PERAHU KARAM

PERAHU KARAM
Bab. 94


__ADS_3

Beruntung sebuah tangan kekar berhasil menangkap tubuhku, hingga Aku tak jadi jatuh ke lantai.


Aku terperanjat kaget ketika menyadari bahwa itu bukanlah tangan Mas Haris. Sontak aku menoleh.


"Kau.......... "


" Maaf, aku reflek melakukannya ketika melihat kamu seperti hendak jatuh tadi." Jubair berkata seolah tanpa beban setelah modusnya menolongku tadi.


" Lain kali tak usah menolongku. Aku bisa sendiri. " sahutku ketus dan langsung melangkah masuk ke kamar mandi.


Malas rasanya bila harus berhadapan dengan makhluk dari zaman prasejarah itu. Sambil menunggu kedatangan Mas Haris maka lebih baik aku membersihkan diri saja di kamar mandi.


Setelah cukup lama di dalam kamar mandi dengan modus membersihkan diri, aku memberanikan diri melangkah ke luar. Aku berharap Mas Haris sudah kembali sambil membawakan pesananku.


Aku menikmati sarapan bubur dan buah yang di bawakan oleh Mas Haris tanpa sedikitpun menoleh ke arah Jubair. Aku tahu pria itu terlihat beberapa kali mencuri pandang menatapku.


Hari sudah semakin siang. Jubair belum juga beranjak pergi dari kamarku. Celakanya lagi, Mas Haris sudah terlanjur percaya jika pria itu adalah abangku. Dia dengan tanpa curiga berusaha untuk mengakrabkan diri dengan pria zaman prasejarah itu.


Merasa bosan, akhirnya aku memilih untuk berbaring dan beristirahat. Aku melirik mencari arah keberadaan Mas Haris.


Kini pria yang kini sudah resmi menjadi pacar dan calon imamku itu malah mengajak pria itu mengobrol dengan akrabnya. Temanya apalagi kalau bukan diriku. Dengan lancar Mas Haris menceritakan awal mula kedekatan kami. Perkenalan kami yang begitu singkat hingga hubungan kami yang saat ini sedang dalam tahap lanjutan. Mas Haris juga mengutarakan harapannya untuk bisa mempersunting diriku kelak.


Mata Jubair menyorot tajam ketika melihat binar di mata Mas Haris yang berbicara sambil sesekali menoleh ke arahku, menatapku penuh cinta dan damba.


Jujur saja, kedatangan Jubair sangat menggangu ketenanganku. Aku tak tahu apa maksud dan tujuan pria itu hadir kembali mengganguku.


Harusnya pertemuan kami kemarin yang tanpa sengaja di pesta itu tidak berlanjut pada pertemuan demi pertemuan lagi. Bukankah kami sudah tak ada hubungan lagi. Tapi mengapa dia bersikeras untuk menemui diriku. Malahan pake bohong mengenai statusnya pada Mas Haris.


Saat berbicara dengan Mas Haris dapat kulihat dengan jelas ekspresi Jubair yang terlihat sekali menahan amarah. Rahang pria itu mengeras dan ada kilatan aneh di matanya.


" Assalamu'alaikum..... "


Sebuah suara yang sudah sangat lama sekali tak pernah kudengar menyapa gendang telinga.


Aku menoleh untuk memastikan bahwa aku tak salah dengar.


" Mamak... "


" Niah.....ya Allah, anakku, Niah... "

__ADS_1


Wanita yang telah melahirkan aku ke dunia itu menangis menghambur memelukku.


Aku menangis sejadi - jadinya di pelukan wanita itu. Merasa rapuh dan tak berdaya. Tak bisa ku sanggah lagi, aku sangat merindukan mamak. Wanita yang selalu bisa mengerti bagaimana diriku ini.


" Maafkan Niah, Mak. Sudah jadi anak durhaka. Niah pergi tanpa pamit pada mamak dan bapak. " ucapku di sela - sela tangisanku.


" Sudah.... , mamak sudah memaafkan kamu, nak. Mamak mengerti alasan kamu melakukan semua itu. Ini semua juga salah kami yang tak pernah mencoba untuk mengerti dirimu dan penderitaan yang kamu alami."


Aku melerai pelukan mamak dan menghapus air mata di wajahku. Kupandangi wajah tua mamak yang sudah mulai keriput. Ada sisa - sisa guratan kesedihan yang masih membekas di sana.


Wajah itu terlihat semakin tirus saja. Tubuh mamak jauh lebih kurus dari yang terakhir kali kuingat.


" Dengan siapa mamak kemari? " selidikku. Aku heran bagaimana bisa mamak tahu jika aku sedang sakit. Dan bagaimana mungkin mamak bisa sampai ke tempat ini jika tak ada orang yang mengantar beliau.


" Tadi mamak diantar sama Ardi."


Oh.... akhirnya aku faham. Seperti dugaanku, pria itu ternyata ada dibalik kemunculan mamak ditempat ini. Ardi adalah supir pribadi keluarga Jubair.


Aku mengangguk seraya melempar senyum ke arah Ardi. Baru aku sadari, ternyata pria itu masuk bersama mamak tadi.


" Mamak dan bapak sehat - sehat saja, kan? tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Mamak tidak sedang sakit...? " tanyaku lembut. Aku sedikit khawatir dengan wajahnya yang pucat pasi bagai tak berdarah itu.


Aku mengangguk senang karena mengetahui bahwa mamak Baik - baik saja.


" Tapi, Bapakmu yang sakit." ucapnya pelan tapi sanggup menghantam telak kesadaranku.


Dadaku serasa di hantam oleh sebongkah batu besar. Sesak menghantam jiwa.


Walaupun Bapak telah banyak menyakitiku, tapi aku tak bisa menaruh dendam dan kebencian kepada pria yang merupakan cinta pertamaku itu.


Aku sadar alasan bapak berbuat demikian adalah karena dia amat menyayangi anak - anaknya. Dia tak ingin kami hidup dalam kesengsaraan. Baginya tak masalah jika aku harus berbagi suami dengan orang lain asalkan hidupku terjamin.


Bapak mengira semua kebahagiaanku adalah tentang uang dan materi. Dia lupa bahwa aku juga butuh cinta kasih dan sayang yang tak pernah sedikitpun kudapatkan dari Jubair.


Hingga dia tak bisa menerima ketika aku berubah menjadi pembangkang. Sikapku yang terang - terangan menyatakan diri memberontak dengan segala aturan dan juga penindasan Jubair membuat bapak berangndan gusar, sehingga membuat bapak menurunkan tangan kepadaku.


Aku sakit karena baru sekali itu bapak berlaku kasar padaku. Dan mirisnya Jubair yang ada di sana dan seharusnya melindungi aku ternyata malah sibuk menenangkan selingkuhannya yang di damprat habis - habisan oleh kedua mertuaku.


Aku semakin tak terima ketika Jubair akhirnya memilih pergi bersama selingkuhannya. Sedang aku, di campakkan tak ubahnya sampah yang tak berguna.

__ADS_1


Sakit.... hatiku sakit sekali. Tak ada yang menghiburku. Tak ada pelukan simpati dari kedua orang tuaku. Bahkan bapak yang seharusnya membelaku malah memarahi dan memukulku.


Hingga aku pun akhirnya memilih pergi dari pada terus bertahan malah akan semakin membuat aku terpuruk. Aku tak ingin memupuk luka hanya demi mengharap cinta dari seorang pria yang nyata - nyata tidak mencintaiku. Bahkan menyentuhku saja dia tak sudi.


" Pulanglah, Niah. Bapak mau bicara." terdengar ucapan mamak yang memintaku untuk pulang.


" Memangnya Bapak sakit apa, Mak? " aku bertanya dengan gamang. Hatiku sudah tak karuan.


" Bapakmu kena stroke, Niah. " Bukan Mamak atau pria itu yang berucap, tapi kali ini Ardi yang menyahut.


Mas Haris langsung terperanjat, demikian juga halnya dengan diriku. Aku nyaris kehilangan kesadaran jika saja tak sedang duduk, sudah dipastikan aku bakal ambruk.


" Bapak..... " lirih aku memanggil nama Bapak. Aku tenggelam dalam tangisku di pelukan mamak.


Entah aku harus bagaimana. Aku masih tak rela jika harus kembali lagi ke sana. Tapi Bapakku sedang sakit. Walaupun aku pernah disakiti oleh Bapak, tapi aku tak boleh berlaku durhaka. Bagaimanapun juga dia adalah Bapakku.


" Mas rasa sebaiknya kamu pulang, Dek." Aku menoleh menatap pria berwajah bersih dan bermata teduh itu.


" Tapi, Mas..."Aku ingin memprotes ucapannya. Aku belum memutuskan untuk pulang atau tidak. Aku masih merasa berat untuk kembali pulang ke tempat yang ingin sekali aku lupakan.


" Jangan membantah, dek. Mas gak mau adek menyesal nantinya. Ingat, Bapakmu sedang sakit. Apa adek tega sama Bapak adek sendiri?"


Aku terdiam tak mampu lagi mendebat pria itu. Percuma....aku kenal betul sifat dan karakter dari Haris Wicaksono. Keras dan tak mau dibantah.


" Mas akan mengajukan surat permohonan cuti untuk kita berdua. Sekalian, Mas juga akan mengantarmu pulang ke sana, dek."


Mamak dan juga Ardi yang berada di dalam ruangan tempat aku dirawat melongo ketika Mas Haris berkata demikian. Kecuali tentu saja si Pria purba itu.


Dari pandangan matanya, mamak seolah memberi isyarat bahwa dia tak mengenal siapa pria yang baru saja bicara padaku tadi.


Oh, iya... aku baru sadar jika aku belum memperkenalkan Mas Haris kepada mamak.


" Mak, maaf kelupaan. Kenalkan ini Mas Haris. Dia tunangan, Niah."


Wajah mamak dan juga Ardi langsung berubah. Juga wajah Jubair. Wajahnya langsung berubah merah mungkin karena menahan amarah.


Sementara Ardi dan mamak, mungkin mereka kaget saja mendengar ucapanku tadi. Mereka tak menyangka jika Mas Haris adalah tunanganku.


Maklum saja, mamak dan bapak dan juga Ardi mungkin tak pernah tahu jika aku sudah menggugat cerai Jubair.

__ADS_1


Aku tersenyum dalam hati. Rasakan.... Sadar diri woi...Jubair. Kamu itu hanya mantan suami. Suka - suka akulah, sekarang aku bebas. Terserah aku mau menikah dengan siapa....


__ADS_2