Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan

Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan
104. Kamar Vierra


__ADS_3

Saat ini, Vierra sedang berdiri di toko kasir sembari melayani pembeli yang datang ke toko mereka.


Kebanyakan pelanggan mereka adalah pria-pria yang datang untuk mencuri pandang pada Vierra.


Oleh sebab itulah, Sabrina sebagai pemilik toko merasa sangat senang dan terus membuat Vierra duduk di meja kasir, agar para pria sengaja berbelanja banyak agar lama-lama di meja kasir saat membayar.


'Hah,, benar-benar tidak salah aku menerima perempuan itu menjadi karyawan di tokoku. Selain bisa menarik banyak pelanggan, dia juga bekerja keras dan tidak banyak menuntut.' pikir Sabrina yang sedang berdiri merapikan barang sambil sesekali melihat ke arah Viera yang sedang fokus bekerja.


Lalu tiba-tiba, seorang pria menghampiri Sabrina.


"Permisi," ucap pria itu


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sabrina mengamati pria yang memakai topi hitam, masker hitam dan juga kacamata hitam.


Rangga sekilas melirik ke arah Vierra dan menahan keinginannya untuk memeluk Vierra, pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu memperlihatkan fotonya dan Vierra pada perempuan tua berseragam pelayan toko.


"I,, ini,," perempuan tua itu mengerutkan keningnya sembari melihat Rangga mulai membuka masker dan kacamatanya.


Pria itu juga sesekali melihat ke arah kasir di mana Vierra sedang sibuk melayani para pembeli yang mengantri untuk membayar.

__ADS_1


"Saya adalah suami dari perempuan yang bekerja di toko ini. Beberapa bulan yang lalu dia kabur dari rumah karena sedikit kesalahpahaman di antara kami. Jadi,, dapatkah Nyonya membantu saya?" Tanya Rangga pada sang pemilik toko.


"Ah,, ya, kesalahpahaman harus diselesaikan. Tapi apa yang bisa saya bantu?" Tanya Sabrina memperhatikan pria yang sangat tampan di depannya.


Dia benar-benar tidak ragu bahwa pria itu adalah suami dari Vierra karena dua orang itu jika disandingkan maka akan menjadi pasangan yang sangat sempurna.


Cantik dan tampan!!


"Begini, Saya ingin bertemu dengannya secara pribadi, bolehkah saya tahu di mana alamat rumahnya?" Tanya Rangga.


"Ah,, dia tinggal di sini bersama saya, kamarnya ada di lantai 2 ruko ini." Ucap Sabrina.


Sabrina berpikir sesaat, karena tidak mungkin dia membiarkan orang asing memasuki rumahnya, tetapi ketika melihat pria itu mengambil dompetnya dan mengeluarkan setumpuk uang dollar, maka mata perempuan itu langsung berbinar-binar.


"Tentu, silakan ikuti saya." Ucapnya langsung mengambil uang dari Rangga lalu memperlihatkan jalan pada pria itu.


Setelah tiba di depan pintu kamar, sang nenek membiarkan Rangga memasuki kamar Vierra.


Begitu masuk ke dalam kamar, Rangga berhenti dengan perasaan tak karuan melihat kamar perempuan itu.

__ADS_1


Sangat kecil dan sama sekali tak layak untuk ditinggali istri seorang Rangga Edward.


"Bagaimana bisa begini??" Dengan nafas tertahan, Rangga berjalan mendekati foto yang dipajang di dinding-dinding kamar Vierra.


Semua foto itu adalah foto-foto milik mereka.


Lalu pria itu mengulurkan tangannya yang gemetaran menyentuh sebuah foto USG yang ia tebak sebagai anak mereka.


"Anakku,," Rangga memejamkan matanya berusaha menahan emosinya.


Dia benar-benar ingin berlari dari kamar itu lalu menghampiri Vierra yang sedang berada di meja kasir.


Dia benar-benar tak tahan untuk memeluk perempuan yang sudah ia rindukan selama berbulan-bulan.


"Tidak,, dia pasti akan memarahiku kalau aku menghancurkan pekerjaannya. Sebaiknya tunggu di sini sebentar." Ucap Rangga sembari berjalan ke ranjang lalu pria itu berbaring diranjang Vierra.


Hatinya berdesir tak karuan saat ia mencium bau khas Vierra yang sudah lama tidak menemani tidurnya.


Pria itu terbaring selama 15 menit dan tanpa sadar dia dicuri oleh kantuknya.

__ADS_1


Padahal, selama beberapa bulan ini dia sangat sulit untuk tidur, Dia menghabiskan banyak obat tidur untuk membantunya beristirahat di larut malam.


__ADS_2