Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan

Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan
102. Kembali mencari Vierra


__ADS_3

Setelah seharian tidur di rumah sakit, akhirnya Rangga mengerjapkan matanya.


Dengan kepala yang pusing, pria itu berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang ada di ruangan kamarnya.


"Sayang, kau sudah sadar," Windri merasa sangat senang melihat putranya akhirnya terbangun.


Namun dia terkejut jadi Rangga langsung bangun dan memeluknya dengan erat.


"Vierra, kau sudah di sini,," ucap Rangga dengan nafas tersengal dan pelukan yang begitu erat pada ibunya.


Satya yang juga berada di ruangan itu menemani ibunya menjaga Rangga begitu terkejut melihat kakaknya sampai berhalusinasi hingga melihat ibunya sebagai Vierra.


"Kak,, kakak baik-baik saja? Yang kakak peluk itu bukan Vierra, tapi Ibu!" Ucap Satya mendekati dua orang itu.


"Apa?!" Rangga akhirnya melepaskan pelukannya pada ibunya lalu ia memperhatikan wajah Ibunya dan menyadari bahwa perempuan itu memang bukan Vierra, melainkan ibunya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Tanya Windri dengan cemas menatap putranya yang tampak linglung memandangi sekeliling ruangan kamar.


"Vierra,," ucap Rangga akhirnya tersadar lalu pria itu mengangkat lengannya yang dipasangi infus.


"Sayang,, kau bisa lihat ibu?" Tanya Windri begitu cemas memandangi putranya.

__ADS_1


"Hm, tinggalkan aku sendiri." Ucap Rangga lalu pria itu kembali menarik selimutnya menutupi kaki sampai kepalanya.


Windri melihat kelakuan anaknya yang tidak mau diganggu, jadi perempuan itu menghela nafas dan menatap Satya.


"Ayo,, biarkan kakakmu untuk sendiri dulu. Dia perlu menenangkan dirinya." Kata Windri menepuk bahu Satya lalu perempuan itu keluar dari ruangan sembari meneteskan air matanya.


Sementara Satya, pria itu berdiri memandang pria yang bersembunyi di balik selimut.


Ini pertama kalinya dia melihat kakaknya seperti ini, padahal dulunya, meskipun pria itu sakit, kakaknya tidak akan pernah mengeluh dan terus mengerjakan seluruh pekerjaan perusahaan.


"Kak, sebaiknya Kakak bangun dan memikirkan cara untuk mencari Vierra, agar kakak iparku dan calon keponakanku segera ditemukan." Ucap Satya.


Satya masih menunggu selama beberapa waktu untuk menunggu Rangga menjawabnya, tetapi setelah 2 menit, pria itu akhirnya berbalik pergi meninggalkan kamar Rangga.


Satya langsung mendekati ibunya lalu memeluk perempuan itu dengan erat.


"Ibu jangan khawatir, aku yakin Kak Rangga akan bangkit lagi." Ucap Satya menenangkan ibunya.


Windri berusaha menahan air matanya, "Hah,, ini semua salah ayah dan ibu karena terlalu memaksakan perjodohan itu." Ucap Windri sembari menghela nafas.


"Maaf Bu, ini juga salahku karena aku berbohong tentang kehamilan Vierra. Vierra pergi karena dia tidak mau menikah denganku." Kata Satya menyesal.

__ADS_1


Dua orang itu terus mengatakan penyesalan mereka sampai mereka terkejut saat pintu kamar Rangga tiba-tiba terbuka, memperlihatkan Rangga yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Lho sayang, Mengapa kau keluar? Infusmu,,," Windri langsung mendekati Rangga sembari memegang lengan Rangga yang tadi diinfus.


Pria itu sudah mencopot sendiri infusnya.


"Aku harus pergi mencari Vierra." Ucap Rangga segera berjalan untuk meninggalkan dua orang itu ketika Satya langsung menyusulnya.


"Biarkan aku menyetir untuk kakak." Katanya.


Rangga langsung menghentikan langkahnya lalu menatap adiknya, "Baiklah." Ucap Rangga.


Satya merasa sangat senang, paling tidak dia memiliki kesempatan untuk menebus kesalahannya.


Satya lalu menoleh pada ibunya, "Biar kami mengantar ibu untuk pulang sebelum mencari Vierra." Ucap Satya.


Windri masih sangat cemas jika Rangga harus pergi dalam keadaan yang masih sakit, jadi perempuan itu kemudian berkata, "Kalian yakin mau mencari Vierra dalam kondisi Rangga yang seperti ini? Bagaimana kalau beristirahat dulu selama beberapa hari lalu--"


"Ibu, aku pasti akan menjaga Kak Rangga dengan baik." Ucap Satya merangkul ibunya mengikuti Rangga yang telah berjalan ke arah lift.


Rangga berdiri dalam lift sembari berpikir, meski dia ingin mencari Vierra, tetapi kemana lagi dia harus mencari perempuan itu?

__ADS_1


Dia sudah memeriksa seluruh sudut di ibukota, namun dia tidak menemukan satupun jejak Vierra. Perempuan itu seolah menghilang ditelan bumi.


__ADS_2