
Suara azan subuh yang terdengar melalui pengeras suara dari mushola yang letaknya agak jauh dari rumahku membuat aku terjaga. Aku segera bangkit dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, karena waktu solat subuh sebentar lagi tiba
Saat mau ke kamar mandi, aku berpapasan dengan Mas Haris. Rupanya pria itu berniat untuk mengambil wudhu juga.
" Dek, mau sholat subuh, ya? " tanya Mas Haris yang kubalas dengan anggukan kepala.
" Iya, Mas. Mas duluan. Adek belakang aja. " ujarku sambil mempersilahkan kepada atasan itu untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu.
Selesai Mas Haris berwudu, barulah kemudian aku juga melakukan hal yang sama.
" Mau berjamaah, dek? "
Aku terperanjat mendengar tawaran Mas Haris. Pipiku mendadak bersemu merah. Untung saja Mas Haris tak melihat rona merah di wajahku.
" Boleh, Mas. Kita sholat berjamaah di ruang tengah saja. Sebentar, adek ambil mukena dulu. "
Aku bergegas mengambil sejadah dan mukena, lalu kembali lagi ke ruang tengah di mana Mas Haris sudah menungguku. Kami pun lantas sholat subuh berjamaah di ruang tengah.
Selesai sholat subuh, kami masih menyempatkan diri berdoa bersama.
Aku mengamini setiap untaian doa yang terucap dari bibir pria yang sebentar lagi akan menjadi imamku itu.
" Niah.... " suara mamak membuat kami serentak menoleh bersama. Mamak berdiri terpaku menatap ke arah kami.
" Iya, Mak. Ada apa...? "
" Jika sudah selesai sholatnya, ke dapur, yah. "
Aku mengangguk lantas membereskan peralatan sholatku. Kulihat Mas Haris juga beranjak berdiri dan melangkah menuju ke ruang tamu.
Aku membantu mamak di dapur untuk menyiapkan sarapan.
Kedua adikku uga sudah bangun dan segera mengambil wudu dan melaksanakan sholat berjamaah bersama.
Pukul enam, sarapan sudah siap. Aku kemudian bergegas mandi karena tubuhku terasa sedikit gerah akibat aktivitas di dapur. Mamak kembali masuk ke dalam kamar untuk mengurusi Bapak.
Selesai mandi aku meraih gamis coklat susu motif bunga - bunga memadukannya dengan jilbab warna coklat senada. Baju ini adalah baju baru yang dibelikan oleh Mas Haris ketika aku dirawat kemarin. Mas Haris membelikannya untukku sebagai baju ganti karena aku tak membawa baju ganti saat di rumah sakit.
Aku mematut diri di depan cermin. Cantik.... baju yang kupakai seolah menyatu dengan warna kulitku. Auraku langsung terpancar keluar.
Aku memoleskan lipstik berwarna oranye di bibir tipisku. Sempurna....
Selesai mematut diri, aku memutuskan pergi ke dapur untuk sarapan bersama dengan yang lainnya yang sudah siap di meja makan lebih dahulu.
" Masya Allah, kak Niah cantik sekali..!" seru Alif, adik bungsuku yang pertama kali melihat kehadiranku.
Semua orang menoleh ke arahku. Kutangkap dua pasang mata yang terpana menatapku. Mata Mas Haris dan mata.....Jubair.
" Niah, kemari, Nak. Ayo sini, kita sarapan bersama.! " ajak Bapak.
Aku menatap ke arah meja makan.Tanganku terkepal gemas ketika menatap pria masa laluku itu ternyata masih berada di sini. Pasti semalam dia menginap di rumah ini.
Aku menghempas bokongku dengan kesal tepat di sebelah Jubair yang duduk berhadapan dengan Mas Haris, Aku terpaksa duduk di sana, karena hanya itu kursi yang tersisa.
" Sarapan, Dek. Pasti nasi goreng ini buatan adek. Karena rasanya enak. " rayu Mas Haris sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku melempar senyum yang paling manis untuk priaku yang tampan itu.
" Makasih Mas, atas pujiannya." Aku kemudian mengambil beberapa sendok nasi goreng berikut telur dadar yang tersedia di atas meja.
Baru saja aku menyuap beberapa sendok nasi goreng ke mulutku, terdengar pintu rumah kami di ketuk oleh seseorang.
__ADS_1
"Siapa sih, yang tak tahu adab bertamu pagi - pagi begini. Nggak sopan sekali." omelku kesal.
Aku hendak berdiri untuk membukakan pintu.
" Biar Alif saja yang buka, Kak. Alif juga sudah selesai. Sekalian Alif mau berangkat ke sekolah. " ujar adik bungsuku yang rupanya sudah selesai sarapan. Cowok pelajar kelas XII itu bergerak bangkit lalu meraih tangan Bapak dan Mamak dan mencium tangan keduanya dengan takjim.
" Alif pamit berangkat sekolah dulu Pak, Mak. " pamitnya, kemudian berjalan menuju keluar untuk membukakan pintu.
Kami kembali melanjutkan sarapan. Sesekali aku dan Mas Haris terlibat obrolan dengan mamak dan Bapak. Mas Haris terlihat berupaya keras untuk mendekatkan diri dengan kedua orang tuaku. Tiba-tiba dari arah depan terdengar seruan seseorang memanggil nama Jubair. Sejenak pria itu tertegun.
" Ayah...... " suara bocah perempuan menyapa ramai sambil berlari menghambur mendekati Jubair.
" Anisa.... " seru Jubair. Lelaki itu lantas berdiri lalu kemudian berjongkok untuk menyamakan tubuh mereka lantas memeluk bocah perempuan itu.
" Anisa kemari sama siapa, Nak? " tanya Jubair. Mamak dan Bapak terlihat saling pandang. Entah, mungkin karena merasa heran saja mengapa anak Jubair menyusul pria itu kemari.
Aku dan Mas Haris sempat menoleh sekilas ke arah mereka, memperhatikan interkasi keduanya.
" Sama mama dan Kak Adel." jawab bocah itu dengan kepolosannya.
Tak lama berselang, masuklah seorang perempuan dengan rambut panjang sebahu yang dicat berwarna pirang kemerahan bersama seorang bocah perempuan yang kira - kira berumur sepuluh tahun.
" Assalamu'alaikum, Bapak, Mamak, bagaimana kabarnya?" sapanya seraya menyalami Bapak dan Mamak.
" Waalaikum salam. Alhamdulillah, kami baik - baik saja, Nak. Seperti yang kamu lihat..." jawab Bapak. " Ayo nak Meli, Anisa, Adel, mari sini, sarapan sama Bapak." ajak Bapak kepada wanita itu dan anaknya.
Wanita itu berjalan mendekati meja makan dan berdiri di dekat suaminya.
"Kak Bair, katanya kakak pergi ke kota. Kok ada di rumah mama Niah. Sudah beberapa hari kakak tidak pulang, anak - anak kang... "
Ucapannya terhenti saat matanya tanpa sengaja menangkap sosokku yang sedang duduk di sebelah Mas Haris.
" Kamu..... " desisnya tak percaya.
Aku menyeringai sinis ke arah wanita itu. Puas rasanya hatiku melihat wajah piasnya. Wajah yang tadinya berseri-seri itu kini tak ubahnya seperti mayat hidup. Pucat tak berdarah.
" Niah... ?" pekiknya kaget. " Kamu, sudah kembali?" Dia berpaling menatap suaminya yang kini sudah berdiri di belakangnya. Kini ada riak cemas dan juga cemburu yang sempat kutangkap di matanya yang di lapisi lensa berwarna abu-abu itu.
" Hai Meli, apa kabar? " sapaku padanya semanis madu, basa basi.
Kerongkongan Meli terasa tercekat. Dia yang awalnya ingin menjenguk mantan mertua suaminya yaitu Bapaknya Niah yang dikabarkan sedang sakit, justru berakhir dengan dia yang mendapatkan kejutan yang tak terduga dengan kehadiran Saniah yang merupakan mantan madunya yang pergi menghilang selama dua tahun ini.
" Ba ... Baik, ...Niah. Kapan kamu datang? " jawab Meli mencoba rileks membalas basa basiku walaupun terasa canggung.
" Baru tiba kemarin, aku ikut numpang mobil Kak Jubair." jawabku. Mas Haris kini menggeser duduknya ke sebelahku.
Deg.....
Dada Meli seakan tertusuk pisau yang tak kasat mata.
Seketika wajah Meli berubah kelam. kecemburuan yang tadi sempat membias di wajahnya kini menyala kembali. Cepat dia berpaling menatap sang suami.
" Kakak bertemu Niah dimana?" tanya Meli pada suaminya.
" Aku tak sengaja bertemu Niah ketika di pesta keluarga suaminya Mamak." jelas Jubair pada sang istri agar tak salah faham.
" Oh, begitu, yah.? Kamu terlihat kurusan, Niah. Apa kamu sakit? Pasti di kota kamu kerja keras seorang diri karena tak ada yang membiayai hidupmu lagi. Secara, kamu kan hidup sendiri." tanyanya lagi. Ada nada ejekan terdengar saat dia mengucapkan hal itu. Seketika aku merasa panas. Sialan nih orang. Dia meledekku secara terang-terangan.
" Iya, aku memang sempat sakit kemarin. Sempat dirawat di rumah sakit beberapa hari. Untung ada Kak Jubair yang merawat dan menemani aku di sana selama sakit dan menghubungi mamak di desa. Lalu mamak datang menjengukku dengan di antar Ardi. Mamak juga memintaku pulang. Yah....aku terpaksa pulang kemari karena mendengar Bapak sakit." ucapku membalas ucapannya. Mampus lo.... makiku dalam hati.
__ADS_1
Wajah Meli menegang. Mungkin dia tak menyangka bahwa suaminya masih sebegitu perhatian kepadaku.
" Oh.... begitu, yah. Jadi Kak Jubair ada di sana, menemanimu ketika kamu sakit? "
Aku mengangguk cepat seolah tanpa dosa. Biar saja. Aku berperan seolah - olah wanita lugu dan polos dengan pura - pura tak menyadari perubahan air muka Meli yang berubah kusut setelah mendengar ceritaku. Wajahnya sudah terlihat gusar. Ingin sekali rasanya dia menerjang dan mencakar - cakar wanita yang dulu merupakan madunya itu.
" Hmm,...gimana rasanya dijenguk dan dirawat oleh mantan su...."
Belum sempat Meli meneruskan ucapannya, Jubair sudah buru - buru menarik tangannya dan membawa Meli menuju ruang tamu. Dia tak ingin Meli membuat keributan di rumah Niah sepagi ini.
"Kamu itu apa - apaan sih, dek? Pertanyaan kamu nggak jelas banget" tanya Jubair kesal.
" Loh, kakak itu yang apa - apaan. Denger, ya Kak..! Kakak itu sudah bercerai dengan Niah. Kenapa pula kakak masih sebegitu peduli kepada Niah. Apa kakak tidak mikir, bagaimana perasaanku?
" Kakak kan sudah bilang, kalau kakak dan Niah bertemu tak sengaja."
" Bertemu tak sengaja? Terus bagaimana caranya kakak bisa tahu kalau si Niah itu sakit? " Meli bertanya dengan geram.
"Itu...itu karena ..... aku ...... akh ...." Jubair mengusap wajahnya kasar. Tak mungkin dia mengatakan pada Meli bahwa dia sengaja membuntuti Saniah untuk mengetahui di mana wanita itu tinggal, bisa - bisa yang dia terima adalah kemarahan Meli.
" Sudahlah....lebih baik sekarang kamu pulang saja. Lagi pula, apa tujuan kamu datang kemari?"
"Loh, aku mau menjenguk Bapak dan mamak, Kak. Karena kata Mamakmu Bapaknya Niah sedang sakit.Jadi aku memutuskan untuk menengok kemari. Lagi pula sudah lama aku tak datang ke rumah ini." sindirnya kepada Jubair.
" Bukankah biasanya kamu paling malas kalau kuajak kemari? " tanya Jubair berang. Dia mengusap wajahnya kasar karena gusar.
" Jadi ini alasan mengapa kakak tidak pulang beberapa hari ini? Demi wanita itu? Iya, Kak? Bukannya kalian sudah bercerai? Mengapa kakak masih peduli dan terus mendatangi wanita itu? Apa kakak masih mengharapkan wanita itu kembali?" sentak wanita itu sehingga membuat Jubair jadi salah tingkah dan gugup. Dia takut perkataan Meli di dengar oleh Bapaknya Niah.
" MELI, pelankan suaramu! Nanti Bapaknya Niah mendengar. Aku takut penyakitnya nanti kembali kambuh dan bermasalah." bentak Jubair dengan suara pelan. Sungguh dia kehabisan kata - kata untuk membuat istrinya itu diam.
" Mengapa aku harus diam? Aku malahan bersyukur kalau Bapaknya sampai mendengar semua ini. Biar dia tahu sekalian jika anaknya itu sudah menjadi janda. Sehingga kalian tak bisa lagi bersama. " ejeknya sambil melirik ke arah dapur.
"MELI!! " Kembali suara bentakan Jubair terdengar dari ruang tamu.
Memang jarak ruang tamu dan dapur tidaklah terlalu jauh. Sehingga suara bentakan Jubair cukup keras terdengar. Bapak dan Mamak segera menyusul ke ruang tamu. Aku pun diam - diam juga mengekor di belakang mamak.
" Jubair, sudah, sudah, Nak..! Jangan diteruskan lagi. Pagi - pagi sudah ribut, malu sama tetangga." kata mamak kepada menantu kesayangannya itu.
" Mamak benar, Nak Jubair. Sebaiknya kamu bawa pulang istrimu sekarang juga, Nak. Bapak takut dia akan semakin marah karena melihat kehadiran Niah di sini." kata Bapak
" Iya, kak. Sebaiknya kakak pulang dulu. Kasian sama Meli dan anak - anak. Mungkin mereka kangen sama kakak. Terima kasih karena sudah mau repot - repot membantu merawat Niah selama Niah sakit di kota." timpalku, sengaja berkata demikian agar wanita itu tahu apa yang sudah dilakukan suaminya kepadaku.
Wajah Meli semakin tak enak dipandang. Dalam hati aku tertawa geli. Rasakan pembalasanku, Jubair. Ini belum seberapa. Di benakku sudah tersusun rencana - rencana licik untuk membalas dendam kepada kedua manusia tak punya malu itu selama Aku di sini.
Di hati, aku bersorak puas, karena sudah dapat dipastikan sepulang dari sini, akan terjadi perang besar di rumah mereka.
Dengan gusar Jubair menyeret tangan Meli dan membawa wanita itu memasuki mobilnya. Kemudian dia kembali lagi sambil menggandeng kedua putrinya yang sejak tadi meringkuk ketakutan melihat pertengkaran ayah dan ibunya.
" Jubair pulang dulu, Pak, Mak. Nanti Jubair akan kembali lagi. " pamitnya kepada Bapak dan mamak. Kedua orang tuaku hanya mengangguk seraya memandangi mobil yang membawa keluarga menantunya itu dengan pandangan yang tak bisa ku mengerti.
Aku hanya menghela nafas panjang sepeninggal mereka. Kejadian tadi langsung membuat mood ku menjadi biru.
" Niah...!"
" Iya, Pak..!" Aku menoleh ke arah Bapak.
" Apa benar yang dikatakan Meli jika kamu dan Jubair sudah bercerai?
Deg........
__ADS_1
Jantungku seakan berhenti berdetak. Oh Tuhan........ bagaimana ini.
...---------------, '...