan itu doa." sentak Jubair mendengar ucapanku.
" Biar saja. Aku lebih baik mati dari pada hidup seperti ini. " kataku sambil memutar kembali motorku meninggalkan pria itu yang masih termenung menatap kepergianku menuju ke rumah kontrakanku.
POV Jubair....
" Dek... dek. Bukan seperti ini akhir yang aku mau....! " aku bergumam sedih sambil memandangi punggung wanita yang sudah menjadi istriku selama sembilan tahun ini.
Sebentar lagi wanita itu akan menjadi mantan istriku, karena dua hari yang lalu aku menerima surat panggilan dari pengadilan agama. Rupanya istriku itu sudah melayangkan gugatan perceraian kami ke pengadilan agama setempat.
Aku menggeleng - gelengkan kepala dan kemudian berjalan kembali menuju ke mobilnya. Jubair tidak ingin memaksa Saniah saat ini karena dia tahu Saniah mungkin memang benar sedang lelah.
Beberapa hari yang lalu, dia mendapatkan informasi dari Bahtiar yang menjabat sebagai lurah di desanya jika Saniah mohon izin untuk menengok saudara yang sakit.
Awalnya dia heran karena setahunya tak ada saudara Saniah yang sakit. Namun saat melihat status Syafrie di Whatsapp pria itu, maka dia jadi mengerti siapa untuk dimaksud Saniah dengan saudara.
__ADS_1
Memang aku dan Syafrie sempat bertukar nomor Whatsapp saat peristiwa Asma yang menghajar Meli di pasar. Kemudian pria itu datang dan mengajak berdamai.
" Maafkan aku, Dek. Aku memang suami yang tak berguna... "