Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan

Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan
63. Bibir bengkak Vierra


__ADS_3

Setelah membuat kopi, Vierra melihat ke arah Satya yang sedang asyik memotong sayur, Dia segera mengambil nampan berisi kopi lalu membawa nampan itu ke lantai 2.


Baru saja dia akan menaiki tangga ketika Claudia tiba-tiba muncul dari belakangnya.


"Kau mau ke mana?" Tanya Claudia melihat kopi yang di bawah Vierra.


"Oh, ini, Kakak ipar menyuruhku membawakannya kopi." Ucap Vierra.


Claudia mengerit lalu melihat ke arah dapur, "Apa kau bersama Satya di dapur?" Tanyanya.


"Ya,, Kami sedang memasak, tapi aku mengantar kopi ini dulu baru membantunya lagi. Ada apa Kak?" Tanya Vierra.


"Oh, bukan apa-apa," ucap Claudia lalu mendahului Vierra menaiki tangga.


Vierra yang ditinggalkan langsung menghela nafas lega, 'Aku pikir dia akan mengambil kopi ini dan membawakannya pada Rangga, tapi ternyata dia benar-benar tidak peduli pada Rangga.' pikir Vierra dalam hatinya.


Sekarang ia merasa lega dan rasa bersalahnya menjalin hubungan dengan Rangga di belakang perempuan itu sudah menghilang sepenuhnya.


Vierra dengan cepat menyusul Claudia ke lantai 2 lalu melihat perempuan itu memasuki ruang kerjanya, Vierra sebaliknya membuka pintu ruang kerja Rangga lalu masuk ke sana.


"Kenapa lama sekali?" Rangga bertanya dengan kesal sembari meletakkan dokumennya lalu menghampiri Vierra yang berusaha menutup pintu.


"Aku bertemu Kak Claudia di tangga lalu kami berbicara sebentar." Ucap Vierra memperhatikan Rangga yang kini mengambil nampan dari tangannya.

__ADS_1


"Kemarilah," ucap Rangga meletakkan nampan itu di meja lalu melihat pada Vierra yang berjalan ke arahnya.


"Ada apa?" Tanya Vierra mendekati Rangga.


Rangga tidak menjawab, Dia hanya mengulurkan tangannya lalu dengan cepat mengangkat Viera ke atas meja.


Pria itu membuka lutut Vierra lalu meletakkan tubuhnya di antara kaki Vierra.


Cup!!


Sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Vierra membuat perempuan itu terkejut.


"Bagaimana kita malam ini?" Rangga menghela nafas sembari memeluk Viera dengan erat.


"Kemarin malam Claudia mendengar suara kita yang ribut dari kamarmu. Dia pasti sudah mengambil kunci serep kamarmu untuk memergokimu nanti malam," Rangga dengan wajah lesunya membenamkan kepalanya di leher Vierra, "Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu." Ucapnya.


"Lalu,, Apakah kita sudah ketahuan oleh kak Claudia?" Tanya Vierra yang tidak memikirkan ucapan Rangga tetapi malah fokus pada Claudia yang memergoki mereka.


"Tidak, tapi malam ini kita tidak bisa tidur bersama." Kata Rangga sembari menggesekkan hidungnya di leher Vierra.


Sudah berhari-hari dia terus tidur memeluk Vierra dan rasanya dia sungguh berat untuk memulai malam tanpa memeluk perempuan itu.


"Ya sudah,, hanya malam ini saja," ucap Vierra membuat Rangga menjadi kesal.

__ADS_1


Hanya malam ini saja?


Satu malam saja sudah membuatnya kesal dan terlebih tidak mungkin Claudia hanya sekali memeriksa kamar Vierra.


Pastilah perempuan itu akan melakukannya secara terus-menerus sampai memergoki Vierra.


Jadi Rangga melepaskan kepalanya dari lekukan leher Vierra lalu menatap perempuan itu, "Kau senang karena tidak tidur bersama denganku?" Tanyanya menatap tajam perempuan itu.


Vierra kebingungan, "Kapan aku bilang kalau aku senang?" Tanyanya.


"Lalu apa maksudmu mengatakan, 'hanya malam ini saja,'?" Tanya Rangga masih merasa kesal.


"Eh? Itu,, apakah ucapanku salah?" Tanya Vierra kebingungan.


"Hah,,, sudahlah,, akan ku pikirkan caranya nanti," ucap Rangga kembali mencium Vierra karena dia tidak mau berdebat dengan perempuan itu.


Mereka masih berciuman selama 10 menit sebelum Vierra turun ke dapur membantu Satya.


"Hei!! Ada apa dengan bibirmu yang bengkak?!" Tanya Satya saat melihat Vierra memasuki dapur dengan bibir yang merah merekah.


"Bengkak?" Vierra langsung menutup bibirnya lalu perempuan itu berlari meninggalkan Satya ke kamarnya.


"Sial!!! Dasar rangga kurang ajar!!!" Vierra berteriak kesal saat melihat bibirnya di cermin memang tampak bengkak.

__ADS_1


__ADS_2