
Setelah acara pernikahan selesai, Rangga berpisah dengan Claudia karena perempuan itu berkata bahwa dia hendak pergi menggunakan toilet.
Pria itu berdiri memandangi kepergian Claudia lalu menoleh ke seluruh ruangan yang menjadi tempat resepsi pernikahannya.
Pria itu mencari seorang perempuan di antara kerumunan yang perlahan-lahan mulai terurai karena satu persatu tamu telah meninggalkan gedung.
"Dimana perempuan itu?" Ucap Rangga melirik ke seluruh tempat untuk mencari Vierra.
Setelah beberapa menit mengamati dia tidak menemukan Vierra Jadi pria itu berjalan pergi meninggalkan gedung.
Hatinya terasa berat untuk pergi ke kamar pengantinnya.
'Aku tidak bisa menjalani pernikahanku dengan Claudia karena sebelumnya aku sudah menikah dengan Vierra,, dan terlebih,,, perempuan itu,,' Rangga menghela nafas panjang karena setiap kali dia mengingat bayang noda merah pada jok mobil nya,, dia tidak bisa menahan rasa bersalahnya pada Vierra.
Lagi pula, perempuan itu sudah mengisi hatinya sejak beberapa tahun yang lalu.
Tetapi karena dia tidak mau mempersulit Vierra di keluarga Faraday, maka dia terus berusaha menahan diri agar tidak pernah menyapa perempuan itu karena dia telah dijodohkan dengan Claudia.
Tapi sekarang,, setelah Apa yang terjadi,, hatinya semakin tidak bisa mengabaikan Vierra.
"Kakak!!" Tiba-tiba seru seorang pria yang tak lain adalah adik kandung Rangga yang sedari dulu tinggal di luar negeri bersama paman mereka.
"Kau datang juga, kenapa baru muncul dihadapanku?" Tanya Rangga pada adiknya.
"Heehe,, kejutan!!" Jawab pria bernama Satya dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Hmm,, malam ini Ayo kita menghabiskan waktu berdua saja." Kata Rangga merangkul Satya menarik pria itu ke arah lift.
"Uh,, kakak,, Bukankah ini malam pengantin kakak? Harusnya Kakak bersenang-senang dengan kakak ipar,, malam pertama yang,. Ahwww!!! Sial!!" Satya menggertakkan giginya memegangi perutnya yang mendapat tinju keras dari kakak kandungnya.
__ADS_1
"Apakah aku salah bicara?? Mana mungkin aku tega membiarkan kakak ipar melalui malam pertamanya dengan kamar yang dingin dan hening sementara aku dan--'"
"Diam!!" Bentak Rangga pada Satya sembari menarik pria itu memasuki lift.
"Uh,, Apakah kakak tidak menyukai kakak ipar?" Tanya Satya sembari memperhatikan kakaknya yang berdiri dengan tegap dan tatapan yang dingin.
"Kami menikah karena perjodohan yang menguntungkan perusahaan keluarga kita. Bukan menikah karena keinginan kami." Ucap Rangga.
"Ah,, kakakku yang malang,," Satya yang menampakan wajah sedihnya sembari memeluk kakaknya dengan erat.
"Tapi, apakah Kakak yakin kalau kakak ipar tidak memiliki perasaan apapun pada kakak? Jangan sampai kakak ipar merasa kecewa di malam pertama pernikahan kalian." Ucap Satya.
Rangga memikirkan ucapan adiknya sampai lift mereka tiba di lantai 20.
Ting!
"Halo?" Terdengar suara seorang perempuan dari seberang telepon.
"Jangan menungguku," ucapnya.
"Ok,," jawab Claudia dari seberang telepon disambung nada panggilan yang ditutup Claudia secara sepihak.
"Ok?!!" Satya mengulangi ucapan Claudia, pria itu tercengang tak percaya dengan jawaban perempuan dari sekarang telepon.
"Kau lihat 'kan? Kami tidak menikah karena memiliki perasaan." Ucap Rangga berjalan ke arah ruang privat.
"Astaga,, kakakku yang malang!!!" Ucap Satya menyusul Rangga dengan perasaan yang turut berduka cita atas kemalangan kakaknya.
"Diam!!" Sentak Rangga yang merasa kesal dengan Satya yang terus mengganggunya.
__ADS_1
Akhirnya kakak beradik itu menghabiskan waktu berdua saja karena sudah beberapa tahun mereka tidak bertemu.
Barulah ketika Satya sudah tidak bisa lagi ditolong dari kemabukannya lalu Rangga memanggil beberapa orang untuk mengurus adiknya.
Setelahnya, Rangga pergi ke ruang pengantinnya dengan Claudia.
Baru saja menggesek kartu kamarnya Ketika seseorang tiba-tiba menghampirinya.
"Tuan."
"Ada apa?" Tanya Rangga sembari menahan pintu yang sudah sedikit terbuka
"Saya menemukan amplop ini di antara tumpukan hadiah yang diberikan pada Tuan dan Nyonya." Ucap pria yang tak lain adalah asisten Rangga.
"Apa ini?" Rangga melihat amplop putih itu.
"Orang yang memberikannya mengatakan bahwa ini adalah amplop yang sangat penting, tidak boleh dibuka oleh orang lain kecuali Tuan, jadi saya berpikir mungkin ini sangatlah penting." Kata Sang asisten.
Mendengar ucapan asistennya, Rangga kemudian membuka amplop putih itu dan menarik secarik kertas dari dalamnya.
Kertas itu membungkus dua lembar uang pecahan rp50.000 dengan sebuah tulisan di kertasnya.
*Uang Tuan yang saya pinjam tempo hari, maaf karena harus mengembalikannya seperti ini, saya sudah menambahkan bunganya. Sekali lagi, terima kasih,* tulis sang pengirim.
Setelah membaca surat itu, Rangga langsung tersenyum lalu menatap berbinar pada dua pecahan uang rp50.000 tangannya.
Asisten "..."
Hanya dua pecahan uang rp50.000 bisa membuat tuannya yang dingin tersenyum?
__ADS_1