
Claudia yang tiba di kantor merasa sangat senang saat ia memeriksa ponselnya dan mendapati kiriman uang senilai 500 juta ke rekeningnya.
"Eh, tapi dari mana Dia mendapat uang sebanyak ini?" Claudia mengerutkan keningnya menatap transferan uang dari Vierra.
Entah kenapa dia merasa sangat kesal karena Vierra sudah membayar utang-utangnya.
Dengan begitu, perempuan itu tidak lagi menjadi budaknya.
'Kalau begini, siapa lagi yang akan ku suruh-suruh?' Claudia menghela nafas lalu dia menekan tombol panggil pada Vierra.
Tapi sayangnya, ponsel perempuan itu tidak aktif, bahkan ketika dia mencobanya berulang kali, tetap saja hanya operator yang menjawabnya untuk menyuruhnya meninggalkan pesan.
Menyadari hal itu, Claudia kemudian menghubungi Laras.
"Ya Nona," jawab Laras dari seberang telepon.
"Perintahkan pada Vierra untuk mengangkat teleponku!!" Pikirnya yang merasa bahwa Vierra sengaja mematikan teleponnya.
"Maaf Nona, tapi saat ini Vierra belum datang ke kantor." Jawab Laras.
"Belum datang?" Claudia merasa sangat aneh.
Tidak biasanya perempuan itu terlambat datang ke kantor, kecuali ada hal mendesak yang harus ia urus.
"Ya Nona," jawab Laras.
"Kalau dia sudah datang, suruh dia cepat menghadap ke padaku." Ucap Claudia pada Laras lalu mematikan panggilan tersebut.
__ADS_1
Claudia merasa sangat aneh, perempuan itu terus memikirkannya sampai ketika ponselnya berdering memperlihatkan nama pemanggil adalah ibunya.
"Iya Bu," jawab Claudia setelah menekan tombol terima pada ponselnya.
"Keluarga kita dan keluarga Edward sudah membicarakan tentang perjodohan adikmu dan Satya, sekarang Ibu membutuhkan daftar undangan untuk di cetak. Bisakah kau--"
"Ibu,, Jangan tanyakan itu padaku, tanyakan saja pada Vierra. Biar dia yang mengaturnya. Oh ya, dari tadi aku menghubungi ponselnya tapi nomornya tidak aktif. Cobalah Ibu menghubungi Satya untuk menanyakannya." Ucap Claudia.
"Ah,, baiklah," jawab Kartika lalu mengakhiri panggilan teleponnya dengan putrinya.
Setelah itu, Kartika langsung mencari nomor Satya di kontaknya lalu menghubungi pria itu.
Saat itu pula, Satya sedang meeting bersama kakaknya ada juga dua orang staf di kantor mereka untuk membicarakan mengenai beberapa proyek yang akan dikerjakan ke depannya.
Ponsel Satya yang diletakkan di atas meja langsung berdering hingga dilihat oleh semua orang.
"Maaf, telepon ini sangat penting, jadi aku harus mengangkatnya." Kata Satya dengan takut-takut melihat pada kakaknya sebab dia dan kakaknya masih berada dalam perang dingin.
"Angkat di sini!" Perintah Rangga membuat semua orang tertegun.
Biasanya Rangga adalah orang yang paling marah jika di tengah meeting seseorang mengangkat telepon, bahkan jika orang itu keluar dari ruang meeting, tapi sekarang,,,,, Mengapa pria itu mengizinkan satir?
Satya melihat Rangga selama beberapa detik sebelum mengangkat panggilan itu.
"Loudspeaker!" Kembali perintah Rangga membuat Satya mau tidak mau menggertakan giginya namun tetap mengikuti perintah kakaknya.
'Jangan kesal Satya, lagi pula cepat atau lambat dia akan segera mengetahui rencana pernikahan itu. Dan dia tidak akan punya kesempatan untuk mencegahnya, sebab semua orang telah sepakat.' pikir Satya akhirnya mengangkat panggilan itu dalam mode loudspeaker.
__ADS_1
"Halo Bu?" Jawab Satya pada calon ibu mertuanya.
"Nak Satya, apakah sekarang kau bersama dengan Vierra?" Tanya perempuan dari seberang telepon.
"Uh, tidak, aku sedang berada di kantor." Jawab Satya yang merasa aneh bahwa calon ibu mertuanya tiba-tiba menanyakan Vierra padanya, padahal sudah sepanjang hari dia berusaha menghubungi perempuan itu, namun ponselnya tidak aktif.
"Begitu ya,,, ponselnya tiba-tiba tidak aktif dan dia juga tidak datang ke kantor. Ibu khawatir kalau terjadi sesuatu padanya di perjalanan menuju kantor, dapatkah kau membantu ibu memeriksanya?" Tanya Kartika langsung mengejutkan Rangga dan Satya.
"Baik Bu, aku akan memeriksanya setelah meeting kami selesai." Kata Satya lalu mematikan panggilan telepon itu sembari menoleh pada kakaknya yang tampak terdiam di tempatnya.
'Untunglah calon ibu mertuaku tidak membahas mengenai masalah pernikahan dan hanya menanyakan masalah Vierra. Tapi, mengapa Vierra tiba-tiba tidak datang ke kantor dan bahkan nomor ponselnya tidak aktif? Mungkinkah benar-benar terjadi sesuatu padanya?' pikir satya.
Satya baru akan berbicara untuk meminta izin pada kakaknya ketika Rangga mendahuluinya.
"Kalian bertiga lanjutkan meeting ini, aku ada urusan mendatang." Ucap Rangga segera berdiri lalu meninggalkan ruang meeting itu dengan Satya yang menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.
'Sial!! Dasar curang!!!' Satya merasa sangat kesal sembari menoleh pada dua orang yang ada di depannya.
"Kalian lihat saja mana yang bagus dari proyek-proyek ini lalu putuskan mana yang akan kita angkat lebih dulu. Aku harus pergi sekarang." Ucap Satya segera berlari meninggalkan dua orang yang kini berada dalam kebingungan mereka.
Ini pertama kalinya mereka melihat Rangga meninggalkan rapat penting di tengah-tengah jalan.
Ini juga pertama kalinya mereka melihat seorang pria yang berani membantah CEO, meskipun itu adalah adik CEO sendiri.
⁰
. .
__ADS_1