
Akhirnya mereka tiba juga di taman hiburan yang terkenal.
Karena tempat itu sangat terkenal dan apalagi saat itu adalah akhir pekan, maka di sana sangat ramai sampai antrian untuk masuk begitu padat.
Claudia yang melihat hal itu langsung merasa kepalanya ingin meledak.
Dia yang suka tempat tenang tanpa gangguan langsung berbalik pergi tanpa memberi tahu ketiga orang yang kini berdiri mengantri.
"Lho? Di mana kakak ipar?" Satya bertanya pada Rangga saat melihat sekitar mereka dan tak menemukan Claudia.
Rangga juga memperhatikan sekitarnya lalu dia merogoh ponsel dari sakunya.
*Aku merasa tidak enak badan.* Pesan dari Claudia.
"Katanya dia tidak jadi masuk." Ucap Rangga.
Mendengar itu, Satya menjadi orang yang sangat kesal, kalau mereka hanya bertiga maka tidak mungkin dia menyuruh Rangga sendirian berjalan-jalan.
'Dasar kakak ipar menyebalkan!!!' gerutu Satya dalam hati sembari melirik pada Vierra yang tampak diam menatap ke depan.
"Apa kau kepanasan?" Tanya Satya pada Vierra.
Vierra menggelengkan kepalanya lalu tersenyum, "Aku baik-baik saja," jawab Vierra.
"Kalau kau kepanasan, kau bisa berteduh di sana," Satya menunjuk sebuah pondok yang tak jauh dari mereka, "Biar aku yang mengantri untuk megambil Tiketnya," ucap Satya.
__ADS_1
"Ah, baik,, kalau begitu aku akan menunggumu di sana." Ucap Vierra melemparkan senyumnya pada Satya.
Deg!!
Jantung Satya asekan melompat dari tempatnya melihat senyum manis itu, dia dengan semangat berdiri menatap panjangnya antrian yang harus ia lewati.
Tapi kemudian, sebuah suara membuatnya jadi kesal, "Aku juga akan berteduh. Hubungi aku jika kau sudah mendapat Tiketnya." Ucap Rangga lalu pria itu berbalik menyusul Vierra.
Sarya berdiri memandangi punggung pria dan perempuan yang menjauh darinya, "Mengapa aku merasa ditipu?" Ucapnya dengan nafas tertahan memandangi dua orang yang semakin menghilang dari pandangannya karena terhalang oleh kerumunan orang yang mengantri untuk mendapatkan karcis.
Sementara itu, Rangga dan Vierra kini duduk di sebuah kursi yang terletak di bawah pohon besar.
Vierra terkejut ketika Rangga mengambil tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
"Terima kasih," ucap Vierra.
Detik berikutnya, Vierra melihat Rangga mengeluarkan ponselnya lalu pria itu mematikan ponselnya.
"Berikan ponselmu," ucap Rangga mengulurkan tangannya.
"Untuk apa?" Tanya Vierra sembari menyerahkan ponselnya pada Rangga.
"Aku tidak mau ada orang yang mengganggu kencan kita." Ucap Rangga mematikan ponsel Vierra.
Vierra yang bersandar di bahu Rangga langsung menarik kepalanya dan menatap pria itu dengan tetapan tak percaya.
__ADS_1
"Kau berniat mengerjai adikmu sendiri?" Tanya Vierra.
Rangga mengangkat bahunya, "Bagaimana lagi, dia berniat mengencani istriku." Ucap Rangga sembari mengulurkan tangannya memeluk Vierra dengan erat.
Vierra yang kalang kabut melihat banyak orang memandangi mereka Langsung mendorong pria itu.
"Banyak orang memperhatikan kita!!" Kesal Vierra.
Rangga hanya tersenyum melepas pelukannya pada Vierra lalu pria itu menyandarkan punggungnya sembari menarik kepala Viera agar perempuan itu kembali bersandar di bahunya.
Vierra tidak menolak, 'Kasihan juga Satya, tapi kalau aku membelanya, pria ini mungkin akan membuat tindakan yang akan mempermalukan kami lagi.' pikir Vierra.
Vierra masih malu karena tatapan orang banyak yang tadi melihat mereka, tetapi setelah lama-lama dia merasa nyaman karena orang-orang tidak fokus lagi ke arah mereka.
"Apakah kita hanya akan duduk di sini?" Tanya Vierra.
"Hm, tentu saja tidak." Jawab Rangga melihat pada seseorang yang mendekat ke arah mereka.
Pria itu adalah asistennya yang datang untuk membawakan mereka tiket.
"Tuan," sang asisten menyerahkan 2 set
Tiket pada Rangga.
"Kau boleh pergi," perintah Rangga pada bawahannya setelah dia mendapatkan tiketnya.
__ADS_1