
Plak!!!
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Satya.
"Beraninya kau mengundur-undur waktu?! Tidakkah kau tahu kalau masalah seperti ini tidak bisa disembunyikan terlalu lama?! Keluarga kita akan dipermalukan dengan kelakuan memalukanmu ini!!!" Teriak Aldan pada Satya.
"Baiklah, kau akan mengatakannya," Akhirnya Satya mengelus pipinya yang begitu sakit terkena dua tamparan.
Sembari pria itu melangkahkan kakinya ke arah sofa mendekati ibunya, Satya menimbang-nimbang dalam hati. Keputusan apa yang akan ia ambil?
Aldan mendengus mengikuti putranya lalu ikut duduk di sofa sembari melihat Satya yang kini memeluk ibunya dengan erat.
"Anak sialan!! Menyingkir dari ibu!!" Teriak Windri sembari meronta-ronta dalam pelukan Satya, tetapi Satya tidak melepaskan pelukannya.
"Tenanglah Bu, aku akan menjelaskan semuanya." Ucap Satya.
__ADS_1
"Anak sialan!! Kau sudah berani mempermalukan keluarga kita dan mengecewakan keluarga Faraday!! Sekarang mau ditaruh di mana wajah kita??" Windri menangis tersedu-sedu memikirkan rasa malu yang akan ditanggung keluarga mereka dan bagaimana marahnya keluarga Faraday terhadap mereka.
"Tapi anak itu juga anak dari keluarga Faraday." Ucap Satya mengagetkan kedua orang tuanya hingga dua orang itu langsung menatap Satya dengan tatapan terkejut.
"Apa maksudmu?!" Windri dan Aldan serentak bertanya sembari melototi putranya yang kini melepaskan pelukannya dari Windri.
Satya menghela nafas lalu pria itu memberi jarak antara dia dan ibunya sembari menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.
"Perempuan yang kuhamili itu,, adalah perempuan yang kalian jodohkan denganku." Ucap Satya, 'Ini adalah pilihan yang tepat, aku tidak masalah menjadi orang yang bertanggung jawab atas kehamilan Vierra.' pikir Satya dalam hati.
Mendengar ucapan mereka, dua orang yang duduk di sofa begitu terkejut.
"Iya Bu," jawab saja membuka matanya lalu pria itu melihat ayah dan ibunya yang masih berada dalam keterkejutan.
"Saat itu aku mendapat anggur dari seorang klien lalu membawanya ke rumah dan mengajak Kak Rangga dan juga Vierra minum anggur, lalu kami semua mabuk. Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiranku saat itu hingga aku malah menarik Vierra ke kamarnya dan,,,, saat terbangun kami sudah melakukan hal terlarang itu." Kata Satya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya menampakkan wajah yang sangat frustasi.
__ADS_1
Mendengar jawaban putranya, Windri langsung menyekah air matanya lalu melihat suaminya, "Sayang, sepertinya situasinya tidak terlalu buruk. Bagaimana kalau kita percepat pernikahan mereka berdua?" Tanya Windri pada suaminya.
Aldan tampak menimbang-nimbang di dalam hatinya sebelum menatap putranya lalu bertanya, "Sudah berapa lama sejak kejadian itu?"
"Belum cukup satu bulan." Jawab Satya yang tidak mau menyatakan waktu yang sesungguhnya karena jika dihitung-hitung maka waktu di mana mereka minum anggur bersama belum cukup dua minggu jadi seharusnya kehamilan Vierra belum bisa terdeteksi oleh alat tes kehamilan biasa.
"Tidak masalah, kami akan membicarakannya dengan keluarga Faraday lalu kita bisa mempercepat acara pernikahannya. Bukan begitu sayang?" Tanya Windri pada suaminya.
Aldan mengangguk, "Ya, itu jauh lebih baik." Katanya.
Mendengar itu, Satya merasa sangat senang dalam hatinya karena sebentar lagi dia akan memiliki Vierra seutuhnya.
Lalu kakaknya tidak akan bisa lagi macam-macam dengan Vierra karena dia akan menjadi suami resmi Vierra secara hukum.
Pria itu langsung bersemangat dan berkata pada kedua orang tuanya, "Tapi kemahamilan Vierra, kalian harus merahasiakannya dari siapapun. Termasuk dari Kak Rangga dan istrinya lalu dari keluarga Faraday. Aku tidak mau jika Vierra dicak sebagai perempuan yang--"
__ADS_1
"Kami tahu!!!" Sela Windri, "Kaulah yang bersalah karena kau memberi semua orang anggur dan terlebih kau yang menarik Vierra ke kamarnya. Hah,,,, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Vierra Saat dia terbangun mendapatimu berada di kamarnya.
"Pantas saja ketika dia datang di rumah kita wajahnya tampak selalu pucat, tapi dia berusaha menyembunyikan semua masalahnya." Ucap Windri yang merasa kasihan pada Vierra yang telah terjebak dalam situasi sulit karena ulah putranya.