Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan

Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan
45. Ribut di meja makan


__ADS_3

Meja makan.


Keempat orang yang tinggal dalam satu rumah sedang makan bersama.


Seperti biasa, dari waktu ke waktu Claudia dan Rangga hanya terdiam sementara yang ribut adalah Satya dengan Vierra.


Jika biasanya di keluarga Faraday, Vierra tidak akan pernah berbicara karena dia terlalu takut pada ayah angkatnya, maka di rumah milik Claudia dan Rangga dia merasa senang karena Satia ada di sana dan terus berbicara padanya.


"Masakan hari ini jauh lebih enak dari sebelumnya karena kau menggunakan ponsel baru yang kuberikan untuk mencari resepnya bukan?" Satya menggoda Vierra yang sedang meminum airnya.


Hal itu membuat Vierra tersedak air minumnya hingga terbatuk-batuk sambil melihat kearah Rangga.


Satya langsung membantu perempuan itu dengan cara menepuk-nepuk pundak Vierra, "Kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan cemas.


"Uhuk,, uhuk,, ummhh,, ya,," sembari menenangkan dirinya, dari sudut sudut matanya Vierra melirik Rangga.

__ADS_1


'Apa yang saat ini dipikirkan Rangga? Mungkinkah dia berpikir bahwa ponsel yang kugunakan benar-benar ponsel pemberian dari Satya?' Vierra merasa cemas kalau pria itu akan kecewa padanya.


"Bagaimana bisa kau tersedak air putih?" Satya duduk sembari memperhatikan Vierra yang mulai tenang.


"Ah,, ya,, itu,, Tidak sengaja," jawab Vierra sekali lagi melirik ke arah Rangga.


Satya menghela nafas, "Kau benar-benar menggemaskan, Aku baru saja membahas ponsel baru yang kuberikan untukmu dan kau sudah tersedak air putih. Apalagi jika kita membahas perasaan kita berdua, mungkinkah kau akan--"


"Diam!! Jangan bercanda lagi, mungkin nanti aku akan tersedak tulang ikan Jika kau terus bercanda di meja makan," kata Vierra dengan kesal lalu dia segera menunduk untuk kembali fokus pada makanannya.


"Aku sudah selesai," ucap Rangga langsung berdiri meninggalkan meja makan sembari mengatup erat gigi-giginya karena suasana hatinya yang rusak oleh percakapan Satya dan Vierra.


Memandang kepergian kakaknya, Satya menghela nafas, "Padahal dia baru makan sedikit, tapi sudah bilang kenyang." Ucap Satya menggelengkan kepala.


"Dia mungkin kesal karena kalian terlalu ribut di meja makan. Sebaiknya lain kali jangan terlalu ribut, aku juga merasa kesal, jadi aku sudah kenyang." Kata Claudia segera berdiri menyusul Rangga meninggalkan meja makan.

__ADS_1


Memandang kepergian sepasang suami istri itu, Satya kemudian menoleh pada Vierra, "Mereka memang cocok menikah, sama-sama memiliki temperamen yang buruk. Kau setuju dengan pendapat ku bukan?" Tanyanya pada Vierra.


Tersenyum menyengir, Vierra hanya menganggukan kepalanya.


Tentu saja kedua orang itu sangat cocok karena memiliki bebet bobot dan bibit yang sepadan, tetapi dia tidak akan pernah mengakui bahwa mereka benar-benar cocok!!!


Tidak ada perempuan yang mengakui orang yang dicintainya cocok dengan perempuan lain!!!


Melihat anggukan Vierra, Satya kembali melengkungkan bibirnya, "Kita berdua juga sangat cocok bukan? Kita berdua sama-sama ribut di meja makan, sama-sama-"


"Diamlah!! Mulai sekarang tidak perlu terlalu ribut di meja makan." Vierra memotong ucapan Satya saat dia mulai kesal pada pria di depannya.


"Hei,, Apa kau takut mereka akan marah? Lagipula sekarang hanya ada kita berdua jadi tidak perlu memikirkan mereka." Ucap Satya.


"Hah,, ya,, terserah saja Apa katamu." Ucap Vierra lalu perempuan itu menunduk untuk menghabiskan makan malamnya.

__ADS_1


Meski saat ini suasana hatinya sedang tidak baik, tapi perutnya masih meminta untuk diisi.


__ADS_2