
Setelah semua pembahasan selesai, Vierra tidak tinggal makan siang, dia beralasan bahwa ada hal penting yang harus dia lakukan di kantor, jadi perempuan itu segera meninggalkan kediaman Edward.
Satya yang hendak mengajak Vierra berbicara kini hanya bisa memandangi kepergian perempuan itu, 'Sial!! Apakah aku sudah melakukan hal yang membuatnya membenciku? Pokoknya nanti aku harus mencari cara untuk menemuinya dan mengajaknya berbicara.' pikir Satya dalam hati.
Sementara Vierra, perempuan itu kembali ke kantor dan melampiaskan emosinya pada seluruh pekerjaan yang ada di mejanya.
Perempuan itu tidak meninggalkan kantor sampai malam menjelang, bahkan ketika seluruh kantor telah ditinggalkan oleh para pekerjanya.
"Hoam!!!! Akhirnya semuanya selesai." Vierra merenggangkan punggungnya sembari berjalan ke jendela menatap bangunan-bangunan yang sebagian besarnya telah menggelap karena ditinggalkan oleh penghuninya.
"Perjodohan... Ha ha ha... Aku tidak menyangka Satya akan melakukan hal selicik ini untuk membuatku terjebak bersamanya seumur hidup." Vierra hendak tertawa sambil menangis.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku belum bisa kabur dari keluarga Faraday karena utangku pada mereka masih terlalu banyak!!!" Gerutu Vierra berjalan ke meja kerjanya mengambil tas nya.
Sesaat ia melihat ponselnya di mana ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Rangga dan Satya. Bahkan panggilan tak terjawab dari Satya mencapai 50 panggilan.
Vierra mengabaikan saja dan dia hanya mengetik pesan untuk Rangga, *Aku lembur di kantor.*
Kirim.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan kepada Rangga, perempuan itu meninggalkan kantor lalu dia tiba di sebuah kedai pinggir 5 yang masih menjajakan makanan kaki lima.
"Tolong dua porsi bakso." Ucap Vierra pada penjual.
"Baik Neng," jawab sang penjual.
Vierra kemudian duduk sembari menopang dagunya menatap ibu-ibu yang sedang menyiapkan pesanan Vierra.
Untunglah saat itu suasana warung tidak terlalu ramai jadi Vierra merasa tenang duduk sendirian.
'Aku tidak mau menikah dengan Satya, bagaimana bisa aku terjebak seumur hidup bersama orang yang tidak ku cintai? Aku harus mencari solusi, tapi solusi yang bagaimana yang bisa menyelamatkanku dari situasi ini?' Vierra terus berpikir sembari menatap ibu-ibu yang kini berjalan ke arahnya membawa pesanannya.
"Silakan dinikmati neng, dan kalau ada masalah jangan dipendam sendiri." Penjual itu tersenyum ke arah Vierra karena sedari tadi dia melihat Vierra terus menghayal seolah pikiran Vierra begitu jauh dari warung makannya.
Sembari meracik bakso di depannya, Vierra teringat akan perkataan penjaga warung itu.
"Tapi kalau aku mau mengatakannya, pada siapa aku akan mengatakannya? Pada Rnagga?" Vieerra begitu dilema, sebab hanya Rangga lah orang terdekat yang selalu menjadi tempat berceritanya.
'Tidak!! Akan terjadi perpecahan keluarga jika aku menceritakannya pada Rangga. Tapi aku rasa hanya dia yang bisa membantuku!!' Vierra tersenyum ketika sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya.
__ADS_1
Perempuan itu akhirnya mulai memakan bakso di depannya sampai tiba-tiba seseorang datang dan duduk di depannya.
Vierra yang sedari tadi tertunduk fokus pada baksonya kini mengangkat wajahnya dan terkejut melihat Rangga kini duduk sembari mengambil sendok dan garpu.
"Ternyata kau sudah memesannya untukku, kenapa tadi tidak menelponku?" Tanya Rangga sembari mengaduk baksonya.
"Uh,, aku tidak memesan itu untukmu, itu untuk ku makan sendiri. Eh,, tapi Kenapa kau ada di sini?" Tanya Vierra yang merasa bingung bahwa pria itu tiba-tiba saja muncul di depannya.
Yang ia ketahui bahwa pria itu tidak mungkin hanya kebetulan datang untuk makan di tempat itu, karena tempat itu sama sekali tidak cocok dengan selera dan gaya Rangga.
"Aku berada di tempat di mana jantung hatiku berada." Rangga bicara dengan santai, tetapi Vierra yang mendengarnya hampir saja kehilangan nyawanya mendengar gombalan pria itu.
"Hm,, makanan di sini lumayan juga." Komentar Rangga sembari mencicipi baksonya lalu mengangkat wajahnya melihat Vierra yang masih terbengong menatapnya.
"Jangan begitu, aku ada di sini karena mengikuti GPS yang ku pasang di ponselmu. Oya, Apakah seseorang membuatmu kesal hingga kau bisa berakhir di sini sendirian?" Tanya Rangga mengingat ucapan asistennya yang mengatakan bahwa jika perempuan merasa kesal maka mereka akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.
Seperti sekarang, larut malam seperti ini, Vierra masih berkeluyuran mencari bakso di warung makan, bahkan memesan dua porsi bakso untuk dihabiskan sendirian!!!
Vierra yang mendengar pertanyaan Rangga langsung mendengus lalu berkata, "Aku tidak sedang kesal, tetapi aku tiba-tiba saja ingin makan bakso 2 porsi. Lagi pula tadi aku lembur di kantor dan baru saja meninggalkan kantor." Ucap Vierra.
__ADS_1
"Hm,," Rangga hanya mengangkut-ngangguk, tetapi dia bisa menilai dari ekspresi Vierra bahwa perempuan itu tidak baik-baik saja.
Namun, dia tidak ingin memaksa Vierra menceritakan sesuatu yang tak ingin diceritakan oleh perempuan itu jadi lebih baik memilih untuk berpura-pura tidak tahu.