PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 27


__ADS_3

Aku menatap hamparan pohon kruing di sepanjang jalan yang kami lalui. Pikiranku mengembara jauh entah kemana. Alih - alih mengusir kebosanan yang mulai menghinggapi, aku memilih untuk mendengarkan lagu melalui ear phones yang ku pasang di telingaku.


Mataku terpejam menikmati lagu mendiang almarhum Nike Ardilla yang ku download melalui hapeku.


" Khemm... " Syafrie berdehem. Walaupun mataku terpejam, namun aku masih bisa melirik ke arahnya. Dari tadi, aku tahu dia diam - diam memperhatikan diriku sambil mengemudi.


" Apa..? " bentakku yang merasa tak nyaman karena terus di perhatian.


" Hmm, tak ada. Hanya saja, aku merasa sekarang kamu lebih pendiam dari dahulu. Hebat sekali... kota ternyata mampu menyerap habis sisi cerewetmu." katanya sambil melirikku sekilas lalu kembali matanya fokus ke arah jalanan.


Tubuhku tersentak saat kendaraan kami melewati lubang yang menganga di tengah jalan. Aku meringis memegangi perutku yang sakit karena hentakan tadi. " Bisa bawa mobil, nggak sih?" sewaktu dengan mata melotot ke arah Syafrie.


Dia melirik ke arahku. " Kamu itu kalau lagi marah terlihat cantik sekali.! Tapi aku heran.. .. kenapa sekarang kamu galak, sih? " Dia menoleh ke arahku, mencoba menahan senyum.


Pria satu ini rupanya mulai memancing bara api di dalam dadaku yang baru saja setengah meredup.


Aku heran, di depan keluargaku, sikapnya sangat simpatik dan pendiam. Tapi semua itu berubah menjadi sangat menyebalkan jika kami hanya berduaan saja seperti saat ini.


Aku memilih diam tak berminat untuk menanggapi pria menyebalkan di sampingku. Hati dan pikiranku masih meraba-raba untuk rasa damai yang Fadil berikan lewat pelukannya beberapa saat yang lalu. Hatiku ingin kembali merasakannya.


" Kamu, oke? " Syafrie bertanya sambil tangannya mengelus pucuk kepalaku yang ditutupi jilbab warna coklat kulit kacang, yang sewarna dengan gamis yang kupakai.


" Kamu kelihatan tidak bersemangat."


Aku menarik diri dan mencoba menghindar. Sejak kapan aku bersemangat jika berada di dekatnya.


" Lepaskan..! "


" Apanya, tanganku? " dia bertanya pura-pura tak faham akan maksud ucapanku.


" Lepaskan, atau kugigit! " sentakku dengan mata melotot.


" Coba, gigit. " dia malah menantang dengan menyodorkan sebelah tangannya yang tidak memegang kemudi padaku.


Aku berdoa pada Tuhan, tolong terbang kan saja tubuhku dengan angin ****** beliung dan jatuhkan di mana saja, asalkan tidak dekat - dekat dengan si bedebah Syafrie.


" Bisa tidak, kamu sehari saja tidak membuat aku marah. Aku cape, tau. Jangan membuat aku semakin membencimu." kataku tanpa menoleh padanya.


Dia diam saja. Tak menjawab perkataan ku. Namun tarikan nafasnya yang dalam sudah menjawab pertanyaanku. Suasana kini menjadi hening. Aku kembali menutup mata.


Kendaraan yang kami gunakan sudah melewati gunung menangis. Dari kejauhan kulihat kilang minyak PT. Badak di Bontang. Hamparan perkebunan dan juga hijaunya hutan yang menutupi punggung gunung serta birunya laut di ujung cakrawala yang menutup bingkai pemandangan, terasa sangat indah di tangkapan netraku. Andai saja dulu kami berdua tak terikat oleh cerita cinta yang kelam.


Aku mendesah saat mengingat masa lalu. Kelam masa laluku bersama Syafrie seperti bara api yang memakan kayu kering. Namun, mengapa cerita kelam masa lalu itu sepertinya hanya aku saja yang masih betah merawatnya.


Lihat saja hidup Syafrie dan keluargaku. Syafrie disambut hangat oleh seluruh keluargaku betapapun besarnya dosa pria itu di masa lalu padaku. Bahkan putranya saja di akui oleh ibuku sebagai cucunya. Dia tumbuh sehat dan bahagia. Juga Syafrie masih bisa tersenyum dan tertawa. Sedangkan aku, aku masih bersahabat dengan pekatnya dendamku. Setia membalut lukaku diatas luka lama.


" Asma...! " lirihnya setelah kebungkaman yang lama di antara kami.


Aku hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus mendengarkan musik.

__ADS_1


" Bukan maksudku untuk mengurangi kepercayaanmu dulu. "


" Stop, aku haus..! " potongku. " Bisa tidak mampir di depan sana? aku mau beli air mineral di warung itu! " tunjukku pada warung yang terletak di depan kami. Aku memilih untuk menghentikan ocehannya dari pada dia mengorek kembali lukaku yang sedikit mengering.


" Asma, jangan mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku tahu kamu belum mau membahasnya. Tapi sampai kapan kamu menghindari topik ini? "


" Sampai mati pun, aku tak sudi membalasnya. " jawabku seraya melempar pandangan jauh ke depan.


Dia menghela nafas panjang mendapati aku kembali mengacuhkan dirinya.


" Asma, apa kamu sudah memiliki kekasih? " suamiku itu bertanya dengan ragu.


" Tentu saja aku punya." jawabku cepat. Terbakar.. terbakarlah kamu Syafrie. Siapa suruh bertanya seperti itu.


" Tapi Asma, aku setia padamu. Aku tidak membagi rasa pada yang lain. "


Aku tertawa mendengar ucapannya. "Oh, yah? " ejekku.


" Iya. "


Baiklah.... aku suka lelucon ini hingga aku tertawa terbahak-bahak. Ipar kak Mansyah itu ikut juga tertawa melihat tingkahku.


" Bagaimana kekasihmu itu, bisa kamu ceritakan sedikit mengenai dirinya? Apa kamu mencintainya? "


" Tentu saja, aku sangat mencintainya."


" tentu saja, bahkan lebih besar." jawabku mantap. Mampuslah kamu.. Syafrie.


" Tapi kamu sekarang istriku." katanya menegaskan.


" Kata siapa? Katamu atau kata keluargaku? "


" Asma, kita sudah mengucap ijab qobul, ingat? "


" Itu kan kamu, bukan aku? " jawabku kesal.


" Asma..!"


" Apaan, sih? Bisa diam tidak? Dengar, ya. Aku sudah muak dengan pengkhianat sepertimu dan juga anak harammu dengan wanita itu." Nah..... kan. Jangan salahkan aku atas lidah tajamku. Salahkan Syafrie yang memancing emosiku.


Hatiku saat ini sedang diliputi rasa sedih, marah dan juga hampa setelah Fadil melepas pelukannya.


Aku sedih karena mengingat putraku yang mungkin seumuran putra Syafrie dan Marina itu andai saja ia masih hidup.


Dan rasa hampa, setelah Mas Haris tidak juga memberi kabar padaku. Aku merasa seperti sendirian hidup di dunia ini. Tak ada siapa - siapa.


Ban mobil beradu dengan aspal hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga menandakan si pengemudi menginjak pedal rem.


" Jaga ucapanmu, Asma! " tajam mata Syafrie menatapku penuh amarah.

__ADS_1


Tubuhku sempat terhuyung ke depan lantaran tak siap dengan keadaan yang tiba-tiba berhenti. Keningku terantuk dashboard. " Kamu mau membunuh kita!" aku juga tersulut amarah.


" Mulutmu itu, bisa tidak ditahan untuk tidak menghina Fadilku? "


" Aku tidak menghinanya! "


" Kamu merendahkannya! "


" Aku tidak merendahkannya! jawabku lantang menatap wajahnya.


" KAMU MENGHINANYA, KAMU MERENDAHKANNYA. KAMU MENGHINA DAN MERENDAHKAN PUTRAKU, ASMA! " Syafrie berteriak keras sambil tangannya meninju dashboard mobil berkali-kali dengan keras. Aku menjadi ketakutan melihat Syafrie yang bertingkah seperti itu.


Tubuhku menjadi lemas tak bertenaga. Ingin rasanya aku keluar dari mobil, tapi pintunya terkunci. Jadi aku memilih memeluk tas punggung kecil milikku untuk melindungi diri dari Syafrie. Siapa tahu dia khilaf.


" Beruntung sekali nasibnya Fajri, tak pernah dia menerima caci maki darimu."


" Apa kamu mau bilang bahwa kamu bersyukur anakku tak hidup? Itu maksudnya? " Walaupun takut, ternyata mulut tajamku tak juga mau membisu.


" Jangan membawa - bawa anakku! " ucapku geram.


" Fadil juga anakmu, Asma! "


" Bukan, dia bukan anakku. Dia anakmu dan anak wanita itu. Jangan pernah memaksaku untuk mengakui anak itu sebagai anakku, karena aku tak akan sudi! " desisku marah.


"Ternyata, walaupun banyak kemalangan yang di dapat Fadil, dia masih beruntung bundanya Marina tak pernah menghinanya! "


Hilang sudah takutku. Kini yang ada, hanyalah emosi yang kembali menghantam hatiku. Tanganku terkepal menahan amarah.


" Kalau kamu segitu cintanya pada wanita itu dan anaknya mengapa kamu masih mengemis untuk kembali menikah denganku?"


Napasku naik turun menahan amarah.


" Apa karena rasa bersalah? " Aku menoleh padanya. " Jika karena itu, maka pergilah. Aku sudah memaafkanmu. Bersama, kita hanya akan saling menyakiti."


Syafrie menoleh dan memandangku dengan kilat tatapan yang aneh. "Sudah?" tanyanya.


Aku membuang pandanganku keluar, muak dengan semuanya.


"Kamu pikir, hanya kamu yang sakit selama ini hah? Iya, Asma? Ada kegetiran dalam nada bicaranya. " Picik... kamu Asma. Kamu pergi meninggalkan aku selama ini tanpa kabar. Padahal kamu sangat tahu, betapa dalamnya rasaku padamu, betapa cintanya, sayangnya aku padamu. Caramu membalasku, sungguh luar biasa sakit. Jujur kuakui, kamu berhasil menghukumku.. aku ucapkan selamat, Asma. Kamu berhasil.... selamat! " ucapnya lirih, nyaris seperti rintihan dengan wajah yang menelungkup di atas setir mobil.


Melihat sikap Syafrie seperti itu kembali rasa takut menghantuiku. Siapa tahu Syafrie kelewat jengkel dengan sikapku yang mungkin saja sudah keterlaluan. Mana tahu dia membunuhku dengan memcekikku dan membuang mayatku di hutan ini. Aku bergidik sendiri membayangkan hal itu.


" Tidak usah takut, aku tak akan menyakitimu, walaupun kau sangat menjengkelkan." ucapnya seperti mengetahui isi kepalaku.


" Tunggu sebentar, aku belikan kamu minum." katanya kemudian membuka pintu mobil dan beranjak turun menuju warung yang berada tak jauh di depan kami. " Dingin? " tanyanya kembali.


Aku mengangguk. Sedikit terkejut menatapnya. "Apa Syafrie sudah tak marah? "


Aku meneguk sampai tandas tak bersisa minuman dingin yang disodorkan Syafrie padaku. Aku memang merasa haus sekali. Rasanya energiku terkuras habis setelah perdebatan kami di mobil tadi.

__ADS_1


__ADS_2