PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 75


__ADS_3

" Maafkan aku, Mas.. " Hanya itu kata yang mampu aku ucapkan. Aku hanya bisa terisak sambil meratapi nasib yang seolah - olah mempermainkan hidupku. Mengapa....ini harus terjadi padaku?... Andai saja aku bisa mengulang semua. Aku lebih memilih untuk tidak usah mengenal kedua orang yang sudah membuat aku harus berurai air mata dan juga memakan kue nestapa. Seandainya saja...?


Mulutku terkunci rapat. Tubuhku gemetar oleh isakku. Basah tanganku oleh air mata yang jatuh bagai titik - titik air hujan. Tak tahu aku harus bagaimana. Apakah aku mesti bahagia atau berduka. Namun perasaan yang ada di hatiku campur aduk antara perasaan lara dan juga duka daripada rasa gembira, menyadari bahwa ternyata bukan cuma aku yang menderita dengan perpisahan diantara kami, tapi Mas Haris juga.


Demikian juga halnya dengan pria yang sedang duduk di hadapanku ini. Ada riak yang tertahan di sudut matanya. Andai saja dia mengerjapkan matanya saat ini, maka kutahu, pasti butiran - butiran kristal bening itu akan jatuh ke bawah.


" Andai saja kamu tidak mengkhianati aku, Asma." Pria itu mendongakkan kepalanya ke atas. Setengah mati dia mencoba menahan sebak yang terasa menyesakkan dadanya.


" Andai saja kamu tidak mengandung anak Syafrie, sudah pasti kita sudah bahagia saat ini. Masa depan kita sudah tentu tidak akan seperti ini jadinya. " Kini pria itu sudah terisak. Aku tergugu dan juga ikut terisak sedih...


" Tahukah kamu, aku sudah berusaha mati - matian untuk belajar mencintai Isna. Namun, semakin aku berusaha, semakin bayanganmu menguasaiku. Hingga akhirnya wanita itu hanya bisa menerima kenyataan pahit saat aku membatalkan pernyataan ijab qabul yang seharusnya aku ucapkan di depan penghulu. Pernikahan kami pun batal. Keluargaku menanggung malu kepada keluarga Isna. Dan.. aku, sampai detik ini aku masih tak bisa lepas oleh bayangan dirimu. "


Tangisku makin pilu. Aku semakin di dera rasa bersalah.


.


" Pilihan yang kamu ambil ternyata sangat menyakiti kita. Oh.. salah. Hanya aku yang sakit. Karena kulihat kamu sudah bahagia sekarang. Kamu kejam, Asma. Kamu tega mengkhianati aku. "


" Mas, cukup... "


" Diamlah, Asma. Aku belum selesai. Kamu mungkin bertanya, cinta seperti apa yang aku miliki? " Mas Haris menatapku sendu dengan pandangan tajam." Apa kamu tahu, bagaimana rasanya hatiku saat dokter memberitahu bahwa kamu sedang hamil? Aku Hancur, Asma. Hancur sehancur-hancurnya. Bagaimana bisa wanita yang begitu sangat aku jaga selama ini, yang bahkan menyentuh tangannya saja aku tak berani, bisa hamil? " Pria yang beberapa waktu lalu masih berstatus pacar aku itu kini semakin terguncang.

__ADS_1


" Mas, cukup. Aku mohon... " Isakku semakin pilu. Ibunya Fadil sedikit lagi akan goyah.


" Diamlah... dewiku. Aku belum selesai bicara." Kata Mas Haris kemudian. Tangannya masih terkepal di atas meja. Terlihat sekali bahwa dia sedang berusaha menahan segala kesedihannya.


" Saat itu, aku tahu jika Syafrie adalah mantan suamimu. Fadil yang memberitahukan padaku. Aku memang terkejut saat itu. Tapi tak masalah, karena aku mencintaimu, aku bisa menerima semua yang ada padamu, termasuk Fadil. Tapi Asma, kamu tega menikah diam - diam dengan pria lain di belakangku. Mengapa kamu sekejam itu kepadaku...? " Mas Haris menggeleng - gelengkan kepala.


Aku sudah tak sanggup lagi


Istrinya Syafrie ini harus pergi dari sini. Aku benar-benar sudah tak sanggup lagi. Pria di hadapanku ini, kedatangannya sudah memutar balikkan hati dan jiwa seorang Asma. Jika diteruskan maka, aku takut hatiku akan luluh dan menerima cinta pria itu kembali. Tentunya hal ini akan mengakibatkan banyak pihak yang hatinya tersakiti.


Aku menatap pria itu dengan bersimbah air mata. Aku akui, aku telah goyah. Aku kembali terhempas oleh getaran cintaku kepada pria yang dulu namanya selalu kusebut dalam do'a - do'aku.


Hatiku bagaikan diremas - remas saat mendengar ungkapan perasaannya.


" Tapi, Mas. Semua itu sudah berlalu. Aku tak bermaksud datang kepadamu untuk sebuah masa lalu. " tegasku.


Untung saja, aku masih mengingat semua pesan - pesan yang tadi Kak Lela sampaikan kepadaku. Aku juga mengingat wajah lucu dan menggemaskan Fika dan juga wajah anakku yang tampan Fadil. Dan tentu saja kebaikan Syafrie yang sampai saat ini belum bisa kubalas.


Walaupun aku belum sepenuhnya bisa memaafkan pria itu, tetapi aku juga tak ingin berpisah lagi dengannya. Karena pikiran - pikiran itulah, yang akhirnya bisa membuatku masih berpikiran waras untuk tidak lari kembali kedalam pelukan Mas Haris.


" Hahaha..... kamu tahu, Asma. Itulah bedanya kamu dan aku. Tujuh bulan waktu berlalu, tapi kamu dengan mudah bisa melupakan aku. Sedangkan aku? Sampai detik ini, di sini...... " Mas Haris menepuk dadanya. " Masih ada kamu yang bertahan di sana. " sorot mata Mas Haris menatapku tajam. Tatapannya seperti bukan lagi tatapan Mas Haris yang kukenal. Kali ini ada bara yang terpendam di sana.

__ADS_1


Mendengar pengakuan Mas Haris, hatiku semakin sakit. Mengapa baru sekarang dia mengatakan hal itu. Kemana saja dirinya waktu itu. Mengapa dulu disaat aku tengah terpuruk dan mengemis - ngemis cinta untuk dirinya dan memohon kepadanya untuk tidak ditinggalkan, dia justru menolakku.


Bahkan ribuan chat dariku dia anggap hanya angin lalu. Ratusan telpon dariku tak pernah dia angkat. Hanya Syafrie yang selalu hadir untukku, meski sudah berulang kali aku menolak pria yang bergelar suamiku itu.


Tidak bisa... aku tak boleh lemah. Aku harus kuat. Karena itulah, aku harus secepatnya angkat kaki dari tempat ini. Jika tidak... Aku sudah bisa menebak bahwa sebentar lagi, istri Syafrie ini akan menyerah dan bertekuk lutut.


Mas Haris hanya tinggal mengucapkan sepatah kata lagi dan aku pastikan aku akan kembali jatuh ke dalam pelukannya. Kembali memeluk dan menerima cinta pria itu yang sudah dengan susah payah aku bunuh.


Asmawati Basrie harus pergi dari tempat ini secepatnya jika masih ingin menyelamatkan beberapa hati. Dia tak bisa lagi untuk mundur ke belakang. Yang ada kini dihadapannya adalah masa depannya bersama suami dan anak-anaknya.


Aku berdiri dan berniat untuk melangkah keluar. Sebuah tangan yang kokoh menangkap lenganku dan memelukku dari belakang. Membisikkan sesuatu yang membuat lututku gemetar. Tungkaiku lemas tak bertenaga.


" Asma, mari kita kembali bersama. Aku akan menerima Fadil dan juga putrimu itu. Bersama kita akan membina rumah tangga yang kita impikan bersama.. "


Ya Tuhan... hamba mohon, kuatkan lah iman hamba mu ini.


" Tidak, Mas. Aku tidak bisa. Aku sudah memutuskan, bahwa aku akan menerima semua takdirku. Mas Haris hiduplah berbahagia setelah ini. Aku mohon, lupakanlah aku. Aku minta maaf atas semua kesakitan yang pernah aku berikan dulu. Aku hanya bisa berdoa, semoga Mas Haris mendapatkan wanita yang lebih baik dari diriku." Aku menyentak pelukan Mas Haris hingga tubuhku terlepas dari pelukannya. Aku melangkah keluar meninggalkan Mas Haris.


Sebelum aku melangkah jauh meniggalkan kafe, suara Mas Haris mampu membuat hati dan jantungku kembali berdarah - darah.


" Syafrie yang memintaku untuk menemuimu. "

__ADS_1


Dasar Syafrie sialan...!!!!


__ADS_2