
Vierra memperhatikan pintu yang ditutup oleh Claudia lalu perempuan itu tersenyum berlari ke tempat tidur.
"Ini pertama kalinya aku berani membohongi Kak Claudia,, ternyata rasanya semenyenangkan ini." Vierra berguling-guling di kasur sembari terkikik memikirkan Claudia yang sudah ia tipu habis-habisan.
Perempuan itu masih terus tertawa di atas tempat tidur ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka membuatnya berhenti tertawa dan melihat ke arah pintu.
"Kau sesenang itu?" Tanya Rangga sembari mengunci pintu kamar lalu berjalan mendekati Vierra.
Vierra duduk di tempat tidur sembari melemparkan senyumnya pada Rangga, "Ya,, Apakah terlalu kentara?" Tanya Vierra.
Rangga menganggukkan kepalanya Lalu naik ke ranjang menarik perempuan itu ke pelukannya, "Suaramu sampai terdengar sampai di lantai 2." Kata Rangga mencubit pelan hidung istrinya.
"Tapi,, Apakah nanti Kak Caludia tidak akan kembali memeriksa kamar? Dia bisa membuka pintu kamar yang sudah ku kunci." Ucap Vierra.
"Hm,, Dia memiliki kunci serepnya, tapi dia tidak akan kembali lagi karena aku sudah memberinya obat tidur." Ucap Rangga mengejutkan Vierra.
"Obat tidur?* Tanya Vierra terkejut, "Kapan kau memberinya obat tidur?" Tanya Vierra.
"Saat dia datang ke kamarmu untuk memeriksa, aku menaruh obat tidur ke dalam minumannya." Kata Rangga sembari membanting Vierra ke tempat tidur lalu menindih perempuan itu.
__ADS_1
"Jangan menggelitik ku!! Nanti ada lagi yang mendengar suara kita!!" Gerutu Viera saat jari-jari rongga yang menyusup di balik bajunya, terasa sangat menggelikan menyentuh kulitnya.
...
Hari ini, tepat satu bulan pernikahan Claudia dan Rangga jadi Windri yang merupakan ibu kandung Rangga mengajak semua orang untuk datang ke kediamannya.
Begitu tiba di kediaman Edward, Vierra langsung sibuk di dapur sembari bercandaria bersama para pelayan yang menyiapkan makanan.
Sementara semua orang duduk di ruang tamu sembari bercakap-cakap ringan, terutama Windri yang terus menyinggung masalah keinginannya yang sudah tidak sabar untuk menggendong cucu.
"Wah,, Nona Vierra benar-benar pandai memasak."
"Ini bukan apa-apa, lagi pula kalian di sini jauh lebih pandai daripada aku." Kata Vierra sembari tertunduk malu mendengar pujian para pelayan-pelayan.
"Nona Vierra tidak perlu malu, lagi pula kami benar-benar mengagumi kepiawaian Nona Vierra di dapur."
"Iya,, di zaman sekarang para nona dari keluarga kaya sudah tidak mau lagi menyentuh dapur, mereka semua hanya sibuk mempercantik diri dan--"
"Jaga bicaramu!! Kalau ada yang mendengarnya maka bisa jadi kau disalahkan menyinggung para Nona-nona itu!!!" Salah satu pelayan memperingatkan pelayan yang baru saja berbicara.
__ADS_1
"Ah iya,," sang pelayan yang diperingatkan langsung menutup mulutnya lalu tidak ada lagi yang berbicara.
Beberapa saat mereka memasak tiba-tiba Windri muncul di dapur untuk mengecek persiapan makan malam keluarga.
"Lho Vierra,, Apa yang kau lakukan di sini? Ibu mencarimu ke mana-mana tapi tidak menemukanmu, Ternyata kau malah di dapur." Kata Windri yang terkejut melihat Vierra kini sementara memotong-motong bawang.
"Ah Ibu,, aku merasa bosan, jadi aku datang membantu para pelayan. Apakah ibu memerlukan sesuatu?" Tanya Vierra sembari meletakkan bawang dan pisau yang ia pegang.
"Cepat cuci tanganmu dan keluar dari dapur! Ibu tidak mau orang-orang mengira bahwa ibu memperlakukanmu dengan buruk di rumah ini." Kata Windri sembari menarik Vierra ke wastafel agar perempuan itu mencuci tangannya.
Setelah mencuci tangan, Viera mengeringkan tangannya lalu dia terkejut ketika Windri memegang tangannya lalu menariknya ke luar ke ruang keluarga.
"Lho Vierra, Kau dari mana saja?" Kartika langsung menghampiri Vierra.
Ketika dia datang, dia pikir Putri angkatnya itu dilarang Claudia datang ke tempat itu, ternyata Vierra malah bersembunyi entah di mana.
"Ibu,, aku habis dari dapur membantu para pelayan memasak." Kata Vierra langsung memeluk erat Kartika.
Claudia melihat dua orang itu lalu menghela nafas, 'Hah,, mulai lagi lebaynya,' gerutunya dalam hati merasa malu dengan kelakuan ibu dan adik angkatnya.
__ADS_1