
Pesta pernikahanku dan Mas Haris alhamdulillah berjalan lancar walau ada sedikit kejadian yang mendebarkan dengan kedatangan Kak Jubair dan di susul oleh kedatangan Mamak dan Ambo. Mamak dan Ambo datang tak lama setelah Kak Jubair dan Meli pamit pulang
Asma yang sejak tadi pagi sudah datang bersama Syafrie dan semua anak - anaknya bergegas beranjak menghampiri keduanya dan memberi salam. Mereka memang sudah cukup mengenal keluarga mantan mertuaku itu sejak kedatangan Asma beberapa tahun yang lalu.
Mamak dan Ambo menghampiri diriku yang sejak tadi masih betah berdiri di samping Mas Haris untuk menyambut tamu undangan yang tak hentinya berdatangan untuk memberi ucapan selamat.
Aku merasa gugup saat mamak dan Ambo menghampiri. Mas Haris rupanya bisa mengerti kegugupan diriku. Pria itu lantas meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku menoleh dan terpaku pada senyumnya.
" Selamat ya, Niah. Mamak dan Ambo hanya bisa mendoakan semoga kebahagiaan selalu menyertai dirimu dan pernikahanmu. Maafkan Mamak dan juga Ambomu ini, yang tidak bisa menjaga menantu sebaik kamu. Tapi walaupun kamu bukan lagi istri Jubair, kamu akan tetap menjadi anak kami. Datang dan tengoklah mamak dan Ambo sekali - kali. " Aku mengangguk dengan air mata yang tak bisa aku tahan. Aku terharu sekali dan memeluk keduanya dengan perasaan yang bercampur aduk. Sedih dan bahagia menjadi satu. Aku bahagia akhirnya aku bisa melepaskan mereka tanpa adanya rasa sakit. Aku sedih karena merasa tak bisa mengabulkan harapan mereka dan gagal menjadi menantu yang baik bagi mereka.
Mamak dan Ambo pun akhirnya pamit padaku bersamaan dengan Asma dan Syafrie yang juga mohon pamit karena anak mereka yang kecil rewel sekali. Mamak dan Ambo pulang dengan diantar Asma dan Syafrie dengan mobil mereka.
...----...
Aku baru saja selesai membersihkan diri ketika Mas Haris masuk ke dalam kamar. Pria itu tadi terlihat masih mengobrol dengan Bapak dan juga adik - adikku di ruang tengah. Suasana rumah terlihat lenggang karena sekarang sudah pukul setengah dua belas malam.
Para tamu sudah tak ada lagi dan juga tetangga yang ikut membantu pun sudah pada pulang ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan anggota keluarga Mas Haris sudah kembali lagi ke kota.
" Prime rose, kamu sudah mandi? "
" Eh, iya.. Mas. Badan aku gerah banget." jawabku lalu duduk di depan meja hias untuk mengeringkan rambut.
" Kalau gitu, Mas mau mandi juga. Badan Mas juga rasanya lengket dan gerah." aku pun mengangguk dan menyerahkan handuk di tanganku kepadanya.
Tak berapa lama kemudian, Mas Haris sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih terlihat basah dan handuk yang melilit di pinggang.
Aku terpana, takjub tak berkedip memandang tubuh bersih nan atletis milik Mas Haris. Ini baru pertama kalinya aku melihat langsung tubuh seorang laki-laki. Tak sadar aku menelan ludah saking gugupnya.
Dulu saat menjadi istri Jubair, aku tak pernah melihatnya membuka baju di hadapanku. Walaupun aku selalu menyiapkan segala keperluannya sampai - sampai pakaian yang akan dia kenakan, tapi dia selalu memilih kamar tamu sebagai tempatnya beristirahat, sehingga baik aku dan dia tak pernah saling bersentuhan secara langsung secara pisik.
__ADS_1
" Dek, kenapa memandangi Mas seperti itu? " tanya Mas Haris yang membuat aku tersipu malu lantas buru - buru menundukkan kepala.
Mas Haris terkekeh melihat tingkahku yang konyol. Dia berjalan mendekat ke arahk lalu meraih daguku dan kemudian melabuhkan ciumannya lembut di bibirku.
Ini adalah ciuman mas Haris yang kedua. Aku masih saja canggung saat membalas ciuman Mas Haris.
Mendapat respon dariku, Mas Haris semakin bernafsu me******t habis bibirku. Ciuman Mas Haris yang bertubi-tubi membuat aku tak berdaya. Aku hanya pasrah ketika Mas Haris perlahan menarikku ke dalam pelukannya.
Tangannya menuntun tanganku untuk menarik handuk yang melilit di pinggangnya.
" Lepaskan, dek.. " bisiknya dengan napas memburu di telingaku. Sedangkan tanganya sudah bergerak aktif melucuti semua pakaian yang melekat di badanku.
Aku mengangguk dan dengan sekali tarikan handuk Mas Haris terlepas dan menampakkan rudalnya yang sudah berdiri tegak dan berotot.
Aku dibuat melongo dan memekik kaget saat melihat ukuran rudal milik Mas Haris. Untung saja Mas Haris buru-buru menyumpal mulutku kembali dengan ciumannya.
" Stttt.... jangan ribut, dek. Nanti orang rumah pada denger semua saat kita bikin anak."bisiknya seraya menggigit daun telingaku.
Tanpa bicara lagi, dengan tubuh bugil Mas Haris mengangkat tubuhku dan membopongku ke tempat tidur. Aku yang awalnya malu, kini hanya pasrah saya dan mengalungkan tanganku di leher Mas Haris.
Dengan lembut Mas Haris membaringkan aku di tempat tidur. Sesaat terlihat Mas Haris komat kamit membaca doa lalu meniup ujung ubun - ubunku.
Ini adalah yang pertama kalinya bagiku, Aku sedikit merasa canggung saat Mas Haris mulai menjamah tubuhku. Namun ternyata tubuhku bereaksi lain, mungkin lantaran tak pernah disentuh.
Jika tadi aku sempat merasa canggung dan malu - malu. Kini tanpa sadar aku mendesah ketika Mas Haris mulai menyentuh titik - titik sensitif di tubuhku. Aku merintih ketika nafsu sudah mencapai puncaknya.
" Mas, adek sudah tak tahan... " bisikku dengan bibir bergetar menahan gairah.
Mas Haris tersenyum, faham akan maksudku.
__ADS_1
Dia mulai melebarkan padaku dan bersiap untuk mengadakan penyatuan. Namun aku sepertinya lupa satu hal, aku masih tersegel...!
" Dek, ka...kamu....!! " Mas Haris menghentikan kegiatannya di atas tubuhku ketika mendapati wajah meringis kesakitanku saat dia merobek selaput dara milikku yang selama ini tak pernah tersentuh Jubair.
Ada keterkejutan di mata Mas Haris.
"Kamu masih suci, dek?" Mas Haris bertanya dengan ekspresi bingung.
Dalam benaknya, mungkin sibuk bertanya, bagaimana mungkin diriku yang berstatus janda ternyata masih perawan.
Aku hanya bisa mengangguk dengan wajah yang masih dipenuhi antara gairah dan juga rasa sakit.
Mas Haris buru - buru memeluk diriku dan melabuhkan ciuman di keningku.
" Maafkan Mas, Mas tak tahu jika adek ternyata masih perawan." bisiknya lirih sambil tersenyum bahagia menatapku. " Mas janji akan pelan - pelan, dek. Mulanya ini memang akan terasa sakit, tapi lama - lama sakitnya akan hilang." bisiknya lagi.
Aku kembali mengangguk dan membiarkan Mas Haris kembali menyatukan tubuh kami yang tadi sempat terhenti.
Aku kembali memekik saat rudal mas Haris berhasil melesak masuk ke dalam lubang surgawiku. Gerakan Mas Haris kembali terhenti untuk beberapa saat. Dia membiarkan milikku terbiasa dulu dengan miliknya. Bibirnya berlabuh di bibirku untuk mencoba mengalihkan rasa sakit di bawah sana.
Dengan perlahan Mas Haris menggerakkan pinggulnya maju mundur di atas tubuhku hingga membuat aku sedikit mendesah. Benar kata Mas Haris, rasa sakit itu kini perlahan lenyap dan tergantikan oleh rasa nikmat yang sesungguhnya.
Tubuhku menggelepar oleh gelora yang kian panas membakar membuat aku mengerang nikmat ketika mereguk setiap hentakan lembut Mas Haris di atas tubuhku.
Dengus napas Mas Haris memburu semakin tak terkendali ketika tubuhnya berpacu kencang di atas tubuhku. Bibirnya mendesis dan memekik pelan ketika dia akhirnya mencapai pelepasannya.
" Prime roooseee, akhhhhh nikmatnya, sayang.... " racaunya seraya menyebut namaku.
Aku pun tak jauh beda dengan Mas Haris. Tubuhku menegang dan melenting ke atas ketika aku juga merasakan kenikmatan yang baru pertama kali ini kurasakan.
__ADS_1
Aku dapat merasakan cairan hangat Mas Haris membasahi liang rahimku. Aku terpejam merasakan kenikmatan itu. Ternyata seperti ini rasanya disentuh oleh seorang pria, pikirku sambil tersenyum.