
Vierra begitu lelah setelah seharian bekerja, perempuan itu akhirnya bernafas lega saat pria yang merupakan anak dari pemilik toko akhirnya tiba lalu menggantikannya di kasir.
Biasanya setelah digantikan di kasir, Vierra melakukan pekerjaan lain seperti memeriksa stok barang di toko, atau sekedar merapikan barang-barang yang sudah dibongkar oleh pengunjung.
Tetapi ketika Vierra hendak pergi mengatur barang-barang, tiba-tiba Sabrina memanggilnya.
"Ada apa Nek?" Tanya Vierra sembari mendekati perempuan tua yang duduk di salah satu kursi dalam toko.
"Pergilah beristirahat, kau sudah cukup lelah untuk bekerja lagi." Ucap Sabrina membuat Vierra kebingungan karena tidak biasanya perempuan itu menyuruhnya untuk istirahat.
"Tapi saya tidak lelah, saya masih kuat untuk--"
"Tidak!! Pokoknya sekarang juga, pergilah ke kamarmu dan beristirahat!!!" Ucap Sabrina langsung mendorong Vierra untuk pergi ke belakang.
Dia sangat senang karena hari ini dia mendapat bertumpuk-tumpuk uang dolar dari seorang pria yang merupakan suami Vierra.
Jadi tidak ada alasan baginya untuk mempersulit Vierra.
"Ehh, baik," ucap Vierra merasa bingung dengan kelakuan Sabrina, Tetapi dia tidak terlalu memikirkannya dan hanya berjalan ke lantai dua menuju kamarnya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya dia ketika memasuki kamar dan melihat seorang pria tidur di tempat tidurnya.
Yang lebih parahnya lagi, wajah pria itu,, Rangga.
Vierra langsung mematung di tempatnya dan dalam kebingungannya dia tidak tahu harus berbuat apa.
'Kenapa dia di sini?? Apakah dia ingin membawaku kembali lalu semua orang akan memarahiku karena--' Vierra menutup mulutnya lalu perempuan itu dengan langkah yang di ringankan segera mengambil kopernya dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Ia juga mengambil semua foto-fotonya lalu dengan langkah yang sangat pelan ia mendekati pintu untuk keluar dari kamar.
Namun, begitu dia memutar handle pintu, ternyata pintu tersebut telah dikunci dari luar.
'Astaga,, Siapa yang mengunci pintu ini?' Vienna Vierra benar-benar ketakutan.
Tapi mengapa pintu kamar tersebut malah dikunci.
Vierra keringat dingin berusaha membuka pintu tersebut karena dia berharap pintu itu hanya macet saja dan bukannya dikunci dari luar.
Usahanya belum membuahkan hasil ketika sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya, lalu dada bidang dan hembusan nafas yang sangat ia rindukan kini menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang,," ucap Rangga begitu erat memeluk Vierra dan menempelkan pipinya di pipi Vierra.
Vierra mematung di tempatnya, kini sudah tidak ada lagi harapan untuknya pergi.
Beberapa saat dia terdiam tiba-tiba Dia merasakan sebuah air yang membasahi pipinya.
Perempuan itu langsung mengangkat tangannya lalu dengan tangan gemetar menyentuh pipi Rangga, ia sangat terkejut mendapati pipi pria itu dipenuhi air mata.
'Astaga,, mengapa dia...' Vierra begitu kalut.
"Akhirnya aku menemukanmu, istriku," ucap Rangga dengan suara seraknya.
Vierra tidak mengatakan apapun, dia hanya diam saja sampai pria itu akhirnya melonggarkan pelukan mereka lalu membuat Vierra berbalik menatapnya.
"Tunggu, apa ini?" Tanya Rangga menatap koper Vierra, "Kau berencana untuk kabur dariku?"
"Itu,," suara Vierra terdekat.
Dia masih bisa melihat sisa-sisa air Mata Di pipi Rangga.
__ADS_1
Mana mungkin seorang pria seperti Rangga menangis, tapi sekarang, hanya karena pria itu menemukannya Rangga sampai menangis seperti itu.
Bukankah ini menandakan bahwa pria itu sangat mencintainya?